Selamat Datang Di Situs Berita Nasional Alfitrah Indonesia Online
ALFITRAH INDONESIA | Situs Berita Nasional

DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLLAHUALAIHIWASSALAM

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLLAHUALAIHIWASSALAM

Pada bulan Rabiul Awal lebih dari 14 Abad yang lalu, Allah subhanahu wata’ala telah menurunkan seorang hamba IstimewaNya ke dunia. Dia adalah Muhammad Rasulullah Shalllahulaihi wassalam . yang mengemban misi penting untuk membentuk akhlak umat manusia mulya dan sempurna sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki.
Allah Subhanau wata’ala . memiliki maksud tertentu menciptakan umat manusia, yaitu sebagai khalifah (penguasa, pengatur) bumi dalam rangka ikhlas beribadah kepadaNya. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang mendorong manusia untuk selalu dinamis berubah ke segala arah. Dengan hawa nafsu manusia dapat merubah dunia ke zaman modern seperti saat ini dan akan terus berkembang ke masa yang lebih modern di masa yang akan datang. Dan hawa nafsu pula jika tanpa dikendalikan sebagai pendorong kuat untuk memunculkan perbuatan-perbuatan tercela dan kerusakan-kerusakan di muka bumi. Inilah hawa nafsu manusia yang diucapkan oleh Nabi Yusuf dalam firman Allah subhanahu wata’ala :
وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Yusuf: 53)
Kecenderungan hawa nafsu yang tak terkontrol sehingga banyak melahirkan perbuatan-perbuatan maksiat dan kerusakan-kerusakan di muka bumi telah lama dikhawatirkan oleh para malaikat ketika Allah subhanahu wata’ala mengutarakan maksudnya kepada para malaikat bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menciptakan makhluk manusia sebagai khalifah (penguasa, pengatur) di muka bumi. Firman Allah:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30)
Dan kekhawatiran malaikat ini telah terbukti, betapa kita saksikan, berapa banyak manusia tanpa dosa terbunuh baik oleh pribadi-prabadi atau perang yang menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan. Berapa banyak kemaksiatan terjadi disekitar kita, dikerjakan dengan terang-terangan tanpa malu-malu: berjudi, mabuk-mabukan, berzina, merampas harta orang lain tanpa hak dari pencurian kelas teri hingga korupsi yang menelan harta masyarakat trilyunan rupiah dan beragam kemaksiatan lainnya hingga mengganggu sendi-sendi kehidupan normal di masyarakat, kesemuanya terus menerus terjadi hingga saat ini Kerusakan akhlak terus terjadi merajalela. Akankah nafsu angkaramurka akan terus kita perturutkan? Jawabnya tanyakanlah pada diri sendiri. Jangan mudah menyalahkan pihak lain, karena setiap kita adalah bernafsu.
Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Allah subhanahu wata’ala menurunkan Muhammad Shallllahualaihi wasssalam . di tengah-tengah manusia. Tiada lain untuk membimbing nafsu manusia bagaimana seharusnya ia dibimbing, dikendalikan dan diarahkan. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. bersabda:
إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
Hadis dari Anas dia menyatakan:
كان احسن الناس خلقا
“Nabi Shallalllahualaihi wassalam . adalah manusia dengan akhlak yang terbaik”. (HR: Muslim dan Abu Dawud).
Aisyah menyebut
akhlak Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam adalah Al-Qur’an.
Allah subhanahu wata’ala sendiri memuji akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan menyebut:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam: 4).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah subhanahu wata’ala dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21)
Jelaslah siapa saja yang menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan normal sebagaimana yang dikehendaki Allah Subhanahu wata’ala . tiada jalan lain kecuali kembali mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan Hadist dalam kehidupannya sehari-hari.
Sebab Al-Qur’an diturunkan adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan dengan ketakwaan inilah kehidupan dunia hingga akhirat akan berlangsung normal. Firman Allah:
الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miim . Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Al-Baqarah: 1-2)
Rasulullah shallalllahualaihi wassalam sendiri menyebutkan:
تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتى
“Aku Tinggalkan padamu dua perkara, kamu semua tidak akan sesat selamanya (dengan berpegang teguh kepada keduanya) ialah Kitab Allah dan Sunnahku”.
Dan bagi siapa saja yang mengabaikan Al-Qur’an dengan memperturutkan nafsu angkaramurkanya maka kehidupan dunia akan menjadi tidak normal. Dan pada hari kiamat azab Allah subhanahu wata’ala yang pedih telah menanti. Firman Allah:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى. وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. (Thaha: 124-127)
Tujuan akhir dari diutusnya Muhammad adalah terciptanya ketentraman, kebahagian dan kesejahteraan hidup seluruh makhluk di seluruh dunia hingga akhirat. Firman Allah subhanahu wata’ala :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya’: 107)

.

perjalanan spiritual Nabi Muhammad Shallalllahualaihi wassalam
Pendalaman Tentang Makrifat, Hakekat, Tarekat, Syariat
Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di arah hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya.
Mohon maaf bila pemahaman tersebut perlu didekonstruksi dan didiskusikan ulang. Sebab keyakinan kita atas hal itu bisa jadi salah.
Menurut saya, proses bahwa perjalanan spiritual itu justeru tidak dimulai dari syari’at, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat. Namun lihatlah perjalanan spiritual Nabi Muhammad Shallallahualaihi wassalam , teladan umat muslim justeru yang terjadi adalah kebalikannya:

Perjalanan spiritual justeru dimulai dari makrifat, tarekat, hakikat dan akhirnya sampai pada syariat.

makrifat adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Nabi Muhammad Shalllahulahiwassalam bertemu Jibril,

hakikat saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA,

tarekat saat Muhammad Shalllahaulaiahi wassalam berjuang untuk menegakkan jalanNya dan

syariat adalah saat Nabi Muhammad Shallllahualaihi wasssalam mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

Itulah sebabnya, syariat sholat adalah pendakian spiritual yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi Muhammad Shallallahualaihi wassalam memberi tuntunan tidak seperti itu.
Sholat adalah komunikasi tertinggi serta pertemuan antara Tuhan dan manusia.
Sholat juga merupakan pertemuan titik modulasi dimensi yang lahir dan batin antara Tuhan Yang Maha Lahir dan Maha Batin dengan manusia yang merupakan makhluk satu-satunya yang memiliki SDM untuk mempertemukan titik temu dari dua dimensi tersebut dalam dirinya.
Titik temu itu terletak pada kesadaran.
Nah, Bagaimana penjelasan tentang perjumpaan Tuhan dengan manusia? Mari kita sholat dengan khusyuk. Cari titik paling hening dan nikmatilah wajah Tuhan dan bermesra an lah dengan Dia, Yang Maha Terkasih.
Itu sebabnya, bila Sholatnya bagus maka perilakunya pasti baik, sehingga dari perilakulah kita bisa menakar apakah seseorang itu sudah bermanunggal dengan Tuhannya. Perilaku adalah ibadah yang menjadi Syahadat manusia yang sudah mencapai taraf Insan Kamil, yaitu bermanunggalnya makrokosmos dengan mikrokosmos.

Tingkatan Makrifat, Hakekat, Tarekat, Syariat itu adalah idiom-idiom yang biasa digunakan kalangan tasawwuf atau ahli tarekat.
Apa yang mereka ajarkan itu sebagiannya ada yang benar, namun tidak ada jaminan
semuanya benar.

Sebab kalangan ahli tasawwuf dan tarikat itu sendiri
ada banyak ragamnya. Dari yang paling bersih hingga yang paling kotor. Paling
bersih maksudnya adalah bersih dari beragam bentuk bid’ah dan syirik. Di mana
semua yang diajarkannya selalu dilandaskan kepada riwayat dan sunnah-sunnah
Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam dan masih konsekuen dengan hukum-hukum syariah.
Namun tidak sedikit di antaranya yang justru sudah
menginjak-injak syariah itu sendiri serta sulit menghindarkan diri dari khurafat,
bid’ah dan fenomena syirik. Bahkan boleh dibilang sudah keluar dari syariah
Islam yang telah ditetapkan oleh para ulama. Sehingga idiom syariah, tarekah,
makrifat dan hakikat itu hanya sekedar pemanis di bibir. Namun pada hakikatnya
tidak lain merupakan sebuah pengingkaran terhadap syariah serta merupakan
penyimpangan dari manhaj salafus shalih.

Kalau syariah diletakkan paling rendah, akan muncul
kesan bahwa demi kepentingan tarekah, makrifat dan hakikat, syariah bisa
dikesampingkan. Dan paham seperti ini berbahaya bahkan sesungguhnya merupakan
bentuk pengingkaran terhadap agama Islam.
Jangan sampai ada anggapan bahwa bila orang sudah
mencapai derajat makrifat apalagi hakikat, lalu dia bebas boleh tidak shalat,
tidak puasa atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat itu sendiri.
Kalau ajaran yang Anda tanyakan itu cenderung berpikiran seperti itu, ketahuliah
anda telah salah dalam memilih ulama. Kalau makrifat dan hakikat boleh menyalahi
syariah, maka ulama yang Anda sebut itu tidak lain adalah syetan yang datang
merusak ajaran Islam.
Sebab Rasulullah Shalllahulahiwassalam tidak pernah mengajarkan
makrifat dan hakikat, beliau hanya meninggalkan Al-Quran dan Sunnah sebagai
pedoman dalam menjalankan syariah. Dan tidaklah seseorang bisa mencapai derajat
makrifah dan hakikah, manakala dia meninggalkan syariah.
mari berbagi dalam pencerahan sehingga semuanya menjadi terang.

Wallahu a’lam bishshawab,
WASILAH
“ Rasulullah shallalalahualaihiwassalam adalah sebagai wasilah“

Bila kita berbicara mengenai Wasilah tentunya dalam fikiran kita akan muncul beberapa istilah yang semakna dengan lafadz “wasilah“ tersebut misalnya,

tawassul, istisyfa’, istighatsah, dll.

Para Ulama seperti al-Imam al-Hafidz
taqiyyudin al-Subki menegaskan bahwasanya mereka mendefinisikan

wasilah memiliki makna hakikat yang sama dengan tawassul, istisyfa’, istighatsah, dll.

Dengan definisi sebagai berikut :
طلب حصول منفعة أو اندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي أو ولي إكراما للمتوسل به (الحافط العبدري, الشرح الريم, ص 378)

“Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah subhnahuwata’ala dengan menyebut nama seorang nabi dan wali untuk memuliakan (ikhram) keduanya”.

Sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa wasilah seperti yang terdapat pada ta’rif diatas, yaitu

mengunakan nabi atau wali sebagai wasilah (perantara) untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki.

Persepsi yang keliru tentang wasilah ini
kemudian mereka gunakan sebagai argument menuduh kafir atau musyrik orang-orang yang bertawassul atau yang berwasilah.

[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik” (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm4-5]

Padahal hakikat tawassul dikalangan para pelakunya bukanlah demikian melainkan memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya dari bahaya (keburukan) dengan cara mengunakan wasilah (perantara) seorang nabi atau wali dengan cara menyebut nama nabi atau wali tersebut untuk memuliakannya sebagai seorang hamba yang dicintai oleh Allah subhnahuwata’ala .
Berdasarkan dari perbedaan Pemahaman tersebut di sini saya mencoba meluruskan pemahaman yang kurang benar mengenai wasilah, dan berikut beserta tafsir ayat-ayat yang digunakan sebagai argument dari wasilah dan lafadz lain yang semakna dengan wasilah.

B. Penafsiran Surah al-Maidah ayat 35

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah
“ jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya“, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanyaNya, supaya kamu “mendapat keberuntungan“.

Melalui ayat ini Allah subhnahuwata’ala mengajak semua pihak yang beriman bahkan boleh jadi lebih dikhususkan kepada para pelaku kejahatan yang dibicarakan oleh ayat yang sebelumnya agar mereka bertaqwa dan mencari jalan mendekatkan diri kepadaNya.
Kata وسيلةwasilah mirip maknanya dengan وصيلة washilah yakni “sesuatu yang menyambung sesuatu dengan yang lain”. Sedangkan wasilah adalah “sesuatu yang menyambung dan mendekatkan sesuatu dengan yang lain, atas dasar keinginan yang kuat untuk mendekat”. Tentu saja banyak cara yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada ridha Allah subhnahuwata’ala Ayat ini (dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhnahuwata’ala . Artinya carilah sebab-sebab itu maka Allah subhnahuwata’ala akan mewujudkan akibatnya. Namun harus di ketahui bahwa jalan tersebut haruslah yang disukai oleh Allah Subhnahuwata’ala . Mahrus Ali, Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik” (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 4-5 ], namun kesemua haruslah yang dibenarkan oleh-Nya. Ini bermula dari rasa kebutuhan kepadaNya. Demikian Ibn Abbas menafsirkan memang jika sesorang merasakan kebutuhan kepada sesuatu, dia akan menempuh segala cara untuk meraih ridhonya serta menyenangkannya. Demikian juga seharusnya bila kita ingin dekat kepada Allah Subhnahuwata’ala .
Dalam satu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Shalllahulahiwassalam bersabda : “sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman:

Barang siapa yang memusuhi wali-Ku ( orang yang dekat dengan-Ku) maka sesungguhya Aku telah menyatakan perang baginya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku senangi dari pada melaksanakan apa yang Aku “fardhu“kan atasnya. Dan tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan“ amalan-amalan sunnah“, sehingga Aku mencintainya. Dan bila

Aku mencintainya menjadilah:
Aku telinganya dan ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia menghajar, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku-kabulkan pemohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku-lindungi”.

[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 114]

“Ayat ini dijadikan oleh sebagian ulama’ sebagai dalil dari diperbolehkannya tawassul“

yakni mendekatkan diri kepada Allah subhnahuwata’ala dengan“ menyebut nama Nabi Shalllahulahiwassalam “. atau para “wali/orang-orang yang dekat kepada-Nya“, yakni berdo’a kepada Allah subhnahuwata’ala guna meraih harapan “melalui“ kecintaan Allah kepada kekasih-kekasihnya para Nabi atau para wali.

Orang-orang yang menganggap musyrik dan mengkafirkan orang-orang yang bertawassul. “Tentu saja “bila dia percaya bahwa sang wali memberinya apa yang tidak diizinkan Allah subhnahuwata’ala atau apa yang tidak wajar diperolehnya, maka hal ini “terlarang“.

Tetapi jika ia bermohon kepada Allah subhnahuwata’ala berdasarkan oleh kecintaannya kepada “siapa yang ia yakini “lebih dekat kepada Allah subhnahuwata’ala dari dirinya, maka ketika itu cintanyalah yang berperanan bermohon, dan dalam saat yang sama dia yakin tidak akan memperoleh dari Allah subhnahuwata’ala sesuatu yang tidak wajar diperolehnya.

Mutawalli asy-Sya’rawi, ulama Mesir kontemporer telah menjelaskan perihal wasilah atau tawassul dengan mengemukakan satu riwayat yang juga sering dikemukakan oleh ulama’ yang membenarkan wasilah atau tawassul.

Riwayat yang dimaksud dikemukakan oleh Imam Muslm, Abu Dawd, at-Tirmidzi, dan an Anas’i bahwa Umar ibnu al-Khattahb berkata: ” pada masa Nabi Shalllahulahiwassalam ., jika kami kekeringan karena hujan tidak turun, kami bertawasul dengan ( menyebut nama) nabi kiranya hujan turun. Setelah Nabi Saw wafat kami“ bertawassul“ dengan menyebut nama “al-Abbas“, paman Nabi Shalllahulahiwassalam .”

C. Penafsiran Surah al-Isra’ ayat 57

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
* Maksudnya: nabi Isa a.s., para malaikat dan ‘Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Lafadz ( orang-orang yang mereka seru) yang dimaksud lafadz ini yakni orang-orang yang berakal yang menyangka bahwa diri mereka dekat dengan Tuhan mereka, dengan mencari kedekatan dengan sebab ketaatan mereka dan merendahkan diri kepada tuhannya dan mengharap rahmat Allah dan takut kepada sikisa Allah, tetapi sesungguhnya orang-orang yang lebih dekat diantara mereka adalah orang yang lebih merendahkan diri dan takut kepada Allah dan mereka tidak ridha dengan keadaan mereka sebagai hamba dari selain Allah.
[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Lafadz yang artinya mencari yang dimaksudkan dalam lafadz ini adalah mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhnahuwata’ala . dengan cara taat. Ibid. hlm: 326]
Siapa-siapa yang mereka seru untuk mencari pertolongan dan yang mereka sembah itu (seperti malaikat) Isaa, Uzair dan lain-lain, mereka itu sendiri dengan sungguh-sungguh mencari jalan menuju ke ridha Tuhan mereka berupaya agar menjadi lebih dekat kepada Allah dan mereka semua juga selalu mengharapkan Rahmat-Nya dan senantiasa takut akan siksa-Nya sesungguhya siksa tuhanmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai karena demikian itulah sikap hamba-hamba-Nya yang dekat apalagi kamu- wahai yang bergelimang dalam kedurhakaan.
[ M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasian al-Quran (Jakarta: Lentera Hati) hlm 18]
Firman-Nya : ayyuhum aqrabu, dapat juga di pahami dalam arti masing-masing hendak mengetahui jawaban “siapakah di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah subhnahuwata’ala ” Atau mereka melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah . Dan karena itu mereka mempertanyakan jalan manakah yang terdekat agar mereka dapat menempuh jalan itu guna meraih kedekatan kepada Allah.
[ Ahmad bin Muhammad, Showi Khasyiah Showi Ala Tafsir Jalalain ( Beirut: Dar Al-Khotob Al-Ilmiah) hlm: 325]
Apapun pendapat yang anda pilih, yang jelas ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang dipertuhankan itu, tidak wajar dipertuhan karena mereka juga butuh kepada Allah subhnahuwat’ala lagi tidak dapat melepaskan diri darinya. Bahkan berlomba mendekatkan diri kepadanya. Memang boleh jadi mereka dapat melakukan sesuatu, tetapi kemampuan itu mereka peroleh dari Allah Subhanahuwata’ala .
Sebagai seorang muslim yang memiliki keimanan yang kuat janganlah berasumsi bahwa

“ kaum muslimin pun seringkali berdo’a kepada Allah, tetapi tidak dikabulkan do’anya, sehingga dengan demikian keadaan mereka sama saja dengan keadaan orang-orang kafir itu“.

Untuk menjawab pertanyaan semacam ini terlebih dahulu perlu diketahui bahwa tidak ditemukan pernyataan dari tuhan-tuhan yang mereka sembah itu, bahwa mereka menjamin pengabulan do’a siapa yang menyembahnya, para penyembahnya pun sadar tentang hal ini, terbukti jika mereka dalam kesulitan, mereka memohon kepada Allah Subhnahuwata’ala . Bukan kepada siapa yang mereka sembah itu antara lain, sebagaiman yang telah tercantum dalam ayat 67 berikut ini.

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.
[ Moh.Taufiq, Quran inWord ver 1.0.0]
Ini berbeda dengan yang berdo’a kepada Allah Subhnahuwata’ala . Berkali-kali Allah menjamin pengabulan Do’anya. Selanjutnya perlu di inggat bahwa

“pengabulan do’a yang dijamin itu mempunyai syarat-syarat tertentu yang bila tidak terpenuhi maka do’a itu tifdak akan terkabul“

seperti ditegaskan dalam firmanya :[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik” (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm5-7]

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku “mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku“, Maka hendaklah mereka itu “memenuhi“ (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka“ beriman“ kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa

“ ada orang yang merasa telah berdo’a, tetapi Allah belum menilainya sebagai suatu do’a“,

untuk jelasnya merujuk kepada penafsiran ayat dari surah al-Baqarah itu !. di sisi lain,“ pengabulan do’a berkaitan juga dengan kemaslahatan si pemohon“, sehingga boleh jadi apa yang dimohonkan di tunda pengabulannya atau diganti dengan yang lain yang lebih bermanfaat untuk si pemohon.
[ Tim Bahtsu Masail PC NU Jember, Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU mengugat Sholawat & Dzikir Syirik” (Surabaya: Khalista) Th 2008 hlm 7]

E. Pembahasan Mengenai Wasilah.

Dalam kamus al Munjid menyebutkan: اَلْوَسِيْلَةُ ماَ يَتَقَرَّبُ اِلىَ الْغَيْرِ
Wasilah menurut bahasa ialah sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain
Dalam kamus: اَلْوَسِيْلَةُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ الْمُلْكِ
“Wasilah suatu kedudukan di sisi raja“
Ibnu Kasir dalam menafsirkan surat al Maidah ayat 35 menyebutkan,
اَلْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِى يَتَوَصَّلُ بِهَا اِلَى تَحْصِيْلُ الْمَقْصُوْدِ
Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan kepada tercapainya tujuannya.

Menurut satu riwayat dari Ibnu Abbas, arti wasilah di sana adalah hajat kepada-Nya. Jadi maknanya adalah carilah hajat kepada Allah.
[ Prof. DR. H. Kadirun Yahya menafsirkan surat al Maidah ayat 35 bahwa, Wasilah itu adalah channel dan frekuensi yang membawa mereka yang beriman dan takwa tersebut di atas langsung ke hadirat Allah Subhnahuwata’ala , dan jika mereka bersungguh-sungguh di atas jalan itu mereka akan menang dunia akhirat.
Dalam tafsir Futuhul Ilahiah disebutkan bahwa wasilah adalah : Sesuatu yang mendekatkan kamu kepada-Nya, dengan mentaati-Nya.
[ Dari keterangan tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa,

“wasilah itu adalah suatu jalan / cara yang harus kita tempuh agar kita dapat bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah Subhnahuwata’ala “.

Dalam ayat tadi kita disuruh mencari sesuatu. Yang namanya mencari sesuatu, pasti sesuatu itu sudah ada. Kita disuruh mencari agar kita dapat menemukan sesuatu yang sudah ada. Sesuatu yang sudah ada itulah yang dapat menjadi saluran amal kita hingga sampai kehadirat Allah Subhnahuwata’ala .

Menurut Prof. DR. Kadirun Yahya dalam beberapa penjelasan beliau, bahwa:

“wasilah itu bukan orang, bukan ruh tapi sesuatu (QS. al Maidah : 35)“

yang ada pada Arwahul muqaddasah Rasulullah Shalllahulahiwassalam , yang datang dan tersalur langsung dari Allah Subhnahuwata’ala . Inilah yang mempunyai dimensi, power, kekuatan tak terhingga (∽). Inilah yang memberi kekuatan dan berbekas langsung kepada amal-amal shalihat kita. Inilah yang dinamakan channel dan frekwensi yang tak terhingga, yang langsung menuju kehadirat Allah Subhnahuwata’ala , yang dimensinya tak terhingga itu.

“Keberadaan Nabi Muhammad dan Khalifah-Khalifahnya merupakan anugerah atau rahmat dan penyelamat bagi orang-orang sedunia“.

Beliau adalah “wasilah“ untuk itu.
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan tidak Kami utus engkau wahai Muhammad, kecuali pembawa rahmat bagi alam semesta.

Dan tidak engkau yang melontar ketika engkau melontar, tapi Allahlah yang melontar. (QS. al Anfal : 17)

Maka
“ Rasulullah adalah sebagai wasilah carrier“,pembawa wasilah yang menyalurkan rahmat bagi alam semesta“

, yang menyalurkan lontaran untuk menghantam kuffar Quraisy dalam peperangan Khandaq. Yang punya rahmat dan yang melakukan lontaran sesungguhnya adalah Allah Subhnahuwata’ala . Yang dibawa oleh Rasulullah Shalllahulahiwassalam dan dilakukan oleh Rasulullah Shalllahulahiwassalam , yaitu menyebar rahmat dan melakukan lontaran adalah bersifat Nisbi, tapi yang hakikinya adalah Allah Subhnahuwata’ala . Inilah yang dimaksud dengan datang dan tersalur langsung dari Allah Subhnahuwata’ala.

3. Macam-Macam Wasilah

a. Wasilah yang dilarang
Adapun wasilah yang dilarang adalah berwasilah dengan berhala atau patung-patung seperti yang dilakukan oleh orang kafir musyrik, sebagaimana yang termaktub dalam surat az Zumar ayat 3.[ Menurut asbabun nuzul, ayat ini berkenaan dengan tiga suku bangsawan; Amir, Kinanah dan Bani Salamah yang menyembah berhala, yang mereka mengatakan bahwa persembahan terhadap berhala itu adalah untuk menghampirkan diri kepada Allah Swt. Kenyataannya mereka benar-benar menyembah berhala, yang mereka yakini berhala itu dapat memberikan manfaat dan ataupun mudarat. Karena itu Allah tegaskan di akhir ayat, bahwa perkataan mereka itu adalah perkataan bohong lagi kafir, Allah Subhnahuwata’ala tidak akan memberikan hidayah kepadanya.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah yang sedekat-dekatnya.
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. az Zumar : 3)

Orang-orang yang berpendapat tidak boleh berwasilah adalah mengikuti jalan pikiran Ibnu Taimiyah dengan memakai dalil surat az Zumar ayat 3 ini. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah ini diambil over para orientalis, kemudian ditulis dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan itu disebarluaskan ke Jaziratul Arab, untuk selanjutnya dari Jaziratul Arab disebarluaskan ke negara-negara Islam lainnya. Jalan pikiran Ibnu Taimiyah dan orientalis inilah akhirnya mempengaruhi pendapat Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Dinasti Wahabi 500 tahun kemudian. Dinasti Wahabi-lah yang menghancurkan rumah-rumah suluk di Jabal Qubis dan tempat-tempat lainnya dan menganggap“ syirik“ orang-orang yang berziarah ke“ kuburan Nabi Shalllahuahiwassalam dan kuburan wali-wali“, dengan berseru atau memanggil

“Wahai Rasulullah Shalllahulahiwassalam , kami mohon syafaatmu.”

Buku-buku Wahabiyah inilah yang banyak berkembang ke negara-negara Islam / rakyatnya sebagian besar beragama Islam termasuk ke Indonesia, yang dampaknya sangat berpengaruh kepada jalan pikiran orang-orang Islam. Saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab, bernama Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, menolak pendapat pemimpin golongan Wahabi itu, dengan menerbitkan sebuah kitab berjudul“ ash Showa’iku al Ilahiyah fi al Rodi ‘ala al Wahabiyah“.
Selain dari dua tokoh ulama itu, masih banyak lagi ulama terkemuka lainnya dari empat mazhab yang menyangkal pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tersebut, dan bahkan ada yang menganggap Ibnu Taimiyah berpengetahuan dalam, tetapi berakal pendek, sesat dan menyesatkan orang banyak. Sayyid Zaini Dahan, Mufti Mazhab Syafi’i di Mekkah, dalam kitabnya, Kholasoh al kalami fi bayani umaro’il baladi al haromi dengan tegas mengecam dan menolak keras pendapat golongan Wahabi tersebut, dengan mengemukakan dalil dan alasan, ayat, hadits, pendapat ulama salaf dan ulama khalaf, dan pendapat imam mazhab yang empat.

b. Wasilah yang diperbolehkan

Wasilah yang disyaratkan adalah semua bentuk wasilah yang disunatkan oleh Allah subhnahuwata’ala dalam Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya serta dianjurkan supaya kita mengamalkannya.

1. Di dalam al Qur’anul Karim terdapat beberapa ayat yang menyuruh kita berwasilah, antara lain: dalam surat al A’raf : 88-89; 155-156 dan 180, surat Ibrahim : 38-41, surat as Syuara : 75-85

2. Al Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya, Dalail al Nubuwah pada waktu menafsirkan surat al Baqarah ayat 37
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah subhnahuwata’ala menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah subhnahuwata’ala Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al Baqarah : 37)
Bahwa Adam pun sebagai bapak manusia “berwasilah“ kepada Nabi Muhammad Shalllahulahiwassalam sebelum lahir, untuk diterima taubatnya, karena ia telah melanggar perintah Allah subhnahuwata’ala yaitu supaya tidak memakan buah khuldi sewaktu ia dengan istrinya berada di surga. Karena melanggar larangan itulah mereka dikeluarkan dari surga. Ia mengakui segala kesalahannya di hadapan Allah subhnahuwata’ala
لَمَّا اقْتَرَفَ اَدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّ أَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ اِلاَّ غَفَرْتَ لِى فَقَالَ الله ُتَعَالَى يَا اَدَمَ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ اَخْلُقْهُ قَالَ يَا رَبِّ لَمَّا خَلَقْتَنِى رَفَعْتُ رَأْسِى فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْباً لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعْلِمْتُ اَنَّكَ لَمْ تَضِفْ اِلَى اَسْمَائِكَ اِلاَّ اَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيْكَ فَقَالَ الله ُتَعَالَى صَدَقْتَ يَا اَدَمَ اِنَّهُ َلاَحَبُّ الْخَلْقِ اِلَيَّ وَاِذَا سَئَلْتَنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتَكَ فَهُوَ اَخِرُ اْلاَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِيَتِكَ
Tatkala nabi Adam mengakui kesalahannya, dia berkata

“Wahai Tuhan, saya mohon kepada-Mu “bihaqqi“ (dengan kebenaran) “Muhammad Shlllahulahiwassalam aw“, ampunilah dosaku!.”

Allah subhnahuwata’ala berfirman, “Adam, bagaimana mungkin anda mengenal Muhammad, padahal ia belum Ku-jadikan?” Adam menjawab, “Wahai Tuhan, sesungguhnya tatkala Engkau menciptakan aku, kuangkat kepalaku, maka kulihat di atas tiang-tiang Arasy bertulis

لا اله الا الله محمد رسول الله

mengertilah aku bahwa Engkau tidak menyandarkan sesuatu kepada nama-Mu, melainkan orang yang paling dikasihi makhluk.”

Allah subhnahuwata’ala pun berfirman pula,

“Benar anda Adam, sesungguhnya Muhammad Shallllahualaihi wassalam itu paling kasih sayang kepada-Ku. Apabila anda memohon dengan“ berkat kebenarannya“, maka sesungguhnya Ku-ampuni dosamu. Dan kalaulah“ tidak karena Muhammad“, tidaklah Ku-jadikan anda dan dia adalah nabi yang terakhir dari keturunanmu.” (HR. al Baihaqi, al Hakim dan at Thabrani)

3. Imam Malik bin Anas menyuruh kepada khalifah al Mansur agar memakai wasilah yang benar, yaitu ketika al Mansur mengerjakan haji dan menziarahi kuburan Nabi di Madinah. Al Mansur bertanya kepada Imam Malik yang kebetulan berada dalam masjid Nabawi itu,

“Ke mana harus menghadap bila berdo’a, apakah menghadap kiblat atau menghadap kuburan Nabi Shalllahulahiwassalam ? “

Imam Malik menjawab,

“Kenapa anda memalingkan wajah anda daripadanya? Dialah“ wasilahmu“ dan dia pulalah “wasilah“ bapakmu Adam kepada Allah Subhnahuwata’ala .

“ Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaatnya“,
niscaya beliau akan mensyafaatimu.”

Masalah ini dikuatkan dengan maksud surat an Nisa’ ayat 64.

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

4. Umar bin Khattab pada masanya pada waktu “minta diturunkan hujan“, ia ber“wasilah“ kepada “Abbas bin Abdul Muthallib paman Rasulullah“, kemudian

Do’a Sayyidina Umar dikabulkan oleh Allah. Setelah selesai berdo’a,

Umar berkata:

Wahai umat manusia,“ Rasulullah Shalllahulahiwassalam menganggap “Abbas sebagai anak terhadap bapak“. Maka ikutilah Beliau dalam hal pamannya Abbas. Dan jadikanlah ia (Abbas)“ wasilah“ kepada Allah Swt.

Sesungguhnya masih banyak lagi dalil-dalil al Qur’an maupun al Hadits ataupun perbuatan para sahabat yang melaksanakan amalan, do’a dengan ber“wasilah“. Perbuatan dan ucapan para sahabat, khulafaurrosyidin menjadi hujjah dalam masalah hukum agama dan keagamaan. Sabda Rasulullah Shalllahulahiwassalam :
اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ فَاِنَّهُمَا حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِمَا فَقَدْ تَمَسَّكَ بِالْعَرْوَةِ الْوثْقَى لانْفِصَامَ لَهَا

“Ikutilah oleh kamu dua orang sesudahku“ Abu Bakar dan Umar. Sesungguhnya kedua orang tersebut adalah “tali Allah “yang dipanjangkan. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, niscaya dia berpegang teguh kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus. (HR. Thabrani)
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

Hendaklah kamu ikuti “sunnahku“ dan “sunnah khulafaurrosyidin“ yang selalu mendapat hidayah dari Allah. (al Hadits)

Sikap Sayyidina Umar ber“wasilah“ kepada Sayyidina Abbas untuk meminta hujan, “tidak“ kepada Nabi Shalllahulahiwassalam adalah untuk“ menegaskan kepada umat“ bahwa berwasilah kepada selain Nabi Shalllahulahiwassalam hukumnya boleh dan disyaratkan tiada cacat cela padanya. Jika Sayyidina Umar “berwasilah“ kepada Nabi Shalllahulahiwassalam , tentu orang banyak akan berpendapat tidak boleh berwasilah kepada selain Nabi Shalllahulahiwassalam . Sedangkan berwasilah kepada Nabi Shalllahulahiwassalam waktu itu sudah dikenal dan umum

4. Burraq Adalah Wasilah Menuju Tuhan
“Orang sering kali dibodoh-bodohi oleh orang Yahudi yang menggambarkan Burraq seperti kuda” kata Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi (Mursyid Thareqat Naqsyabandiah Al-Kalidiah Aminiah Ahli Silsilah ke-36,) bahwa gambaran “Burraq nabi“ yang dikendarai Beliau ketika berjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit tujuh adalah

“berwujud binatang seperti kuda tapi lebih kecil“, berkepala manusia“ kecepatannya satu langkah bisa menempuh jarak sejauh mata memandang“.

Kemudian gambaran nabi itu dibentuk ke dalam gambar realistis, yang dipajang di dinding. Anak-anak orang awam menangkap kesan seperti gambaran binatang tersebut.
Kalau itu di tuju, oleh ayat dan surat al Isra’, maka terbentuk kesan bahwa hanya nabi saja yang mampu mengadakan perjalanan cepat di muka bumi dan naik ke langit dalam tempo cepat secepat kilat.

Dan al Qur’an tersebut hanya menjadi cerita belaka, bukanlah sebagai hidayah bagi seluruh umat manusia, itu bila mana ayat al Qur’an hanya dipahami dari segi harfiahnya saja.

Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin

Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang
menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah
kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama
bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya
adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran
Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh
manusia.
Secara bahasa,
الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ
rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab,
Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih
sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah
bentuk kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia.

Penafsiran Para Ahli Tafsir
1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim:
“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat
disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:

Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat
sekaligus.Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah
disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka.
Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat.
Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih
bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.
Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah
dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih
sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi
Wa sallam.
Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat
manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka.
Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum
waris dan hukum yang lain.
Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan
adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua
manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman
menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat.
Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap
dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana
jika dikatakan ‘Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit’. Andaikan fulan tidak
meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat”
2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir:
“Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan
membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia
tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata
lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai
rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang
menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ”
3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari:
“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh
manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu’min dan
kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang
dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka
mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam
menafsirkan ayat ini:

Continue reading...

4 Hewan Yang Disebutkan dalam Al-Quran

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

4 Hewan Yang Disebutkan dalam Al-Quran

Nyamuk

Sebagaimana yang telah disebutkan, dalam banyak ayat Al Quran Allah subhanahu wata’ala memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam dan melihat “tanda-tanda” di dalamnya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di alam semesta diliputi oleh tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka semua “diciptakan”, bahwa mereka menunjukkan kekuasaan, ilmu, dan seni dari “Pencipta” mereka. Manusia bertanggungjawab untuk mengenali tanda-tanda ini dengan menggunakan akalnya, untuk memuliakan Allah subhanahu wata’ala . Walaupun semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, beberapa tanda dirujuk Allah subhanahu wata’ala secara khusus dalam Al Quran. Nyamuk adalah salah satunya. Di surah Al Baqarah ayat 26, nyamuk disebutkan:

“Sesungguhnya, Allah subhanahu wata’ala tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa`perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah subhanahu wata’ala menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah subhanahu wata’ala , dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah subhanahu wata’ala kecuali orang-orang yang fasik.”(Al Baqarah, ayat 26)

Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak penting. Namun, ternyata nyamuk itu sangat berarti untuk diteliti dan difikirkan sebab di dalamnya terdapat tanda kebesaran Allah subhanahu wata’ala . Inilah sebabnya “Allah subhanahu wata’ala tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”.

Beberapa ciri keistimewaan nyamuk

Proses Persenyawaan

Seekor nyamuk jantan yang telah cukup dewasa dan bersedia untuk mengawan akan menggunakan antenanya sebagai organ pendengar untuk bertemu dengan nyamuk betina. Fungsi antena nyamuk jantan berbeda dengan antena nyamuk betina. Bulu nipis di ujung antenanya sangat peka terhadap suara yang dipancarkan nyamuk betina. Di sebelah organ seksual nyamuk jantan, terdapat anggota tubuh yang membantunya mencengkram nyamuk betina ketika proses persenyawaan dilakukan di udara.

Nyamuk jantan terbang berkelompok, sehingga terlihat seperti sekawan awan. Ketika seekor betina memasuki kelompok tersebut, nyamuk jantan yang kuat memikat nyamuk betina akan melakukan persenyawaan dengannya sewaktu di udara. Persenyawaan tidak berlangsung lama dan nyamuk jantan akan kembali ke kelompoknya semula. Bermula dari saat itu, nyamuk betina memerlukan darah untuk perkembangan telurnya.

Perjalanan Luar Biasa Sang Nyamuk

Pada umumnya, nyamuk dikenal sebagai pengisap dan pemakan darah. Hal ini ternyata tidak terlalu tepat, karena yang mengisap darah hanya nyamuk betina. Selain itu, nyamuk betina tidak memerlukan darah untuk makan. Baik nyamuk jantan maupun betina mereka hidup dari nektar bunga ke bunga yang lain. Nyamuk betina mengisap darah hanya karena ia memerlukan protein dalam darah untuk membantu telurnya berkembang. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah hanya untuk memelihara kelangsungan spesiesnya.

Proses perkembangan nyamuk sangat mengagumkan. Berikut ini adalah kisah singkat tentang transformasi makhluk hidup dari seekor larva kecil hingga melalui beberapa tahap menjadi seekor nyamuk:

• Telur nyamuk, yang berkembang dengan diberi makan darah.

• Nyamuk betina memeriksa permukaan tanah secara menyeluruh dengan sesunggut halus di bawah perutnya. Setelah menemukan tempat yang sesuai, ia mulai bertelur.

• Nyamuk betina meletakkan telur-telurnya di atas daun lembab atau kolam kering selama musim panas atau musim gugur. Telur-telur tersebut panjangnya kurang dari satu milimeter, tersusun dalam satu baris, secara berkelompok atau satu-satu. Beberapa spesies bertelur dalam bentuk tertentu, saling berjejer sehingga menyerupai sampan. Sebahagian kelompok telur ini dapat menyatu hingga 300 telur.

• Telur-telur itu berwarna putih akan bertukar menjadi gelap warnanya, lalu menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi larva, agar tidak dilihat oleh burung atau serangga lain.

• Selain telur, warna kulit sebahagian larva juga berubah sesuai dengan kawasan sekitar, supaya mereka lebih dilindungi.

• Larva berubah warna dengan faktor-faktor tertentu melalui berbagai proses kimia yang rumit..

• Menetasnya Telur. Larva-larva mulai keluar dari telur secara serentak. Larva, akan terus-menerus makan supaya ia dapat membesar dengan cepat.

• Kulit mereka segera menjadi sempit, sehingga mereka tidak boleh tumbuh lebih besar lagi. Ini bermakna sudah tiba masanya untuk pegantian kulit yang pertama.

• Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh akan mudah pecah. Larva nyamuk akan berganti kulit sebanyak dua kali lagi sampai ia selesai berkembang.

• Pada tahap terakhir perkembangannya, larva menghadapi bahaya terputusnya pernafasan, karena lubang pernafasannya dipermukaan air melalui pipa udara (seakan snorkling) akan tertutup. Pada tahap ini, pernafasan nyamuk tidak lagi menggunakan lubang ini, tetapi melalui dua liang yang baru terbentuk pada bahagian depan tubuhnya.

• Nyamuk didalam kepompong kini telah dewasa. Ia sudah siap untuk terbang, lengkap dengan semua organnya, seperti antena, tubuh, kaki, dada, sayap, perut, dan matanya yang besar.

• Kepompong tersebut dikoyak di bahagian atas. Bahaya terbesar pada tahap ini adalah bocornya air dan akan masuk ke dalam kepompong. Akan tetapi, bahagian atas kepompong yang dikoyak ini ditutupi suatu cairan tebal khusus, yang berfungsi melindungi kepala nyamuk dari sentuhan air.

• Ia akan memanjat ke atas air dan hanya kakinya yang boleh menyentuh permukaan air.

Sistem Pernafasan Nyamuk

Dalam sistem pernafasannya, larva menghirup udara dengan menggunakan pipa berongga yang didorong ke atas permukaan air. Sementara itu, larva menggantung terjungkir di bawah air. Suatu cairan tebal mencegah masuknya air ke lubang yang digunakan larva untuk bernafas. Ketika nyamuk keluar dari air, kepalanya tidak boleh menyentuh air sama sekali. Jika tidak, nafasnya akan terputus. Angin sepoi atau riak kecil pada permukaan air akan menyebabkannya mati.

Teknik Mengisap Darah Yang Menakjubkan

Teknik nyamuk untuk mengisap darah ini bergantung pada sistem kompleks yang bekerjasama antara berbagai struktur yang sangat terperinci. Setelah mendarat pada sasaran, mula-mula nyamuk mencari sebuah titik dengan bibir pada belalainya. Sengat nyamuk yang mirip alat suntik ini dilindungi sebungkus khusus yang terbuka selama proses pengisapan darah. Nyamuk tidak menusuk kulit dengan cara menghunjamkan belalainya dengan tekanan.

Tugas utama dilakukan oleh rahang atas yang setajam pisau dan rahang bawah yang memiliki gigi yang membengkok ke belakang. Nyamuk menggerakkan rahang bawah kedepan belakang seperti gergaji dan mengiris kulit dengan bantuan rahang atas. Ketika sengat disiletkan melalui irisan pada kulit ini dan mencapai pembuluh darah.

Tibalah waktunya nyamuk mengisap darah. Namun, sebagaimana kita ketahui, luka seringan apa pun pada pembuluh darah akan menyebabkan tubuh manusia mengeluarkan enzim yang membekukan darah dan menghentikan luka. Enzim ini tentunya menjadi masalah bagi nyamuk, sebab tubuh manusia juga akan segera bereaksi membekukan darah pada lubang yang dibuat nyamuk dan menutup luka tersebut. artinya, nyamuk tidak akan dapat mengisap darah lagi. Akan tetapi, masalah ini dapat diatasi. Sebelum mulai mengisap darah, ia menyuntikkan cairan khusus dari tubuhnya ke dalam irisan yang telah terbuka. Cairan ini meneutralkan enzim pembeku darah. Maka, nyamuk dapat mengisap darah yang ia perlukan tanpa terjadi pembekuan darah.

Rasa gatal dan bengkak pada titik yang digigit nyamuk adalah disebabkan oleh cairan pencegah pembekuan darah ini. Ini tentulah sebuah proses yang luar biasa dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaimana nyamuk tahu dalam tubuh manusia ada enzim pembeku?

2. Untuk menghasilkan cairan peneutral enzim tersebut, nyamuk perlu mengetahui struktur kimianya. Bagaimana ini dapat terjadi?

3. Bagaimana nyamuk mendapatkan pengetahuan seperti itu, bagaimana ia
menghasilkan cairan tersebut dalam tubuhnya sendiri dan membuat “rantai teknis”
yang diperlukan untuk memindahkan cairan tersebut ke belalainya?

Jawaban semua pertanyaan ini telah jelas: tidak mungkin nyamuk dapat melakukan semua hal di atas. Ia tidak pula memiliki akal, ilmu kimia, ataupun lingkungan “makmal” yang diperlukan untuk memproduksi cairan tersebut. Yang kita bicarakan adalah seekor nyamuk yang hanya beberapa milimeter panjangnya, tanpa akal ataupun kecerdasan, itu saja! Jelaslah bahwa Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, telah menciptakan nyamuk dan manusia, dan memberikan kemampuan-kemampuan luar biasa dan menakjubkan tersebut kepada nyamuk.

Lebah Madu

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuatkan manusia,” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 68-69)

Menarik untuk dicermati bahawa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka perlukan. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan penghasilan madu berlebihan ini, yang tampaknya seperti hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata “wahyu” yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi. Lebah memghasilkan madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari sungguhpun ia tidak memerlukannya dan sapi yang menghasilkan susu jauh melebihi keperluan anak-anaknya.

Beberapa Ciri Keistimewaan Lebah

Pengaturan tahap kelembaban dan sistem pengudaraan

Kelembaban sarang adalah sangat penting bagi menghasilkan madu yang kualitas tinggi. Pada kelembaban yang terlalu tinggi atau rendah, madu yang dihasilkan akan rusak serta kehilangan kualitas dan zatnya. Suhu yang diperlukan adalah 35 derajat Calcius.selama sepuluh bulan pada tahun tersebut.

Untuk menjaga suhu dan kelembaban sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok khusus yang bertugas menjaga sistem pengudaraan. Jika hari panas, lebah akan mengatur sistem pengudaraan sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada struktur kayu, mereka akan mengipas sarang dengan sayap.Udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah ‘pengudaraan’ yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang. Sistem pengudaraan ini juga bermanfaat melindungi sarang dari asap dan pencemaran udara.

Sistem kesehatan dan Pertahanan:

Di dalam sarang terdapat sistem pemeliharaan keehatan yang sempurna untuk mengendalikan segala aktivitas yang mungkin menimbulkan penyakit dan bakteria. Tujuan utama sistem ini adalah menghilangkan zat-zat yang mungkin menimbulkan bakteria. Prinsipnya adalah mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga memasuki sarang walaupun sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah bereaksi untuk mengusirnya dari sarang. Untuk benda asing yang lebih besar yang tidak dapat dibuang dari sarang, digunakan tindakan pertahanan lain.

Mereka menghasilkan zat yang disebut “propolis” (resin lebah) untuk pembalsaman. Resin lebah ini diproduksi dengan cara menambahkan cairan khusus yang mereka keluarkan dari tubuh kepada resin yang dikumpulkan dari pohon-pohon seperti pinus, hawwar, dan akasia. Resin lebah juga digunakan untuk menambal keretakan pada sarang. Setelah ditambalkan pada retakan, resin tersebut mengering ketika bertemu dengan udara dan membentuk permukaan yang keras. Dengan demikian, sarang dapat bertahan dari ancaman luar. Lebah menggunakan zat ini hampir dalam semua pekerjaan mereka..

Reka Bentuk Sarang Lebah:

Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80 ribu lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama, dengan menggunakan sedikit bagian dari lilin lebah. Sarang tersebut tersusun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berukuran hampir sama setiap satunya. Keajaiban teknik ini dicapai melalui kerja kolektif ribuan lebah. Lebah menggunakan sel-sel ini untuk menyimpan makanan dan memelihara lebah muda. Selama jutaan tahun, lebah telah menggunakan struktur segi enam untuk membangun sarangnya.

(Sebuah fosil lebah yang berusia 100 juta tahun telah ditemukan). Sungguh menakjubkan bahawa mereka memilih struktur segi enam, bukan segi lapan atau segi lima. Ahli matematik memberikan alasannya: “struktur segi enam adalah bentuk geometri yang paling sesuai untuk memanfaatkan setiap ruang unit secara maksimum”. Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat ruang yang tidak terpakai, sehingga menyebabkan lebih sedikit madu yang dapat disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya. Pada kedalaman yang sama, bentuk sel segi tiga atau segi empat dapat menampung jumlah madu yang sama dengan sel segi enam. Akan tetapi, dari semua bentuk geometri tersebut, segi enam memiliki keliling yang paling pendek. Walaupun memiliki isipadu yang sama, jumlah lilin yang diperlukan untuk membangun sel segi enam lebih sedikit daripada membangun sel segi tiga atau segi empat. Kesimpulannya: sel berbentuk segi enam memerlukan jumlah lilin paling sedikit dalam pembangunannya, dan menyimpan madu paling banyak.

Mana mungkin lebah mampu menghitung ini semua, yang hanya dapat dilakukan manusia dengan perhitungan geometri yang rumit. Hewan sekecil ini menggunakan bentuk segi enam secara fitrah, hanya karena mereka diajari atau “diilhami” oleh Allah subhanahu wata’ala .

Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah subhanahu wata’ala ) untuk kaum yang meyakini .(QS- Al Jatsiyah: 4)

Cara Menentukan Arah:

Lebah biasanya harus terbang menempuh jarak jauh untuk mencari makanan. Mereka mengumpulkan bunga dan bahan pembuat madu dalam jarak 800 m dari sarang. Seekor lebah, yang telah menemukan bunga, terbang kembali ke sarangnya untuk memberi tahu lebah lain tentang tempat bunga tersebut.

Bagaimana lebah ini menjelaskan lokasi bunga kepada lebah lain di sarang?
Dengan menari!… Lebah yang kembali ke sarangnya mulai menari. Tarian yang mereka gunakan untuk adalah untuk memberi tahu lebah lain tentang lokasi bunga. Tarian yang diulang-ulang lebah tersebut mengandung semua informasi tentang sudut, arah, jarak, dan informasi perincian lain tentang sumber makanan, sehingga lebah lain dapat sampai ke tempat itu.

Tarian ini berbentuk angka “8” yang diulang terus-menerus oleh lebah tersebut . Lebah tersebut membentuk bagian tengah angka “8” dengan mengibas-ngibaskan ekor dan bergerak zig-zag. Sudut antara gerakan zig-zag.

Cara Penandaan Bunga :

Lebah madu dapat mengetahui kalau bunga yang ia temui telah didatangi dan diambil nektarnya lebih dahulu oleh lebah lain, dan ia segera meninggalkannya. Dengan demikian, ia dapat menghemat waktu dan tenaga. Lalu, bagaimana seekor lebah mengetahui, tanpa memeriksa, bahwa nektar bunga tersebut telah diambil? Ini terjadi karena lebah yang mendatangi bunga terlebih dahulu menandainya dengan titisan berbau khas.. Dengan demikian, lebah tidak membuang waktu pada bunga yang sama.

Keajaiban Madu

Tahukah anda, betapa madu merupakan sumber makanan penting yang disediakan Allah untuk manusia melalui serangga kecil ini? Madu tersusun atas beberapa rangkaian gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan bunga. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, madu adalah “obat bagi manusia”.
Seorang doktor Rumania mengatakan bahwa ia menguji madu untuk pengobatan penyakit katarak, dan 2002 daripada 204 pasiennya sembuh secara keseluruhan. Para doktor Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.

Manfaat madu lainnya dapat dijelaskan di bawah ini:
• Mudah dicerna: Kerana molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa), madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walaupun memiliki kandungan asid yang tinggi.
• Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.

• Rendah kalori: Kualitas madu lain adalah, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walaupun memberi energi/tenaga yang besar, madu tidak menambah berat badan.

Menyerap lebih cepat melalui darah: Jika dicampur dengan air hangat, madu dapat menyerap ke dalam darah dalam waktu waktu tujuh menit.
Molekul gula bebasnya membuatkan otak berfungsi lebih baik.
Membantu pembentukan darah: Madu menyediakan banyak tenaga yang diperlukan tubuh untuk pembentukan darah.
Ia membantu pembersihan darah. Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah.
Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapilari dan arteriosklerosis.

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Al Jatsiyah, 45: 13)

Salah satu produk perlebahan Amerika
High Desert
High-Desert memiliki dedikasi untuk menyediakan produk-produk perlebahan High-Desert dipanen dari daerah yang dingin, kering dan subur di Arizona, Amerika Serikat, tidak terkena panas dan bebas polusi. Di daerah yang teduh dan tenang inilah, lebah dengan seksama mengumpulkan dan memilih yang terbaik dari alam untuk sarang mereka.

High Desert adalah produk kesehatan yang diproduksi oleh CC Pollen Co., perusahaan perintis produk lebah madu terbesar di Amerika Serikat yg menghasilkan HoneyBeePollen atau serbuk sari lebah madu dan juga pengekspor produk-produk perlebahan terbesar.

Semua produk High Desert alami & aman, telah terdaftar di BPOM Indonesia.
Stokis & Depo High Desert tersebar di seluruh Imdonesia.

Produk-produk perlebahan High-Desert tidak hanya secara alami terbuat dari kumpulan nutrisi-nutrisi penting, tetapi juga telah melalui berbagai penelitian untuk memastikan tubuh Anda dapat menyerap semua nutrisi penting itu dengan sempurna.

Dengan mempelajari proses penyembuhan tubuh yang alami, para peneliti telah memformulasikan produk-produk perlebahan yang alami ini (All Natural) secara ilmiah (Scientific Applied) agar dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh Anda yang unik yang diperlukan untuk meguatkan dan meregenerasi sel-sel tubuh.

Kondisi lingkungan di pegunungan gurun Arizona, Amerika Serikat yang dingin, kering, dan subur, serta bebas dari polusi, membuat produk-produk perlebahan High-Desert tetap terjaga kualitas dan kesegaran nutrisi alaminya. Hampir sama dengan mengambil langsung dari sarang lebah!

Terapi lebah merupakan pengobatan yang menggunakan produk-produk lebah seperti royal jelly, bee pollen, propolis dan madu. Sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu, kandungan nutrisi dalam produk-produk lebah dipercaya dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan tubuh. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia telah menggunakan produk lebah sebagai sumber makanan, obat-obatan dan untuk peremajaan.

Beberapa peneliti baru-baru ini menemukan bahwa produk-produk lebah dapat membantu mengurangi rasa lelah dan meningkatkan stamina saat berolah raga. Penelitian juga menunjukkan bahwa kombinasi alami nutrisi-nutrisi seperti vitamin dan mineral dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan mengonsumsi nutrisi-nutrisi tersebut secara terpisah.

Kini, para ahli medis profesional telah mengunakan produk-produk lebah untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, mulai dari nyeri sendi hingga penyakit yang lebih serius.

Apakah produk lebah menyebabkan alergi?
Walaupun telah ditemukan beberapa kasus alergi yang disebabkan oleh produk lebah, rasio terjadinya kasus tersebut relatif kecil.

Gatal-gatal yang timbul pada beberapa orang setelah mengonsumsi produk-produk lebah, sebagian besar bukan disebabkan oleh alergi, tetapi merupakan indikasi bahwa tubuh sedang melalui proses detoksifikasi. Setelah mengonsumsi produk selama beberapa hari, gatal-gatal ini akan hilang dan mereka pun merasakan manfaat dari produk lebah tersebut.

Bahkan, produk lebah seperti ekstrak bee pollen sering kali digunakan untuk me-ngatasi alergi1,2,3. Oleh karena itu, produk lebah lebih banyak memberikan manfaat untuk mengatasi / mengurangi alergi dibanding menimbulkan alergi.

Bagaimana cara untuk mengetahui apakah anda sensitif terhadap produk lebah?
Beberapa orang sensitif terhadap produk lebah. Namun, anda tidak perlu khawatir karena reaksi alergi dapat dihindarkan. Bagi anda yang baru pertama kali mengonsumsi atau menggunakan produk lebah, ada beberapa langkah mudah yang dapat anda lakukan, antara lain:

Sebagai suplemen:
Mulailah dengan dosis yang rendah Reaksi alergi biasanya timbul dalam periode waktu yang pendek, dari hitungan menit ke hitungan jam. Namun, jika anda tidak mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi, berarti anda tidak sensitif terhadap produk lebah, dan anda dapat melanjutkan penggunaan sesuai dosis yang dianjurkan!

Hingga saat ini, belum ditemukan adanya kasus yang membahayakan kesehatan seseorang akibat mengonsumsi produk lebah, namun kemungkinan terjadinya reaksi alergi tetap ada.

Sebagai krim/produk-produk perawatan tubuh:
Lakukan tes produk pada kulit Reaksi alergi awal yang terjadi ketika menggunakan produk baru (misal: bengkak, gatal-gatal) dapat sesekali terjadi jika seseorang memiliki kulit yang sensitif atau alergi. Untuk menghindarinya, lakukanlah tes sederhana seperti berikut:

Oleskan sedikit produk lebah pada bagian dalam lekukan siku atau pergela-ngan tangan anda.

Jika anda mengalami gejala-gejala alergi (seperti rasa panas, perih, gatal-gatal, kemerah-merahan atau perubahan warna kulit) setelah pemakaian, bersihkan produk dari bagian kulit tersebut dengan air hangat. Indikasi tersebut me-nunjukkan bahwa produk ini tidak cocok untuk jenis kulit anda. Oleh karena itu anda harus hentikan penggunaannya.

Namun, jika kulit anda tidak mengalami reaksi tersebut diatas setelah pemakaian (dalam kurun waktu 24 jam), berarti anda tidak sensitif terhadap produk lebah. Lanjutkan pemakaiannya!

Dengan melalukan tes ini, anda dapat terhindar dari rasa sakit serta rasa tidak nyaman yang timbul akibat alergi terhadap bahan yang terkandung dalam produk tersebut.

Produk-produk lebah High-Desert tidak hanya kaya akan nutrisi, tetapi juga bebas dari bahan pengawet!

Proses pembuatan produk-produk High-Desert

* Semua bahan-bahan dasar yang digunakan memiliki Sertifikat Analisis.
* Proses dan metode pembuatan diawasi secara ketat oleh staf Quality Control (QC).
* Selama proses pembuatan, sampel produk dikirim ke Laboratorium Quality Control untuk dianalisa.
* Hasil produk akhir, kemasan dan jumlah produk per kemasan diperiksa kembali sebelum dilakukan pengiriman.

Penyimpanan produk-produk High-Desert

* Simpan produk-produk High-Desert di tempat yang sejuk dan kering.
* Penyimpanan dalam alat pendingin / kulkas lebih disarankan untuk menjaga kualitas produk secara optimal.
* Jauhkan produk-produk High-Desert dari panas atau tempat yang lembab.
* Tutup kembali kemasan produk (botol, pot, tube, dll) dengan rapat setelah digunakan.
* Buang kapas yang ada dalam botol setelah dibuka. Jangan memasukkannya kembali.
* Jika terdapat kantong silica gel di dalam botol, jangan dibuang hingga semua kapsul atau tablet telah habis dikonsumsi.

Apa yang dapat anda harapkan dengan mengonsumsi produk-produk High-Desert?

Produk High-Desert bekerja dalam 3 tahap.

1. Pengeluaran/Membersihkan racun dalam tubuh
Konsep mengeluarkan dan membersihkan racun dari dalam tubuh telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Prosesnya meliputi pembersihan pada saluran pencernaan, ginjal, paru-paru, hati dan darah, yang mana organ-organ tersebut terlibat dalam proses pengeluaran bahan-bahan kimia dan racun dari dalam tubuh.
Ketika anda pertama kali mengonsumsi produk-produk High-Desert, tubuh anda akan mengalami beberapa proses sebagai berikut:

1. Sisa-sisa kotoran dan bakteri fermentasi dibersihkan dari saluran pencernaan.
2. Proses pembersihan darah, ginjal dan hati.
3. Ketergantungan tubuh akan hal-hal seperti gula, kafein, nikotin, alkohol dan obat-obatan menurun.
4. Sistem hormon meningkat.
5. Sistem kekebalan tubuh meningka
Reaksi awal banyak dialami orang pada beberapa hari pertama setelah mengonsumsi produk-produk High-Desert. Hal tersebut merupakan reaksi normal yang mengindikasikan bahwa produk High-Desert bekerja mengeluarkan racun dari dalam tubuh anda.

Tentang reaksi awal: Beberapa orang mengalami reaksi awal ketika pertama kali mengonsumsi suplemen kesehatan. Reaksi awal ini umum terjadi ketika tubuh menerima nutrisi dalam jumlah yang banyak, terutama jika tubuh anda jarang sekali mendapatkan nutrisi yang cukup. Beberapa jenis reaksi awal dapat berupa panas dalam, sakit kepala, nyeri sendi, bibir kering dan pecah-pecah, perut mulas, demam dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa tubuh anda sedang beradaptasi terhadap nutrisi yang masuk yang juga merupakan proses perbaikan, bukan efek samping. Jika anda mengalami reaksi-reaksi awal ini, kurangi dosis pemakaian dan banyak minum air putih.

2. Pembentukan
Ketika tubuh anda telah bersih dari racun, maka proses pembentukan mulai terjadi melalui nutrisi alami dan seimbang yang terkandung dalam produk-produk High-Desert. Secara bertahap anda akan merasakan perubahan pada kondisi ke-sehatan anda.

3. Perawatan
Setelah tubuh anda melewati tahap pembentukan dan anda merasa lebih segar, maka sangatlah penting untuk memastikan tubuh anda mendapatkan nutrisi yang cukup agar tubuh tetap prima. Disitulah produk-produk High-Desert berperan penting.

Mengonsumsi produk-produk High-Desert:

1. Produk-produk ini harus dikonsumsi sebelum makan atau dalam kondisi perut kosong untuk penyerapan yang sempurna.
2. Bahkan, produk-produk High-Desert dapat membantu mengurangi masalah lambung / maag jika dikonsumsi sebelum makan.
3. High-Desert Honeybee PollenS, Pollenergy 520 and Bee Propolis sebaiknya dikonsumsi 2-3 kali sehari sebelum makan.
4. Royal jelly sebaiknya dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur, untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
5. Jangan mengonsumsi produk-produk High-Desert dengan air yang panasnya melebihi suhu tubuh, karena panas dapat menghancurkan enzim-enzim yang terdapat dalam produk-produk High-Desert.
6. Mulailah mengonsumsi dengan dosis yang rendah dan tingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
7. Produk High-Desert dapat dikonsumsi bersamaan dengan atau sebelum mengonsumsi obat-obatan dari resep dokter.

Ada banyak produk-produk suplemen yang beredar di masyarakat sehingga membuat kita bingung untuk memilih mana yang terbaik untuk dikonsumsi bagi tubuh kita.

Berikut keunggulan-keunggulan dari produk High Desert dengan produk lainnya:

1. Seluruh produk-produk High Desert berbahan dasar dari hasil lebah madu sehingga bisa diterima oleh lapisan masyarakat seluruh kalangan, karena produk perlebahan telah diakui dan digunakan selama ribuan tahun sehingga suatu kepercayaan dan rasa aman untuk mengkonsumsi produk perlebahan.

2. Produk-produk High Desert diproduksi oleh CC Pollen Co merupakan produsen pollen terbesar di Amerika, juga merupakan eksportir terbesar didunia dengan sistem Double Fracture (pemecahan berganda) serta memiliki hak patent dunia. Jadi tidak diragukan lagi akan uji kualitas, higienis, keamanan, kebersihan, pengawasan, pemrosesan, serta kemurnian akan produk-produknya selalu terjaga. Disebabkan oleh hal-hal inilah produk-produk High Desert lebih murni & banyak kandungan-kandungan nutrisinya sehingga yang terserap oleh tubuh lebih optimal.

3. Digunakan oleh atlet 3 negara seperti POC (Filipina), OCM (Malaysia), serta KONI (Indonesia) dikarenakan produk-produk High Desert sediri sudah diakui akan kualitasnya yaitu bebas dopping, bebas ketergantungan serta efek samping yang tidak ada. Sehingga keluarlah pernyataan dari federasi olahraga dari tiga negara itu bahwa para atlet yang mengkonsumsi suplemen High Desert tidak perlu diadakan test dopping.

4. Telah digunakan oleh tiga generasi presiden USA yaitu Ronald Reagen, George Bush dan BIll Clinton dengan kop surat yang diterbitkan dari White House. Artinya produk-produk High Desert ini telah melalui beberapa tahapan proses penyeleksian yang sangat ketat untuk bisa hadir di gedung bergengsi ini dinyatakan bebas & aman untuk dikonsumsi.

5. Telah melalui proses penyeleksian & perijinan dari Depkes RI, BP POM, Sertifikat halal MUI, sertifikat anti-doping, sertifikat dari Sucofindo. Dipercaya halal, aman & higienis untuk dikonsumsi.

6. Tidak mengandung pewarna buatan, pemanis & perasa tambahan serta terbebas dari bahan pengawet kimia. Sehingga aman & higienis untuk dikonsumsi.

7. Dengan melalui pemrosesan tingkat tinggi untuk menjaga agar kandungan & kemurnian vitamin, mineral dan nutrisi lainnya tetap mendapatkan kualitas terjaga tanpa kehilangan serta penurunan sedikitpun.

8. Produk-produk perlebahan High Desert dipanen di daerah pegunungan gurun di Amerika seperti Arizona, Colorado, Utah, Montana dan Idaho. Sehingga kombinasi dari berbagai tempat ini memiliki nilai nutrisi dan kandungan lainnya yang tinggi dibandingkan dengan yang hanya berasal dari satu sumber lokasi.

9. Semua produk-produk High Desert pemrosesannya dikerjakan sendiri dari produsen CC Pollen Co. nya mulai dari peternakan, kemasan botol, laboratorium, pengemasan dipabrik hingga pendistribusian ke seluruh dunia. Jadi tidak ada yang di maklon kan ke pabrik lain, sehingga kualitas, kemurnian, kesegaran dan kandungan lainnya tetap terjaga tanpa kehilangan sedikitpun.

10. Produk-produk perlebahan High Desert ini secara alami terbuat dari kumpulan-kumpulan nutrisi-nutrisi penting, murni & alamiah.

11. Produk-produk perlebahan High Desert ini telah melalui berbagai penelitian untuk memastikan tubuh Anda dapat menyerap semua nutrisi penting itu dengan sempurna.

12. Produk-produk perlebahan High Desert dipanen Dengan kondisi daerah yang dingin, kering, subur, tidak terkena panas, bebas polusi, teduh dan tenang inilah lebah dengan seksama mengumpulkan dan memilih yang terbaik dari alam untuk sarang mereka. Sehingga menghasilkan produk-produk High Desert yang berkualitas terbaik.

13. Produk-produk High Desert dirancang untuk membantu pengobatan penyembuhan penyakit, bukan sekedar merawatnya yang bersifat sementara akan tetapi ada beberapa pembuktian yang telah terbantu oleh produk High Desert ini.

14. Produk-produk High Desert adalah produk yang berkualitas tinggi bertaraf internasional walaupun demikian harga yang diberikan relatif masih terjangkau oleh masyarakat.

Pengalaman selama bertahun-tahun akan manfaat produk perlebahan semakin memantapkan kepercayaan serta keyakinan kami bahwa produk perlebahan benar-benar berkhasiat.
Alami & Ilmiah ANSA (All Natural, Scienticcally Applied)
Terapi lebah adalah penggunaan produk perlebahan seperti bee pollen, propolis, royal jelly, dan madu untuk keperluan medis. Sejak 5000 tahun yang lalu, produk perlebahan sudah digunakan oleh manusia sebagai sumber makanan mereka, untuk pengobatan, serta untuk menjaga kesehatan tubuh mereka secara menyeluruh. Bahkan di dalam kitab-kitab suci seperti Al-Qur’an, Alkitab, Tripitaka, Weda, serta pada barang-barang pe-ninggalan bersejarah dari negara Cina, Yunani, Roma dan Rusia, tercantum manfaat atau kegunaan dari makanan yang terdapat dalam sarang lebah.
Pada tanggal 4 September 2007, dilaporkan bahwa beberapa ahli arkeologis telah menemukan sarang lebah yang masih dalam keadaan utuh dan telah berumur 3.000 tahun di daerah utara Israel. Hal ini membuktikan bahwa para peternak lebah sudah ada sejak jaman dahulu dan madu selain sebagai makanan juga digunakan untuk pengobatan serta untuk acara keagamaan.
Tetapi perlu diketahui bahwa semua nutrisi penting yang terdapat dalam produk perlebahan tidak dapat memberikan manfaat jika tubuh tidak dapat menyerapnya.
membuat produk-produk perlebahan High-Desert tetap terjaga kualitas dan kesegaran nutrisi alaminya. Hampir sama dengan mengambil langsung dari sarang lebah!

Bicara tentang lebah maka kita akan teringat dengan sarang lebah dan cara mereka bekerja dengan baik dalam kegelapan. Mereka berkomunikasi melalui bau, getaran dan interaksi secara fisik dengan lebah lainnya dan yang lebih pen-ting, lebah dapat mengenali dan bereaksi terhadap pheromones (senyawa kimia yang dikeluarkan oleh lebah). Di alam bebas, sarang lebah memiliki sistem perlindungan yang sangat baik untuk menjaga lebah agar terhindar dari ancaman lingkungan.
Didalam sarang lebah, terdapat:
Ratu lebah (queen bee)
Lebah jantan (drones)
Lebah Pekerja
– Lebah perawat (nurse bees)
– Lebah pencari (scout bees)
– Lebah pengumpul (collector bees).

Fase telur
(3 hari)
Sang ratu meletakkan sebutir telur di bagian dasar tiap-tiap sel. Posisi telur berada di tengah sel de-ngan salah satu ujungnya melekat pada dasar sel.

Fase Larva
(6 hari)
Ketika larva menetas dari telur, selama 3 hari larva tersebut diberikan royal jelly yang diproduksi dari kelenjar yang terdapat di kepala lebah perawat.

Fase Pupa
(12 hari)
Sel-sel setiap larva tersebut kemudian ditutup dengan lilin selama 12 hari. Setelah 21 hari, lebah pekerja dewasa akan menetas.

Ratu Lebah [ Queen Bee ]
Disetiap sarang lebah, hanya akan terdapat satu ratu lebah diantara koloni lebah yang jumlahnya mencapai 80,000 ekor. Secara genetik, sang ratu bertanggung jawab untuk mengkontribusikan karakteristiknya pada lebah lainnya yang terdapat di sarang. Oleh karena itu, lebah yang terdapat di sarang, sudah pasti “terbentuk dari elemen dasar yang sama” dengan sang ratu lebah.
Ratu Lebah
• Mengonsumsi royal jelly sepanjang hidupnya.
• Hidup 40 kali lebih lama diban-dingkan lebah pekerja, kira-kira 4 hingga 6 tahun.
• Tumbuh 40% lebih besar diban-dingkan lebah pekerja.
• Bertelur (ribuan) setiap hari.
• Aktif secara seksual
• Membutuhkan 16 hari untuk berkembang Lebah Pekerja
• Mengonsumsi royal jelly hanya pada 3 hari pertama dalam fase larva.
• Hanya hidup untuk beberapa minggu, rata-rata sampai dengan 50 hari.
• Memiliki tubuh lebih kecil dari ratu lebah.
• Tidak berproduksi/mandul
Tidak aktif secara seksual
• Membutuhkan 21 hari untuk berkemban
Lebah Perawat [ Nurse Bee ]
Lebah perawat adalah lebah pekerja yang khusus merawat ratu lebah dan anak-anaknya atau larva. Mereka bertanggung jawab untuk memproduksi royal jelly, serta memberi makan sang ratu dengan royal jelly, bee pollen dan madu.
Lebah Pencari [ Scouts Bees ]
Lebah pencari adalah lebah pekerja yang mencari sumber-sumber pollen, nektar dan propolis. Ketika mereka menemukan sumber makanan yang terbaik, mereka akan kembali ke sarang dan menginformasikannya kepada lebah pengumpul. Kemudian, lebah pengumpul pergi untuk mengumpulkan makanan tersebut.
Lebah Pengumpul [ Collector Bees ]
Ketika mengumpulkan pollen dari bunga-bunga, lebah pengumpul hanya akan mengunjungi tipe bunga yang sama hingga semua pollen habis terkumpul. Pada saat lebah mengumpulkan pollen, ia juga mencampurkannya dengan sedikit madu dari mulutnya dan kemudian membentuk gumpalan pollen yang akan disimpan dalam kantong yang terdapat di kaki lebah. Fakta menarik ! Peternak lebah menaruh alat yang dinamakan “pollen trap/jebakan pollen” disekeliling jalan masuk sarang lebah. Jebakan pollen ini terdiri dari beberapa baris kawat halus yang bertujuan untuk mempersempit jalan masuk para lebah sehingga membuat sebagian gumpalan pollen yang tersimpan di kaki lebah terjatuh. Setelah jumlah pollen telah cukup terkumpul, para peternak akan memindahkan jaring tersebut ke sarang lebah lain secara periodik. Lebah pengumpul menghisap nektar dari bunga-bunga dengan lidah mereka yang panjang. Mereka hanya mengunjungi bunga dari spesies yang sama dalam satu putaran pengumpulan, untuk memastikan bahwa nektar yang dikumpulkan berasal dari satu sumber yang sama. Nektar yang terkumpul kemudian disimpan dalam sel madu yang terbuka. Sel-sel ini akan tetap terbuka hingga nektar menguap dan terbentuk cairan madu yang kental dan matang.Lebah Jantan [ Drones ]
Lebah pejantan adalah satu-satunya lebah jantan yang terdapat di sarang lebah dan hanya bertugas untuk membuahi sang ratu lebah. Enam belas hari setelah ratu lebah yang baru terlahir, ia terbang ke tempat lebah jantan yang telah menunggu kedatangannya. Setelah membuahi sang ratu, lebah jantan ini kemudian mati.

Terapi lebah merupakan pengobatan yang menggunakan produk-produk lebah seperti royal jelly, bee pollen, propolis dan madu. Sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu, kandungan nutrisi dalam produk-produk lebah dipercaya dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan tubuh. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia telah menggunakan produk lebah sebagai sumber makanan, obat-obatan dan untuk peremajaan.
Beberapa peneliti baru-baru ini menemukan bahwa produk-produk lebah dapat membantu mengurangi rasa lelah dan meningkatkan stamina saat berolah raga. Penelitian juga menunjukkan bahwa kombinasi alami nutrisi-nutrisi seperti vitamin dan mineral dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan mengonsumsi nutrisi-nutrisi tersebut secara terpisah.
Kini, para ahli medis profesional telah mengunakan produk-produk lebah untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, mulai dari nyeri sendi hingga penyakit yang lebih serius.
Apakah produk lebah menyebabkan alergi?
Walaupun telah ditemukan beberapa kasus alergi yang disebabkan oleh produk lebah, rasio terjadinya kasus tersebut relatif kecil.
Gatal-gatal yang timbul pada beberapa orang setelah mengonsumsi produk-produk lebah, sebagian besar bukan disebabkan oleh alergi, tetapi merupakan indikasi bahwa tubuh sedang melalui proses detoksifikasi. Setelah mengonsumsi produk selama beberapa hari, gatal-gatal ini akan hilang dan mereka pun merasakan manfaat dari produk lebah tersebut.
Bahkan, produk lebah seperti ekstrak bee pollen sering kali digunakan untuk me-ngatasi alergi1,2,3. Oleh karena itu, produk lebah lebih banyak memberikan manfaat untuk mengatasi / mengurangi alergi dibanding menimbulkan alergi.
Bagaimana cara untuk mengetahui apakah anda sensitif terhadap produk lebah? Beberapa orang sensitif terhadap produk lebah. Namun, anda tidak perlu khawatir karena reaksi alergi dapat dihindarkan. Bagi anda yang baru pertama kali mengonsumsi atau menggunakan produk lebah, ada beberapa langkah mudah yang dapat anda lakukan, antara lain:
Sebagai suplemen:
Mulailah dengan dosis yang rendah Reaksi alergi biasanya timbul dalam periode waktu yang pendek, dari hitu-ngan menit ke hitungan jam. Namun, jika anda tidak mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi, berarti anda tidak sensitif terhadap produk lebah, dan anda dapat melanjutkan penggunaan sesuai dosis yang dianjurkan!
Hingga saat ini, belum ditemukan adanya kasus yang membahayakan ke- sehatan seseorang akibat mengonsumsi produk lebah, namun kemungkinan terjadinya reaksi alergi tetap ada.
Sebagai krim/produk-produk perawatan tubuh:
Lakukan tes produk pada kulit Reaksi alergi awal yang terjadi ketika menggunakan produk baru (misal: bengkak, gatal-gatal) dapat sesekali terjadi jika seseorang memiliki kulit yang sensitif atau alergi. Untuk menghindarinya, lakukanlah tes sederhana seperti berikut:
Oleskan sedikit produk lebah pada bagian dalam lekukan siku atau pergela-ngan tangan anda. Jika anda mengalami gejala-gejala alergi (seperti rasa panas, perih, gatal-gatal, kemerah-merahan atau perubahan warna kulit) setelah pemakaian, bersihkan produk dari bagian kulit tersebut dengan air hangat. Indikasi tersebut me-nunjukkan bahwa produk ini tidak cocok untuk jenis kulit anda. Oleh karena itu anda harus hentikan penggunaannya.
Namun, jika kulit anda tidak mengalami reaksi tersebut diatas setelah pemakaian (dalam kurun waktu 24 jam), berarti anda tidak sensitif terhadap produk lebah. Lanjutkan pemakaiannya!
Dengan melalukan tes ini, anda dapat terhindar dari rasa sakit serta rasa tidak nyaman yang timbul akibat alergi terhadap bahan yang terkandung dalam produk tersebut.
Produk-produk HDI
Produk-produk lebah High-Desert tidak hanya kaya akan nutrisi, tetapi juga bebas dari bahan pengawet! Proses pembuatan produk-produk High-Desert
• Semua bahan-bahan dasar yang digunakan memiliki Sertifikat Analisis.
• Proses dan metode pembuatan diawasi secara ketat oleh staf Quality Control (QC).
• Selama proses pembuatan, sampel produk dikirim ke Laboratorium Quality Control untuk dianalisa.
• Hasil produk akhir, kemasan dan jumlah produk per kemasan diperiksa kembali sebelum dilakukan pengiriman.
Penyimpanan produk-produk High-Desert
• Simpan produk-produk High-Desert di tempat yang sejuk dan kering.
• Penyimpanan dalam alat pendingin / kulkas lebih disarankan untuk menjaga kualitas produk secara optimal.
• Jauhkan produk-produk High-Desert dari panas atau tempat yang lembab.
• Tutup kembali kemasan produk (botol, pot, tube, dll) dengan rapat setelah digunakan.
• Buang kapas yang ada dalam botol setelah dibuka. Jangan memasukkannya kembali.
• Jika terdapat kantong silica gel di dalam botol, jangan dibuang hingga semua kapsul atau tablet telah habis dikonsumsi.
Apa yang dapat anda harapkan dengan mengonsumsi produk-produk High-Desert? Produk High-Desert bekerja dalam 3 tahap.
1. Pengeluaran/Membersihkan racun dalam tubuh
Konsep mengeluarkan dan membersihkan racun dari dalam tubuh telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Prosesnya meliputi pembersihan pada saluran pencernaan, ginjal, paru-paru, hati dan darah, yang mana organ-organ tersebut terlibat dalam proses pengeluaran bahan-bahan kimia dan racun dari dalam tubuh.
Ketika anda pertama kali mengonsumsi produk-produk High-Desert, tubuh anda akan mengalami beberapa proses sebagai berikut:

1. Sisa-sisa kotoran dan bakteri fermentasi dibersihkan dari saluran pencernaan.
2. Proses pembersihan darah, ginjal dan hati.
3. Ketergantungan tubuh akan hal-hal seperti gula, kafein, nikotin, alkohol dan obat-obatan menurun.
4. Sistem hormon meningkat.
5. Sistem kekebalan tubuh meningka
Reaksi awal banyak dialami orang pada beberapa hari pertama setelah mengonsumsi produk-produk High-Desert. Hal tersebut merupakan reaksi normal yang mengindikasikan bahwa produk High-Desert bekerja mengeluarkan racun dari dalam tubuh anda.
Tentang reaksi awal: Beberapa orang mengalami reaksi awal ketika pertama kali mengonsumsi suplemen kesehatan. Reaksi awal ini umum terjadi ketika tubuh menerima nutrisi dalam jumlah yang banyak, terutama jika tubuh anda jarang sekali mendapatkan nutrisi yang cukup. Beberapa jenis reaksi awal dapat berupa panas dalam, sakit kepala, nyeri sendi, bibir kering dan pecah-pecah, perut mulas, demam dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa tubuh anda sedang beradaptasi terhadap nutrisi yang masuk yang juga merupakan proses perbaikan, bukan efek samping. Jika anda mengalami reaksi-reaksi awal ini, kurangi dosis pemakaian dan banyak minum air putih.
2. Pembentukan
Ketika tubuh anda telah bersih dari racun, maka proses pembentukan mulai terjadi melalui nutrisi alami dan seimbang yang terkandung dalam produk-produk High-Desert. Secara bertahap anda akan merasakan perubahan pada kondisi ke-sehatan anda.
3. Perawatan
Setelah tubuh anda melewati tahap pembentukan dan anda merasa lebih segar, maka sangatlah penting untuk memastikan tubuh anda mendapatkan nutrisi yang cukup agar tubuh tetap prima. Disitulah produk-produk High-Desert berperan penting.
Mengonsumsi produk-produk High-Desert:
1. Produk-produk ini harus dikonsumsi sebelum makan atau dalam kondisi perut kosong untuk penyerapan yang sempurna.
2. Bahkan, produk-produk High-Desert dapat membantu mengurangi masalah lambung / maag jika dikonsumsi sebelum makan.
3. High-Desert Honeybee PollenS, Pollenergy 520 and Bee Propolis sebaiknya dikonsumsi 2-3 kali sehari sebelum makan.
4. Royal jelly sebaiknya dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur, untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
5. Jangan mengonsumsi produk-produk High-Desert dengan air yang panasnya melebihi suhu tubuh, karena panas dapat menghancurkan enzim-enzim yang terdapat dalam produk-produk High-Desert.
6. Mulailah mengonsumsi dengan dosis yang rendah dan tingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
7. Produk High-Desert dapat dikonsumsi bersamaan dengan atau sebelum mengonsumsi obat-obatan dari resep dokter.

HDI Clover Honey adalah produk High-Desert yang mengandung madu murni dan diolah secara alami sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan Anda.

HDI Clover Honey
Manfaat-manfaat itu adalah:
• Membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan, seperti:
• Mengatasi konstipasi/sembelit.
• Membantu mengatasi luka (tukak) pada lambung.
• Meningkatkan penyerapan nutrisi, salah satunya kalsium.
• Menjaga keseimbangan bakteri menguntungkan dan menghambat bakteri merugikan yang dapat menyebabkan tukak lambung.
• Sebagai sumber energi yang baik. HDI Clover Honey mengandung fruktosa dan glukosa yang mudah diubah tubuh menjadi energi.
• Sebagai pengganti gula yang aman sehingga baik bagi penderita diabetes. Pengaruh HDI Clover Honey terhadap kenaikan gula darah relatif lebih rendah dibandingkan gula biasa.
• Memiliki sifat mukolitik (mengencerkan dahak) sehingga baik untuk sistem pernafasan.
• Membantu menyembuhkan luka berair atau bernanah karena HDI Clover Honeymemiliki sifat higroskopis (menarik air).
HDI Clover Honey:
• HDI Clover Honey mengandung madu murni yang berasal dari bunga clover yang dinyatakan sebagai madu terbaik oleh peternak lebah di seluruh dunia.
• Terjamin kealamiannya karena diproses tanpa penambahan air, pengawet, dan gula.
• Tidak mengalami proses pemanasan dan penyaringan yang hanya akan menghilangkan kandungan nutrisinya.
• Mengandung royal jelly dan bee pollen yang semakin memperkaya kandungan nutrisinya.
• Memiliki kandungan air yang sangat sedikit, yakni hanya 17%. Semakin sedikit kandungan airnya, maka semakin sulit bakteri berkembang di madu tersebut.
HDI Clover Honey.
Saran konsumsi:
• Untuk konsumsi sehari-hari, larutkan satu sendok makan HDI Clover Honey ke dalam segelas air bertemperatur normal atau mengoleskannya pada roti, wafel, atau pancake.
• Untuk luka, oleskan HDI Clover Honey secara tipis-tipis di permukaan luka.

Royal jelly atau susu lebah berasal dari kelenjar hypopharyngeal lebah perawat. Lebah pekerja biasa mengonsumsi royal jelly selama tiga hari pertamanya, sementara ratu lebah mengonsumsi royal jelly seumur hidupnya. Ratu lebah terbukti dapat hidup 40 kali lebih lama dibandingkan lebah pekerja biasa. Ratu lebah juga menghasilkan hingga 2000 telur perhari, sementara lebah betina lainnya tidak menghasilkan telur.

HDI Royal Jelly memiliki berbagai manfaat di antaranya:
• Memiliki efek anti-penuaan sehingga dapat memperpanjang rentang hidup karena mampu membuat tubuh lebih sehat.
• Meningkatkan produksi kolagen sehingga mampu mempertahankan keremajaan dan kelenturan kulit serta membuat kulit tidak mudah keriput sehingga membuat kita terlihat awet muda.
• Memperbaiki sistem reproduksi, seperti:
• Membantu meningkatkan kesuburan bagi mereka yang sulit memiliki keturunan.
• Membantu mengatasi nyeri haid.
• Membantu menjaga kesehatan reproduksi setelah menopause.
• Meningkatkan daya ingat.
• Melindungi sistem syaraf sehingga bermanfaat bagi penderita stroke, Alzheimer’s, Parkinson’s, atau vertigo.
• Mencegah osteoporosis karena membantu meningkatkan kemampuan tulang menyerap kalsium sekaligus menstimulasi pembentukan tulang.
HDI Royal Jelly adalah suplemen royal jelly.
• HDI Royale Jelly Liquid yang dipanen, diproses, dan diawetkan dengan madu alami dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga optimal. Tersedia dalam kemasan 150 gram dengan kandungan 30.ooo mg royal jelly murni.
• HDI Royal Jelly Tablet yang dipanen dan diproses dalam waktu tidak lebih dari 24 jam, kemudian dikeringkan melalui metode freeze-dried sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga maksimal. Produk ini juga mengandung bee pollen dan bee propolis yang akan memberikan manfaat ekstra bagi kesehatan Anda. Tersedia dalam botol isi 30 tablet dan 90 tablet yang setiap tabletnya terdiri dari 150 mg royal jelly murni.
Saran konsumsi:
Setiap sebelum tidur, yakni sebanyak 1 sendok takar HDI Royale Jelly Liquid atau 2-3 tablet HDI Royal Jelly Tablet.

Propolis berasal dari campuran getah pohon, lilin lebah, dan air liur lebah yang digunakan oleh lebah untuk melindungi pintu masuk sarangnya sekaligus mensterilkan setiap lebah yang hendak masuk ke sarang tersebut.

HDI Bee Propolis:
• Bersifat antibakteri, antivirus, antijamur, dan antiperadangan. HDI Bee Propolisbekerja sebagai antibiotik alami sehingga tidak memiliki efek samping seperti yang biasanya dimiliki oleh antibiotik sintetik, yakni membuat bakteri menjadi kebal serta melemahkan sistem kekebalan tubuh.
• Menstimulasi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh secara alami.
• Merupakan sumber anti-oksidan yang tinggi sehingga dapat melawan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.
• Membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida sehingga membantu melindungi jantung.
HDI Bee Propolis adalah:
• Diproses dengan metode ekstraksi khusus yang menggunakan temperatur rendah. Metode ini juga efektif menghilangkan bahan-bahan tidak murni yang terbawa bersama propolis tersebut. Karenanya, HDI Bee Propolis pasti mengandung propolis yang murni dan berkualitas.
• Memiliki nilai oxygen radical absorbance capacity (ORAC) yang jauh lebih tinggi daripada antioksidan lainnya.
• Memiliki kandungan total phenolic yang tinggi. Semakin tinggi kandungan phenolic-nya, maka semakin baik kemampuan anti-oksidasi produk tersebut.
HDI Bee Propolis tersedia dalam dua kemasan:
• HDI Bee Propolis Tablet berisi 30 tablet dan 60 tablet dengan kandungan 500 mg propolis per tablet.
• HDI Bee Propolis Capsule berisi 60 kapsul yang masing-masing mengandung 200 mg propolis, 40 mg bee pollen, dan 10 mg rose hip.
Saran konsumsi:
• Dewasa: 1-2 tablet atau 2-4 kapsul, satu hingga dua kali sehari, setengah jam sebelum makan.
• Anak-anak: 1-2 kapsul, setengah jam sebelum makan.
• Saat kondisi kesehatan sedang menurun, konsumsilah 1-3 tablet, tiga kali sehari. Setelah sembuh, kurangi menjadi dua kali sehari.

Pollen adalah serbuk sari yang berwarna emas atau kecoklatan. Pollen terbaik adalah yang dikumpulkan oleh lebah (bee pollen). Bee pollen merupakan makanan yang mengandung nutrisi yang paling lengkap dan alami kedua setelah ASI.

HDI Pollenergy 520:
• Mengandung “pollen seribu bunga” atau campuran bee pollen berkualitas dari berbagai dataran tinggi di Amerika.
• Tanpa proses pemanasan yang dapat merusak nutrisinya.
• Dibekukan pada suhu nol derajat untuk menjaga nutrisinya.
• Tanpa pewarna.
• Tanpa pemanis.
• Tanpa perasa buatan.
• Tanpa bahan pengawet.
Selain kealamiannya, HDI Pollenergy 520:
• Memenuhi kebutuhan tubuh akan nutrisi penting.
• Meningkatkan fungsi metabolisme tubuh.
• Meningkatkan energi, tenaga, dan stamina secara alamiah.
• Meningkatkan konsentrasi, kemampuan berpikir, dan kinerja otak.
• Meningkatkan jumlah sel darah merah yang sehat.
• Meningkatkan kadar antioksidan sehingga tubuh mampu melawan radikal bebas.
HDI Pollenergy 520:
• Kandungan nutrisi alami, sementara minuman berenergi umumnya mengandung gula dan kafein.
• Menghasilkan energi secara perlahan-lahan namun akan bertahan lama, sementara minuman berenergi menghasilkan energi instan dan bersifat sementara.
• Tidak memiliki efek samping, sementara minuman energi akan membuat berat badan bertambah, merasa gugup, mudah marah, tekanan darah meningkat, sulit tidur, serta ritme jantung kacau.
HDI Pollenergy 520 berisi 90 tablet dengan kandungan 520 mg bee pollen per tablet.
Saran Konsumsi:
Satu tablet HDI Pollenergy 520 , setengah jam sebelum makan, sebanyak satu hingga tiga kali sehari.

HDI Honeybee PollenS mengandung 130mg bee pollen dan disajikan dalam bentuk tablet yang dapat dikunyah dengan rasa vanilla dan madu yang enak.

HDI Honeybee PollenS merupakan suplemen yang diformulasikan untuk mengoptimalkan tumbuh-kembang anak-anak sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh mereka.
HDI Honeybee PollenS adalah:
1. Mengandung bee pollen yang merupakan makanan yang mengandung nutrisi yang paling lengkap dan alami kedua setelah ASI.
2. Kandungan bee pollen-nya adalah yang berasal dari dataran tinggi Amerika yang dibekukan pada suhu nol derajat untuk mempertahankan kandungan nutrisinya.
3. Tanpa pewarna, pemanis, dan perasa buatan serta tanpa bahan pengawet.
HDI Honeybee PollenS bermanfaat untuk:
• Melengkapi asupan nutrisi anak.
• Membantu perkembangan tubuh anak.
• Membantu meningkatkan kemampuan berpikir dan konsentrasi belajar anak.
• Meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga anak tidak mudah sakit.
HDI Honeybee PollenS hadir dalam kemasan isi 30 tablet dan 90 tablet.
Saran HD:
Bila anak mengidap suatu penyakit tertentu, diskusikan konsumsi suplemen dengan konsultan medis Anda.
Saran konsumsi:
HDI Honeybee PollenS sebaiknya dikonsumsi setengah jam sebelum makan, yakni:
• 1/2 tablet per hari untuk anak usia 6 bulan – 1 tahun.
• 1 tablet per hari untuk anak usia 1 – 5 tahun.
• 1 – 2 tablet per hari untuk anak usia 5 – 12 tahun.

HDI Dynamic Trio + Enzymeminerals merupakan suplemen yang diformulasikan untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan sehingga dianjurkan kepada mereka yang memiliki masalah pencernaan seperti sakit maag, kembung dan pencernaan yang kurang baik, serta bagi yang ingin meningkatkan kualitas kesehatan sistem pencernaannya.

HDI Dynamic Trio + Enzymeminerals memadukan keajaiban bee pollen, bee propolis, dan royal jelly dengan enzim bromelain, enzim papain, dan berbagai mineral, di antaranya zat besi, mangan, seng, dan kromium.
Enzim bromelain berasal dari batang buah nenas yang mampu menguraikan zat makanan agar mudah diserap tubuh, membantu proses penyembuhan luka, serta mengurangi pembengkakan atau peradangan di lambung, seperti yang kerap dialami penderita gastritis.
Enzim papain berasal dari buah pepaya yang belum matang dan terbukti aktif membantu melancarkan pencernaan, mencegah rasa panas dalam lambung, serta mengendalikan nafsu makan.
HDI Dynamic Trio + Enzymeminerals bermanfaat untuk:
• Membantu memperbaiki sistem pencernaan.
• Membantu mengatasi masalah pencernaan, seperti rasa panas, kembung, sakit maag (tukak lambung), dan diare.
• Membantu mengeluarkan racun (mendetoksifikasi) dari sistem pencernaan.
• Membantu meningkatkan penyerapan nutrisi dan memperbaiki fungsi tubuh.
• Memberikan nutrisi penting.
• Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
HDI Dynamic Trio + Enzymeminerals hadir dalam kemasan isi 30 kaplet dan 90 kaplet.
Saran konsumsi:
• 1 – 2 tablet, tiga kali sehari, saat makan.
• Hasil yang didapat akan lebih optimal bila HDI Dynamic Trio + Enzymemineralsdikonsumsi bersama dengan HDI Clover Honey.

HDI Dynamic Trio + Glucosamine Sulphate merupakan suplemen yang diformulasikan khusus untuk kesehatan sendi dan dianjurkan untuk siapa pun yang memiliki masalah sendi atau yang ingin memperkuat dan mempertahankan kesehatan sendinya.

HDI Dynamic Trio + Glucosamine Sulphate memadukan keajaiban bee pollen, bee propolis, dan royal jelly dengan khasiat Glucosamine sulphate , chondroitin, dan methyl sulfonyl methane (MSM).
HDI Dynamic Trio + Glucosamine Sulphate:
• Membantu mengatasi nyeri sendi. Menurut penelitian, setelah mengonsumsi glucosamine sulphate, chondroitin, dan MSM selama empat minggu, nyeri sendi berkurang sebanyak 19,09% dan setelah 12 minggu berkurang sebanyak 39,85%.
• Memperbaiki pergerakan sendi. Menurut penelitian, pergerakan sendi membaik 9,19% setelah mengonsumsi glucosamine sulphate, chondroitin, dan MSM selama 4 minggu dan membaik 27,59% setelah 12 minggu.
• Mengatasi gejala rasa nyeri dan kaku di sendi.
• Mencegah peradangan di sendi.
• Membantu meningkatkan pembentukan jaringan ikat di kartilago. Kartilago adalah turang rawan yang menjadi bantalan sendi. Bila kartilago menipis, maka tulang akan saling bergesekan satu sama lain.
• Menjaga kesehatan kartilago .
• Mencegah osteoartritis (radang sendi).
• Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
HDI Dynamic Trio + Glucosamine Sulphate hadir dalam kemasan isi 30 kaplet dan 90 kaplet.
Saran konsumsi:
• 1 – 2 tablet, tiga kali sehari, setengah jam sebelum makan atau saat makan.
• Khusus untuk penderita penyakit maag, disarankan untuk mengonsumsinya setelah makan.

HDI Dynamic Trio + Saw Palmetto merupakan suplemen kesehatan yang direkomendasikan bagi kaum pria yang mengalami pembengkakan prostat atau yang ingin menjaga kesehatan prostat. Setiap pria bisa mengalami pembengkakan prostat karena penyebab utama pembengkakan prostat adalah pertambahan usia.

HDI Dynamic Trio + Saw Palmetto memadukan keajaiban bee pollen, bee propolis, dan royal jelly dengan khasiat saw palmetto (tanaman palem yang tumbuh di Amerika).
Saw palmetto mampu mencegah pembengkakan prostat karena mampu menurunkan jumlahdihydrotestosterone. Dihydrotestosterone adalah bentuk aktif testosteron, yang bila berlebihan, dapat menyebabkan pembengkakan prostat.
Pembengkakan prostat (benign prostatic hyperplasia) ditandai dengan:
• Sering mengalami desakan untuk buang air kecil.
• Sulit buang air kecil walaupun terasa sangat ingin.
• Aliran air seni tidak lancar atau sedikit.
• Nyeri ketika buang air kecil.
• Ada darah di air seni.
Kandungan-kandungan tersebut membuat HDI Dynamic Trio + Saw Palmetto bermanfaat dalam:
• Membantu memelihara kesehatan prostat.
• Mengurangi gejala-gejala pembengkakan prostat.
• Mengurangi gejala-gejala masalah saluran kemih akibat pembengkakan prostat, seperti rasa nyeri dan sering buang air kecil.
• Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
HDI Dynamic Trio + Saw Palmetto hadir dalam kemasan isi 30 kaplet dan 90 kaplet.
Saran konsumsi: 1- 2 tablet, tiga kali sehari, setengah jam sebelum makan atau saat makan.

HDI Everec merupakan suplemen yang diformulasikan secara khusus untuk meningkatkan kesehatan dan stamina kaum pria serta membantu mengatasi masalah seksual pria secara efektif dan aman.

HDI Everec mengandung berbagai bahan alami, di antaranya:
• Ashwagandha yang membantu meningkatkan produksi sperma sehingga dapat membantu meningkatkan performa seksual.
• Ginseng Korea yang membantu memperbaiki kesuburan dengan cara meningkatkan pergerakan sperma sekaligus membantu meningkatkan stamina tubuh.
• Ginkgo biloba dan ekstrak yohimbe yang memperbaiki sirkulasi darah sehingga membantu mengatasi masalah impotensi.
• Tribulus terrestris yang meningkatkan gairah seksual sekaligus membantu memperbaiki fungsi ereksi dengan meningkatkan serum DHEA. Disfungsi ereksi dapat terjadi bila jumlah serum DHEA menurun.
Karena kandungan-kandungan itu, maka HDI Everec berkhasiat untuk:
• Meningkatkan produksi sperma.
• Memperbaiki fungsi ereksi.
• Memperbaiki sirkulasi darah sehingga dapat membantu mengatasi impotensi.
• Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
HDI Everec adalah suplemen terbaik untuk mengatasi disfungsi ereksi pria karena:
• Terbuat dari bahan-bahan herbal alami yang efektif dan aman.
• Akan memberikan manfaat jangka panjang jika dikonsumsi secara rutin.
HDI Everec hadir dalam kemasan isi 30 kapsul dan 60 kapsul.
Saran HD: Konsumsi HDI Everec pada penderita penyakit jantung dan hipertensi sebaiknya di bawah pengawasan dokter.
Saran konsumsi: 2 kapsul sehari (1 setelah makan siang, 1 setelah makan malam).

HDI Aller Bee-Gone adalah suplemen kesehatan untuk membantu mengatasi masalah alergi sehingga sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki masalah alergi, termasuk asma dan sinusitis.

HDI Aller Bee-Gone mengandung bee pollen dan 22 bahan herbal , di antaranya:
• Akar barberry yang memiliki sifat antihistamin sehingga dapat membantu mengurangi penyempitan saluran pernafasan dan produksi lendir serta sebagai antiperadangan.
• Mullein yang membantu menekan pertumbuhan bakteri penyebab infeksi saluran pernafasan.
• Akar marshmallow yang membantu mengurangi iritasi pada rongga mulut dan kerongkongan.
• Batang pohon oak yang membantu mengatasi batuk, pembengkakan pada kulit, serta gejala-gejala infeksi dan radang di rongga mulut dan kerongkongan.
• Slippery elm yang membantu mengatasi iritasi tenggorokan.
Karena itulah HDI Aller Bee-Gone berkhasiat untuk:
• Membantu meredakan reaksi alergi secara cepat dan efektif, seperti asma, gatal-gatal, bengkak, bersin, dan alergi kulit karena kosmetika atau makanan.
• Membantu meningkatkan imunitas.
• Membantu mengurangi kepekaan terhadap alergen (pemicu alergi).
Mengapa HDI Aller Bee-Gone merupakan suplemen terbaik untuk mengatasi alergi?
• Pengobatan alergi umumnya hanya mengatasi reaksi alergi saja. Ini berbeda dengan HDI Aller Bee-Gone yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan alergen.
• HDI Aller Bee-Gone tidak menimbulkan ketergantungan.
HDI Aller Bee-Gone hadir dalam kemasan isi 48 tablet dan 144 tablet.
Saran konsumsi:
• Usia 3-7 tahun: 1 tablet, 3 kali sehari, 1/2 jam sebelum makan.
• Usia 8-12 tahun: 2 tablet, 3 kali sehari, 1/2 jam sebelum makan.
• Dewasa: 2-4 tablet, 3 kali sehari, 1/2 jam sebelum tidur.
• Untuk hasil maksimal, konsumsi HDI Aller Bee-Gone dengan HDI Bee Propolis hingga reaksi alergi menghilang.
• Untuk penderita asma, konsumsi HDI Aller Bee-Gone dengan HDI Clover Honey.

HDI Aloe Propolis Cream berperan sebagai antiseptik alami yang membantu mengoptimalkan proses penyembuhan luka. HDI Aloe Propolis Cream adalah krim luka yang praktis dan tepat untuk semua jenis kulit.

HDI Aloe Propolis Cream mengandung:
• Bee propolis yang memiliki sifat antibakteri sehingga dapat mencegah infeksi di luka. Bee propolis juga mengandung caffeic acid phenetyl ester (CAPE) yang telah dikenal secara klinis sebagai senyawa yang berfungsi sebagai anti peradangan.
• Aloe vera (lidah buaya) yang telah digunakan sebagai perawatan berbagai masalah kulit selama ribuan tahun. Aloe vera terbukti klinis mampu memicu pertumbuhan sel baru sekaligus mencegah luka meninggalkan bekas.
HDI Aloe Propolis Cream efektif untuk:
• Menyembuhkan luka gores, luka bakar, luka gigitan serangga, luka akibat cacar air, dan luka pada penderita diabetes (gangren).
• Membantu menekan pertumbuhan bakteri pada luka sehingga luka terlindungi dari iritasi dan infeksi.
• Mencegah peradangan.
• Menstimulasi pembentukan kolagen sehingga membantu proses penyembuhan dan mencegah luka meninggalkan bekas.
Saran penggunaan: Bersihkan area luka terlebih dahulu, lalu oleskan HDI Aloe Propolis Creamsecara tipis-tipis sebanyak 2 hingga 3 kali sehari.

HDI Trimee II bekerja mengikat dan membuang lemak yang Anda konsumsi sebelum lemak tersebut sempat diserap oleh usus.

HDI Trimee II bekerja secara alamiah karena mengandung bahan-bahan alamiah pula, yakni:
• Chitosan, yaitu serat makanan yang berasal dari chitin. Chitin adalah sejenis polisakarida yang terdapat di cangkang kerang, udang, lobster, atau kepiting. Secara kimiawi, chitosan serupa dengan serat tumbuhan. Perbedaannya, chitosan mampu mengikat molekul lemak secara signifikan dan mengubahnya menjadi bentuk yang tidak dapat diserap oleh tubuh manusia. Bahkan, jumlah lemak yang dikeluarkan oleh chitosan adalah 7 kali lebih banyak daripada yang dikeluarkan oleh serat-serat lain. Chitosan juga memiliki efektivitas yang sama dengan dengan cholestryramine (obat penurun kolesterol) dalam menurunkan kadar kolesterol, namun tanpa efek samping seperti yang ditimbulkan oleh obat tersebut.
• Vitamin C untuk meningkatkan pengeluaran lemak.
• Asam sitrat untuk meningkatkan efek mengembang chitosan sehingga akan menimbulkan rasa kenyang.
HDI Trimee II dapat:
• Mengikat molekul lemak yang terdapat dalam makanan sehingga dapat menurunkan penyerapan lemak oleh tubuh.
• Meningkatkan jumlah lemak yang dibuang oleh tubuh hingga 7 kali lebih banyak daripada serat lain.
• Membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
• Membantu menurunkan berat badan.
• Membantu mengurangi risiko terkena penyakit jantung.
HDI Trimee II.
Saran konsumsi:
• 2 tablet dengan segelas air putih, pada saat makan.
• Tidak disarankan pada mereka yang alergi terhadap makanan laut.

Unta

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al Ghasiyah: 17-21)

Allah mengungkapkan hal ini dalam berbagai ayat Al Quran, mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang Dia ciptakan sebenarnya adalah sebuah tanda, yaitu lambang dan peringatan. Dalam surat Al-Ghasiyah ayat ke-17, Allah merujuk kepada hewan yang akan kita pelajari dan fikirkan dengan saksama, yaitu unta.

Yang menjadikan unta “makhluk hidup istimewa” adalah struktur tubuhnya, yang tidak terpengaruh oleh alam sekitarnya yang paling berbahaya sekalipun. Tubuhnya memiliki beberapa keistimewaan, yang memungkinkan unta bertahan hidup berhari-hari tanpa air dan makanan, dan mampu mengangkut beban ratusan kilogram selama berhari-hari. Hewan ini diciptakan khusus untuk kondisi iklim kering, dan ia diciptakan untuk melayani manusia. Ini adalah tanda-tanda penciptaan yang nyata bagi orang-orang yang berakal.

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Yunus: 6).

Ciri-Ciri Keistimewaan Pada Unta:

Kepala Terlindung Dari Pasir:

Bulu matanya memiliki sistem pengaitan dan sebagai penapis. Dalam keadaan bahaya, bulu ini secara automatik menutup. Bulu mata yang saling berkait ini mencegah masuknya debu-debu ke mata. Hidung dan telinga ditutupi oleh bulu panjang agar terlindungi dari debu dan pasir. Lehernya yang panjang memungkinkan hewan ini mencapai dan memakan dedaunan yang berada 3 meter dari atas tanah.

Kaki Yang Sesuai Dengan Semua Jenis Tanah:

Kakinya memiliki dua jari kaki yang dihubungkan dengan bantalan elastis. Struktur ini, yang memungkinkan unta mencengkram tanah dengan kuat, terdiri dari empat bola berlemak. Ini sangat sesuai untuk berbagai jenis keadaan tanah. Kukunya melindungi kaki dari kemungkinan rusak akibat benturan. Lututnya tertutup kapalan, yang terbentuk dari kulit sekeras dan setebal tanduk. Ketika hewan ini berbaring di pasir yang panas, struktur berkapalan ini melindunginya dari luka akibat permukaan tanah yang sangat panas.

Bonggol Unta Sebagai Simpanan Makanan:

Bonggol unta, menyediakan lemak simpanan makanan bagi hewan ini secara berkala ketika ia mengalami kesulitan makanan dan kelaparan. Dengan sistem ini, unta dapat hidup hingga tiga hari tanpa air. Selama masa ini, unta kehilangan 33% berat badannya. Dalam keadaan yang sama, seorang manusia akan kehilangan 8% berat badannya dan meninggal dalam waktu 36 jam, dan kehilangan seluruh air dari tubuhnya.

Bulu Tebal Yang Menyekat Panas:

Bulu tebal ini terdiri atas rambut yang tebal dan kusut, yang tidak hanya melindungi tubuhnya dari kondisi cuaca dingin maupun panas, tetapi juga mengurangi kehilangan air dari tubuh. Unta Dromedari dapat memperlambat penguapan air dengan meningkatkan suhu tubuhnya sampai 41C. Dengan cara ini, ia mencegah kehilangan air. Dengan bulu tebalnya, unta dapat bertahan hidup dengan suhu hingga 50C di musim panas dan hingga -50C di musim dingin.

Daya Tahan Luar Biasa Dari Lapar Dan Haus

Unta dapat bertahan hidup tanpa makanan dan air selama apan hari pada suhu 50C. Pada masa ini, ia kehilangan 22% dari keseluruhan berat badannya.Seekor unta kurus dapat bertahan hidup walaupun kehilangan air setara dengan 40% keseluruhan berat badan. Penyebab lain kemampuannya bertahan terhadap haus adalah adanya mekanisme yang memungkinkan unta meningkatkan suhu tubuh-dalamnya hingga 41C. Dengan demikian, ia mampu meminimalkan kehilangan air dalam iklim panas yang ekstrem di gurun pasir pada siang hari. Unta juga mampu mengurangi suhu tubuh-dalamnya hingga 30C pada malam yang dingin di padang pasir. Mereka Bahkan Dapat Memakan Duri

Perlindungan Terhadap Angin Ribut

Mata unta memiliki dua lapisan bulu mata. Bulu mata ini saling kait seperti perangkap dan melindungi matanya dari badai pasir yang kuat. Selain itu, unta mampu menutup lubang hidungnya, sehingga pasir tidak dapat masuk.

Sebagaimana makhluk lain, unta juga dilengkapi banyak kualitas istimewa, lalu ditempatkan di muka bumi sebagai tanda kebesaran sang Pencipta. Unta diciptakan dengan ciri-ciri fisik yang luar biasa ini untuk mengabdi kepada umat manusia. Umat manusia sendiri diwajibkan untuk melihat penciptaan di seluruh jagat raya dan tunduk kepada sang Pencipta segala makhluk: Allah subhanahu wata’ala .

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”
(QS. Lukman: 20)

Lalat

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 73-74)

Ciri-ciri keistimewaan lalat

Keunikan mata lalat:

Lensa-lensa berbentuk segi enam yang membentuk mata lalat memberikan bidang penglihatan yang jauh lebih besar daripada lensa biasa. Pada sebahagian lalat, kadangkala terdapat hingga 5000 lensa. Di samping itu, struktur bulat mata juga memungkinkan lalat melihat ke belakang tubuh, dan dengan demikian memberinya upaya melawan atas musuhnya.

Belalai penyerap pada lalat:

Ciri khas lalat lainnya adalah cara mereka mencerna makanan. Tidak seperti organisme hidup lain, lalat tidak mencerna makanan di dalam mulut, tetapi di luar tubuh mereka. Lalat menuangkan cairan khusus ke atas makanannya dengan belalai (prosbosis), mengubah kekentalan makanan tersebut agar sesuai untuk diserap. Kemudian, lalat menyerap makanan tersebut dengan belalai penyerap di kerongkongannya.

“Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Dialah Yang Mahabesar, Maha Bijaksana. Kekuasaan dari langit dan bumi adalah miliknya. Ia
memberikan hidup dan menjadikan mati. Ia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.”
(QS. Al Hadid: 1-2)

Continue reading...

PENCIPTAAN BINATANG DAN ALAM SEMESTA

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

PENCIPTAAN BINATANG DAN ALAM SEMESTA
surah / surat : An-Nuur Ayat : 45

waallaahu khalaqa kulla daabbatin min maa-in faminhum man yamsyii ‘alaa bathnihi waminhum man yamsyii ‘alaa rijlayni waminhum man yamsyii ‘alaa arba’in yakhluqu allaahu maa yasyaau inna allaaha ‘alaa kulli syay-in qadiirun
45. Dan Allah subhnahuwata’ala telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah subhanahu wata’ala menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu.

An-Nuur, 64 ayat

surah / surat : An-Nuur Ayat : 41

alam tara anna allaaha yusabbihu lahu man fii alssamaawaati waal-ardhi waalththhayru shaaffaatin kullun qad ‘alima shalaatahu watasbiihahu waallaahu ‘aliimun bimaa yaf’aluuna
41. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah subhanahu wata’ala : kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sholat dan tasbihnya [1044], dan Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

[1044] Masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala dengan ilham dari Allah subhanahu wata’ala.

surah / surat : An-Nuur Ayat : 43

alam tara anna allaaha yuzjii sahaaban tsumma yu-allifu baynahu tsumma yaj’aluhu rukaaman fataraa alwadqa yakhruju min khilaalihi wayunazzilu mina alssamaa-i min jibaalin fiihaa min baradin fayushiibu bihi man yasyaau wayashrifuhu ‘an man yasyaau yakaadu sanaabarqihi yadzhabu bial-abshaari
43. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah subhanahu wata’ala mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

surah / surat : An-Nuur Ayat : 44

yuqallibu allaahu allayla waalnnahaara inna fii dzaalika la’ibratan li-ulii al-abshaari
44. Allah subhanahu wata’ala mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.

surah / surat : An-Nuur Ayat : 46

laqad anzalnaa aayaatin mubayyinaatin waallaahu yahdii man yasyaau ilaa shiraathin mustaqiimin
46. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah subhanahu wata’ala memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. Perbedaan sikap orang-orang munafik dan orang-orang yang mu’min dalam bertahkim kepada rasul shalllalalhualaihi wasssalam .

Continue reading...

MENGENAL KHODAM (PEMBANTU ATAU PENJAGA)

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

MENGENAL KHODAM (PEMBANTU ATAU PENJAGA)

MALAIKAT DAN JIN
Yang dimaksud khodam dalam uraian ini adalah penjaga yang didatangkan dari dunia ghaib untuk manusia, bukan untuk benda bertuah. Didatangkan dari rahasia urusan Ilahiyah yang terkadang banyak diminati oleh sebagian kalangan ahli mujahadah dan riyadlah tetapi dengan cara yang kurang benar. Para ahli mujahadah itu sengaja berburu khodam dengan bersungguh-sungguh. Mereka melakukan wirid-wirid khusus, bahkan datang ke tempat-tempat yang terpencil. Di kuburan-kuburan tua yang angker, di dalam gua, atau di tengah hutan.
Ternyata keberadaan khodam tersebut memang ada, mereka disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim. Diantara mereka ada yang datang dari golongan Jin dan ada juga dari Malaikat, namun barangkali pengertiannya yang berbeda. Karena khodam yang dinyatakan dalam Al-Qur’an itu bukan berupa kelebihan atau linuwih yang terbit dari basyariah manusia yang disebut
“kesaktian”, melainkan berupa sistem penjagaan dan perlindungan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sebagai buah ibadah yang mereka lakukan.
Sistem perlindungan tersebut dibangun oleh rahasia urusan Allah subhanahu wata’ala yang disebut “walayah”, dengan itu supaya fitrah orang beriman tersebut tetap terjaga dalam kondisi sebaik-baik ciptaan. Allah subhanahu wata’ala menyatakan keberadaan khodam-khodam tersebut dengan firman-Nya:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Bagi manusia ada penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya, menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah subhanahu wata’ala baginya. Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri”. (QS. ar-Ra’d; 13/11)
Lebih jelas dan detail adalah sabda Baginda Nabi shallalllahualaihi wassalam dalam sebuah hadits shahihnya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ رواه البخاري و مسلم *
“Hadits Abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah shallalllahualaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala apabila mencintai seorang hamba, memanggil malaikat Jibril dan berfirman : “Sungguh Aku mencintai seseorang ini maka cintailah ia”. Nabi shallalllahualaihi wassalam bersabda: “Maka Jibril mencintainya”. Kemudian malaikat Jibril memanggil-manggil di langit dan mengatakan: “Sungguh Allah subhanahu wata’ala a telah mencintai seseorang ini maka cintailah ia, maka penduduk langit mencintai kepadanya. Kemudian baginda Nabi bersabda: “Maka kemudian seseorang tadi ditempatkan di bumi di dalam kedudukan dapat diterima oleh orang banyak”. (HR Bukhori dan Muslim )
Dan juga sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“Hadits Abi Hurairah r.a Sesungguhnya Rasulullah shallallahualaihi wassalam bersabda: “Mengikuti bersama kalian, malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang dan mereka berkumpul di waktu shalat fajar dan shalat ashar kemudian mereka yang bermalam dengan kalian naik (ke langit), Tuhannya bertanya kepada mereka padahal sesungguhnya Dia lebih mengetahui keadaan mereka: di dalam keadaan apa hambaku engkau tinggalkan?, mereka menjawab: mereka kami tinggalkan sedang dalam keadaan shalat dan mereka kami datangi sedang dalam keadaan shalat”. (HR Buhori dan Muslim)
Setiap yang mencintai pasti menyayangi. Sang Pecinta, diminta ataupun tidak pasti akan menjaga dan melindungi orang yang disayangi.Manusia, walaupun tanpa susah-susah mencari khodam, ternyata sudah mempunyai khodam,khodam, bahkan sejak dilahirkan ibunya.

Khodam-khodam itu ada yang golongan malaikat dan ada yang golongan Jin.
Diantara mereka bernama malaikat Hafadhoh (penjaga), yang dijadikan tentara-tentara yang tidak dapat dilihat manusia. Konon menurut sebuah riwayat jumlah mereka 180 malaikat. Mereka menjaga manusia secara bergiliran di waktu ashar dan subuh, hal itu bertujuan untuk menjaga apa yang sudah ditetapkan Allah subhanahu wata’ala bagi manusia yang dijaganya.
Itulah sistem penjagaan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada manusia yang sejatinya akan diberikan seumur hidup, yaitu selama fitrah manusia belum berubah.
Namun karena fitrah itu terlebih dahulu dirubah sendiri oleh manusia, hingga tercemar oleh kehendak hawa nafsu dan kekeruhan akal pikiran, akibat dari itu, matahati yang semula cemerlang menjadi tertutup oleh hijab dosa-dosa dan hijab-hijab karakter tidak terpuji, sehingga sistem penjagaan itu menjadi berubah.

SYAITHONA
‘Setan’, menurut istilah bahasa Arab berasal dari kata syaithona yang berarti ba’uda atau jauh. Jadi yang dimaksud ‘setan’ adalah makhluk yang jauh dari kebaikan. Oleh karena hati terlebih dahulu jauh dari kebaikan, maka selanjutnya cenderung mengajak orang lain menjauhi kebaikan.

Apabila setan itu dari golongan Jin berarti setan Jin, dan apabila dari golongan manusia berarti setan manusia.
Manusia bisa menjadi setan manusia, apabila setan Jin telah menguasai hatinya sehingga perangainya menjelma menjadi perangai setan.

Rasulullah shallalllahualaihi wassalam menggambarkan potensi tersebut dan sekaligus memberikan peringatan kepada manusia melalui sabdanya:

لَوْلاَ أَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَحُوْمُوْنَ عَلَى قُلُوْبِ بَنِى آَدَمَ لَنَظَرُوْا اِلَى مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ
“Kalau sekiranya setan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”.

Di dalam hadits lain Rasulullah shallalllahualaihi wassalam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَاِريَهُ ِبالْجُوْعِ.
“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.

Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati,
hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia.
Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah.

Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir.
Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala , maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)
Firman Allah subhanahu wata’ala di atas, yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.

Jadi, berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah.

Selanjutnya,

ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya setan Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ(30)نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah subhanahu wata’ala ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah subhanahu wata’ala kepadamu”(30)Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)
Firman Allah subhanahu wata’ala di atas yang artinya:
“Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.
Walhasil, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah subhanahu wata’ala , kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua

(1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan
(2).Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan).

Allah subhanahu wata’ala menegaskan dengan firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS.al-Baqoroh.2/257)
Dan juga firman-Nya:
إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya “. (QS. Al-A’raaf; 7/27)
Seorang pengembara di jalan Allah subhanahu wata’ala , baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca.
Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapat¬kan khodamnya ayat kursi.
Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.
Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam- khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti
saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah subhanahu wata’ala Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala dari godaan setan yang terkutuk.
Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawam¬kan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah subhanahu wata’ala dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.
Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah subhanahu wata’ala , walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah subhanahu wata’ala , di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikian¬lah yang dinyatakan Allah subhanahu wata’ala :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala . Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga”. (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)
Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah subhanahu wata’ala sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah subhanahu wata’ala sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.
2014 PRA BENCANA KEDATANGAN DAJJAL

KHAKEKAT KHODAM MALAIKAT

Manusia adalah makhluk yg paling mulia dikarenakan manusialah satu-satunya Wadah yg dapat menampung pancaran Sifat Allah subhanahu wata’ala dg lebih baik daripada makhluk lainnya….

Beda dg program yg di installkan ke manusia, dimana manusia di anugerahi Daya Kehendak Bebas kemerdekaan berkehendak.

Bila malaikat adalah petugasnya Allah subhanahu wata’ala , maka Malaikat adalah asistennya manusia….

Maka untuk mendapatkan syafaat dari Malaikatnya Allah subhanahu wata’ala , harus minta izin pada Allah subhanahu wata’ala …..

Pengetahuan dan pemahaman itu sangat penting. Agar hati dan akal tetap jernih.

Sehingga kita mempunyai gambaran yang benar dan jelas serta dapat menempatkannya sesuai dg proporsinya. Serta agar Iman Tauhid kita dapat tetap berdiri dg tegak dan benar…

Karena dg tuntunan cahaya ilmu, maka kegelapan dapat tersibak. Dan kita dapat memandang dg lebih jelas. Serta dapat tetap terjaga untuk melangkah di atas jalan yg lurus…

Karena soal musyrik atau tidak, hal itu sangat ditentukan oleh tingkat terbukanya pemahaman kecerdasan spiritual kita…

MALAIKAT

Karena yg menjadikan syafaat malaikat itu ada, adalah karena Izin & ridloNya, dan bukan karena amalan kita. Ini soal hati dan memang harus hati-hati…. demi untuk menjaga kemurnian akidah dan kesalahan dalam menata NIAT dan hadapnya Qolbu.

kiat untuk mendapatkan Syafaat, baik syafaat malaikat, nabi, ataupun orang sholeh :

SYAFA’AT

Syafa’at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfa’at bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain.
Syafa’at yang tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah syafa’at bagi orang-orang kafir (orang yang tidak percaya).

Syafa’at yang baik ialah : setiap sya’faat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan.
Syafa’at yang buruk ialah kebalikan syafa’at yang baik.

ayat-ayat yg terkait dengan syafaat :

Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah subhanahu wata’ala syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan” ( QS. Az-Zumar 39:44 )

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah subhanahu wata’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu.”( QS. An Nisaa 85 )

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah subhanahu wata’ala mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” [QS. An Najm 26]

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah subhanahu wata’ala Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” ( QS. Thaahaa 20:109 )

“Allah subhanahu wata’ala mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah subhanahu wata’ala , dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” ( QS. Al Anbiyaa’ 21:28 )

HADITS :

Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam bersabda:

“Allah Subhanahu wata’ala berfirman: Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan mem-berikan syafaat dan tidak tersisa kecuali milik Allah subhanahu wata’ala .”
[ HR. Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z dalam hadits yang panjang tentang ru‘yatullah no. 183.}

Rasulullah Shallalllahu alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya dari umatku ada orang yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Dan di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah qabilah. Dan di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-’ushbah2. Dan di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.”
[HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafaat hal. 195]

“Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala dan malaikat-malaikatNya, bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya”.
(QS. Al-Ahzab 56).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
Jibril datang kepadaku dan berkata;
” Ya Muhammad tiada seorang yang bershalawat atasmu, kecuali 70.000 Malaikat bershalawat kepadanya, dan siapa di shalawati Malaikat sekian banyak ini adalah tergolong orang ahli sorga.”

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah subhanahu wata’ala akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”.

Ibnu Atha’illah berpesan,
“Seandainya seumur hidup engkau melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah subhanahuwata’ala memberimu satu shalawat saja, tentu satu shalawat itu lebih berat daripada semua amal ketaatanmu selama hidup. Sebab engkau bershalawat sesuai dengan kapasitas kemampuanmu, sementara Allah bershalawat sesuai dengan Rububiyyah (sifat ketuhanan)-Nya. Ini baru satu shalawat. Lalu, bagaimana jika Allah subhanahu wata’ala bershalawat untukmu sebanyak sepuluh kali atas setiap bershalawat satu kali atas Rasul Shallalllahu alaihi wassalam…!
.

FIQIH
Apakah Malaikat Bisa Jadi Khodam Manusia ?
Khadam artinya pelayan, jongos, orang yang disuruh-suruh[1]. Manusia adalah makhluk yang lemah, kekuatannya terbatas tapi keinginan dan kebutuhannya tiada batas. Untuk memenuhi kebutuhannya yang banyak itu, biasanya manusia melibatkan orang lain. Kalau dalam urusan rumah tangga ia minta bantuan pada orang lain yang disebut dengan pembantu. Untuk menghandel pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, ia butuh seorang asisten atau ajudan. Dan masih banyak lagi fenomena adanya manusia yang membantu sesama manusia lainnya.
Tapi, terkadang mendengar berita bahwa pelayan yang dimiliki manusia tidak hanya terdiri dari manusia, ada orang yang mengaku bahwa ia punya pembantu dari makhluk lain. Mereka sering menyebut pelayan yang tidak tampak mata itu dengan istilah Khadam. Ada yang mengaku punya khadam jin, dan ada juga yang mengaku punya khadam malaikat yang didapat dari hasil riyadhoh[2] yang berat.
Benarkah malaikat bisa dijadikan khadam seorang manusia, yang bisa ia suruh-suruh kapan saja? Bisa ia setir sesuai kebutuhan dan kehendaknya, seperti pembantu manusia yang ada dirumahnya? Ataukah itu hanya klaim mereka saja? Atau khadam yang mereka klaim sebagai malaikat bukanlah malaikat, tapi hanyalah jin dan syetan yang memperdayainya serta berusaha menyesatkannya? Baca terus kajian ini, dan temukan jawabannya.
Malaikat itu Tentara Allah, Bukan Khadam Manusia
Dewasa ini banyak media cetak yang menawarkan iklan kepada pembacanya, terutama media yang bernafaskan mistik. Iklan yang ditawarkan bukan sembarang iklan, tetapi iklan yang menawarkan kepada pembaca untuk bisa memiliki pembantu atau pelayan. Pelayan yang ditawarkan pun bukan sembarang pelayan, tapi pelayan dari jenis makhluk ghaib, yaitu jin atau malaikat. Sebagian orang telah memahami bahwa bersekutu dengan jin atau syetan hukumnya haram, maka mereka takut dan tidak mau mengambil resiko. Tapi jika dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan khadam itu bukan jin melainkan malaikat, maka banyak orang tergiur dengan iklan provokatif itu. Karena menurut pemahaman mereka malaikat adalah makhluk yang identik dengan kebaikan dan jauh dari kekhufuran. Akhirnya merekapun berusaha untuk bisa memiliki khadam yang diklaim sebagai malaikat tersebut, walaupun harus merogoh kocek yang lumayan besar.
Di antara iklan-iklan provokasi kreatif tersebut adalah Batu Raja Sulaiman. Menurut si empunya salah satu khasiat dari batu tersebut adalah untuk menjadikan tubuh kebal senjata tajam , dan juga untuk melancarkan usaha serta menagih hutang dengan khadam malaikat. Harga batu yang ditawarkan pun variatif, ada yang berharga Rp 1.000.000, dan ada yang bernilai Rp. 2.000.000, dan ada pula yang seharga Rp 3.000.000. Bahkan di sebuah propinsi di Sumatera ada pasien yang harus membeli baju “anti senjata” dengan uang 10 juta. Siapa yang diuntungkan ?? Tidak lain adalah “kyai” itu sendiri.
Ada juga iklan yang menawarkan Aji Malaikat Muqqarabin yang diyakini bisa menjadikan pemiliknya kebal senjata, berwibawa, tidak mempan disantet, selalu selamat dan beruntung. Harga yang ditawarkan lebih murah dari iklan sebelumnya, yaitu Rp 295.000.
Ada juga yang tidak berani terus terang bahwa yang ditawarkan itu adalah khadam malaikat. Hanya saja dia mengiklankan khadam pendamping untuk membantu segala keperluan atau masalah. Khadam dihadirkan dari dalam tubuh sendiri, tanpa puasa, sesajen, tumbal atau perjanjian. Bukan setan, jin kafir atau black magic. Untuk semua agama dan calon pemilik harus datang langsung, hanya untuk kebaikan! Itulah sebagian dari iklan-iklan yang bertebaran di tengah masyarakat.
Selain itu ada juga pesantren-pesantren yang mengajarkan cara-cara untuk bisa mendapatkan khadam dari malaikat dengan mengamalkan suatu amalan thariqat secara khusus seperti membaca wirid-wirid khusus (Seperti Doa Nurun Nubuwwah) yang dibaca selama beberapa waktu juga disertai dengan puasa sekian hari dan setelah amalannya lengkap baru didatangi khadam malaikat yang bisa untuk dimintai suatu pertolongan atau suatu keperluan tertentu. Buku Al-Aufaq dan Syamsul ma’arif adalah buku “wajib” para santri.
Benarkah manusia bisa menjadikan malaikat sebagai khadam atau pelayan yang bisa disuruh kapan saja dan untuk apa saja ? Apakah manusia bisa menculik malaikat lalu dijadikan sandra yang bisa diperintah dan dijadikan budak ? Atau ritual-ritual yang dilakukan oleh manusia bisa mendatangkan malaikat, lalu malaikat itu berkhidmah kepadanya serta melayani setiap keperluannya ? Melindungi majikannya kala terancam bahaya, atau membuatnya sakti kebal senjata serta mempermudah segala urusannya ? Marilah kita mencari jawabannya dalam syari’at Islam.
Siapakah malaikat itu ? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, malaikat adalah makhluk Allah Subhnahuwata’ala yang taat, diciptakan dari cahaya, mempunyai tugas khusus dari Allah Subhnahuwata’ala . (Kamus besar bahasa Indonesia: 705). Sedangkan DR.’Umar Sulaiman al-Asyqar mendefinisikan malaikat sebagai makhluk Allah Subhnahuwata’ala yang bukan termasuk komunitas manusia atau jin. Mereka adalah makhluk yang mulia, sarat dengan kesucian, kebersihan dan kecemerlangan. Mereka makhluk yang bertaqwa, senantiasa menyembah Allah Subhnahuwata’ala dengan sebaik-baik penyembahan. Mereka selalu melaksanakan semua perintah yang dibebankan Allah kepadanya, dan tidak akan bermaksiat kepada Allah Subhnahuwata’ala selamanya.[3]
Rasulullah Shalllahulahiwassalam bersabda,“ Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)”. (HR.Muslim).
Malaikat-malaikat itu adalah tentara-tentara Allah Subhnahuwata’ala sebagaimana yang diungkapkan Al-Qur’an,“ Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri“. (QS.al-Mutaddatsir: 31). Hanya Allah Subhnahuwata’ala yang mengendalikan mereka. Tak seorangpun manusia, termasuk para Nabi dan Rasul yang bisa memerintah atau melarang malaikat. Allah Subhnahuwata’ala berfirman,“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.“ (QS.al-Qadr: 4). Malaikat tidak turun ke bumi kecuali dengan perintah Allah, bukan perintah manusia. Malaikat Jibril mengakui sendiri bahwa ia tidaklah turun kecuali atas perintah Allah Subhnahuwata’ala . Ia berkata, ”Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” (QS.Maryam: 64).
Mereka diciptakan oleh Allah Subhnahuwata’ala dan masing-masing mengemban tugas khusus dari-Nya. Ada yang tugasnya tidak berhubungan sama sekali dengan manusia. Seperti malaikat yang ditugaskan untuk menyangga ‘Arsy, “Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS al-Haqqah: 17).
Ada juga yang tugasnya menjaga gunung, sebagaimana diceritakan Rasulullah Shalllahulahiwassalam saat kaumnya yang tidak merespon seruan Rasulullah, ”Malaikat gunung mendatangiku dengan mengucapkan salam, lalu dia berkata: “Wahai Muhammad ! Sesungguhnya Allah Subhnahuwata’ala telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, saya malaikat gunung. Dan Tuhanmu (Allah Subhnahuwata’ala ) telah mengutusku untuk mendatangimu, agar aku mengikuti apa yang kamu perintahkan, apa yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan melemparkan dua gunung Mekkah kepada mereka.” Rasulullah Shalllahulahiwassalam menjawab, “Tidak, yang aku inginkan semoga Allah Subhnahuwata’ala mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah Subhanahuwata’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Ada juga malaikat yang ditugasi dengan tugas yang berhubungan dengan manusia secara langsung. Seperti mencatat amal manusia yang baik dan yang buruk,“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf:18). Atau memohon ampunan untuk orang mukmin, “malaikat-malaikat yang memikul ’Arsy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman…“(QS. Al-Mukmin: 7). Menyampaikan salam orang mukmin ke Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah Subhnahuwata’ala mempunyai malaikat-malaikat yang menelusuri bumi untuk menyampaikan salam umatku kepadaku.“ (HR.Nasa’i, Hakim dan dishahihkan oleh Al-Abani dan Adz-Dzahabi). Sebagaimana ada juga malaikat yang ditugaskan untuk menjaga manusia, “Dan Dialah yang mempunyai kekuatan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…“ (QS. Al-An’am: 61).
Berdasarkan ayat tersebut, memang ada malaikat yang ditugaskan Allah Subhnahuwata’ala untuk menjaga manusia, tapi bukan menjadi khadam atau pelayannya. Yang memerintahkan mereka adalah Allah Subhnahuwata’ala , bukan manusia. Allah Subhnahuwata’ala berfirman, “Bagi manusia ada Mu’aqqibatun (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, mereka menjaganya atas perintah Allah Subhnahuwata’ala .“ (QS.ar-Ra’d: 11).
Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan Mu’aqqibatun dalam ayat tersebut adalah malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga manusia didepan dan di belakangnya. Apabila ada sesuatu yang telah ditakdirkan Allah untuk menimpanya, maka para malaikat itu meninggalkannya,“ [4]
Bahkan Mujahid (murid Ibnu Abbas) berkata,
“ Tidaklah seorang hamba kecuali baginya malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya di saat tidur atau terjaga, menjaganya dari gangguan jin, sesama manusia dan binatang buas. Dan tidaklah sesuatu yang akan menimpa hamba tersebut kecuali malaikat tersebut mengingatkannya, kecuali kalau sesuatu itu telah ditaqdirkan Allah Subhnahauwata’ala untuk menimpanya.“ [5]

DR. Wahbah az-Zuhali berkata,
“ Ada dua malaikat yang menjaga manusia di depan dan di belakangnya. Dan ada juga dua malaikat lain yang ditugaskan Allah untuk mencatat amal baik dan buruk manusia yang berada di samping kanan dan kirinya. Allah berfirman,“ (yaitu) ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.“ (QS.Qaaf:17 – 18).
Berarti bagi setiap manusia empat malaikat di waktu siang dan empat malaikat di waktu malam, mereka bergiliran. Dua bertugas untuk menjaganya dan dua mencatat amalnya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallahulaihiwassalam ,
“para malaikat bergantian mengiringi kalian di malam hari dan di siang hari. Mereka berkumpul di waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Maka ketika (malaikat) yang berjaga di malam hari naik, Allah akan menanyai mereka (padahal Allah lebih tahu dari mereka),“ bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku?“ mereka menjawab,“sewaktu kami datang, mereka lagi shalat. Dan sewaktu kami tinggalkan, mereka juga lagi shalat,“ (HR. Bukhari).
Dan di riwayat lain rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya ada (malaikat) yang tidak meninggalkan kalian kecuali saat di toilet dan ketika bersetubuh (dengan istri atau suami), maka malulah terhadap mereka dan hormatilah mereka“ [6]
Memang ada malaikat yang selalu menyertai kita, dan yang mengendalikan mereka adalah Allah. Mereka bertugas atas perintah Allah Subhnahuwata’ala , bukan perintah manusia. Kalau manusia ingin supaya mereka terus melindunginya serta membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, hendaklah memohon kepada Allah Subhnahuwata’ala . Dan cara memohon harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalllahulahiwassalam . Kalau tidak sesuai, syetan akan bermain. Bukan malaikat yang turun, tapi malah jin atau syetan yang datang. Malaikat adalah tentara Allah bukan Khadam manusia!
________________________________________
[1] Kamus bahasa Indonesia, halaman 690
[2] Riyadhoh dalah sebuah disiplin pengemblengan diri dengan membaca wirid, mantra dan disertai puasa-puasa yang berat untuk mendapatkan suatu ilmu hikmah.
[3] Kitab ’Alamaul Malaikatil Abrar: 7
[4] Tafsir al-Munir: 13/123
[5] Tafsir Ibnu Katsir: 503
[6] Tafsir al-Munir: 13/123

Continue reading...

PENCIPTAAN “JIN”

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

PENCIPTAAN “JIN”
Sejarah dan Kehidupan Jin

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api. Makhluk ciptaan Allah Ta’ala dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa, di antara yang bernyawa adalah jin. Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.
Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Tentang asal kejadian jin, Allah Ta’ala menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat yang akan kami jelaskan di bawah.
Pada makalah ini, kami akan mengulas lebih luas lagi mengenai jin sesuai dengan ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Makalah sederhana ini kami susun dengan harapan apa yang kami sampaikan akan membawa manfaat bagi setiap orang serta mendapat ridho dari Allah subhnahuwata’ala serta pahala kebaikan dari-Nya.
Aamiin ya rabbal ‘alamiin…..
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah yang kami susun ini adalah sebagai berikut:
Ø Untuk mengetahui dan memahami definisi Jin.
Ø Untuk mengetahui Asal Mula Penciptaan Jin.
Ø Untuk mengetahui Bentuk dan Jenis Jin
Ø Untuk mengetahui Kehidupan Jin
Ø Untuk mengetahui Interaksi Antara Manusia dan Jin
Ø Untuk mengetahui Penyakit yang ditimbulkan Jin
Ø Untuk mengetahui Cara Menghindari Gangguan Jin
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami temukan berdasarkan judul makalah ini adalah:
1. Apakah Definisi Jin?
2. Bagaimana Asal Mula Penciptaan Jin?
3. Bagaimana Bentuk Jin dan Apa saja Jenis Jin?
4. Bagaimana Kehidupan Jin itu?
5. Bagaimana Interaksi yang Terjadi Antara Manusia dan Jin?
6. Apa saja Penyakit yang Ditimbulkan Oleh Jin?
7. Bagaimana Cara Menghindari Gangguan Jin?
D. Metode Penulisan
Penulis mempergunakan metode kepustakaan. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah Studi Pustaka, Dalam metode ini penulis membaca buku-buku atau website yang berkaitan denga penulisan makalah ini.
PEMBAHASAN
A. Definisi Jin
Jin secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api.
Menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip asy-Syibli dalam bukunya Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jann, mengatakan bahwa makhluk ini disebut dengan jin karena secara bahasa jin artinya yang tersembunyi, terhalang, tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini terhalang (tidak dapat dilihat) dengan kasat mata manusia.
Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menceritakan tentang Jin. Diantaranya:
1. Surah Al-Hijr ayat 26 – 27:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering kerontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan manusia dari api yang sangat panas.”
2. Surah Ar-Rahman ayat 15:
Artinya: “Dia (Allah) menciptakan Jann (Jin) dari nyala api (Pucuk api yang menyala-nyala atau Maarij)”
3. Surah Al-’Araf ayat 12:
Artinya: “Engkau ciptakan aku (kata Iblis) dari api sedangkan ciptakan dia (Adam) dari tanah.”
4. Dari Hadis Nabi shalllahulahiwassalam yang telah diriwayatkan oleh Muslim ra:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jaan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kamu (tanah).”
5. Al-A’raf Ayat 72:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”
B. Asal Mula Penciptaan Jin
-Qs Al-Hijr : 26 – 27 :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”
– Qs Al-Baqarah ayat 30 :
Yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
– Qs Ar-Rahman ayat 15 :
Yang artinya : “dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”
A. Tafsir Mufradat
الْجَانَّ : sejenis jin
مَارِجٍ : kobaran mulus yang tidak bercampur dengan asap
B. Asbabun Nuzul
Berdasarkan penelusuran yang telah kami lakukan, kami tidak menemukan asbabun nuzul surat tersebut.
C. Tafsir Ayat
Dan Allah Subhanahu wata’ala , bahwasanya Allah Ta’ala telah menciptakan jin dan api yang jernih, yang sebenarnya bercampur dengan sebagian yang lain. Yakni dari kobaran api yang kuning dengan kobaran api yang merah, dengan kobaran api yang kehijau-hijauan.
Jadi, sama seperti halnya dengan manusia juga diciptakan dari unsur-unsur yang bermacam-macam, begitu pula dengan jin, diciptakan dari bermacam-macam kobaran api yang bercampur menjadi satu.
– “Al-Maarij”
Maarij yaitu nyala api yang sangat besar dan sangat panas atau “Al-Lahab” yaitu lidah api yang bercampur menjadi satu yaitu merah, hitam, kuning dan biru. Beberapa ulama juga mengatakan bahwa “Al-Maarij” itu adalah api yang sangat terang yang memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru.
Beberapa pendapat mengatakan Al-Maarij itu ialah api yang bercampur warnanya dan sama artinya dengan “As-Samuun” yaitu api yang tidak berasap tetapi suhu panasnya sangat tinggi. Angin Samuun yang telah tercampur dengan Al-Maarij itulah yang dijadikan Allah Ta’ala untuk menciptakan Jaan/Jin.
Menurut suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud juga menyatakan bahwa angin Samuun yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin Samuun yang sangat panas.
Dari api yang sangat panas inilah Allah Ta’ala telah menciptakan Jin, yaitu dari sel atau atom atau dari nukleas-nukleas api. Kemudian Allah Ta’ala masukkan roh atau nyawa padanya, maka jadilah ia hidup seperti yang diinginkan oleh Allah Ta’ala . Jin juga di beri izin oleh Allah Ta’ala Merubah diri kebentuk yang disukai dan dikehendakinya kecuali bentuk rupa Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam.
Jin juga diperintahkan oleh Allah Ta’ala menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia. Bentuk asal Jin setelah diciptakan dan ditiupkan ruh itu hanya Allah Ta’ala dan Rasulnya saja yang mengetahuinya. Menurut beberapa ulama rupa, tabiat, kelakuan dan perangai Jin adalah 90 persen mirip ke manusia.
Asal kejadian manusia adalah campuran dari Massa Kathif yaitu tanah dan air, Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan Nurani, yaitu ruh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan “Latifatur-Rabbaniah” sesuai dengan manusia sebagai sebaik-baik kejadian yang diciptakan Allah Ta’ala dan sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini. Sedangkan kejadian Jin pula ialah campuran Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan Nurani yaitu ruh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan cocok dengan kejadian Jin.
Sedangkan mahkluk-makluk lain pula Allah Ta’ala jadikan dari salah satu unsur tersebut, misalnya, binatang yang dijadikan dari campuran Massa Ksayif dan Massa Syafaf saja. Batu dan tumbuh-tumbuhan pula dijadikan dari Massa Kasyif semata-mata. Sedangkan Malaikat pula dijadikan dari Nurani semata-mata.
– Cara Reproduksi Jin

Manusia membutuhkan waktu mengandung selama sembilan bulan untuk melahirkan dan anak manusia juga membutuhkan waktu yang lama untuk matang dan menjadi baligh.
Berbeda dengan Jin dimana bila di sentuhkan alat kelamin lelaki dengan alat kelamin perempuan, maka Jin perempuan akan mengandung dan melahirkan, anak Jin yang baru lahir itu terus mukallaf. Begitulah keadaannya sampai ke hari kiamat.
Iblis pula apabila disentuhkan paha kanan dengan paha kiri akan mengeluarkan 33 biji telur. Dalam setiap biji telur itu ada 33 pasang benih. Setiap pasang benih itu apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri akan keluar seperti yang terdahulu. Begitulah proses reproduksi Jin dan Iblis sampai pada hari kiamat.
Bunian atau biasanya disebut juga orang Ghaib ialah hasil campuran laki-laki atau perempuan Jin dengan laki-laki atau perempuan dari kalangan manusia. Anak yang dihasilkan dari percampuran itu dikenal dengan nama Bunian. Perangai dan tingkah laku serta bentuk rupa orang Bunian ini dalam beberapa hal mirip manusia dan juga mirip Jin.
Jika nenek moyang manusia adalah Nabi Adam, maka nenek moyang Jin juga ialah “Jaan” yang asalnya adalah beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan melahirkan keturunan yang beriman. Setelah itu terdapat juga keturunan Jaan yang kufur dan melahirkan keturunan yang kufur. Anak cucu Jaan yang asalnya beriman itu ada yang kuat imannya, ada pula yang kufur dan ada juga yang beriman kembali kepada Allah subhanahu wata’ala .
C. Bentuk dan Jenis Jin
– Bentuk Jin
Pada dasarnya bentuk rupa Jin tidak banyak berbeda dari bentuk rupa manusia, yaitu mereka memiliki jenis kelamin, memiliki hidung mata, tangan, kaki, telinga dan sebagainya, sebagaimana yang di miliki oleh manusia. Pada dasarnya 80 hingga 90 persen Jin menyerupai manusia.
Hanya perbedaan fisik Jin adalah lebih kecil dan halus dari manusia. Bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang tinggi dan bermacam-macam warnanya, yaitu putih, merah, biru, hitam dan sebagainya. Jin kafir dan Jin Islam yang fasik itu memiliki rupa yang buruk dan menakutkan. Sedangkan Jin Islam yang saleh memiliki paras yang elok.
Menurut beberapa pendapat, tinggi Jin yang sebenarnya adalah sekitar tiga hasta saja. Pengetahuan mereka lebih luas dan berumur sangat panjang sampai beribu-ribu tahun umurnya. Kecepatan Jin bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam suatu waktu. Karena Jin terdiri dari mahkluk yang seni dan tersembunyi, tidak zahir seperti manusia dan tidak sepenuhnya ghaib seperti Malaikat, maka ruang yang kecil pun bisa di duduki oleh jutaan Jin dan juga dapat merasuki dan menghuni tubuh manusia.
Jumlah Jin terlalu banyak sehingga menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa jika jumlah semua manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat dikalikan dengan hewan-hewan, dikalikan dengan batu-batu, dikalikan dengan pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan. Itu pun hanya sepersepuluh dari total Jin.
Sedangkan total Jin adalah sepersepuluh dari total Malaikat.
Total Malaikat hanya Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya saja yang mengetahuinya.
Alam tempat berdiamnya Jin adalah di lautan, daratan, di udara dan di Alam Mithal yaitu suatu alam yang terletak diantara alam manusia dan alam malaikat.
Jika kita diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kemampuan untuk melihat Jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan jatuh ke bumi, tetapi jatuh dibelakang Jin, karena sangat banyaknya jumlah mereka.
Oleh sebab itu orang tua kita selalu berpesan agar anak-anaknya segera kembali ke rumah apabila tiba waktu maghrib dan pintu serta jendela rumah harus di tutup, agar tidak dimasuki oleh setan dan Iblis.
Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah shalllahualaihi wassalam :

“Bila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebagian malam maka tahanlah anak-anakmu karena sesungguhnya setan berkeliaran ketika itu dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allahsubhanahu wata’ala , padamkan lampu-lampu mu serta sebutlah nama Allah, ikatlah minuman mu serta sebutlah nama Allah dan tutuplah sisa makanan mu serta sebutlah nama Allah (ketika menutupnya) “
Hadist di atas berarti bahwa Jin dan setan tidur di waktu siang dan menjelang petang mereka keluar untuk mencari rezeki dan makanan, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang dewasa atau anak-anak.
– Jenis Jin

Ä Al-Jan
Jenis yang pertama ini adalah pengertian jin secara umum, yaitu jenis jin yang berpotensi seperti layaknya manusia. Jin ada yang laki-laki dan adapula yang perempuan, ada jin yang muslim dan adapula yang non muslim, jin juga membutuhkan makan, minum, tidur, bersenggama dan sebagainya. Walhasil jin pada kategori JAN tidak banyak berbeda dengan manusia pada kategori al-insan.
Ä Al-A’mir
Biasanya disuatu tempat, dikamar mandi, dirumah atau dimanapun ada suara atau bunyian yang menirukan perbuatan manusia. Seperti halnya ada suara orang wudhu atau orang mandi, padahal dikamar mandi tersebut tidak ada siapa-siapa. Hal ini boleh jadi adalah perbuatan jin pada kategori AL-A’MIR. Maka biasanya orang menyebutnya sebagai setan tek-tek. Karena memang jenis jin ini suka menirukan perbuatan atau kebiasaan manusia, dengan maksud menakut-nakuti.
Al-A’mir juga terkadang mengikuti orang yang sedang membaca, bernyanyi dan sebagainya atau mengikuti orang yang sedang shalat dibelakangnya. Meskipun demikian kita tidak usah takut, karena bisa saja dia tidak jahat, hanya karena ingin menjadi mak’mum atau ingin belajar membaca atau menyanyi.

Ä AL-Ifrit
Ifrit adalah jenis jin yang berpotensi sebagai pembantu ataupun khodam bagi manusia. Dalam hal ini ada ifrit yang muslim dan baik, yang tentunya bisa menjadi khodam pada manusia yang muslim dan baik pula. Adapula ifrit yang berprilaku jahat dan kafir yang dimanfaatkan oleh para tukang sihir dan dukun, seperti ifrit-ifrit yang bekerjasama dengan pesihir terkemuka luar negeri seperti “David Caverfil”.
Ä Al-Arwah
Jenis jin yang keempat inilah yang sering dan biasa menggoda manusia, terkadang al-arwah menjelma dirinya sebagai orang tua kita yang telah meninggal atau sebagai dedemit dan sebagainya. Sehingga dapat mengelabuhi sebagian masyarakat kita dan menakut-nakuti mereka yang mempercayainya. Sebenarnya jenis jin al-arwah ini termasuk golongan jin yang sangat kuat dan sangat nakal. Disebutkan paling kuat karena mereka dapat menjelma dirinya menjadi apa saja dengan mengerahkan kekuatan ilmu yang dimilikinya dan disebut nakal karena sering menggoda dan menakut-nakuti manusia. Jika diibaratkan manusia, maka jenis jin dari golongan Al-arwah semacam preman yang suka usil terhadap masyarakat setempat dan terutama kepada perempuan sendirian dijalanan.
Ä As-Syaiton
Berbeda dengan al-arwah, as-syaiton adalah jenis jin yang selalu menggoda manusia dari segi keimanan, kerohanian dan kejiwaan.
As-syaiton sangat berbahaya dibandingkan jenis jin lainnya, karena as-syaiton merasuk kedalam hati manusia untuk membisikan kekafiran, keingkaran dan kejahatan.
Dalam surat an-naas dijelaskan bahwa bukan hanya jin jahat dan ingkar yang termasuk dalam golongan as-syaiton, manusia yang yang berprilaku dzalim dan lalai termasuk dalam kategori ini. Mengenai hal ini ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa setan adalah sebuah sifat jahat dari manusia dan jin. Jadi kesimpulanya adalah setan bukan berupa wujud atau benda, melainkan sebuah sifat atau perbuatan.
– Kelompok Jin

Jin juga seperti manusia yang ingin melanjutkan keturunan dan hidup berkelompok-kelompok. Suku dan kelompok Jin sangat banyak dan berbicara dalam berbagai dialek dan bahasa. Ada beberapa ulama membagi Jin ke beberapa kelompok, diantara adalah kelompok yang menunggu kubur, kelompok yang menunggu gua, kelompok yang menunggu mayat manusia, kelompok yang menunggu hutan, kelompok yang menunggu bukit tinggi, kelompok yang menunggu air mata air, grup yang menunggu danau, kolam, teluk, kuala, pulau dan sebagainya.
– Jin, Ifrit, Setan dan Iblis

Jin, Ifrit, setan dan Iblis adalah merupakan bagian dari golongan Jin, hanya saja tugas dan fungsi mereka yang berbeda. Jin sebagaimana yang telah dijelaskan di atas adalah sejenis mahkluk Allah subhanahu wata’ala yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia. Pengetahuan mereka lebih luas dan sangat panjang usianya.
Sedangkan Ifrit adalah golongan Jin yang sangat kuat dan pandai menipu serta sangat busuk hati terhadap manusia. Golongan ini sangat sombong dan durhaka kepada Allah.
Iblis dan setan juga terdiri dari golongan Jin dan mereka adalah kaum Jin yang sangat sombong lagi durhaka, pengacau dan menjadi musuh utama manusia dan mendapat kutukan Allah subhanahu wata’ala hingga hari kiamat.
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

“Iblis menjawab: Sebab engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan mencegah halangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangani mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan menemukan kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).”
Beberapa ulama berpendapat bahwa Azazil itu bukanlah nenek moyang Jin, sebenarnya ia adalah Jin yang paling abid dan alim di kalangan Jin yang diangkat menjadi ketua ahli-ahli ibadah kepada Jin dan Malaikat. Dia menjadi angkuh dan diri di atas keilmuan, ketakwaan dan banyak beribadat serta asal usul kejadiannya dibandingkan dengan manusia (Adam). Maka dengan sifatnya yang sombong itu Allah Ta’ala telah melaknatnya menjadi kafir dengan nama Iblis.
Mulai dari saat itulah Iblis melancarkan gerakan permusuhan dengan manusia sampai hari kiamat.
Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa ada tiga jenis permusuhan dilakukan oleh Jin atas manusia yaitu:
1. Dalam Kejahatan (As-Suu’): yaitu gemar membuat dosa-dosa dan maksiat hati dan segala anggota tubuh.
2. Kekejian (Al-Fahsyaa ‘): yaitu kejahatan yang lebih buruk dan jahat. Kekejian ini adalah bagian dari hal yang membawa kepada kedurhakaan dan maksiat kepada Allah subhnahuwata’ala .
3. Dalam kebohongan dan menipu Allah subhnahuwata’ala dalam perbuatan, kata dan nawaitu.
– Khodam
Khodam adalah pembantu atau suruhan yang akan membantu tuannya apabila di minta. Khodam terbagi atas dua golongan, yaitu:
1. Khodam Asal.
Khodam asal adalah terdiri dari rohani Malaikat dan Jin Islam peringkat tinggi yang nama mereka adalah nama malaikat. Ia tidak meminta syarat apapun kepada tuannya. Khodam jenis ini diharuskan oleh syarak.
2. Khodam Bersyarat.
Khodam jenis ini adalah terdiri dari Jin alam rendah terdiri dari Jin Islam atau Jin kafir. Golongan ini datang ke tuannya dengan perjanjian dan beberapa syarat khusus dan umum, baik yang bertepatan dengan hukum syariah atau yang diharamkan oleh syarak. Khodam jenis ini diharamkan oleh Islam.
Khodam bersyarat ini akan datang menolong melalui salah satu cara berikut:
A. Dampingan Luar.
Khadam ini akan mendampingi dan menolong tuannya melalui eksternal saja, yaitu hanya dalam perbuatan, ucapan atau qasad hati.
B. Dampingan Internal.
Khadam jenis ini juga dikenal sebagai Tanasakhul aruah atau penjelmaan khadam atau Jin dalam diri seseorang (menurun) dengan menamakan diri mereka, saat menurun dengan nama-nama tertentu seperti Nabi Khidhir, Panglima Hitam, Wali Songo dan sebagainya.
Jin yang meresap dalam cara ini memungkinkan orang yang diresapi itu menunjukkan keajaiban dan hal-hal yang luar biasa seperti berbicara dalam bahasa Jawa, Arab, Inggris dan sebagainya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mengetahui sedikit pun bahasa-bahasa tersebut.
D. Kehidupan Jin

– Pemerintah-Pemerintah Jin
Jin juga memiliki pemimpin dan kerajaannya yang tersendiri. Raja Jin alam bawah yang kafir adalah seperti Mazhab, Marrah, Ahmar, Burkhan, Syamhurash, Zubai’ah dan Maimon. Empat raja Jin Ifrit (Jin yang paling jahat) yang memiliki pemerintah besar yang menjadi menteri pada Nabi Allah Sulaiman as adalah Thamrith, Munaliq, Hadlabaajin dan Shughal.
Sedangkan Raja Jin Alam atas yang Islam adalah Rukiyaail, Jibriyaail, Samsamaail, Mikiyaail, Sarifiyaail, ‘Ainyaail dan Kasfiyaail. Raja Jin yang menguasai Teman Jin tersebut bernama THOTHAMGHI YAM YA LI. Sedangkan Malaikat yang mengontrol seluruh Jin-Jin di atas bernama Maithotorun yang bergelar QUTBUL Jalalah.
Anak-anak Iblis juga memiliki pemerintah yang besar antaranya:
1. Thubar Merasuk manusia yang di timpa musibah dan bala
2. Daasim Merasuk manusia untuk menceraikan ikatan silatulrahim, rumah tangga, keluarga, sahabat handai, jemaah dan sebagainya.
3. Al-’Awar Merasuk manusia untuk meruntuhkan akhlak, berzina, minum arak, berjudi dan sebagainya.
4. Zalanbuur Merasuk manusia dengan api permusuhan dan pembunuhan.
– Agama Suku-suku Jin
Jin Juga seperti manusia, yaitu ada yang baik, ada yang jahat, ada yang saleh, ada yang tidak saleh, ada yang alim lagi mukmim, ada ada yang kufur, ada yang murtad, fasik dan zalim, ada yang masuk surga dan ada yang disiksa oleh Allah subhnahuwata’ala ke neraka di akhirat.
Mayoritas suku-suku Jin terdiri dari golongan Jin kafir. Golongan Jin kafir ini kebanyakanya beragama Yahudi, Kristen, Komunis dan sangat sedikit dari mereka yang beragama Buddha dan Majusi. Ada juga golongan Jin yang tidak beragama. Golongan Jin yang memeluk Islam hanyalah sedikit dan terdiri dari kaum minoritas jika di bandingkan dengan keseluruhan jumlah Jin.
Seperti juga manusia biasa,
Jin juga mempunyai tingkat-tingkat iman, ilmu dan praktik tertentu yang berdasarkan iman dan amal mereka kepada Allah. Walaupun Jin Islam yang paling tinggi imannya dan paling saleh amalannya serta paling luas serta banyak ilmunya, tetapi masih ada pada diri mereka sifat-sifat madzmumah seperti menyombongkan diri, ria dan sebagainya, tetapi mereka mudah menerima teguran dan pengajaran.
Mungkin inilah yang sering dikatakan bahwa “sebaik-baik Jin itu adalah sejahat-jahat manusia yang fasik.” Tetapi perbedaannya manusia yang paling jahat susah menerima pengajaran dan teguran yang baik.
Golongan Jin Islam yang umum dan Jin kafir suka merasuk manusia yang awam dengan berbagai cara, karena pada pandangan mereka manusia-manusia yang umum itu bukanlah manusia sebenarnya, sebaliknya adalah rupa seekor binatang. Manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas tidak dapat di rasuk oleh Jin, bahkan Jin pula akan datang kepada mereka untuk bersahabat.

E. Interaksi Antara Manusia dan Jin
– Melihat Jin

Pada prinsipnya Jin tidak dapat di lihat, di sentuh dan di dengar oleh manusia dalam bentuk yang asal sebagaimana saat diciptakan, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu, Jin dapat di lihat dalam bentuk rupa yang diingininya.
Jin juga bisa di lihat oleh manusia dalam keadaan dibuka mata batinnya atau ketika meminum air yang sudah dido’akan atau kemauan Jin itu sendiri untuk memperlihatkan dirinya kepada manusia.
Di dunia semua Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas saja yang dapat melihat Jin selain para Nabi dan Rasul. Sedangkan
di akhirat semua manusia mukmin yang ahli surga dapat melihat Jin sedangkan Jin yang Khawas dan Khawasil-Khawas saja yang dapat melihat manusia.
Adapun kelebihan Jin yang telah diberikan oleh Allah adalah kemampuannya untuk mengubah dirinya dalam berbagai bentuk. Misalnya dalam perang Badar, Iblis telah menampakkan dirinya dalam bentuk seorang lelaki dari Bani Mudlij dan setan juga dalam rupa Suraqah bin Malik yang datang membantu tentara musrikin memerangi tentara Islam. (Iblis dan setan adalah juga merupakan bagian dari golongan Jin).
Dalam Sahih Bukhari juga ada meriwayatkan bahwa adanya Jin yang menampakkan dirinya dalam bentuk ular dan membunuh seorang pemuda yang mencoba membunuh ular tersebut. Selain itu Jin juga bisa menampakkan dirinya dalam bentuk rupa hewan lain seperti bentuk rupa kucing, anjing dan sebagainya.
– Bersahabat dengan Jin

Banyak di kalangan orang-orang Indonesia yang bersahabat dan menjadikan Jin sebagai pembantu dan Khadam mereka untuk membantu mereka melaksanakan tugas-tugas tertentu. Misalnya seperti dukun, pesulap, pengobatan alternatif dan sebagainya.
Namun tidak semua kaum di atas yang menggunakan Jin dalam kerja harian mereka. Ada juga golongan tersebut yang benar-benar memiliki keterampilan alami tanpa pertolongan dari Jin.
Singkatnya kita sebagai seorang Islam yang bersahabat dengan para Jin Islam maupun Jin kafir akan lebih banyak mendapatkan keburukannya dibanding kebaikan yang akan kita peroleh. Jin akan selalu merasuk dan mendorong manusia supaya melakukan kejahatan dan maksiat tanpa kita sadari.
– Masuknya Jin Kedalam Tubuh Manusia
Jin bisa merasuk dan masuk ke dalam diri manusia dengan berbagai cara dan manusia yang mengunakan layanan Jin untuk melakukan pengkhianatan kepada manusia lain pun melalui berbagai cara.
Sebagaimana sebuah hadis Rasulullah shallalllahualaihi wassalam yang telah diriwayatkan oleh Sayidah Syafiyyah binti Huyay, bahwa Rasulullah pernah bersabda yang maksudnya:
“Sesungguhnya setan (Jin) itu berjalan dalam tubuh anak Adam sebagaimana darah yang mengalir dalam tubuhnya”.
Dari hadis di atas jelaslah bahwa Jin dapat masuk kedalam tubuh manusia dan berjalan melalui urat nadi dan darah manusia. Jin dapat berjalan dalam tubuh manusia seperti arus listrik yang mengalir dalam kabel. Jin juga dapat menguasai manusia sehingga ia dapat menyebabkan perkelahian antar sesama manusia, manusia hilang ingatan, hilang kesadaran dan lain-lain lagi.
Jin bisa merasuki tubuh manusia baik diminta sendiri oleh manusia atau tanpa di sadari oleh manusia itu sendiri.
Jin mendampingi dan merasuki manusia melalui salah satu cara berikut.Diantaranya
Melalui Khodam atau manusia itu sendiri yang menjadikan Jin sebagai sahabatnya.
1. Melalui “saka Baka”.
2. Melalui Mantra-mantra yang di lakukan oleh manusia lain.
3. Karena manusia itu sendiri lupa terhadap Allah subhanahu wata’ala atau melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala , berarti mendekatkan diri untuk diperdaya oleh jin dan syaithan.
4. Melakukan kejahatan terhadap Jin, seperti menjatuhkan benda berat ditempat yang ada Jinnya,tanpa menyebut nama Allah subhanahu wata’ala sehingga menyebabkan kematian anak Jin.
5. Karena ada Jin laki-laki yang jatuh cinta kepada perempuan yang suka bersolek atau perempuan yang suka keluar rumah untuk memperlihatkan kecantikannya dan tidak memakai kerudung serta suka menunjukkan auratnya.
6. Membaca jampi-jampi, doa atau ayat-ayat tertentu yang dapat mendatangkan Jin.
Apabila Jin telah merasuki raga manusia, walaupun dengan cara apapun Jin tersebut akan mendiami salahsatu dari tempat berikut di anggota tubuh manusia. (mekipun sebenarnya mereka bebas bergerak kemanapun dalam raga manusia) Diantara tempat-tempat tersebut adalah:
1. Mereka berkumpul di mata kanan dan kiri. Oleh sebab itu jika seseorang telah dirasuki Jin didalam badan mereka, mereka tidak akan berani berhadapan mata dengan orang lain.
2. Berada di telinga kanan dan kiri, oleh karena itu manusia yang telah dirasuki Jin tidak suka mendengar nasehat dan teguran yang baik dan sangat suka mendengar hal-hal maksiat seperti musik yang melalaikan dan sebagainya.
3. Berada di mulut manusia, oleh sebab itu manusia yang telah dirasuki Jin sangat suka berbicara hal-hal yang tidak berguna dan mendatangkan dosa seperti mengumpat, mencela, menghina manusia lainnya dan sebagainya.
4. Berada di hidung manusia, sehingga menyebabkan manusia suka menghirup hal-hal yang tidak tidak dan dapat merusak diri manusia sendiri.
5. Berada dipusar, sehingga menyebabkan orang tersebut selalu mengalami sakit perut dan berbagai penyakit yang tidak dapat dideteksi oleh dokter.
6. Berada di kemaluan manusia, sehingga menyebabkan manusia suka melakukan hal-hal maksiat seperti berzina dan sebagainya.
Manusia yang selamat dari ganguaan Jin, Iblis dan setan adalah manusia yang selalu berada dalam Tauhid dan jalan Allah subhanahu wata’ala , melalui lidah, anggota badan dan hati, mereka juga berakhlak seperti akhlak Rasulullah shallalllahualaihi wassalam serta rajin beramal dan menjalankan syariat Islam.
Jalan terdekat untuk berada dalam tauhid Allah adalah dengan kita mengambil contoh perbuatan dan akhlak orang-orang yang berada dalam tauhid Allah, seperti Nabi Muhammad shallallahualaihi wassalam , sahabat-sahabat beliau, para ulama dan sebagainya.
Dengan mengikuti segala ajaran yang telah di ajarkan oleh rasulullah shallallahualaihi wassalam , melaksanakan semua perintah Allah subhanahu wata’ala dan menjauhi larangannya kita akan aman dari gangguan para Jin, Iblis, setan atau sejenisnya.
seperti kata para Ulama:

“Kun Ma’Allah fain lam Takun ma’Allah, fakun ma’a man ma’Allah fainnahu yusiluka illallaah”
Maksudnya adalah:
“Hendaklah jadikan diri kamu bersama Allah, maka jika kamu tidak dapat menjadikan diri kamu bersama Allah hendaklah kamu jadikan diri kamu bersama dengan mereka yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu akan menyampaikan diri kamu kepada Allah Ta’ala”

F. Penyakit yang Ditimbulkan Jin
1. Penyakit akibat dari keturunan.
Terkadang ada beberapa orang yang mempunyai suatu penyakit yang di akibatkan dari keturunan atau lebih tepat lagi penyakit yang diakibatkan oleh saka-baka. Penyakit ini disebabkan oleh keturunan mereka, apakah kakek, nenek, moyang atau ada silsilah keturunan mereka yang membela atau bersahabat dengan Jin, pada jaman dahulu, dan apabila mereka meninggal maka mereka akan mewarisi Jin peliharaan tersebut atau keturunannya tidak mengetahui jikalau kakek nenek mereka dahulu ada yang bersahabat atau memelihara Jin, lalu mereka meninggal sebelum sempat membuang Jin peliharaan tersebut.
Kebanyakan dari kita tidak peduli bahkan tidak tahu asal usul keturunan mereka atau peran nenek moyang kita di zaman dahulu, di dalam masyarakat mereka pada ketika itu. Ada beberapa dari orang-orang tua kita di zaman dahulu yang membela dan bersahabat dengan Jin.
Mereka bersahabat dengan Jin dengan berbagai tujuan. Selain itu mereka juga membela Jin untuk menjaga dan mengawasi harta benda mereka dari pencurian, karena pada waktu itu masih belum ada polisi dan sebagainya, dan ada juga yang menggunakan Jin untuk membuka kampung, dusun, kebun dan sebagainya, jadi Jin inilah yang akan bekerja menebas dan sebagainya untuk tuannya itu. Karena pada saat itu masih belum ada mesin modern dan peralatan yang.
Untuk mendapatkan bantuan dan bersahabat dengan Jin, mereka akan membuat berbagai perjanjian dan “jamu” an serta upacara pemujaan Jin. Setelah perkembangan teknologi dan terciptanya alat-alat modern dan ditambahkannya dengan kesadaran agama yang semakin mendalam di kalangan orang-orang sekarang, maka dengan itu bantuan Jin-Jin tersebut tidak lagi diperlukan.
Oleh karena itu anak-cucu dan keturunan orang yang membela dan bersahabat dengan Jin tersebut tidak lagi melakukan upacara-upacara men “jamu” Jin sebagaimana yang dilakukan nenek moyang mereka dahulu, bahkan mereka juga telah lupa atau tidak tahu bagaimana untuk melakukannya. Maka dari itu Jin-Jin tersebut akan selalu mengawasi dan menunggu kesempatan untuk menggangu keturunan tuannya, demi agar mereka di puja dan di “jamu” sebagaimana pada jaman nenek moyang keturunannya.
Jin tersebut akan mencari dan menggangu keturunan tuannya selama-lamanya, selagi keturunan tersebut tidak membuang Jin belaan tersebut. Dalam keadaan biasa Jin tersebut tidak menggangu keturunan tuannya, tetapi jika ada salah seorang dari anggota keluarga keturunannya itu, di ganggu atau dianiayai oleh orang lain dengan menggunakan Jin, maka Jin keturunan tersebut akan datang membantu.
Tetapi Jin keturunan tidak dapat melakukan apa-apa karena cucu cicit tuannya tidak tahu untuk mengadakan upacara untuk membela dan memanggil Jin tersebut, tambahan lagi mereka juga tidak mengetahui adanya Jin belaan nenek moyang mereka yang selalu mengawasi dan mengikuti perkembangan keluarga mereka. Pada ketika itu Jin keturunan tersebut pula yang akan bersama-sama dengan Jin yang di kirim untuk menanyai anggota keluarga tersebut. Jin yang di kirim dan Jin keturunan sama-sama akan menggangu keluarga tersebut, bahkan gangguan Jin keturunan tersebut lebih kuat dari Jin yang dikirim oleh orang yang khianat itu.
Jika orang yang mengalami gangguan tadi berobat, maka penyakit yang di akibatkan oleh Jin yang di kirim oleh orang yang mengkhianati keluarga tersebut akan lari dan penyakit yang diakibatkanya juga akan sembuh, tetapi penyakit yang diakibatkan oleh Jin keturunan tersebut tidak akan sembuh, meskipun diobati,akan tetapi jika Jin keturunan tersebut dibuang dari keturunan keluarga tersebut maka penyakitnya akan hilang.
Kebanyakan penyakit yang diakibatkan oleh Jin keturunan ini sangat parah dan tidak bisa di obati oleh dokter dan rumah sakit, karena jika dipemeriksaan di rumah sakit, dokter akan mengatakan bahwa pasien tersebut normal dan tidak mengalami penyakit apapun. Sedangkan pasien tersebut menderita penyakit yang sulit digambarkan oleh siapapun, kecuali orang yang pernah mengalaminya sendiri.
Tanda-tanda adanya penyakit keturunan.
Adapun tanda-tanda orang yang memiliki keturunan dari pembela atau orang yang bersahabat dengan Jin. Diantaranya:
a. Mudah terasuki jin
b. Cemburu
c. Iri hati
d. Buruk Sangka
e. Selalu memimpikan orang minta diadakan jamuan atau makan Klasifikasi Keturunan.
f. Panas badan
g. Was-was dalam melakukan pekerjaan
h. Suka berkelahi / berbuat onar.
i. Ada halangan dan pembatasan dalam pekerjaan

2. Gila.
Gila yang diakibatkan oleh masuknya Jin ini terdapat berbagai jenis. Diantara yang sering terjadi adalah:
i. Gila Babi atau gila yang seumpamanya.

Penyakit gila babi sering di kaitkan dengan babi sebab, bila didatangi penyakit tersebut, pasien itu suka menyondol nyondol seperti Babi dan jika dibiarkan mereka akan masuk kedalam air dan besar kemungkinan akan mati lemas. Penyakit gila seperti ini biasanya ada kaitan dengan keturunan atau saka baka yang berpuncak dari kerasukan Jin.
Biasanya benih manusia jenis ini sudah bercampur dengan benih Jin keturunannya saat jatuh benih ketika si ibu dan bapa melakukan persetubuhan. Meskipun mereka telah membaca doa seperti yang dianjurkan oleh Nabi shallallahualaihi wassalam , namun oleh karena Jin tersebut telah ada dalam diri orang tersebut dalam saka baka dan keturunan tadi, maka Jin atau saka baka tadi tidak mudah meninggalkan mereka, melainkan saka-baka atau Jin tersebut telah di buang dari keluarga tersebut. Maka dari hasil itulah terdapat ramai dari kalangan orang-orang yang mendapat anak yang cacat luar biasa, gila dan sebagainya.
ii. Gila Mereyam( Bahasa lain :muriyan batu)

Gila mereyam sering terjadi pada wanita yang baru lepas bersalin. Orang sering mengaitkan gila mereyam disebabkan oleh batu meriyam yang tidak masuk kembali pada tempat asalnya. Seperti Sinse Cina mil meriyam itu di kenali sebagai Black Stone atau batu Hitam yang menurut mereka, bila batu itu naik ke kepala akan menyebabkan seseorang perempuan menjadi gila.
Gila yang disebabkan oleh batu meriyam ini paling ringan adalah perempuan tersebut akan suka berbedak atau bersolek, meskipun baru melahirkan anak dan berkelakuan luar biasa. Antara yang paling parah adalah mereka sanggup memukul orang atau lari dari rumah dan berkeliaran di atas jalan-jalan atau mengembara di berbagai tempat. (Gila ini biasanya tidak berhubungan dengan Jin)
iii. Gila Isim

Gila Isim adalah disebabkan orang tersebut beramal dengan ayat-ayat yang di terima tanpa melalui guru. Penyebab gila ini adalah panas yang disebabkan oleh khodam penjaga ayat tersebut dari gulungan Jin yang menggangunya.
Gila jenis ini sering terjadi kepada mereka yang menuntut sesuatu ilmu atau beramal dengan sesuatu ilmu tanpa silsilah yang sahih, yaitu tanpa melalui guru, melakukan sesuatu yang bukan tuntunan Rasulullah shallallahualaihi wassalam .
iv. Gila Kena Rasuk / Gila akibat Sihir.
Kedua jenis gila di atas disebabkan Jin yang di suruh oleh tuannya atau Jin yang tidak bertuan. biasanya mereka yang terkena jenis ini aggresif dan suka melawan manusia jika di ganggu atau mencoba untuk mengobati.

G. Cara Menghindari Gangguan Jin
1. Mohon Perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala
Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf:200).
Selain itu, Adi Bin Tsabit meriwayatkan dari Sulaiman bin Shard, katanya, “Sungguh aku tahu ada kalimat sekiranya seseorang mengucapkannya, niscaya sirna sesuatu yang menggelisahkannya. Jika seseorang mengucapkan Ta’awudz.
2. Membaca Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas

Kedua surat tersebut memang memiliki pengaruh yang dahsyat terhadap kejahatan dan gangguan setan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahualaihi wassalam selalu membacanya setiap malam saat akan tidur.
3. Membaca Ayat Kursi
Mungkin anda ingat pada kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah saat beliau menjaga tugas tempat penyimpanan zakat Ramadhan. Ada pencuri yang mencuri ke gudang tersebut tiga malam beturut-turut. Pada malam pertama dan kedua, karena kasihan Abu Hurairah melepaskannya. Tapi pada malam ketiga Abu Hurairah bersikeras tak akan melepaskannya walaupun si pencuri memohon-mohon. Abu Hurairah berniat menghadapkan si pencuri pada Rasulullah shallallahualaihiwassalam . Tapi akhirnya Abu Hurairah melepaskannya juga karena si pencuri mengajari Abu Hurairah ayat Kursi. Belakangan diketahui bahwa si pencuri adalah setan yang menyamar.
Khasiat Ayat Kursi memang luar biasa. Disebutkan, bila ayat Kursi dibaca saat akan tidur, maka orang tersebut akan senantiasa dijaga oleh penjaga dari Allah subhanahu wata’ala dan tak akan didekati setan sampai pagi.
4. Membaca Surat Al-Baqarah
Rasulullah shallllahualaihi wassalam pernah bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya rumah yang didalamnya surat Al-Baqarah dibaca tidak dimasuki setan.”
5. Membaca Akhir Surat Al-Baqarah
Rasulullah shallallahualaihi wassalam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala menulis satu kitab 2000 tahun sebelum menciptakan mahluk. Dia menurunkan darinya dua ayat yang dijadikan-Nya sebagai penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah keduanya dibaca dalam suatu rumah tiga malam (berturut-turut) lantas setan menetap disana.”
6. Membaca Tiga Ayat Pertama Surat Al-Mukmin dan Ayat Kursi
Rasulullah shallllahualaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa membaca tiga ayat pertama surat Al-Mukmin dan ayat Kursi di pagi hari, niscaya dia dijaga dengannya sampai sore. Dan barangsiapa membacanya disore hari, niscaya dia dijaga dengannya sampai pagi.”
7. Membaca bacaan berikut:

LAAILAAHAILLALLAAHU WAHDAHULAA SYARIIKALAH. LAHULMULKU WA LAHULHAMDU WAHUWA ‘ALAKULLI SYAIINKODIIR.
Bacaan tersebut dibaca 100 kali sehari, maka faedahnya adalah memerdekakan 10 budak, ditulis bagi pembacanya 100 kebaikan, dihapus darinya sepuluh keburukan, dan dia mendapatkan penjagaan dari setan sehari itu sampai sore.
8. Wudhu dan Shalat
Kedua hal tersebut merupakan perkara terbesar untuk membentengi diri dari setan, terutama saat diliputi amarah dan syahwat. Maka bila seseorang sedang bergejolak kemarahannya, berwudhulah dan shalatlah, maka kemarahan tersebut akan mereda.
9. Tidak Berlebihan dalam Pandangan, Bicara, Makan, dan Bergaul.
Seringkali setan dapat menguasai seorang manusia dari keempat pintu tersebut.
Pandangan merupakan pangkal fitnah, berlebihan dalam memandang dapat menimbulkan angan2, sibuk dengannya dan memikirkan cara untuk mendapatkannya.
Sedangkan, berlebihan dalam berbicara juga membuka semua pintu kejahatan bagi setan.Pada sebuah Hadits diceritakan bahwa manusia bisa diseret ke dalam neraka hanya karena buah ucapan mereka sendiri.
Berlebihan makan mendorong berbagai kejahatan. Perut kenyang memberikan kekuatan pada tubuh untuk berbuat maksiat dan memberatkan untuk berbuat baik. Banyak sudah kemaksiatan yang disebabkan perut terlalu kenyang, dan banyak pula ketaatan yang tidak bisa dikerjakan karena rasa malas yang ditimbulkan perut yang kenyang.
Terakhir, berlebihan dalam bergaul dapat menghilangkan nikmat adan menebarkan permusuhan, rasa dengki, iri, dan berbagai penyakit hati lainnya.
10. Memperbanyak Dzikir pada Allah Subhnahuwata’ala
Nabi shallllahualaihi wassalam telah menyampaikan lewat Hadits bahwa seorang hamba hanya bisa menjaga hatinya dari godaan setan dengan berdzikir pada Allah subhanahu wata’ala . Jika seorang hamba mengingat Allah subhanahu wata’ala , maka setan akan menjauh dan begitu pula sebaliknya.

PENUTUP
Demikian makalah tentang Sejarah dan Kehidupan Jin , semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kesimpulan
Bahwasannya Agama Islam itu sudah menjelaskan bahwa Jin itu ada dan keberadaannya ada ditengah-tengah kita, banyaknya interaksi antara manusia dan jin untuk hal-hal yang negatif saat ini sudah meresahkan mengingat banyaknya beban yang ada.
Saran-saran
Dengan lebih meningkatkan ibadah kita, kita akan terhindarkan dari bahaya akan tipu daya dan gangguan Jin, dan semoga dengan adanya makalah ini kita dapat menambah wawasan kita terhadap Jin.
DAFTAR PUSTAKA

http://artikeljin.blogspot.com/2004/10/sejarah-dan-pengaruh-jin-di-dalam.html

http://ita081325537150.wordpress.com/2009/09/30/rahasia-alam-jin-misteri-kehidupan-jin-hakekat-jin-menurut-agama-islam-mengatasi-gangguan-kesurupan-jin/

Perbedaan Antara JIN, SETAN dan IBLIS
Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja, namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا
“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً
“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ
“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: `Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)
Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Tak ada satupun dari golongan kaum muslimin yang mengingkari keberadaan jin. Demikian pula mayoritas kaum kuffar meyakini keberadaannya. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani pun mengakui eksistensinya sebagaimana pengakuan kaum muslimin, meski ada sebagian kecil dari mereka yang mengingkarinya. Sebagaimana ada pula di antara kaum muslimin yang mengingkarinya yakni dari kalangan orang bodoh dan sebagian Mu’tazilah.
Jelasnya, keberadaan jin merupakan hal yang tak dapat disangkal lagi mengingat pemberitaan dari para nabi sudah sangat mutawatir dan diketahui orang banyak. Secara pasti, kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)
Anehnya orang-orang filsafat masih mengingkari keberadaan jin. Dan dalam hal inipun Muhammad Rasyid Ridha telah keliru. Dia mengatakan: “Sesungguhnya jin itu hanyalah ungkapan/ gambaran tentang bakteri-bakteri. Karena ia tidak dapat dilihat kecuali dengan perantara mikroskop.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah minal Jin oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu)
Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ. وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 26-27)
Karena jin lebih dulu ada, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutannya daripada manusia ketika menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk beribadah seperti halnya manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jin, Setan, dan Iblis
Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam Al-Qur`an, bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi diragukan, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tinggal persoalannya, apakah jin, setan, dan Iblis itu tiga makhluk yang berbeda dengan penciptaan yang berbeda, ataukah mereka itu bermula dari satu asal atau termasuk golongan para malaikat?
Yang pasti, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan asal-muasal penciptaan jin dengan firman-Nya:
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)
Juga firman-Nya:
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَتِ الْجَانُّ مِنْ مَّارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha)
Adapun Iblis, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (Al-Kahfi: 50)
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Iblis adalah abul jin (bapak para jin).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 406 dan 793)
Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Siapakah Iblis?
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis, apakah berasal dari malaikat atau dari jin.
Pendapat pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu. Beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin, sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya)
Pendapat ini pula yang tampaknya dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur‘an (3/215), dan Asy-Syinqithi dalam kitabnya Adhwa`ul Bayan (4/120). Penjelasan tentang dalil pendapat ini beliau sebutkan dalam kitab tersebut. Secara ringkas, dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Kema’shuman malaikat dari perbuatan kufur yang dilakukan iblis, sebagaimana firman Allah:
لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
لاَ يَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُوْنَ
“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan, dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Al-Anbiya`: 27)
2. Dzahir surat Al-Kahfi ayat 50
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya.”
Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”
Adapun pendapat kedua yang menyatakan bahwa iblis dari malaikat, menurut Al-Qurthubi, adalah pendapat jumhur ulama termasuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Alasannya adalah firman Allah:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Juga ada alasan-alasan lain berupa beberapa riwayat Israiliyat.
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, insya Allah, karena kuatnya dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas.
Adapun alasan pendapat kedua (yakni surat Al-Baqarah ayat 34), sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istitsna` munqathi’ (yaitu yang dikecualikan tidaklah termasuk jenis yang disebutkan).
Adapun cerita-cerita asal-usul iblis, itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesungguhnya) dinukilkan untuk dikaji –wallahu a’lam–, Allah subhanahu wata’ala lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang selainnya dari berita-berita itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/94)
Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu ‘Abbas dan selainnya, bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga, mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.” (Adhwa`ul Bayan, 4/120-121)
Siapakah Setan?
Setan atau Syaithan (شَيْطَانٌ) dalam bahasa Arab diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata (شَاطَ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313).
Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
(Dalam ayat ini) Allah subhanahu wata’ala menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)
Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).
Yang mendukung pendapat ini adalah surat Al-An’am ayat 112:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata:
“Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah subhanahu wata’ala dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)
Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:
الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ
“Anjing hitam adalah setan.”
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.
Dalam masalah ini ada tafsir lain terhadap ayat itu, tapi itu adalah pendapat yang lemah. (ed)
Ketika membicarakan tentang setan dan tekadnya dalam menyesatkan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ. قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ
“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan’, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 14-17)
Setan adalah turunan Iblis, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً
“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)
Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah setan-setan. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 453)
Penggambaran Tentang Jin
Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu (menutupi sesuatu). Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena keadaannya yang tersembunyi.
Jin memiliki roh dan jasad. Dalam hal ini, Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullahu mengatakan:
“Jin memiliki roh dan jasad. Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai sosok tertentu, serta mereka bisa masuk dari tempat manapun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar menutup pintu-pintu sembari beliau mengatakan: ‘Sesungguhnya setan tidak dapat membuka yang tertutup’. Beliau memerintahkan agar kita menutup bejana-bejana dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya. Demikian pula bila seseorang masuk ke rumahnya kemudian membaca bismillah, maka setan mengatakan: ‘Tidak ada kesempatan menginap’. Jika seseorang makan dan mengucapkan bismillah, maka setan berkata: ‘Tidak ada kesempatan menginap dan bersantap malam’.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Jin bisa berujud seperti manusia dan binatang. Dapat berupa ular dan kalajengking, juga dalam wujud unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai dan juga burung. Serta bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan setan dan mempunyai kekuatan panas. (Idhahu Ad-Dilalah, hal. 19 dan 23)
Kaum jin memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda. Jin yang shalih bertempat tinggal di masjid dan tempat-tempat yang baik. Sedangkan jin yang jahat dan merusak, mereka tinggal di kamar mandi dan tempat-tempat yang kotor. (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin.
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلاَ تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ. فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمَلُهَا فِي طَرَفِ ثَوْبِي حَتَّى وَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ؟ قَالَ: هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ وَإِنَّهُ أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيْبِيْنَ وَنِعْمَ الْجِنُّ فَسَأَلُوْنِي الزَّادَ فَدَعَوْتُ اللهَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ إِلاَّ وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا
“Carikan beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci dan janganlah engkau carikan tulang dan kotoran hewan.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pun membawakan untuknya beberapa buah batu dan kusimpan di sampingnya. Lalu aku menjauh hingga beliau menyelesaikan hajatnya.”
Aku bertanya: “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?”
Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin, dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkan makanan.” (HR. Al-Bukhari no. 3860 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dalam riwayat Muslim disebutkan: “Semua tulang yang disebutkan nama Allah padanya”, ed)
Gambaran Tentang Iblis dan Setan
Iblis adalah wazan dari fi’il, diambil dari asal kata al-iblaas yang bermakna at-tai`as (putus asa) dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka adalah musuh nomer wahid bagi manusia, musuh bagi Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analoginya yang rusak serta kedustaannya, mereka berani menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala saat mereka enggan untuk sujud kepada Adam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Malah dengan analoginya yang menyesatkan, Iblis menjawab:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ
“Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)
Analogi atau qiyas Iblis ini adalah qiyas yang paling rusak. Qiyas ini adalah qiyas batil karena bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyuruhnya untuk sujud. Sedangkan qiyas jika berlawanan dengan nash, maka ia menjadi batil karena maksud dari qiyas itu adalah menetapkan hukum yang tidak ada padanya nash, mendekatkan sejumlah perkara kepada yang ada nashnya, sehingga keberadaannya menjadi pengikut bagi nash.
Bila qiyas itu berlawanan dengan nash dan tetap digunakan/ diakui, maka konsekuensinya akan menggugurkan nash. Dan inilah qiyas yang paling jelek!
Sumpah mereka untuk menggoda Bani Adam terus berlangsung sampai hari kiamat setelah mereka berhasil menggoda Abul Basyar (bapak manusia) Adam dan vonis sesat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:
يَابَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِيْنَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)
Karena setan sebagai musuh kita, maka kita diperintahkan untuk menjadi musuh setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً
“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)
Sepuluh (10) Permintaan Iblis kepada Allah Subhanahu wata’ala
Menyusul diusirnya Iblis dari surga, maka Iblis meminta 10 hal kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai kompensasi atas dikeluarkannya dia dari surga Allah subhanahu wata’ala . Permintaan itu dijelaskan Iblis sendiri ketika suatu waktu dia datang atas perintah Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad shallalllahu alaihiwassalam yang sedang memberikan taushiyah kepada para sahabatnya di rumah beliau. Inilah dialog antara Nabi shallalllahu alaihi wassalam dengan Iblis yang terekam dalam sejarah Islam.
Iblis berkata;
1. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala membiarkan aku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah subhanhu wata’ala pun mengizinkan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka. Tidaklah janji setan itu kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram (yang diperoleh dari cara-cara yang melawan agama Allah, seperti riba, memakan harta anak yatim, harta judi, harta korupsi, dsb). Aku juga makan dari makanan yang tidak dimakan tanpa menyebut nama Allah sebelumnya.
2. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala membiarkan aku ikut bersama dengan orang yang berhubungan intim dengan isterinya tanpa berlindung dengan Allah subhanahu wata’ala . Saat itu anak-anakku (setan) ikut bersama (bercinta) dengan mereka dan anak yang dilahirkan oleh istrinya nanti, akan sangat patuh kepadaku dan anak-anakku.
3. Aku minta agar boleh ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal, seperti pergi ke tempat-tempat maksiat.
4. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala menjadikan kamar mandi (dan toilet) sebagai rumahku.
5. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala menjadikan pasar (mall) sebagai masjidku.
6. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala menjadikan syair-syair (musik yang melalaikan manusia dari Allah) sebagai Alqur’anku.
7. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
8. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala memberikanku saudara, maka Dia jadikan semua manusia yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman “Orang-orang boros adalah saudara-saudara setan.” (QS Al-Isra : 27).
9. Wahai Muhammad, aku minta agar Allah subhanahu wata’ala membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
10. Aku minta agar Allah subhanahu wata’ala memberiku kemampuan untuk bergerak dalam aliran darah manusia.
Iblis lalu melanjutkan “Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun. Aku hanya bisa membisikkan dan menggoda. Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa walau seorang pun di planet ini untuk beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala . Sebagaimana dirimu sendiri. Tidak bisa memberikan hidayah sedikitpun. Engkau hanyalah rasul yang menyampaikan amanah. Jika engkau bisa memberikan hidayah (petunjuk keimanan), tak akan ada satupun kaum kafir di muka bumi ini. Aku hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara hidupnya. Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam lalu membaca ayat “Mereka akan terus berselisih kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala ” (QS Hud :118 – 119) dan “Sesungguhnya ketentuan Allah subhanahu wata’ala pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Sebagai penutup, Iblis berkata lagi “Wahai Muhammad rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah subhanahu wata’alaa yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin makhluk-makhluk yang beruntung, pemimpin penduduk Surga. Maha Suci Allah subhanahu wata’ala yang telah menjadikan aku pemimpin makhluk-makhluk yang merugi, dan pemimpin penduduk Neraka. Akulah orang yang celaka dan terusir. Ini yang ingin aku sampaikan kepadamu dan aku tak berbohong kepadamu saat ini”.
Siapakah Iblis itu?
Iblis dahulunya merupakan pemimpin dari para Malaikat yang tinggal di langit. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala selama ratusan ribu tahun hingga diberi karunia olehNya berupa wajah yang sangat tampan dan berpenampilan fisik sangat indah. Dalam suatu riwayat menyebutkan, karena begitu taatnya Iblis saat itu kepada Allah Subhanahu wata’ala , sampai-sampai dia memiliki 600 sayap yang menyamai jumlah sayap yang dimiliki pemimpin para malaikat, Jibril as.
Kejatuhan Iblis dimulai saat Allah subhanhu wata’ala menciptakan nabi Adam as sebagai khalifah di planet bumi. Iblis pun dengki dan bersaksi di hadapan Allah subhanahu wata’ala , bahwa dia lebih mulia dari Adam as karena dia diciptakan dari api. Dia merasa dengki kepada Adam as yang telah menikmati karunia besar berupa penghormatan dari Allah subhanahu wata’ala dan para malaikat sejak pertama kali dirinya diciptakan, sementara Iblis harus bekerja keras dengan beribadah selama ratusan ribu tahun untuk mencapai posisinya yang sekarang. Iblis pun mengingkarinya. Sejak saat itu iblis menjadi musuh utama yang sebenar-benarnya bagi anak cucu Adam as (umat manusia) hingga hari Kiamat nanti.
Berikut kronologis kejadiannya yang diabadikan dalam Alqur’an.
Kemudian Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam! lalu mereka pun sujud. Kecuali Iblis. Dia enggan dan menyombongkan dirinya. Jadilah dia termasuk golongan yang ingkar (kafir).” (QS Al A’raaf : 12 – 18)
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam ketika Aku memerintahkanmu?”
Iblis menjawab, “Aku lebih baik dari dia. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Turunlah kamu darinya (Surga), karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk (golongan) yang hina.”
Dia pun meminta kepada Allah subhanahu wata’ala untuk menangguhkan kematiannya hingga hari kiamat.Iblis dendam kepada manusia, sebagai keturunan nabi Adam as, karena kehadirannya, obsesinya jadi makhluk nomor satu sepanjang masa jadi buyar. Iblis mempunyai keturunan dari bangsa jin yang disebut Setan. Setelah diberi waktu tangguh, seluruh jin dan manusia yang menjadi pengikutnya; berbuat maksiat, melawan Allah subhanahu wata’ala , dan memelihara keangkuhan dan kebakhilan, juga disebut Setan.
Iblis berkata, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan (hari Kiamat).”
Berfirman Allah subhanahu wata’ala , “Sesungguhnya kamu termasuk yang orang-orang diberi tangguh.”
Iblis bersumpah, “Karena Engkau telah menghukumi saya tersesat, saya SUNGGUH-SUNGGUH akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus (Shirathal Mustaqim). Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tidak akan menemukan mayoritas dari mereka (ke dalam golongan) yang bersyukur.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Keluarlah kamu darinya (surga) sebagai yang terhina lagi terusir. Sesungguhnya siapa saja di antara mereka (manusia dan jin) yang mengikuti (jejak) kamu, Aku akan benar-benar mengisi neraka Jahannam itu dengan kalian.”
Saat dikutuk, wajahnya yang semula luar biasa tampan, menjadi luar biasa buruk, mirip wajah kambing yang cacat. Diapun memiliki tanduk dan wajahnya sendiri ada banyak di beberapa bagian tubuhnya. Wujudnya yang buruk rupa itu sebagai simbol keangkuhan dan kedengkiannya di hadapan Yang Maha Kuasa, dan sebagai persaksian dirinya sebagai raja dari makhluk-makhluk yang dimurkaiNya.
Iblis juga berhasil mengukir prestasi dalam sejarah, sebagai makhluk yang pertama kali berbohong di alam semesta ini, dengan membohongi nabi Adam as beserta istrinya Siti Hawa agar mau memakan buah Khuldi yang terlarang untuk dimakan. Dia menjelaskan kepada keduanya, siapa saja yang memakan buah itu, akan menjadi abadi di dalam surga.
Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali disebutkan bahwa Iblis sebelum dilaknat oleh Allah subhanahu wata’ala , bernama asli Azazil. Dia memiliki banyak nama/julukan, dari prestasinya beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala selama ratusan ribu tahun, yaitu:

Langit pertama Azazil dikenal sebagai al-Abid (ahli ibadah)
Langit kedua Azazil dikenal sebagai ar-Raki (ahli ruku) karena prestasinya selalu sempurna dalam rukunya
Langit ketiga Azazil dikenal sebagai as-Saajid (ahli sujud) karena prestasinya selalu sempurna dalam sujudnya
Langit keempat Azazil dikenal sebagai al-Khaasyi (selalu merendah dan takluk kepada Allah) salah satu makhluk
Allah yang paling taat setelah para malaikat sebelum dia dikutuk oleh Allah Subhanahu wata’ala atas keangkuhan dan kedengkiannya kepada nabi Adam as
Langit kelima Azazil dikenal sebagai al-Qaanit (selalu ta’at) sebelum dia bertemu dengan Adam as
Langit keenam Azazil dikenal sebagai al-Mujtahid (bersungguh-sungguh dalam beribadah)
Langit ketujuh Azazil dikenal sebagai az-Zahid (sederhana dalam menggunakan sarana hidup)
Semoga kita semua terlindung dari godaan-godaannya. Wal ’ilmu ’indallah.

Continue reading...

MALAIKAT

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

MALAIKAT
Definisi/Pengertian Malaikat, Sifat dan Fungsi Iman Kepada Malaikat Allah Subhnahuwata’ala

A. Arti Definisi dan Pengertian Malaikat Allah Subhnahuwata’ala

Malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh, tunduk dan taat pada perintah serta ketentuan Allah Subhnahuwata’ala . Malaikat berasal dari kata malak bahasa arab yang artinya kekuatan. Dalam ajaran agama islam terdapat 10 malaikat yang wajib kita ketahui dari banyak malaikat yang ada di dunia dan akherat yang tidak kita ketahui yaitu antara lain :

1. Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada nabi dan rasul.
2. Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
3. Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.
4. Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.
5. Malaikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.
6. Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.
7. Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia ketika hidup.
8. Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat manusia ketika hidup.
9. Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.
10. Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.

B. Malaikat Yang Ingin Kita Temui

Yang pasti semua manusia ingin bertemu dengan malaikat izrail yang mencabut nyawa kita dengan lemah lembut tanpa rasa sakit, malaikat munkar dan nakir dengan penampakan yang baik serta lemah lembut dalam menginterogasi kita, malaikat rakib yang memiliki catatan amal baik kita yang tebal, malaikat atid yang hanya memiliki beberapa catatan buruk kita dan malaikat ridwan yang mempersilahkan masuk ke dalam surga yang kekal dan abadi.

Jika anda mau seperti itu, saya yakin anda tahu apa yang anda harus lakukan di dunia.

C. Sifat-Sifat Dasar Malaikat Allah Subhnahuwata’ala :

1. Pasti selalu patuh pada segala perintah Allah dan selalu tidak melaksanakan apa yang dilarang Allah Subhnahuwata’ala .
2. Tidak sombong, tidak memiliki nafsu dan selalu bertasbih.
3. Dapat berubah wujud dan menjelma menjadi yang dia kehendaki.
4. Memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman.
5. Ikut bahagia ketika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar.

D. Iman Kepada Malaikat Allah subhnahuwata’ala

Iman kepada Malaikat adalah yakin dan membenarkan bahwa Malaikat itu ada, diciptakan oleh Allah Subhnahuwata’ala dari cahaya / nur.

Fungsi iman kepada Malaikat Allah subhanahuwata’ala :
1. Selalu melakukan perbuatan baik dan merasa najis serta anti melakukan perbuatan buruk karena dirinya selalu diawasi oleh malaikat.
2. Berupaya masuk ke dalam surga yang dijaga oleh malaikat Ridwan dengan bertaqwa dan beriman kepada Allah Subhnahuwata’ala serta berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qodar.
3. Meningkatkan keikhlasan, keimanan dan kedisiplinan kita untuk mengikuti / meniru sifat dan perbuatan malaikat.
4. Selalu berfikir dan berhati-hati dalam melaksanakan setiap perbuatan karena tiap perbuatan baik yang baik maupun yang buruk akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

E. Perbedaan Malaikat dengan Jin, Setan / Syetan dan Iblis

Malaikat terbuat dari cahaya atau nur sedangkan jin berasal dari api atau nar. Malaikat selalu tunduk dan taat kepada Allah subhnahuwata’ala sedangkan jin ada yang muslim dan ada yang kafir. Yang kafir adalah syetan dan iblis yang akan terus menggoda manusia hingga hari kiamat agar bisa menemani mereka di neraka.

Malaikat tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana yang dipunyai jin. Jin yang jahat akan selalu senantiasa menentang dan menjalankan apa yang dilarang oleh Tuhan Allah Subhnahuwata’ala . Malaikat adalah makhluk yang baik dan tidak akan mencelakakan manusia selama berbuat kebajikan, sedangkan syetan dan iblis akan selalu mencelakakan manusia hingga hari akhir.\

Iman Kepada Malaikat

Siapakah Malaikat itu? Malaikat adalah makhluk (ciptaan Allah subhnahuwata’ala dari cahaya), tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka adalah alam lain yang berdiri sendiri dan berbeda fisik dan jasadnya.

Allah subhnahuwata’ala telah menciptakan malaikat dari cahaya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalllahualaihiwassalam .,

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ (رواه مسلم).

“Malaikat telah diciptakan dari cahaya.” (Muslim).

Lantas apa tugas (pekerjaan) mereka? Mereka mengurus alam semesta ini sesuai iradah dan masyi’ah (kehendak) Allah subhnahuwata’ala . Dia mendayagunakan malaikat untuk melaksanakan perintah-Nya, dan mereka, para malaikat, tidak akan melakukan sesuatu kecuali dengan perintah Allah subhnahuwata’ala . Allah subhnahuwata’ala . mengatakan dengan gamblang tentang hal ini.

Dan mereka berkata, “Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.” Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. (Al-Anbiya: 26-27)

Diantara amal mereka adalah bertasbih dan tunduk secara total dan sempurna kepada Allah subhnahuwata’ala ., turun membawa wahyu, dan mencatat semua amal. Allah subhnahuwat’’ala . menerangkan tentang hal ini kepada kita sebagai mana ayat berikut.

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah subhnahuwata’ala ) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 10-12)

Ada juga malaikat yang bertugas mewafatkan dan mencabut nyawa.

Apakah beriman kepada malaikat adalah kewajiban bagi kita? Jawabnya tentu saja ya. Allah subhnahuwata’ala . telah mengabarkan kepada kita tentang mereka dalam Kitab-Nya. Jadi, iman kepada malaikat itu wajib dan menjadi salah satu rukun iman. Perhatikan firman Allah subhnahuwata’ala . berikut ini.

Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah subhnahuwata’ala , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)

Ar-Razi dalam At-Tafsiirul Al-Kabiir juz 2 halaman 160 menulis tentang definisi malaikat menurut Islam, nasrani, dan penyembah berhala. Menurut mayoritas ulama Islam, malaikat adalah makhluk halus yang diciptakan dari cahaya dan mampu berubah-ubah bentuk yang berbeda. Sedangkan menurut sekte nasrani, malaikat adalah roh yang telah terpisah dari tubuhnya, dapat berbicara, dan memiliki sifat bersih dan baik. Lain lagi menurut golongan penyembah berhala. Mereka berpendapat bahwa malaikat adalah bintang yang bertugas memberi kebahagiaan atau kesengsaraan. Malaikat pemberi kebahagiaan disebut malaikat rahmah, dan malaikat yang memberi kesengsaraan disebut malaikat azab. Dengan demikian bintang, menurut mereka, adalah makhluk hidup yang dapat berbicara.

Dalil Iman Kepada Malaikat

Sebagaimana telah kita pahami bahwa jalan menuju iman kepada malaikat adalah melalui periwayatan yang shahih dari dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah. Akal dalam hal ini tidak memiliki peran, kecuali tunduk kepada apa yang telah dijelaskan oleh wahyu, sedangkan wahyu itu sendiri tidak bertentangan dengan akal.

Hukum Beriman Kepada Malaikat

Keberadaan malaikat diperkuat dengan dalil Al-Qur’an, Sunnah dan ijma, maka iman kepada malaikat hukumnya wajib. Dan barangsiapa yang mengingkari keberadaan mereka, maka ia telah kafir.

Berikut ini dalil Al-Qur’an dan Hadits bertalian dengan iman kepada malaikat.

Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)

Di Al-Qur’an juga terdapat surat yang diberi nama surat Malaikat, yaitu surat Faathir.

Sedangkan di antara hadits yang paling populer berkaitan dengan tema ini adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a. (teks lengkapnya bisa dilihat di hadits kedua Arbain Nawani).

Rasulullah shalllahualaihiwassalam . pada suatu hari bersama para sahabat, lalu seorang laki-laki datang padanya kemudian berkata; “Ya Rasulullah, apakah iman itu?” Rasul menjawab, “Iman adalah kamu beriman pada Allah, malaikat, kitabNya, bertemu denganNya, para Rasul, dan beriman kepada hari kebangkitan.”

Jadi, jelaslah bahwa iman kepada malaikat adalah salah satu rukun akidah Islam. Tidak akan diterima iman seorang muslim, tanpa mengimani rukun ini. Jika masih terlintas di pikiran Anda sebuah pertanyaan, kenapa iman kepada malaikat menjadi salah satu rukun iman? Pertanyaan Anda itu dijawab oleh Imam Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar juz 2 halaman 110, “Bahwa iman kepada malaikat adalah pokok iman kepada wahyu. Karena, malaikat penyampai wahyu adalah roh yang berakal yang memiliki ilmu yang luas dengan izin Allah. Malaikat menyampaikan wahyu kepada roh Nabi sebagai pokok agama. Karenanya, penyebutan iman kepada malaikat didahulukan atas penyebutan iman kepada kitab dan para nabi. Sebab, merekalah yang datang kepada para nabi membawa kitab. Jadi, mengingkari malaikat berarti mengingkari wahyu, kenabian, dan ruh. Dan itu berarti mengingkari hari akhir. Orang yang mengingkari hari akhir tujuan utama hidupnya adalah kenikmatan dunia, syahwat, dan segala tuntutannya. Hal ini adalah sumber kesengsaraan di dunia sebelum di akhirat.”

Sifat-sifat Malaikat

Kita telah paham bahwa pengetahuan kita tentang malaikat hanyalah berdasar pada dalil wahyu. Maka, wahyu juga yang menjelaskan kepada kita dari apa malaikat diciptakan dan seperti apa tabiat mereka. Allah subhnahuwata’ala . telah menciptakan malaikat dari cahaya berbeda dengan Adam diciptakan dari tanah, dan jin diciptakan dari api.

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah shalllahulahiwassalam . bersabda, “Malaikat diciptkan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diceritakan pada kamu (tanah).”

Para ulama mengatakan bahwa para malaikat adalah jawahir basithah yang diberi akal, tidak memerlukan tempat, ada yang berhubungan dengan benda konkret seperti otak, ada pula yang berhubungan dengan yang abstrak seperti jiwa. Malaikat memiliki kemampuan logika akal yang tidak sempurna. Mereka tidak terhalang dari cahaya Allah. Dan tidak dilarang berada bersamanya pada suatu waktu, pada suatu keadaan dengan tidur, lalai atau syahwat. Bahkan mereka menikmati dengan apa yang mereka saksikan. Ketaatan mereka adalah karakter dan kemaksiatan mereka adalah tugas. Ini berbeda dengan manusia yang ketaatannya adalah tugas dan mengikuti hawa nafsu adalah karakter (lihat Al-Kulliyat karya Abul Baqa’, halaman 854, penerbit Ar-Risalaat).

Simak beberapa firman Allah subhnahuwata’ala . berikut ini:

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 50)

Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. (Al-Anbiya: 27)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahriim: 6)

Kedudukan dan Keutamaan Malaikat

Para ulama berbeda pendapat dalam hal menjadikan manusia lebih utama daripada malaikat. Ada yang berpendapat bahwa para rasul dari golongan manusia lebih utama dari para rasul dari golongan malaikat dan para wali dari golongan manusia lebih utama dari para wali golongan malaikat. Sementara yang lain berpendapat bahwa malaikat lebih utama dari manusia selain para rasul.

Malaikat Bukan Lelaki dan Bukan Perempuan

Orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah beranggapan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Mereka telah melakukan kebodohan besar ketika mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan anak-anaknya adalah para wanita (malaikat). Sementara di sisi lain mereka tidak senang dengan anak-anak perempuan. Lihat gambaran ini di surat An-Nahl ayat 58.

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Tentang kebohongan mereka, Allah subhnahuwata’ala menjelaskan di dalam surat Az-Zukhruf ayat 19.

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.

Perhatikan juga surat Al-Isra ayat 40 di bawah ini.

Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

Bukan sesuatu yang aneh keyakinan yang salah ini masih mempengaruhi akal dan hati banyak orang. Contoh yang paling jelas adalah menyerupakan malaikat dengan perempuan-perempuan berkostum putih dan membuat patung atau gambar malaikat pada bentuk anak-anak perempuan dan wanita-wanita cantik yang memiliki sayap. Gambar-gambar itu dijual di pasar-pasar dalam bentuk ucapan selamat pada hari bahagia dan hari raya. Bahkan ada yang membuat boneka malaikat dengan wujud anak perempuan atau wanita cantik. Tentu hal ini adalah kekufuran yang jelas. Barangsiapa yang meyakini bahwa suara perempuan adalah suara malaikat atau para perempuan merupakan potret malaikat rahmah, ia adalah kafir. Begitu pendapat Al-Bani dalam buku Arkanul Iman.

Ada juga ulama berpendapat tidak sekeras Al-Bani. Mereka berpendapat, menggambar bentuk malaikat adalah bid’ah yang sangat berbahaya dan dapat mengeluarkan seorang muslim dari iman. Namun, dalam percakapan sehari-hari, orang banyak kadang mengasosiasikan sesuatu yang sempurna dalam penglihatan dengan malaikat. Misalnya para wanita bangsawan yang terkesima dengan ketampanan Nabi Yusuf. Mereka mengasosiasikan Nabi Yusuf dengan malaikat (lihat surat Yusuf: 31). Tapi, mereka tidak menyakini bahwa Nabi Yusuf itu malaikat.

Malaikat Tidak Makan, Tidak Minum

Dalil bahwa malaikat tidak makan dan tidak minum adalah Al-Qur’an yang menceritakan tentang para tamu Nabi Ibrahim dari golongan malaikat yang diutus oleh Allah untuk menghancurkan perkampungan kaum Luth. Lihat surat Adz-Dzaariyaat ayat 24-28.

24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaamun.” Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.

27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan Anda makan.”

28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut.” Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).

Malaikat Tidak Dapat Dilihat Dalam Bentuk Aslinya

Pada kisah tamu Ibrahim di atas, malaikat dapat dilihat di saat berbentuk pada wujud selain aslinya. Sedangkan pendapat yang shahih bahwa malaikat tidak dapat dilihat oleh manusia biasa, dalilnya adalah firman Allah swt. di surat Furqan ayat 21-22.

21. Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.”

22. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata, “Hijraan mahjuuraa”.

Ibnu Hazm di Al-Fashl juz 4 halaman 57, mengomentari ayat ini dengan kalimat, “Allah telah menjadikan permintaan manusia akan diturunkannya malaikat sebagai suatu masalah besar, yang dianggap sebagai kesombongan dan melampaui batas; dan Allah menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan pernah dapat melihat malaikat sampai hari kiamat.”

Jika manusia biasa tidak dapat melihat malaikat, tapi ada kekhususan bagi Rasulullah shalllahualaihiwassalam . Rasulullah shalllahualaihiwassalam sebagai seorang nabi bisa melihat malaikat jibril dalam bentuk aslinya ketika di malam Isra Mi’raj.
Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Masruq, dia berkata: aku pernah bersama A’isyah, beliau berkata, Bukankah Allah telah berfirman di surat At-Takwiir ayat 23, Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan surat An-Najm ayat 13, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Lalu A’isyah berkata, “Aku orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah tentang ayat di atas, maka Rasulullah shalllahualaihiwassalam . menjawab, ‘Sesungguhnya dia adalah malaikat Jibril.’ Rasul tidak melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali. Rasul melihatnya pertama kali di saat Malaikat Jibril turun ke bumi dan sayapnya menutupi antara langit dan bumi.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 halaman 251-252).

Walaupun kita, manusia, tidak dapat melihat malaikat, namun ada sebagian makhluk yang diberi kelebihan khusus sehingga dapat melihat malaikat. Bukhari dan Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalllahualaihiwassalam . bersabda,
“Jika kamu mendengar suara ayam jago, maka mintalah kepada Allah sebagian dari karunianya, karena ayam jago itu dapat melihat malaikat; dan bila kamu mendengar suara ringkik keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena ia melihat setan.”

Sebagian orang menganggap hadits seperti ini aneh, bagaimana mungkin burung-burung dan binatang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak dapat kita saksikan. Jawabnya sederhana. Benda mati saja dapat memperlihatkan kepada kita sesuatu yang kita tidak dapat melihatnya dalam kondisi biasa. Contohnya televisi. Benda ini dapat memperlihatkan gambar-gambar yang entah di mana adanya ke hadapan kita yang sedang duduk di dalam kamar. Padahal kita tahu isi televisi itu adalah rangkaian komponen elektronik saja.

Malaikat Mampu Berubah-ubah Bentuk

Dalam kisah tamu Nabi Ibrahim, para malaikat datang dengan menjelma sebagai laki-laki dewasa. Karena itu, Nabi Ibrahim langsung menjamu mereka dengan makanan. Contoh lain adalah ketika malaikat datang kepada Maryam ibu Nabi Isa a.s. Perhatikan surat Maryam ayat 16-17 ini.

16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

17. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami (Jibril a.s.) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Malaikat Jibril datang menjumpai Rasulullah dalam bentuk manusia yang berbeda-beda bentuknya. Kadangkala menyerupai seorang shahabat yang bernama Dahyah bin Khalifah Al-Kalbi karena Dahyah seorang pemuda tampan dan memiliki postur yang ideal. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam shahihnya dari Umar bin Khaththab, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasul, dan ia berkata, ‘Wahai Muhamad, beritahu saya tentang Islam.” Kemudian bertanya lagi tentang iman, ihsan, dan hari kiamat. Kemuian meninggalkan tempat itu. Lalu Rasulullah shalllahualahiwassalam. bertanya kepada Umar, “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi?” Umar menjawab, “Allah dan RasulNya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shalllahualahiwassalam . menjelaskan, “Dia adalah Malaikat Jibril yang telah datang kepadamu mengajarkan kami tentang agamamu.”

Malaikat Memiliki Kemampuan Yang Luar Biasa

Malaikat memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak dapat dibayangkan. Misalnya, 8 malaikat pemikul Arsy.

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haaqqah: 17)

Jika kursi Allah subhnahuwata’ala . luasnya seluas tujuh lapis langit dan bumi, coba bayangkan sebesar apa ‘Arsy dan bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki para malaikat pemikul ‘Arsy. Coba bayangkan bagaimana kekuatan malaikat peniup sangkakala dimana saat sangkakala ditiupkan seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi mati seketika.

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

Bisakah kita bayangkan apa yang dilakukan malaikat terhadap kaum Nabi Luth seperti yang digambarkan Allah subhnahuwata’ala . dalam firman-Nya di
surat Hud ayat 82 ini?

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan, red.), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.

Itulah gambaran yang menakutkan tentang kekuatan malaikat.

Adapun kecepatan malaikat lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusia. Allah berfirman di dalam surat Al-Ma’arij ayat 4.

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”

Cukup untuk diketahui bahwa malaikat Jibril memi’rajkan Rasulullah shalllahualaihiwassalam . ke langit tertinggi kemudian kembali lagi ke bumi, hanya dalam satu malam, bahkan sebagian dari malam.
Kita tahu bahwa langit yang paling dekat ke bumi memerlukan jutaan tahun kecepatan cahaya. Artinya, kita perlu hidup jutaan tahun untuk sampai ke sana bila kita jalan dengan kecepatan cahaya yang 300 km per detik. Pertanyaannya, siapa yang dapat melakukannya? Dari mana kita mendapat umur yang panjang untuk perjalanan itu?

Malaikat Diciptakan Untuk Taat Dan Bertasbih

Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana Allah mensifati mereka di surat At-Tahrim ayat 6.

“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al-Anbiya: 27) ayat

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 20)

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (Al-Anbiya: 19)

Para ulama berbeda pendapat tentang cara bertasbihnya malaikat. Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata, tasbih mereka adalah shalat. Ini berdasarkan firman Allah

فلولا انه كان من المسبحين “seandainya ia bukan orang yang selalu bertasbih”, yang dimaksud dengan bertasbih di sini adalah shalat.

Qotadah berkata, tasbih malaikat adalah سبحان الله sebagaimana dipahami dari bahasa. Al-Qurthubi mendukung pendapat ini. Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dzar r.a. bahwa Rasulullah shalllahualahiwassalam . pernah ditanya, “Ucapan apa yang paling afdlal?” Rasulullah shalllahualahiwassalam . menjawab, “Ucapan yang paling afdlal adalah kata-kata yang telah dipilihkan oleh Allah untuk malaikat, yaitu سبحان الله وبحمده ” (Muslim)

Dan Abdurrahman bin Qarth bahwa Rasulullah shalllahualahiwassalam . pada malam Isra’ dan Mi’raj mendengar suara tasbih di langit yang paling atas:“سبحان العلي الأعلى سبحانه وتعالى “. (Al-Baihaqi, Tafsir Al-Qurthubi juz 1/267).

Dan shalatnya malaikat adalah berdiri dan sujud. Dari Hakim bin Hizam, ia berkata, ketika Rasulullah shalllahualahiwassalam . bersama para sahabat, beliau bersabda, “Apakah kalian mendengar apa yang saya dengar?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendengar sesuatu.” Rasulullah shalllahualahiwassalam . berkata, “Sesungguhnya aku mendengar hentakan langit. Tidak ada satu jengkal pun bagian langit yang terhentak melainkan di atasnya malaikat sedang sujud atau sedang berdiri.” (At-Tabrani, Mu’jam Al-Kabir, Al-Asyqar ‘Alamul Malaikah Al-Abrar, halaman.31,1989)

Keadaan malaikat diciptakan untuk beribadah sehingga sebagian ulama meyakini bahwa malaikat bukan makhluk mukallaf. Yang sahih bahwa taklif mereka tidak sama dengan taklif kita. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mereka bukan makhluk mukallaf adalah pendapat yang salah karena mereka diperintahkan untuk beribadah dan taat. Allah subhnahuwata’ala . berfirman:

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (An-Nahl: 50)

Khauf adalah di antara tingkatan ubudiyah dan ketaatan yang paling tinggi. (Al-Asyqar halaman 29,1989).

Dalil yang paling kuat bahwa malaikat makhluk mukallaf adalah kisah tentang perintah Allah kepada mereka untuk susjud kepada Adam. Allah subhnahuwata;ala . berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 34:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Malaikat Terjaga Dari Salah

Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa malaikat terhindar dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun, jumhur ulama berpendapat, malaikat tidak ma’shum. Dalil-dalil sebagai berikut.

“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (Fushilat: 38)

Di ayat 30 surat Al-Baqarah, malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Malaikat mencela terjadinya maksiat yang dilakukan Adam dan keturunannya, dan ini berarti menunjukkan bahwa mereka (malaikat) bebas dari dosa. Sikap mereka itu diperkuat dengan kata-kata, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” Yang berarti mereka senantiasa bertasbih dan mensucikan Allah tanpa henti.

Sedangkan dalil yang mengatakan bahwa malaikat tidak ma’shum adalah seperti yang dikemukakan Imam Ar-Razi dalam tafsirnya yang juga bantahan atas pendapat malaikat terbebas dari salah.

Menurut Ar-Razi, firman Allah swt., “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” adalah dalil yang mencela para malaikat bukannya sebagai dalil tentang bebasnya malaikat dari kesalahan. Hal itu ditinjau dari beberapa sisi:

1. Bahwa perkataan malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah” adalah bantahan mereka terhadap Allah dan sikap ini di antara dosa yang paling besar.
2. Bahwa para malaikat telah melakukan ghibah Adam dan keturunannya dengan mempertanyakan tentang mereka, sementara ghibah adalah salah satu dosa besar.
3. Bahwa malaikat telah memuji diri mereka sendiri setelah mempertanyakan keturunan Adam dengan perkataan, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” Bukankah memuji diri sendiri adalah tercela dan dapat mengakibatkan ujub atau bangga terhadap diri sendiri, dan ini adalah sikap tercela sebagaimana Allah berfirman dalam surat An Najm ayat 32?
4. Bahwa perkataan mereka, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” adalah sikap minta permakluman dan itu tidak terjadi kecuali karena telah melakukan kesalahan.
5. Bahwa firman Allah subhnahuwata’ala ., “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar! Dapat dipahami bahwa mereka telah berdusta pada apa yang mereka katakan.
6. Bahwa firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 33, “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dapat dipahami bahwa mereka meragukan bahwa Allah mengetahui segala hal.
7. Bahwa tuduhan mereka terhadap manusia hanya berdasar dugaan (dzhan) dan ini tidak dibenarkan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa ayat 36.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.“
10 Nama Malaikat dan tugasnya

Sebagai umat islam kita harus percaya kepada Malaikat ciptaan Allah subhanahu wata’ala . Kita harus percaya tentang keberadaan para Malaikat ALLAH SWT seperti yang terdapat pada rukun iman ke 2. Malaikat diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala dari cahaya atau NUR. Malaikat merupakan ciptaan Allah SWT yang paling patuh kepada semua perintahnya. Malaikat juga tidak makan, tidak tidur, tidak memiliki hawa nafsu.

Iman kepada Malaikat :

Iman kepada Malaikat adalah percaya bahwa Malaikat itu benar-benar ada. Rukun iman yang ke 2 adalah percaya kepada malaikat. Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan:

“Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.” (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh)

Penciptaan malaikat :

Malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya atau NUR. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya.” (HR. Muslim)

Fisik Malaikat :
– Malaikat terbuat dari zat cahaya atau Nur
– Mempunyai fisik yang kuat :
Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka (yang artinya), “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6)
Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Mempunyai sayap
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1)
Tidak membutuhkan makan dan minum
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70)As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”

Jumlah Malaikat :
Sebenarnya jumlah mereka sangat banyak tapi hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Kita hanya diwajibkan untuk beriman kepada 10 malaikat Allah.

Tugas malaikat Allah :

1. Jibril
Adalah malaikat yang diberikan amanat untuk menyampaikan wahyu, turun membawa petunjuk kepada Rasul agar disampaikan kepada umat. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sungguh dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang” (QS. At Takwiir : 23)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku melihatnya (Jibril) turun dari langit, tubuhnya yang besar menutupi antara langit sampai bumi” (HR. Muslim no. 177, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam melihat jibril memiliki enam ratus sayap (HR. al Bukhari no. 4857)

2. Mika-il
Dialah yang diserahi tugas

“mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan dimana semua rizki di dunia ini berkaitan erat dengan keduanya“

Terdapat penyebutan Jibril dan Mika-il secara bersamaan dalam satu ayat, Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mika-il, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 98)

3. Israfil
Dia diserahi tugas

“ meniup sangkakala atas perintah Rabb-nya dengan tiga kali tiupan.

Pertama tiupan keterkejutan,
kedua adalah tiupan kematian dan
ketiga adalah tiupan kebangkitan.

4. Malik
Dia adalah

“ penjaga neraka“.

Allah Ta’ala berfirman,
“Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Rabb-mu membunuh kami saja’. Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di Neraka ini)’. Sesungguhnya Kami telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci kepada kebenaran itu” (QS. Az Zukruf : 77-78)

5. Ridhwan
Dia adalah

“ penjaga Surga“.

Ada sebagian hadits yang dengan jelas menyebutkan dirinya (al Bidaayah wan Nihaayah I/45)

6 & 7. Munkar dan Nakir
Terdapat penyebutan dengan mereka di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda,
“Tatkala orang yang mati telah dikubur, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam kebiruan, salah satu diantara keduanya dinamakan Munkar dan yang lainnya dinamakan Nakir” (HR. at Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan at Tirmidzi no. 856)

8. ‘Izra-il Penamaannya dengan

“ malaikat maut “

tidak disebutkan dengan jelas di dalam al Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih. Adapun penamaan dirinya dengan ‘Izrail terdapat di sebagian atsar. Wallahu a’lam. (al Bidaayah wan Nihaayah I/42)

9 & 10. Raqib dan ‘Atid
Sebagian ulama menjelaskan bahwa diantara malaikat ada yang benama Raqib dan ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman,
“Maa yalfizhu min qaulin illaa ladayhi raqiibun ‘atiidun” yang artinya “Tidak suatu“ ucapan pun yang diucapkan“ melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 18)

Continue reading...

RUHANIAH

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

RUHANIAH
Penjabaran Sifat Ma’ani

Sifat Ma’ani, maksudnya adalah sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala yang penggambaran makna lahir sifat-sifat tersebut pada manusia. Sifat ma’ani tersebut ada Tujuh macam;

Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar dan Kalam.

Qudrat, artinya, Kuasa. Allah ta’ala menampakkan lahir sifat kuasa tersebut pada manusia seperti manusia kuasa membuat meja, kursi, televise, radio dan lain-lain.
Pada hakikatnya kekuasaan atau kemampuan manusia tersebut hanyalah sekedar pemaknaan belaka, sedangkan Sang Kuasa Hakiki adalah Allah Subhnahuwata’ala Dengan demikian manusia adalah Sang Fakir yang sama sekali tidak mempunyai daya dan kemampuan apa-apa. Inilah makna “ Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah Subhnahuwata’ala ubhnahuwata’ala .

Lebih tegas lagi Allah Subhnahuwata’ala menjelaskan melalui firman-Nya

“ Wallahu khalaqakum wamaa ta’maluun” artinya Alllah subhanahu wata’ala yang telah menciptakanmu dan apa-apa yang kamu kerjakan.

Dengan demikian berarti bahwa yang kuasa membuat meja, kursi, televise, radio dan lain-lain hanyalah Allah subhanahu wata’ala semata, sedangkan manusia dan semua makhluq yang lain bersifat ‘Ajzun yang sama sekali tidak mempunyai daya dan kemampuan apa-apa. Hal ini pula-lah yang kita ikrarkan didalam shalat “ inna shalaati wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘alamiin.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah milik Allah penguasa alam.

Iradat, artinya Kehendak. Allah menampakkan sifat kehendak ini pada kehendak manusia dan semua makhluqnya. Seperti, Si Fulan berkehendak menuntut ilmu tauhid di Pesantren Al hayyu, Rangga Warsito berkehendak mengarang serat wirid hidayat jati, Syeck Siti Jenar berkehendak ndhadhar ilmu kasampurnaning gesang dan lain-lain. Kehendak-kehendak manusia sebagaimana contoh di atas pada hakikatnya adalah kehendak Allah subhnahuwata’ala . Juga kehendak makhluq-makhluq yang lain seperti walet membuat sarang dengan air liurnya, laba-laba menjerat mangsanya dengan peerangkap jaring-jaringnya, ular hendak melumpuhkan mangsanya dengan bisanya dan lain-lain. Makhluq-makhluq tersebut melakukan aktifitasnya sesuai dengan kodratnya masing-masing berdasarkan insting atau ilham yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepadanya.

Lalu bagaimana dengan kehendak-kehendak yang buruk seperti mencuri, berzina dan sebagainya? Apakah juga kehendak Allah subhanahu wata’ala ? Bagaimana peran Iblis dan Syetan ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perhatikan kutipan ayat berikut:

“ Fa alhamahaa fujuurahaa wataqwaaha.” Artinya, maka Allah subhanahu wata’ala mengilhamkan keburukan dan ketaqwaan kepadanya.

Juga hadist Nabi Muhammad Shallalllahu alaihi wassalam ,

“ Man yahddillaahu falaa mudhillalah waman yudhlil falaa haadiyalah.” Dan masih banyak ayat maupun hadist lain yang maknanya serupa. Dengan demikian
yang menggerakkan hati manusia untuk melakukan kebaikan maupun keburukan adalah Allah subhanahu wata’ala sendiri. Sedangkan Iblis maupun syetan hanyalah madhar dari af’al Allah subhanahu wata’ala .

Kalau ditanya mengapa Allah subhanahu wata’ala memberikan pahala kepada orang yang berbuat kebaikan? Dan menyiksa orang yang berbuat salah? Jawabnya adalah, itu semua Hak Prerogatif Allah subhanahu wata’ala . Allah subhanahu wata’ala bersifat JAIZ. Dia wewenang berbuat apa saja menurut kehendakNya sendiri kepada semua makhluqnya. Bukankah manusia dan seluruh jagat raya seisinya ini milik Allah subhanahu wata’ala . Dia bebas berbuat apa saja, mau mengganjar atau menyiksa kepada siapa saja yang dikehendakinya, tanpa ada satupun yang bisa mencegah atau menghalang-halangi.

Dalam menyikapi hal ini disamping kita harus betul-betul pasrah dan tawwakal kepada-Nya, Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam mengajarkan do’a kepada umatnya,

“ Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa’alaa tha’atika.” Wahai dzat yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama dan ketaatan padaMu Rasulullah shalllahulahiwassalam juga pernah berdo’a,

“ A’uudzubika minka.”Aku berlindung padaMU dariMU.

Ilmu, artinya Mengetahui. Maksudnya adalah Allah subhanahu wata’ala menampakkan sifat Ilmunya ini pada pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Misalnya Nabi Adam as bisa menunjukkan nama-nama benda dihadapan para malaikat setelah Allah mengajarkan nama-nama benda tersebut kepadanya. Sedangkan para malaikat yang tidak diajarkan nama-nama benda tersebut tidak bisa menyebutkannya. Ketika Allah subhanahu wata’ala menyuruh kepada malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda tersebut, para malaikat menjawab,” Laa ‘ilma lanaa illaa maa’allamtanaa innaka antassamii’ul ‘aliim.” Sesungguhnya engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dari penjelasan ayat diatas dapat kita petik suatu pengertian bahwa pada hakikatnya Nabi Adam as pun, tidak dapat menyebutkan nama-nama benda tanpa dibarengi sifat ilmunya Allah subhanahu wata’ala . Dengan demikian yang mengetahui dan yang bisa menyebutkan nama-nama barang tersebut adalah ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA .
Manusia mengetahui ilmu listrik ilmu astronomi, ilmu botani, ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu cloning dan segala macam bentuk keilmuan, termasuk ilmu hakikat-makrifat, pada hakikatnya tetap Allah saja yang mengetahui. Manusia bisa ini itu, mengetahui ini itu karena dibarengi sifat ilmu Allah.

Jika Allah subhanahu wata’ala tidak menampakkan sifat ilmunya ini kepada manusia, maka manusia akan tetap buta, tidak bisa mengetahui apa-apa.

Hayat, artinya Hidup. Allah subhanahu wata’ala itu bersifat Hidup. Berarti dimana saja ada kehidupan maka disitu ada Dzat Hidup. Yang namanya Hidup berarti tidak akan mati. Hayyun daa-imun laayamuutu Abadan.. Hidup itu kekal adanya. Kalau ada hidup kok tidak kekal , maka namanya bukan hidup, tetapi dihidupi.
Hidup itu hanya satu adanya dari dulu kala sebelum digelarnya jagat sampai sekarang ini dan sampai kapanpun ya hanya satu itu. Dia yang Maha Hidup itu sama sekali tidak mengalami perubahan dan kematian. Dialah yang kita sebut sebagai Dzat Allah.
Dengan adanya Dzat Yang Maha Hidup ini, maka muncullah kehidupan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan pada hakikatnya tidak hidup. Buktinya manusia, hewan tumbuh-tumbuhan masih mengalami mati. Bukankah hidup itu langgeng?

Dengan demikian yang hidup hanyalah Allah subhanahu wata’ala semata, manusia bisa bergerak, beraktifitas demikian pula dengan makhluq yang lain. Karena bersamaan dengan sifat Hayatnya Allah subhanahu wata’ala .
Dengan kata lain Allah subhanahu wata’ala menampakkan sifat hayatnya ini pada manusia dan semua makhluqnya. Karena Hidup adalah Hidup-Nya Allah subhanahu wata’ala maka kembalinya harus kepada Allah subhanahu wata’a;a . Jika tidak demikian berarti tersesat namanya.

Continue reading...

ANASIR TUBUH JASMANI MANUSIA

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

ANASIR TUBUH (JASMANI) MANUSIA

UNSUR API, ANGIN, AIR, TANAH
Diri kita terdiri dari sesuatu yg kelihatan yaitu jasad dan Ruhani yaitu sesuatu yg tidak kelihatan
A. JASAD
Jasad manusia memiliki (mengandung) 4 anasir atau unsur yaitu :
1. Api
2. Udara
3. Air
4. Tanah

1. Unsur Api
QS. Al Baqarah (2):24.
Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya)–dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.(QS. 2:24)
Surah Al Baqarah 24

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

Ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk Allah tidak akan sanggup membuat tandingan terhadap satu ayat pun dari ayat-ayat Alquran. Karena itu, hendaklah manusia memelihara dirinya dari api neraka dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Alquran. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah subhnahuwata’ala :

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lain.” (Q.S Al Isra': 88)

Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jasad manusia mengandung unsur api, karena isi neraka adalah serba panas (serba api) yg bahan bakarnya dari batu dan orang kafir.

Selain itu setiap makanan yang kita makan jika prosesnya dimasak dulu tentu pasti menggunakan api.
Contohnya memasak sayuran, nasi dll tentu menggunakan api. Dengan demikian makanan yang kita makan tsb mengandung anasir api.

Anasir/unsur api tidak dapat berdiri sendiri, dia untuk bisa hidup perlu anasir lain yaitu anasir angin/udara (oksigen).

2. Unsur udara/angin
QS.Shaad (38):71-72
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Sebagian ayat diatas terdapat kalimat “………….dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku…………..”
Dari ayat diatas terdapat sebuah kata yg perlu digaris bawahi, yaitu kata “tiup” . Tiup biasanya ada hubungannya dengan angin. (Wa Allahu ‘alam bissawab, hanya Allah Subhanahuwata’ala saja yang Maha Tahu tafsir ayat diatas).
Selain itu sesuatu yang hidup (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan) tentu membutuhkan udara (mungkin Oksigen atau CO2).
Kita juga membutuhkan udara (oksigen) untuk bernafas. Ini berarti tubuh kita juga mengandung anasir angin/udara.

3. Unsur Air
QS.Al Furqaan (25):54.
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

Yang dimaksud air tersebut adalah air mani .yang mana air mani itu salah satunya mengandung unsur air.

Selain itu badan kita juga mengandung 60% air, darah mengandung 90% air, makanan kita juga mengandung air.
Itu semua artinya bahwa jasad kita mengandung anasir air atau unsur air.

4. Unsur Tanah.
QS.Shaad (38):71-72
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Yang dimaksud manusia pada ayat diatas adalah Nabi Adam AS. Selanjutnya unsur tanah tersebut di turunkan ke anak cucu Nabi Adam as.

Selain itu makanan yang kita makan sebetulnya adalah berasal dari tanah (saripati tanah)
Dengan demikian berarti bahwa badan/jasad kita mengandung tanah.

Saya akan berikan suatu contoh tentang sepeda motor. Sepeda motor untuk bisa dinyalakan harus ada prasarat 4 anasir:

Anasir air = bensin
Anasir api = busi + kelistrikannya
Anasir udara/angin = karburator sbg pensuplay udara
Anasir tanah = Body motor.

Pohon/tumbuh-tumbuhan untuk bisa hidup juga harus ada prasarat 4 anasir:
Anasir air
Anasir api = sinar/panas matahari
Anasir udara/angin = O2 dan CO2
Anasir tanah.

d

JASMANI DAN RUHANI

SIFAT PADA MANUSIA
Dipandang secara fisik, bentuk dari makhluk yang diberi nama manusia terlihat sudah sempurna, namun demikian tidak, bila dilihat dari segi Bathiniahnya. Proses selanjutnya manusia dihadapkan dengan tahapan proses evolusi sifat yang keberadaannya bertempat tinggal didalam bathiniah (jiwa) atau suatu piranti lunak, lokasi medan peperangan yang sangat dahsyat, sempurna atau tidaknya manusia tergantung kepada kemenangannya didalam peperangan tersebut.
Sebagai contoh (suri tauladan) atas manusia adalah nabi atau rasul, ia adalah orang yang sukses di dalam peperangan, yang mencapai tingkat kesempurnaannya sebagai manusia.

Firman Allah Ta’ala: Surat 33 (AL-AHZAB) ayat 21
“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Untuk menghilangkan keragu-raguan dan ketidak pastian, ayat inilah yang seharusnya dijadikan parameter dan barometer untuk menjalani hidup seorang manusia. Bagaimana kita akan mengetahui kebenaran dan kesalahan manakala tidak ada pedoman didalam mengerjakan sesuatu, tanpa arah yang pasti, seperti halnya memasuki hutan belantara tanpa membawa kompas, untuk selanjutnya kita akan kaji jati diri manusia. Apa dan siapa manusia itu?
MANUSIA
Nabi Muhammad Shallalllahualaihi wassalam bersabda :
“Barang siapa mengenal dirinya, maka pasti ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya maka bodohlah akan dirinya.”
Manusia terdiri atas tiga (3) unsur
1. Jasmaniah (badan kasar)
2. Bathiniah (badan halus)
3. Ruhaniah (cahaya)

1. JASMANIAH
Piranti atas manusia yaitu jasmaniah/badan kasar piranti keras, untuk mengenal lebih jauh akan piranti ini mari kita kaji salah satu dari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang apa itu jasmaniah (fisik manusia).
Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 7 dan 8
Ayat 7, “Yang membaguskan pembuatan tiap-tiap sesuatu dan ia telah mulai pembuatan manusia itu dari tanah.”
Ayat 8, “Kemudian ia jadikan keturunan manusia itu dari mani, dari air yang lemah.”
Diawali dengan kalimat “yang membaguskan (menyempurnakan) maknanya adalah segala sesuatu yang ada pada alam semesta ini melalui suatu proses, tidak serta merta dia ada proses ini dinamakan evolusi, seperti halnya baju (pakaian). Tidak tiba-tiba ia ada dibadan kita, untuk menjadi pakaian melalui proses yang cukup panjang demikian pula dengan jasad manusia melalui proses evolusi yang sangat panjang, artinya bahwa keberadaan alam ini dengan segala bentuknya ini adalah suatu dimensi pencapai bentuk dimana terjadinya tata surya, galaksi, planet-planet mengalami suatu proses evolusi bentuk dan model sebelum dihuni oleh makhluk-makhluk berikutnya seperti manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Evolusi alam semesta inilah yang melahirkan bentuk makhluk berikutnya tersebut yang saat berada diatas muka bumi. Kalimat selanjutnya mengatakan “Ia telah mulai pembuatan manusia dari tanah”, kata “tanah” sendiri secara matrialpun melalui proses dan yang dimaksud tanah disini adalah unsur-unsur yang terdapat pada tanah tersebut. Seperti halnya unsur tanah yang terdapat pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Ada hubungan yang erat antara kalimat pertama dan kalimat kedua suatu mata rantai yang jelas dan pasti bahwa segala sesuatu akan melalui suatu proses penyempurnaan pada dimensi bentuk dan kualitasnya bahwa untuk mencapai bentuk manusia dalam dimensi fisiknya melalui proses yang sangat lama dan panjang. Dari suatu bentuk dan kualitas yang sangat sederhana menuju bentuk yang lebih sempurna yang akhirnya sampai pada bentuk fisik manusia yang sekarang ini.

Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 12
“Dan sesungguhnya kami telah jadikan manusia dari air tersaring dari tanah.”
Unsur-unsur yang ada pada tubuh manusia (perangkat keras) terdiri atas 4 anasir yaitu :
1. Anasir Api
2. Anasir Angin
3. Anasir Air
4. Anasir Tanah

Firman Allah Ta’ala : Surat 77 (AL-MURSALAT) Ayat 25
“Bukankah Kami telah jadikan bumi itu pengandung kamu?”
Bahwa unsur yang terkecil yang ada pada bumi yaitu molekul, dari unsur molekul tersebut bermutasi menjadi inti sel inilah proses awal memasuki peradaban makhluk yang mendiami muka bumi. Inti sel bermutasi membentuk virus positif dan virus negative proses evolusi didalam mutasi dan adaptasi virus melahirkan makhluk bersel tunggal, sementara itu pada sisi yang lain bersamaan dengan proses hewan terkecil, molekul lainnya bermutasi memasuki dimensi tumbuh-tumbuhan yang diawali tumbuhan berupa lumut dan terus berevolusi sampai menjadi hutan belantara yang ada sekarang ini.
Dari makhluk bersel tunggal bermutasi menjadi bermacam jenis binatang yang keberadaan di lautan, beberapa binatang ini bermutasi menjadi ikan dan tahapan lanjut nya dari beberapa jenis ikan bermutasi masih berbentuk ikan tetapi ia dapat hidup di air dan darat, evolusi harus berjalan seiring dengan berputarnya waktu jadi ia binatang penghuni daratan.
Setelah jutaan tahun muncullah binatang-binatang purba yang diantara jenisnya adalah dinosaurus. Pada zaman inilah terjadi bencana alam yang demikian dahsyat hingga sebagian besar binatang-binatang purba hampir-hampir menemui kepunahan namum demikian masih ada dari beberapa jenis yang mampu bertahan hidup, dari jenis binatang ini, beberapa berevolusi menuju kepada bentuk-bentuk yang mendekati bentuk manusia, ia dikenal dengan nama Kera atau Monyet atau Orang Hutan dan nama orang hutan inilah perlu digaris bawahi, kemudian dari jenis orang hutan beradaptasi dalam mutasi kepada bentuk manusia secara fisik akan tetapi masih sangat primitive, dimana akal dan fikirannya masih sangat terbatas. Evolusi bentuk, akal, fikir terus berlangsung beradaptasi dengan kondisi alam sekitarnya hingga sekarang ini.
Dalam kajian ini mutasi yang dimaksud yaitu perubahan pada inti sel atau istilah saat ini dikenal nama “GEN” (Genetik), perubahan yang terjadi pada evolusi alam (Bumi) mempengaruhi penyesuaian pada inti sel dan perubahan pada inti sel ini terlihat seperti tidak beraturan sesungguhnya tidak demikian, ia beradaptasi mengikuti bentuk perubahan kondisi iklim yang terjadi, keakuratannya sangatlah seimbang, melahirkan baik bentuk, jenis maupun kualitas yang berbeda.
Sejak keberadaan binatang dilaut, setelah makhluk bersel tunggal perkembang biakan makhluk dari mani (nuth-fah).
Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 8
“Kemudian Ia jadikan keturunan manusia itu dari mani, dari air yang lemah.”
Bukan hanya manusia, seluruh binatang maupun yang berada didarat dan diair proses perkembang biakannyapun dari mani, ini adalah suatu system program Tuhan didalam evolusi makhluk.
Kalimat “dari air yang lemah” bahwa fisik manusia (badan kasar dan badan halus) terkandung anasir dari sifat kehewanan (binatang) evolusi makhluk masih bersifat fisikal demikian makna dari kata “lemah.”
Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 14
“Kemudian, Kami jadikan mani (sperma) itu sekepal darah lantas darah itu Kami jadikan segumpal daging, lantas daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi (bungkus) dengan daging, kemudian Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya). Maka maha suci Allah, sebaik-baik pembikin.”
Proses terjadinya manusia sejak dari mani sampai dengan janin sama persis dengan binatang, adapun letak perbedaannya pada kalimat “Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya)”. Makna yang terkandung pada kalimat ini ialah setelah mani berproses menjadi janin pada usia empat bulan sepuluh hari atau seratus tiga puluh hari diberikanlah Ruh Allah pada janin tersebut berbeda halnya dengan binatang, tidak ada Ruh Tuhan pada seluruh binatang yang ada dimuka bumi. Setelah usia janin sembilan bulan sepuluh hari secara umum lahir bayi manusia dengan bentuk fisik yang sempurna namun demikian, kondisi sifat masih terkandung sifat-sifat kehewanan.
Firman Allah Ta’ala : Surat 80 (‘ABASA) Ayat 18 dan 19
Ayat 18, “Dari apakah Ia jadikan dia (manusia).”
Ayat 19, “Dari Nuth-fah Ia jadikan dia, lalu Ia atur sifat-sifatnya.”
Didalam badan halus (bathin) manusia masih terkandung anasir-anasir dari unsur api, angin, air dan tanah.

Keempat unsur tersebut terkandung sifat-sifat kebinatangan sementara Ruh mengandung sifat Ketuhanan. Sifat binatang inilah yang dikendalikan oleh iblis atau disebut hawa nafsu, anasir inilah sebagai penghalang atas Ruh untuk melahirkan sifat Ilahi terhadap jasmaniah manusia.

Evolusi selanjutnya adalah bagaimana usaha manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaannya sebagai makhluk Ruhaniah bagian dari Ruh Allah sebagaimana para nabi dan rasul sebagai suri tauladan atas seluruh manusia diatas bumi ini.
Firman Allah Ta’ala : Surat 76 (AL-INSAN) Ayat 2
“Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia dari pada setitik mani yang bergiliran, yang Kami beri percobaan kepadanya yaitu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
Firman Allah Ta’ala : Surat 77 (AL-MURSALAT) Ayat 20 s/d 23
Ayat 20, “Bukankah Kami telah jadikan kamu dari pada air yang hina).”
Ayat 21, “Yaitu Kami taruh dia ditempat ketetapan yang teguh.”
Ayat 22, “Hingga satu masa yang tertentu.”
Ayat 23, “Lantas Kami tentukan bentuknya, karena Kamilah sebaik-baik pembentuk.”
Dan Dari beberapa ayat yang tertulis didalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang kejadian manusia, seluruhnya mengisyaratkan akan suatu proses evolusi dan seperti halnya ayat-ayat diatas mempertegas akan proses tersebut. Kondisi ini tertuang pada kalimat yang berbunyi pada ayat 22 pada ayat 20 “air yang hina” mengandung arti bahwa fisik manusia terkandung anasir sifat-sifat hewan.
Proses evolusi terhadap manusia akan terus berlangsung hingga kehancuran alam semesta (kiamat), kehancuran yang terjadi disebabkan oleh tangan-tangan manusia dari sifat-sifat kehewanan (hawa nafsu), orang-orang ini yang tidak menyadari karena tidak memahami akan tujuan hidup atas dirinya, mereka tidak berevolusi menuju kepada tata nilai kesempurnaannya dan komunitas ini menempati kelompok mayoritas atas peradaban manusia. Kondisi ini terjadi adalah hal yang wajar karena untuk menuju kesempurnaan melalui tingkat kesulitan yang tinggi apa lagi pada zaman modern seperti sekarang ini, tinggal menunggu waktu saja, untuk menyaksikan hancurnya peradaban atas komunitas manusia.
Firman Allah Ta’ala : Surat 30 (AR-RUM) Ayat 41
“Telah lahir kerusakan dibumi dan dilaut dengan sebab usaha tangan-tangan manusia, yang akhirnya Allah rasakan kepada mereka ganjaran dari sebagian yang mereka kerjakan, agar mereka kembali.”
Tahapan selanjutnya setelah bentuk manusia dari segi fisiknya mencapai kesempurnaanya pada usia kandungan seratus tiga puluh hari, disinilah tata nilai manusia sebenarnya pembeda atas spesies binatang.
Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 9
“Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Bentuk dari makhluk-makhluk yang Allah ciptakan yang tersebar diseluruh alam semesta ini, manusialah yang paling ideal, bentuk dari kesempurnaan makhluk ini terlukis pada kalimat “disempurnakan kejadiannya” artinya bahwa evolusi atas makhluk telah sampai pada tahapan akhir, dan pada usia bentuk makhluk yang dimaksud dengan manusia dialam kandungan seratus tiga puluh hari, maka ditiupkan Ruh Allah kedalam tubuh (jasmaniah) manusia, kondisi ini mengisyaratkan gambaran kesempurnaan atas diri manusia bahwa kesimpulan atas definisi ayat (9) yaitu ia adalah makhluk Ruhaniah yang dilengkapi dengan badan kasar dan badan halus sebagai piranti atas kehidupannya kelak pada alam dunia (dimensi matrial). Lahirnya manusia pada alam dunia adalah awal dari proses evolusi berikutnya yaitu evolusi sifat dan dapat diistilahkan evolusi bathin.

Firman Allah Ta’ala : Surat 4 (AN-NISA) Ayat 28
“Allah hendak meringankan keberatan dari manusia, karena manusia itu dijadikan bersifat lemah.”
Artinya bahwa kesempurnaan manusia baru dalam kondisi fisik (badan kasar) saja tetapi kondisi bathin (badan halus) masih bersifat lemah, itu sebabnya mengapa kitab Al-Qur’an diturunkan diatas bumi ini, itu semata-mata sebagai petunjuk dan pedoman dalam rangka meringankan keberatan (kesulitan) atas manusia mencapai kesempurnaan lahir maupun bathin, sedangkan Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber atas semua keadaan dan atas seluruh program dan system yang ada pada seluruh alam semesta ini.

EVOLUSI SIFAT
Setelah makhluk berevolusi semenjak keberadaannya dimuka bumi suatu proses evolusi yang panjang, memakan waktu jutaan tahun dalam bentuk fisik menjadikan bentuk fisik manusia yang terdiri atas tiga yaitu jasmaniah, bathiniah dan Ruhaniah.

Jasmaniah terdiri atas antara lain : Jantung, hati, otak, paru-paru, darah, tulang daging dst.

Bathiniah terdiri atas antara lain : Akal, daya pikir, perasaan, hawa nafsu, panca indera dst.
Dalam perjalanan hidupnya manusia melalui tujuh fase yaitu :

Bayi, balita, anak-anak, remaja, pemuda, setengah tua, tua. Seluruh perangkat ini berkembang menurut ukurannya masing-masing dan setiap individu manusia berbeda-beda.
Ruhaniah terdiri atas (3) unsur :
1. Nur Allah (Alif)
2. Nur Rasul (Lam)
3. Nur Insan (Mim)
Proses evolusi bathiniah ini adalah evolusi akhlak (moral) yang mencerminkan akan perilaku manusia dalam menempuh perjalanan hidup, lulus atau tidaknya jalan yang ditempuhnya bahwa, jasmani kasar (fisik) mengandung unsur-unsur yang terdapat pada alam ini yaitu :
1. Unsur Api
2. Unsur Angin
3. Unsur Air
4. Unsur Tanah
Masing-masing unsur tersebut memiliki sifat sendiri-sendiri, unsur sifat ini kita istilahkan Anasir, kondisi jasmani diatas terdiri atas anasir keempat yang terdapat pada jasmani kasar, ia disebut hawa nafsu.
Sabda Rasullulah Shallallahualaihi wassalam:
“Sesungguhnya hawa nafsu menutupi hatiku sehingga aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari semalam tujuh puluh kali.”
(HR. Muslim dari hadist Al-Aghrar AlMuzani)
Musuh utama manusia adalah hawa nafsu yaitu empat anasir yang dikendalikan syetan, ia penghalang atas proses evolusi manusia menuju kepada sifat Ilahi yang terkandung atas Ruhaniah. Pada zaman Nabi Muhammad shallalllahualaihi wassalam , perang terbesar dikisahkan adalah Badar, sesudah perang Badar masih ada perang yang lebih besar yaitu perang melawan hawa nafsu. Kondisi ini terjadi pada setiap individu manusia, untuk itulah kita wajib mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan hawa nafsu.

Pada diri manusia terdapat dua sifat yaitu :
1. Sifat Hewan (binatang)
2. Sifat Tuhan (Allah)
Untuk memenangkan perang terbesar atas manusia dimana musuh terbesarnya adalah unsur kehalusan (hawa nafsu) maka untuk mengerti dan memahami akan karakteristik dari unsur-unsur tersebut menjadi prioritas utama dalam kata lain hal yang sangat wajib.
1. UNSUR API (AMARAH)
Firman Allah Ta’ala : Surat 12 (YUSUF) Ayat 53
“…………..karena sesungguhnya nafsu amarah itu menyuruh kepada kejahatan.”
Seperti halnya sifat atas api nafsu amarah pemicu atas besar dan kuatnya keinginan pada jasmani kasar (fisik) dan jasmani halus (bathin) atas segala kebutuhannya ia menguasai jiwa untuk memenuhi hasrat keinginan kepuasan yang bersifat sementara, ia merangsang untuk berbuat aniaya, maksiat dll dengan menghalalkan segala cara sifat api (amarah) ini akan melahirkan kebodohan atas diri manusia, ia merupakan dimensi kelicikan, sumber perilaku yang tercela, potensi otak hanya digunakan selalu berfikir jahat, yang ditimbulkan kerap kali merugikan orang lain.
Cerminan yang tampak atas perilaku manusia dapat terlihat antara lain : mudah marah, mudah tersinggung, keras kepala, pendendam, suka mencela, suka sekali dihormati, pembenci, ujub, ria, takabur, sombong (tinggi hati), merasa selalu benar, ingin menang sendiri, dll.
Kondisi ini terjadi manakala kualitas spiritual yang lemah namun demikian intelegensial quality tidak berarti lemah. Pada dekade sekarang ini banyak kita jumpai sifat amarah ini menguasai manusia, ia terdapat pada tingkat sosial lemah menengah terutama pada kalangan atas. Nafsu amarah lebih condong kepada kekuasaan (tahta) dan untuk mendapatkannya apapun akan dilakukan demikian karakteristik atas unsur api pada diri manusia
2. UNSUR ANGIN (LAUWAMAH)
Firman Allah Ta’ala : Surat 75 (AL-QIYAMAH) Ayat 2 s/d 5
Ayat 2, “Dan tidak! Aku bersumpah dengan nafsu lauwamah.”
Ayat 3, “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan bisa mengumpulkan kembali tulang- tulangnya.”
Ayat 4, “Bahkan Kami kuasa atas meratakan (menyusun) kembali jari-jarinya.”
Ayat 5, “Tetapi kecenderungannya manusia itu berbuat kedurhakaan terus menerus.”
Ayat kedua dari surat Al-Qiyamah diawali dengan kata “tidak” ini menandakan bahwa kalimat-kalimat selanjutnya adalah sesuatu hal yang pasti terjadi dan sama sekali tidak ada keraguan atas kejadiannya.
Kalimat selanjutnya setelah kata “tidak” adalah “Aku bersumpah dengan nafsu lauwamah”
Nafsu Lauwamah (Angin) artinya karakteristik seperti halnya perilaku angin dimana kondisi manusia yang tidak mempunyai ketetapan hati, setiap detik selalu berubah terkadang kebarat kemudian timur, utara, selatan terkadang berputar dengan kencang, terkadang lemah, terkadang keras kondisi ini karena pengaruh pertemuan suhu panas dan suhu dingin demikian pula kondisi yang terjadi pada diri manusia, dimana fikirannya selalu berputar baik siang maupun malam, tidak pernah ada ketenangan, pergi kesana dan kemari, hatinya tidak pernah tentram ini semua disebabkan karena cintanya kepada dunia, syaitanlah yang menjadi penguasa atas manusia yang seperti ini.
Kata “bersumpah” memaknakan akan kondisi manusia bahwa kebanyakan (mayoritas) manusia berada pada kondisi lauwamah artinya ia dikuasai oleh karakter angin.
Kecenderungan terhadap harta benda demikian besar maka akan mengakibatkan kecenderungan terhadap Tuhan demikian lemah (kecil) artinya nilai-nilai KeTuhanan terabaikan, tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang sudah didapat, selalu saja kurang, hidup baginya mengabdi pada dunia.

Ayat tiga (3) mengandung maksud dan makna yaitu, tegaknya manusia disebabkan tulang belulang sebagai penopang atas badan lahir demikian manusia bisa berjalan, berlari, beraktifitas kita bisa bayangkan manakala jasad manusia tanpa dilengkapi dengan tulang belulang dan dari mana tulang berasal.
Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 14
“Kemudian, Kami jadikan mani (sperma) itu sekepal darah lantas darah itu Kami jadikan segumpal daging, lantas daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi (bungkus) dengan daging, kemudian Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya). Maka maha suci Allah, sebaik-baik pembikin.”
Bahwa tulang mengandung seluruh unsur alam, ia mewakili atas seluruh unsur yang terdapat pada badan lahir (jasad). Tulang atas manusia seperti halnya tiang terhadap rumah tidak akan rumah itu berdiri kokoh tanpa adanya tiang. Kata “mengumpulkan” terkait dengan manusia yang mencintai dunia dengan kecintaannya itu maka pekerjaannya mengumpulkan akan harta dunia. Orang-orang ini kepercayaannya terhadap akhirat sangat lemah mengakibatkan ia tidak yakin dengan kalimat yang tertulis pada surat Al-Mu’minun ayat tiga (3). Ayat empat (4) kias atau simbul jari-jari adalah ia sebagai alat pelaksana atas apa yang diingininya seperti halnya mengumpulkan harta dan mencarinya.
Firman Allah Ta’ala : Surat 104 (AL-HUMAZAH) Ayat 2 & 3
“Yang mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”
“Yang menyangka bahwa hartanya memelihara dia”
Perilaku seperti ini akan terus menerus menguasai seseorang maka ayat lima (5) menyatakan bahwa apa yang dikerjakan adalah perbuatan durhaka.
Pada zaman modern sekarang ini, kondisi yang dimaksud pada surat Al-Humazah ayat 2 dan 3, sudah menjadi pemandangan umum, dimana manusia berlomba-lomba atas kehidupan dunia, cita-citanya terhadap harta begitu besar, penyakit ini menghinggapi hampir seluruh kalangan masyarakat dunia.
Karakteristik unsur angin mengakibatkan atas diri manusia seperti cahaya didalam diri, terkadang hidup namun demikian lemah energinya terkadang mati dalam lubuk hati manusia suatu saat berbuat maksiat (kejelekan) saat-saat tertentu menyadari akan perbuatannya kemudian ia menyesalinya dan saat lain ia mengulanginya terkadang cahaya Ruh Ilahi melalui jiwa kerap kali menegurnya dengan halus akan perbuatan maksiat yang dilakukannya tetapi ia tidak mampu untuk mencegahnya.
Kondisi ini merupakan sumber penyesalan, karakter nafsu lauwamah adalah ia sebagai penggerak atas hawa nafsu-hawa nafsu yang lainnya.
Diantara sifat-sifatnya adalah :
Suka makan enak dan banyak, korup, serakah, rakus, pelit, boros, suka memperkaya diri, bermegah-megahan, segala sesuatu ingin dimiliki dst.

ri bSAINS DALAM PERSPEKTIF ALQUR’AN
Oleh: Prof.Dr.Ir. Abdul Rauf, MP
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS.Al ‘Alaq: 1-5).
Setiap kita dibebani tanggungjawab untuk menyampaikan kebenaran kepada siapa saja, baik diminta maupun tidak. Kebenaran yang hakiki harus bersumber dari Al-Qur’an. Kebenaran yang kita sampaikan apabila dilandasi dengan fakta-fakta ilmiah (ilmu pengetahuan dan teknologi) maka akan mengantarkan kita dan siapa saja menjadi ahli ibadah, sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an Surrah Faathir ayat 28:
“Sesungguhnya yang paling takut (ahli ibadah) kepada Allah subhanahu wata’ala di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yang memiliki pengetahuan akan kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala ). Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS.35: 28).
Begitu banyak fakta-fakta ilmiah yang telah dihasilkan oleh pada ilmuwan, baik yang mudah dipahami, maupun yang sulit dan membutuhkan peralatan yang canggih untuk memahaminya, ternyata semuanya sangat sejalan dengan dalil naqli yang tersurat dalam Al-Qur’an Al-Kariim.
Ilmu pengetahuan dimaksud meliputi berbagai bidang, baik bidang natural (kealaman), maupun bidang sosial, politik, budaya dan ekonomi yang umumnya banyak dipahami oleh para pendidik. Pemberian dan pengemasan materi ajar berbasis dalil naqli yang tersurat dalam Al-Qur’an menjadi penting untuk dilakukan agar anak didik dapat memahami kebesaran dan kekuasaan Allah subhnahuwata’ala dalam kerangka pemantapan aqidah yang pada gilirannya dapat mengantarkan kita dan juga anak didik kepada kepatuhan dan keikhlasan dalam beribadah dan dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlaqul-karimah.
Prof. Quraish Shihab pada suatu kesempatan pernah berkata “penafsiran al-Qur’an secara komprehensif tidak akan bisa dilakukan oleh para ahli tafsir belaka, tanpa bantuan ahli di berbagai bidang kehidupan seperti ahli kedokteran, biologi, pertanian, geologi dan pertambangan, astronomi, serta ahli-ahli di bidang sosial, ekonomi dan budaya”. Untuk itu, kita memiliki kewajiban (fardhu) kifayah dalam menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai masing-masing.
Untuk sekedar membantu menguak keajaiban (mu’jizat) al-Qur’an dalam memberikan landasan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah diyakini keberadaannya disertai fakta-fakta yang secara langsung dapat dirasakan maupun tidak, maka secuil ulasan tentang hasil kajian (penelitian) ilmu kealaman (sains) dari para ilmuan beserta tafsirannya dalam perspektif Al-Qur’an dikemukakan berikut ini.

A. Pembentukan Alam Semesta
Alam semesta merupakan suatu system ruang yang kompleks dan luas yang batas-batasnya belum dapat diketahui hingga saat ini. Di dalam ruang jagat raya ini tersebar benda-benda langit, baik yang kasat mata maupun yang tidak.
Berbagai teori ilmiah tentang pembentukan jagat raya telah lahir, diantaranya yang paling terkenal dan dibenarkan oleh banyak ahli astronomi hingga abad ini adalah “Teori Big-Bang” (Teori Dentuman Maha Dahsyat). Teori ini dimunculkan pertama kali oleh George Lemaitre, astronom berkebangsaan Belgia pada tahun 1927 yang disempurnakan oleh Edwin Hubble, astronom dari Amerika Serikat pada tahun 1929.
Teori Big-Bang menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari ledakan maha dahsyat (big-bang) pada sekitar 13,7 milyard tahun yang lalu. Semua materi dan energy yang saat ini ada di alam pada awalnya terkumpul dalam satu titik yang tidak berdimensi dan memiliki kerapatan yang tak terhingga. Sejalan dengan waktu, setelah terjadinya ledakan yang maha dahsyat tersebut ruang angkasa mengembang dan ruang-ruang yang memisahkan benda-benda langit juga mengembang. Edwin Hubble (1929) menganalogikan pengembangan alam semesta ini seperti balon yang ditiup. Semula materi dan energy yang ada dalam balon saling berdekatan satu sama lain, namun dengan mengembangnya balon setelah ditiup maka materi dan energy tersebut juga akan saling berjauhan.
Beberapa ahli astronomi yang mendukung Teori Big-Bang ini antara lain:
(1) Vesto Sliper (1932) yang meneliti bahwa garis-garis spectrum galaksi-galaksi semakin menjauh dan bergeser (galaksi-galaksi itu semua bergerak saling menjauhi);
(2) Arno Penzias dan Robert Wilson (1965) sang pemenang hadiah Nobel ilmu pengetahuan melalui penelitiannya tentang adanya radiasi yang tidak terbatas terjadi di alam semesta yang disebut sebagai radiasi latar belakang kosmik. Radiasi yang seragam dan tidak diketahui sumbernya ini diyakini sebagai gema dari dentuman maha dahsyat yang masih memberikan efek rasiasi (menggema) sejak momen pertama dentuman tersebut terjadi;
(3) Alan Guth (1980) yang melakukan penghitungan matematis tentang gerak menjauhnya galaksi-galaksi menggunakan teleskop Hubble di Observatorium Palomar Mounth. Dia berhasil menghitung kecepatan bergeser (saling menjauhi) diantara galaksi-galaksi;
(4) George Smoot (1989) yang dalam penelitiannya meluncurkan satelit astronomi ke ruang angkasa dengan dibekali alat COBE (Cosmic Background Emission Explorer). Peralatan ini membenarkan penelitian Arno Penzias dan Robert Wilson (1965) dengan hasil yang secara pasti menunjukkan keberadaan bentuk kerapatan dan panas sisa ledakan yang menghasilkan alam semesta;
(5) Paul Davies (2005) mengemukakan teori bahwa energy ledakan alam semesta yang ada akan mengimbangi gaya gravitasinya dengan perbandingan yang hampir sama. Big-Bang merupakan suatu ledakan yang dirancang begitu indah tertanda dimulainya suatu penciptaan alam semesta dari suatu ketidakadaan. Davies memprediksikan bahwa kelak musnahnya alam semesta dapat sedahsyat dan sedramatis pada saat kemunculannya jika energi misterius tersebut terus menerus mengembangkan ruang sejalan dengan waktu.
Teori dan pembuktian ilmiah tentang proses pembentukan alam semesta yang bekembang pada awal abad 20 hingga awal abad 21 tersebut, ternyata telah dilukiskan dalam al-Qur’an yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala kepada Muhammad shallalllahualaihi wassalam pada abad ke 7, sebagaimana ditemui pada Surrah Al-Anbiyaa’ ayat 30:
“Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS.21: 30).

B. Perkembangan Alam Semesta
Terjadinya pengembangan ruang alam jagat raya (alam semesta) sebagaimana disebutkan di atas (sebagai bagian dari Teori Big-Bag dan teori-teori yang mendukungnya), al-Qur’an juga telah menyebutkan dengan tegas di dalam Surrah Adz-Dzaariyaat ayat 47:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa meluaskannya” (QS.51: 47)
Selanjutnya, saling berjauhannya benda-benda angkasa (galaksi-galaksi) sebagaimana diuraikan dalam Teori Big-Bang dan hasil penelitian astronom pendukungnya, juga tersirat dalam al-Qur’an dengan bahasa meninggikan (“semakin tinggi” menurut pengamatan dari bumi untuk galaksi-galaksi yang saling menjauhi), sebagaimana tertera dalam Surrah An-Nazi’at ayat 28:
“Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya”(QS.79: 28).
Masa ini dianggap sebagai masa kedua dalam proses pembentukan jagat raya yaitu proses penyempurnaan setelah sebelumnya terjadi masa awal penciptaan alam semesta yaitu ledakan yang maha dahsyat. Masa kedua ini ditandai dengan pembentukan bintang-bintang di dalam galaksi-galaksi yang berlangsung secara terus menerus.

C. Rotasi dan Revolusi
Sejalan dengan proses pembentukan dan perkembangannya dan berdasarkan fakta yang kita rasakan bahwa seluruh benda-benda alam (bintang, planet, dan satelit) bergerak pada poros dan orbitnya. Periode rotasi planet adalah waktu yang diperlukan planet untuk berputar pada poros (sumbunya) sebanyak satu kali, sedangkan periode revolusi planet adalah waktu yang diperlukan planet untuk berputar pada orbit (garis edarnya) mengelilingi matahari dalam satu kali putaran.
Bumi kita berotasi (berputar pada sumbunya) selama 23,9 jam untuk satu kali putaran yang kemudian kita kenal dengan waktu selama satu hari satu malam (24 jam), sembari berrotasi bumi kita melakukan perputaran mengelilingi matahari pada orbitnya (berre(berrevolusi) selama 365,25 hari, yang kemudian kita kenal sebagai satu tahun. Bulan yang diketahui sebagai satu-satunya satelit alam dari planet bumi juga melakukan rotasi dan berputar mengelilingi bumi pada garis edarnya selama 28 hari untuk satu kali putaran. Satu kali perputaran bulan mengeliling planet bumi ini yang kemudian dikenal sebagai masa satu bulan dalam kalender Hijriah.
Pada setiap saat sekitar separuh wajah bumi kita menghadap ke matahari (menjadi terang atau siang hari) dan sebagian lagi yang berada di sebaliknya menjadi gelap (malam hari). Wajah bumi tersebut secara berangsur-angsur menjadi terang (subuh) yaitu di bagian yang menuju arah matahari dan di bagian lainnya menjadi gelap (magrib) pada bagian yang meninggalkan cahaya matahari. Hal ini terjadi sebagai bukti bahwa bumi melakukan rotasi pada poros (sumbunya).
Peristiwa rotasi dan revolusi planet bumi serta adanya garis edar (orbit) benda-benda angkasa ini termaktub dalam al-Qur’an diantaranya pada Surrah Yaasin ayat 38-40.

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS.36: 38-40).

D. Air Sebagai Sumber Kehidupan
Lanjutan ayat al-Qur’an Surrah Al-Anbiyaa’ ayat 30 yang melukiskan tentang asal mula penciptaan alam semesta (“langit dan bumi”) adalah:
“…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…” (QS.21: 30).
Penggalan ayat al-Qur’an ini merupakan bukti kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Illahi. Fakta ini tak terbantahkan meskipun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di abad modern ini.
Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya kehidupan. Air dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organik melakukan replikasi. Biji atau benih, juga spora akan mulai bekecambah bila didahului oleh adanya sentuhan air dalam proses perkecambahannya. Tanpa air, biji, benih, dan spora akan dorman, tidak akan tumbuh, bahkan bila masa dorman terlampaui tetap tidak diberi (mendapatkan) air, biji, benih dan spora tersebut tidak dapat melangsungkan kehidupan (mati).
Semua makhluk hidup memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup yang merupakan bagian penting dalam proses metabolisme. Air dibutuhkan dalam proses fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis menggunakan cahaya matahari untuk memisahkan atom hidroden dengan oksigen. Hidrogen akan digunakan untuk membentuk glukosa sebagai sumber energy skunder dan oksigen akan dilepas ke udara sebagai sumber respirasi (bernapas). Reaksi fotosintesis dihipotesiskan secara sederhana sebagai berikut:
Energy foton
(dari cahaya matahari)
6CO2 (dari udara) + 6H2O (dalam jaringan)  C6H12O6(glokosa/karbohidrat) + 6O2 (ke udara)
pada Klorofil (butir hijau daun)

Peran air sebagai sumber kehidupan juga dijelaskan dalam al-Qur’an Surrah Al-Hajj ayat 5 yang secara komprehensif diawali dengan uraian tentang asal muasal penciptaan manusia hingga kehidupan di muka bumi yang disebabkan oleh air.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya, dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (QS.22: 5).

Selanjutnya Surrah Fusshilat ayat 39 juga menggambarkan peran air dalam menghidupkan bumi yang semula kering dan gersang:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kamu Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu(QS. 41: 39).

E. Fotosintesis dan Api (Energi)
Proses fotosintesis sebagaimana digambarkan di atas hanya akan berlangsung jika terdapat empat komponen utamanya yaitu air (H2O), karbon dioksida (CO2), klorofil (butir hijau daun), dan energy primer dalam bentuk foton dari cahaya matahari. Proses fotosintesis pada tetumbuhan (flora mengandung klorofil) pada dasarnya merupakan proses pengubahan energy primer cahaya matahari menjadi energy sekunder (karbohidrat). Energy sekunder ini yang kemudian digunakan oleh mahluk hidup lainnya untuk memenuhi kebutuhan energy dalam mempertahanykan hidupnya. Itu sebabnya tetumbuhan hijau itu disebut sebagai produsen (pembentuk/penghasil energy sekunder), sedangkan hewan (termasuk manusia) pemakan tetumbuhan disebut sebagai konsumen (memanfaatkan energy sekunder yang diproduksi oleh tetumbuhan yang hijau).

“Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” (QS.36: 80).

Api yang dimaksud dalam ayat 80 Surrah 36 (Yaasiin) tersebut dapat berarti api dalam bentuk yang kasat mata sebagaimana yang ada dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dapat pula dalam bentuk energy sekunder (energy potensial) hasil proses fotosintesis dalam bentuk glokosa/karbohidrat dengan segala jenis turunannya. Kayu yang hijau berarti pohon/ tetumbuhan yang mengandung kloroplast (butir-butir hijau daun) yang di dalamnya terdapat klorofil tempat terjadinya proses fotosintesis. Karena bahan tetumbuhan dan materi lain (hewan dan manusia pemakan tumbuhan dan hewan lainnya) memiliki energy sekunder dalam bentuk karbohidrat dan derivatnya itulah makanya materi (bahan-bahan) tersebut dapat dibakar (terbakar) menghasilkan api. Peristiwa pembakaran ini yang dikenal dengan proses respirasi, sebagaimana digambarkan berikut ini:
Pembakaran secara kimiawi (respirasi): C6H12O6 + 6O2  Energi + 6CO2 + 6H2O
Pembakaran secara fisika: C6H12O6 + 6O2 + sumber penyulutan (panas) —>6CO2 + 6H2O + Api

F. Manusia Diciptakan Dari Tanah
Al-Qur’an Surrah Al-Hajj ayat 5 tersebut di atas diawali dengan pernyataan Allah Subhnahuwata’ala bahwa manusia dijadikan dari tanah dan dilanjutkan dengan proses/tahapan selanjutnya di dalam rahim ibu. Penciptaan manusia dari tanah dapat dimaklumi dari keberadaan jasad manusia yang seluruhnya berasal dari dalam tanah. Unsur-unsur dalam tubuh manusia berasal dari unsur-unsur yang berasal dari dalam tanah yang kemudian disebut sebagai unsur hara.
Unsur hara dari dalam tanah diserap oleh akar tanaman membentuk jaringan tubuh tanaman (akar, batang, cabang, ranting, daun, bunga, buah, umbi, dan biji) yang semuanya merupakan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Hewan (daging dan ikan) yang dimakan oleh manusia juga memakan tumbuhan sebagai pakan utamanya. Oleh sebab itu, semua unsur pembangun tubuh manusia, juga merupakan unsur yang diambil tanaman dari dalam tanah (unsur hara) dan sebagai pembangun tubuhnya juga.
Tanaman membutuhkan sedikitnya 16 unsur untuk pertumbuhan dan untuk melengkapi siklus hidupnya, unsur-unsur ini disebut sebagai unsur hata tanaman (plant nutrient atau saripati dari dalam tanah). Tanaman membutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak unsur hara karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Ketiga unsur ini merupakan unsur non-metal yang diperoleh tanaman dalam bentuk gas CO2 dan H2O. Tiga belas unsur hara lainnya diambil oleh tanaman dalam bentuk mineral dari dalam tanah yang kadang harus ditambahkan sebagai pupuk. Tanaman membutuhkan dalam jumlah yang banyak unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Unsur-unsur ini dinyatakan sebagai unsur hara makro primer dan sangat sering diberikan ke tanaman dalam bentuk pupuk. Kemudian ada tiga unsur makro sekunder, kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S) yang dibutuhkan relatif lebih sedikit dibandingkan dengan unsur primer. Kalsium dan magnesium biasanya diberikan melalui bahan kapur, sedangkan sulfur diberikan sebagai pupuk. Baik unsur primer (N, P, dan K) maupun sekunder (Ca, Mg, dan S) dikatakan juga sebagai unsur hara makro.
Unsur hara mikro yang relatif dibutuhkan lebih sedikit terdiri atas boron (B), tembaga (Cu), khlor (Cl), besi (Fe), mangan (Mn), molibdenum (Mo) dan seng (Zn). Unsur-unsur ini berada dalam jumlah yang sangat sedikit dibutuhkan tanaman, tetapi peranannya sama penting dengan unsur hara makro, baik primer maupun sekunder. Defisiensi satu atau lebih unsur hara mikro ini akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan, produksi dan kualitas tanaman. Selain itu ada pula unsur hara hanya dibutuhkan oleh tanaman tertentu, seperti kobal (Co), silikon (Si), vanadium (V), dan natrium (Na).
Semua unsur hara tanaman (saripati dari tanah) sebagaimana disebutkan di atas juga merupakan unsur penyusun tubuh manusia dengan kadar yang hampir sama (proporsional) dengan kadar unsur hara yang diambil dari dalam tanah dan dalam penyusunan tubuh tanaman dan hewan. Kedudukan unsur hara atau saripati dalam tanah dalam hubungannya dengan penciptaan manusia tersebut terdapat pula dalam al-Qur’an Surrah Al-Mu’minun ayat 12-14:

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik” (QS.23: 12-14).

Beberapa ayat lain dalam al-Qur’an yang menggambarkan bahwa manusia dijadikan dari tanah diantaranya Surrah Al-An’aam ayat 2:

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)” (QS.6: 2).
Surrah Ar-Ruum ayat 20:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”(QS.30: 20).

G. Kadar Air Tersedia Dalam Tanah
Meskipun air diperlukan dan merupakan satu-satunya bahan yang diperlukan dalam kehidupan namun jumlahnya tidak boleh berlebihan dan apalagi kekurangan. Air yang berlebihan selain menimbulkan banjir yang merusak apa saja yang dilaluinya, keberadaannya di lahan/tanah dalam kondisi tergenang saja dapat menyebabkan kematian tanaman. Demikian halnya dengan kekurangan air (kelangkaan air) juga akan menyebabkan kematian tanaman.
Dalam ilmu tanah pertanian dikenal dengan kadar air tersedia bagi tanaman. Pada kadar air tersedia ini, tanaman akan tumbuh dengan baik dan berproduksi optimal. Kadar air tersedia adalah kadar air yang berada pada kisaran kapasitas lapang (field capacity) dan titik layu permanen (wilting point).Kadar air kapasitas lapang adalah kadar air maksimal yang dapat ditahan di dalam pori-pori tanah setelah air gravitasi habis, sedangkan kadar air titik layu permanen adalah kadar air tanah yang menyebabkan tanaman mati karena tidak lagi mampu menyerap air dari matrik tanah.
Suatu wilayah atau kawasan (dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan suatu negeri) akan hidup (tetumbuhan dan makhluk lainnya tumbuh/hidup dengan subur) apabila terdapat cukup air (kadar air tersedia), sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an Surrah Az-Zukhruf ayat 11.
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)” (QS.43: 11).

H. Keseimbangan dan Keteraturan Materi dan Energy
Benda-benda alam, baik yang kasat mata maupun yang tidak, berada dalam keimbangan dan ketaraturan serta gerakan yang kokoh. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa bumi yang kita rasakan seperti diam padahal dia bergerak (berputar) dengan sangat kencang pada sumbunya, sembari bergerak mengelilingi matahari pada garis edar (orbitnya). Demikian halnya dengan planet lainnya, sehingga benda-benda alam itu membentuk pola seperti lingkaran-lingkaran yang teratur dengan matahari sebagai intinya.
Hal yang sama terjadi pada materi-materi pada tingkat molekul atau atom. Atom terdiri dari proton dan neutror sebagai pusat (inti) yang dikelilingi oleh electron pada jumlah yang sama dan seimbang dengan proton. Electron berputar mengelilingi inti atom (neutron dan proton) dengan gerakan yang sangat kencang pada orbit electron yang berlapis-lapis sesuai dengan golongan dan bilangan atomnya. Gerakan benda-benda atau materi-materi ini berada pada keseimbangan energi yang menyebabkan kesatuan benda/materi tersebut menjadi sangat kokoh. Fenomena alam ini telah diabadikan Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an diantaranya dalam Surrah An-Naml ayat 88:

“Dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap (diam) di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.27: 88).

Keseimbangan materi di alam terlihat pula pada reaksi kimia antar berbagai senyawa (unsur) sebagaimana ditunjukkan pada reaksi fotosisntesis dan reaksi repirasi di atas, juga pada contoh reaksi penggaraman di bawah ini. Jumlah dan massa atom sebelum dan sesudah terjadinya reaksi harus selalu sama yang ditunjukkan dengan jumlah unsur yang sama pada sebelum dan sesudah terjadinya reaksi kimia.
NaOH + HCl  NaCl + H2O
2NH4OH + H2SO4  (NH4)2SO4 + 2H2O
Keseimbangan di alam tidak hanya terjadi pada materi saja, tetapi juga terjadi pada energy. Jumlah energy di alam adalah konstan (tetap), yang terjadi adalah perubahan bentuk (interkonversi) energy sebagai konsekwensi kecenderungan energy untuk selalu dalam keseimbangan. Prof. Abdussalam (Ilmuwan Muslim Kelahiran Pakistan 19 Januari 1926; Peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika Tahun 1979) menyatakan bahwa di alam terdapat empat bentuk dasar energy yaitu:

energy gravitasional, energy elektromagnetik, energy nuklir lemah, dan energy nuklir kuat.

Lazim diketahui bahwa semua bentuk energy ini dapat diubah atau mengalami interkonversi yang satu menjadi yang lain. Contoh, energy gravitasonal dapat diubah menjadi energy listrik (elektromagnetik) seperti terjadi pada kehidrolistrikan yang dipraktekkan dalam PLTA. Contoh lain, energy nuklir kuat yang diproduksi di bagian dalam (inti) matahari selalu berubah menjadi energy elektromagnetik yang terasa panasnya sebagai sinar matahari. Energy nuklir lemah merupakan energy potensial yang dihasilkan oleh atom-atom, unsur-unsur, molekul-molekul yang memberikan energy elektromagnetis pada benda-benda termasuk tubuh makhluk hidup. Lebih jauh Prof.Abdussalam menyatakan bahwa sebenarnya energy-energy tersebut berada dalam kesatuan (tidak ada perbedaan yang mendasar) antara energy nuklir dengan energy kelistrikan. Semakin dalam dikaji semakin terlihat keseimbangan dan keteraturan yang sangat mencengangkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an Surrah Al-Mulk ayat 3-4:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun membuatmu pusing, melelahkan” (QS.67: 3-4).

I. Batu, Mata Air dan Sungai
Sungai merupakan badan air tempat mengalirnya air secara alami di permukaan bumi. Sungai selalu disebut juga sebagai sistem drainase alami atau sistem aliran (limpasan) air di permukaan. Air yang menglir di sungai merupakan kumpulan dari berbagai mata air, terutama di bagian hulu dan bagian tengah. Mata air yang dapat memberikan/ mengeluarkan air secara terus menerus, termasuk pada musim kemarau, adalah mata air yang sumber airnya berasal dari air bawah tanah (ground water). Air bawah tanah (ground water) adalah air yang berada di bawah lapisan kedap air dan lapisan kedap air ini umumnya merupakan hamparan dan atau bongkahan batuan.
Air dapat menembus lapisan kedap air (batuan) mengisi air bawah tanah melalui beberapa mekanisme diantaranya karena proses peresapan (perkolasi) di sela-sela rekahan batuan dan atau mengikuti alur akar pepohonan yang menghunjam menembus batuan menuju lapisan air bawah tanah (ground water). Air yang mengisi lapisan bawah tanah ini secara bersamaan ada yang keluar melalui rekahan batuan menjadi mata air dan akhirnya membentuk sungai.
Keberadaan sungai dan mata air yang muncul dari sela-sela batuan di permukaan bumi ini diabadikan dalam al-Qur’an Surrah Al-Baqoroh ayat 74:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (QS.2: 74).

J. Gas, Udara dan Angin
Pada proses fotosintesa dan respirasi di atas sama-sama diperlukan gas dan sama-sama menghasilkan gas. Gas karbondioksida (CO2) diperlukan pada proses fotosintesa dan dalam prosesnya dihasilkan gas oksigen (O2), sebaliknya pada proses respirasi diperlukan gas O2 dan dihasilkan gas CO2. Gas CO2 dan O2 ini merupakan gas yang diperlukan makhluk hidup selain gas nitrogen (N2) yang merupakan komponen utama udara di atmosfer dan di dalam tanah. Gas nitrogen sangat diperlukan oleh tanaman dalam pembentukan (sintesa) protein guna membangun organ tubuh yang optimal.
Gas dengan kadar terbanyak di atmosfer adalah nitrogen sebanyak 78%, disusul kemudian oleh oksigen sebanyak 21% sedangkan gas CO2 hanya sekitar 0,3% saja. Selebihnya terdapat pula uap air dan gas-gas lain yang kurang bermanfaat secara langsung bagi mahluk hidup dan bahkan beberapa diantaranya merupakan gas beracun (toksik).
Hal yang menakjubkan bagi orang yang berfikir, selain fungsi dari gas-gas tersebut sebagaimana telah diuraikan di atas, gas-gas yang bermanfaat bagi kehidupan secara langsung memiliki massa jenis (kerapatan jenis) yang lebih besar dibandingkan massa jenis gas yang tidak bermanfaat dan gas beracun. Gas dengan massa (kerapatan) jenis tertinggi adalah CO2 sebesar 1,980 g/L, diikuti kemudian oleh O2 sebesar 1,429 g/L dan Nitrogen sebesar 1,251 g/L. Massa jenis gas-gas tersebut jauh lebih tinggi (7-11 kali lebih besar) dibandingkan gas Helium (He) dengan massa jenis sebesar 0,1786 g/L. Dengan demikian dapat dimengerti dengan mudah bahwa gas dengan massa jenis lebih besar akan lebih kuat dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi yang berarti akan lebih banyak berada di sekitar permukaan bumi (lapisan troposfer) sampai ke dalam tanah, sementara gas dengan massa jenis yang lebih kecil akan berada di bagian atas lapisan atmosfer bumi, sebagaimana gas Helium dan gas-gas beracun seperti CO, NH3, H2S, ozon (O3), dan lain-lain yang lebih banyak berada di lapisan atmosfer bagian atas yaitu stratosfer hingga ionosfer.
Keberadaan udara dengan kandungan gas dalam tatanan yang begitu rupa sehingga gas yang bermanfaat dapat diakses begitu mudah dimana saja dan kapan saja hingga ke dalam tanah, merupakan makna dari firman Allah dalam Surrah Al-Baqoroh ayat 164 yang penggalan pernyataannya menyebutkan “dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi merupakan tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah subhanahu wata’ala bagi mereka yang berfikir”.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS.2: 164).

Gas CO2, N2 dan O2 juga banyak terdapat dalam tanah, mengisi pori-pori tanah. Gas-gas ini di dalam tanah diperlukan oleh akar tanaman dan mikrobia dalam tanah untuk proses fotosintesis bakteri dan mikroflora lainnya (gas CO2), untuk proses respirasi akar dan mikrobia dalam tanah (gas O2), dan untuk assimilasi asam amino dan protein (gas N2) setelah difiksasi oleh mikrobia, baik yang bersimbiosis dengan tanaman tingkat tinggi maupun mikrobia non-simbiotik.
Pengisaran angin dan awan “yang dikendalikan” antara langit dan bumi(QS.2: 164) juga dapat mengandung arti bahwa terjadinya angin karena adanya perbedaan tekanan di atmosfer. Perbedaan tekanan diakibatkan oleh adanya perbedaan temperatur udara. Pada temperatur udara yang tinggi (panas) tekanan udara rendah, sebalikanya pada temperatur udara yang rendah (dingin) tekanan udara tinggi. Keadaan ini menyebabkan terjadinya angin yaitu massa udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.
Perbedaan tekanan yang dikendalikan oleh temperatur antara siang dan malam, daerah rendah dan daerah tinggi dari permukaan laut, daerah tropis dan sub tropis, dan seterusnya memberikan dampak, baik positif maupun negatif bagi kehidupan manusia. Dampak positif yang sangat dirasakan adanya terjadinya siklus dan distribusi hujan, penyebaran spora dan gas. Dampak negatif yang mungkin timbul terjadinya persebaran wabah penyakit menular.
Keberadaan angin dalam kaitannya dengan siklus air (hujan) dan distribusi hujan tersirat dalam ayat al-Qur’an Surrah Fathir ayat 9:

“Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu” (QS.35: 9).

Awan dibentuk dari kumpulan uap air (evapotranspirasi) yang berkumpul dan bercampur dengan debu, spora, dan materi tersuspensi lainnya. Dengan berhembusnya angin maka awan akan terbawa ke ketinggian tertentu yang memiliki suhu yang lebih rendah sehingga uap air akan terkondensasi menjadi titik-titik air yang diserap oleh partikel debu dan materi lain yang higroskopis. Bulatan molekul air yang membesar sejalan dengan lebih banyaknya uap air yang terkondensasi menyebabkan titik-titik air tersebut memiliki massa yang lebih berat. Bulatan titik-titik air yang semakin berat tersebut akan jatuh ke permukaan bumi karena pengaruh gaya gravitasi bumi menjadi apa yang dikenal sebagai hujan.

K. Varietas Tanaman dan Kesesuaian Lahan
Dalam taksonomi tumbuhan dikenal adanya varietas tumbuhan yang membedakan sifat tanaman tertentu pada spesies yang sama. Selain itu, tanaman membutuhkan karakteristik lahan/tanah tertentu guna mendukung pertumbuhan dan produktivitasnya secara optimal. Jenis varietas dapat membedakan warna bunganya, system percabangannya, warna dan rasa buahnya dan lain-lain. Varietas yang sama ditanam pada jenis tanah dan kondisi lahan serta iklim yang berbeda dapat pula menyebabkan perbedaan performa tanaman dan jumlah serta rasa buahnya.
Jenis varietas dan kesesuaian lahan untuk budidaya komoditi tanaman tertentu telah dilukiskan dalam al-Qur’an Surrah Ar-Ra’d ayat 4:
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah subhanahu wata’ala ) bagi kaum yang berfikir” (QS.13: 4).

L. Madu Lebah Sebagai Obat
Seorang dokter wanita Amerika Serikat Dr Jennifer Eddy dari fakultas kedokteran Universitas Wisconsin membuktikan bahwa pada madu lebah terdapat kandungan obat untuk manusia, terutama untuk pengobatan penyakit diabetes. Pada tahun 2002, Catherina Hulbert, seorang warga Negara Amerika mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan luka parah pada kakinya. Saat kecelakaan itu dia sudah menderita penyakit diabetes. Sebab itu, luka yang dideritanya tidak kunjung sembuh kendati sudah mengkonsusmsi berbagai obat dan anti biotic. Kondisi seperti itu dia alami selama delapan bulan. Oleh Dr Jennifer Eddy, si pasien (Catherina Hulbert) dianjurkan untuk menggunakan madu lebah sebagai obat yang dioleskan di tempat luka. Setelah beberapa bulan melakukan pengobatan dengan madu lebah tersebut luka kaki Catherina Hulbert-pun sembuh total. Kasus tersebut menyebabkan Dr Jennifer Eddy memperoleh dukungan dari Akedemi Amerika untuk meneruskan kajiannya khusus pengobatan melalui madu lebah.
Sebelumnya, Dr. Jennifer Eddy juga pernah mengobati salah seorang pasien diabetes yang sedang menghadapi vonis amputasi setelah berbagai pengobatan yang dijalankan sang pasien mengalami kegagalan. Dr Jennifer membuktikan bahwa mengobati luka akibat diabetes dengan madu lebah memiliki banyak manfaat. Seperti diketahui bahwa penderita diabetes akan mengalami penurunan kelancaran darah dalam pembuluh darahnya dan lemah tingkat imunitas terhadap berbagai penyakit. Ditambah lagi antibiotic yang diberikan untuk mengobati luka diabetes tidak bermanfaat disebabkan bakteri Staphylococcus Aurous akan membentuk perlawanannya sendiri. Sedangkan madu lebah menciptakan perlawanan terhadap bacteria dengan berbagai cara. Oleh sebab itu pengobatan menggunakan madu lebah dianggap paling efektif bagi penyembuhan luka akibat diabetes.
Dalam madu lebah juga terdapat zat asam yang mudah berinteraksi dan tingkat kelembaban yang rendah sehingga menyebabkan madu lebah tersebut mudah membunuh bacteria. Di tambah lagi adanya enzim yang mengeluarkan acid hydrogen yang berfungsi membersihkan luka sehingga mudah membunuh semua bacteria yang ada.
Pengobatan dengan madu lebah telah menjadi perhatian yang sangat menarik bagi para ilmuan di bidang kesehatan secara mendunia, khususnya pusat-pusat yang memerangi berbagai penyakit dan organisasi-organisasi kesehatan intrnasional di tengah meningkatnya berbagai macam bacteri yang mampu melawan obat-obat antibiotic lainnya.
Selanjutnya Dr Jennifer menekankan keharusan mendahulukan pengobatan dengan madu lebah karena pembusukan (tukak) akibat diabetes menjadi persoalan yang sangat serius dan hanya dapat diobati dengan menggunakan lebah madu. Berkaitan dengan madu lebah sebagai obat tersebut maka sungguh benarlah firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 68-69:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia; Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS.16: 68-69).

M. Efek Rumah Kaca dan Global Warming
Berbagai laporan menyebutkan bahwa pada dekade terakhir ini (sejak tahun 2000) terjadi perubahan iklim global (Climate Change Challenge) seperti suhu permukaan bumi yang meningkat antara 1-3oC, curah hujan sangat tinggi menyebabkan banjir dan longsor di mana-mana, kerusakan akibat angin topan dan badai di beberapa Negara, dan kerusakan akibat gempa bumi dan tsunami di beberapa Negara.
Hal ini dapat terjadi karena atmosfer bumi telah dilapisi oleh gas yang menimbulkan efek rumah kaca seprti gas CO, CO2, CH4, dan lain-lain. Lapisan gas-gas ini dapat ditembus oleh sinar matahari (energy gelombang pendek) apalagi bagian atmosfer yang lapisan ozonnya telah rusak, tetapi tidak dapat ditembus oleh cahaya pantul permukaan bumi yang merupakan cahaya dengan energy gelombang panjang. Akibatnya energy panas ini terakumulasi di atmosfer bumi (tidak dapat keluar ke angkasa) dan menimbulkan peningkatan suhu pada atmosfer bumi. Peningkatan suhu ini yang kemudian dikenal dengan global warming yang menyebabkan terjadinya angin topan dan badai, curah hujan sangat tinggi, muka air laut meningkat akibat pencairan gunung-gunung es di kutub Utara-Selatan bumi (menyebabkan gelombang laut yang tinggi dan tsunami).
Uraian singkat di atas, telah diabadikan Allah dalam al-Qur’an berturut-turut disajikan berikut ini:
Al-Qur’an Surrah Al-Mursalat ayat 9: “Dan apabila langit telah dibelah” (QS.77: 9)
Al-Qur’an Surrah Al-Infithaar ayat 1: “Apabila langit terbelah” (QS.82: 1).
Kedua ayat ini menggambarkan bahwa telah terjadi kerusakan lapisan ozon menuju kepada kerusakan atmosfer secara total.
Al-Qur’an Surrah Al-Ma’aarij ayat 8: “Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak” (QS.70: 8).
Ayat ini dapat menggambarkan betapa langit (atmosfer) bumi telah keruh mengkilat seperti warna perak akibat pencemaran udara yang mengarah kepada efek rumah kaca (green house effect).
Al-Qur’an Surrah Al-Waqi’ah ayat 42: “Dalam angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih” (QS.2: 42)
Fakta menunjukkan bahwa memang telah terjadi peningkatan suhu permukaan bumi (atmosfer dan perairan) sebesar 1-3oC sejak tahun 2000.
Al-Qur’an Surrah Al-Infithaar ayat 3: “Dan apabila lautan menjadikan meluap”(QS.82: 3)
Ayat Al-Qur’an Surrah Al-Infithaar ayat 3 ini menggambarkan fenomena saat ini yang telah terjadi peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya gunung es (salju) di kutub Utara-Selatan bumi sehingga menimbulkan gelombang pasang yang tinggi dan tsunami serta banjir.
Al-Qur’an Surrah Adz-Dzariyaat ayat 1: “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat” (QS.51: 1)
Ayat ini menggambarkan tentang terjadinya topan dan badai yang semakin intensif yang hingga saat ini telah tercatat sedikitnya 200 jenis badai, topan dan angin puting beliung yang terjadi di muka bumi.

Bahan Bacaan
Abdussalam. 1982. Sains dan Dunia Islam; Menghidupkan Kembali Sains di Negara-negara Arab dan Islam. Penerbit Pustaka. Perpustakaan Salman ITB Bandung.

Ahadnet.com. 2008. Madu Lebah Obat Luka Akibat Diabetes di Amerika Serikat.http://docs.google.com/

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’at Al-Mush-haf Asy-Syarif Medinah Munawarah P.O.Box 6262 Kerjaan Saudi Arabia.

Departemen Ilmu Tanah FP-USU. 2006. Dasar Ilmu Tanah (Fundamentals of Soil Science). Fakultas Pertanian USU, Medan.

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. 2000. Islam Untuk Disiplin Ilmu Astronomi. Editor: Moedji Raharto. Departemen Agama RI, Jakarta.

Shihab, M.Q. 1997. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim; Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Cetakan Kedua. Pustaka Hidayah, Bandung.

Sugiyanto dan D. Endarto. 2008. Mengkaji Ilmu Geografi1. PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Continue reading...

PERINGATAN RASULULLAH SHALLALLAHUALAIHI WASSALAM

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

B.PERINGATAN RASULULLAH SHALLALLAHUALAIHI WASSALAM

As-Sunnah adalah segala sesuatu yang ada pada nabi shallalllahualaihi wassalam berupa ilmu, amal, petunjuk secara mutlak. Hal ini sejalan dengan bunyi hadits: “Faman raghiba ‘an sunnati falaisa minnî” (HR. al-Bukhâri, Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dari ‘Abdullah bin ‘Amr)
As-Sunnah adalah apa yang disyariat’kan nabi shallalllahualaihi wassalam atau ditetapkannya, lawan dari bid’ah. Hal ini sejalan dengan hadits: “mâ ahdatsa qaumun bid’atan illâ rafa’a mitslaha minas sunnah” (HR. Imam Ahmad dari Ghuda’if bin al-Hârits ra.)

sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul shallalllahualaihi wassalam tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam), tidak ada manfaat dari Allah subhanahu wataala sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah subhanahu wata’ala a sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfa’at apapun di hadapan Allah subhanahu wata’ala . Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah subhanahu wata’ala , ya Fatimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah subhanahu wata’ala “. (Dikeluarkan oleh Bukhary 3/4771, 2/2753, Muslim 1 Juz 3 hal 80-81 Nawawy).

Dan saudara-saudara Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam yang sholeh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau mudlarat selain dari Allah subhanahu wata’ala adalah bathil, sebab Allah subhanahu wata’ala telah berfirman yang artinya:
“Katakanlah (hai Muhammad): Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemadlaratan dan manfaat bagi kalian”. (Al-Jin : 21).
o

Dari Anas bin Malik ra. katanya, Rasulullah shallalllahu alaihi wasssalam telah berkata kepadaku: ‘Hai anakku! Jika engkau mampu tidak menyimpan dendam kepada orang lain sejak dari pagi sampai ke petangmu, hendaklah engkau kekalkan kelakuan itu! Kemudian beliau menyambung pula: Hai anakku! Itulah perjalananku (sunnahku), dan barangsiapa yang menyukai sunnahku, maka dia telah menyukaiku, dan barangsiapa yang menyukaiku, dia akan berada denganku di dalam syurga! ‘ (Riwayat Tarmidzi)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi Shallalllahualaihi wassalam yang berkata: “Barangsiapa yang berpegang dengan sunnahku, ketika merata kerusakan pada ummatku, maka baginya pahala seratus orang yang mati syahid”. (Riwayat Baihaqi) Dalam riwayat Thabarani dari Abu Hurairah ra. ada sedikit perbedaan, yaitu katanya: Baginya pahala orang yang mati syahid. (At-Targhib Wat-Tarhib 1: 44)

Thabarani dan Abu Nu’aim telah mengeluarkan sebuah Hadis marfuk yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi shallalllahu alaihi wassalam telah bersabda: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam zaman kerusakan ummatku akan mendapat pahala orang yang mati syahid. Hakim pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. juga bahwa Nabi shallalllahualaihi wassalam telah berkata: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam masa perselisihan diantara ummatku adalah seperti orang yang menggenggam bara api. (Kanzul Ummal 1: 47)

Dan Muslim pula meriwayatkan dari Anas ra. dari Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam katanya: Orang yang tidak suka kepada sunnahku, bukanlah dia dari golonganku! Demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Umar ra. cuma ada tambahan di permulaannya berbunyi: Barangsiapa yang berpegang kepada sunnahku, maka dia dari golonganku.

Kemudian Daraquthni pula mengeluarkan sebuah Hadis dari Siti Aisyah r.a. dari Nabi Shalllallahualaihi wassalam katanya: Sesiapa yang berpegang kepada sunnahku akan memasuki syurga!

Dan dikeluarkan oleh As-Sajzi dari Anas ra. dari Nabi Shallalllahualaihi wasssalam katanya:

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mengasihiku, dan siapa yang mengasihiku dia akan memasuki syurga bersama-sama aku!
(QS: Al-A’raf Ayat: 157-7)

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
o (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang maa´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

mengikuti dan mempercayai rasul dan menolong rasul dengan perjuangan serta menegakan risalah Islam dan memuliakanya serta melaksanakan perintahnya sesuai petunjuk dari alquran…
athiullah waathiurrasul (3:32). Katakanlah: “Ta’atilah Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala tidak menyukai orang-orang kafir”.)….relevansi dg perintah Allah subhanahu wata’ala a dalam
surat ali imran…

kul inkuntum tuhibbunallah fatthabiuni yuhbibkumullah…jika kamu ingin dicintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mengampuni dosa2mu (3:31)…

jadi…apa yang diberikan rasul kepadamu terimalah dan apa yang dilarang rasul maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah subhanahu wata’ala sesungguhnya siksa Allah subahanhu wata’ala sangat sangat kejam(59.7)… (tidaklah kami utus seorang nabi melainkan untuk diikuti dan ditaati, 4.64) dan dalam sabda baginda…

o faman raghiba an sunati falaisa minni …
o (barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku maka dia bukan umatku … 810

Continue reading...

PERINGATAN ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

Sat, Nov 8, 2014

Comments Off

PERINGATAN ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA DAN RASULULLAH SHALLALLAHUALAIHI WASSALAM

A.PERINGATAN ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

Allah Ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Footnote:Manusia yang dimaksud adalah dari : keturunan rasulullah shallallahu alaihi wassalam (nasab,habib.sayyid,syarifah),keturunan para sahabat rasulullah,keturunan khulafa ur rasyidin,keturunan wali wali Allah,keturunan kyai,keturunan Ustadz ) dan awami ( ummat islam non keturunan/awami).

Di manakah posisi/derajat kita di sisi Allah subhanahu wata’ala saat kini ?
Firman Allah subhanahuwata’ala yang artinya,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah subhanahu wata’ala ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Sebagian kita memahami “di sisi” Allah subhanahu wata’ala adalah semata-mata kejadian kelak di akhirat nanti. Namun sesungguhnya posisi/derajat manusia di sisi Allah subhanahu wata’ala berlangsung ketika kehidupan di dunia.
Ada sebagian muslim “berani” melakukan perbuatan yang dilarang Allah subhanahu wata’ala , sesungguhnya karena tidak merasakan “di sisi” Allah subhanahu wata’ala . Padahal Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.
Sedangkan ada sebagian muslim karena posisi/derajat nya lebih mulia “di sisi” Allah subhanahu wata’ala ,maka Allah subhanahu wata’ala berikan jalan keluar dan Allah subhanahu wata’ala berikan rezeki dari arah yang tidak disangka dan Allah subhanahu wata’ala mencukupkan (keperluan)nya
Sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah subhanahu wata’ala niscaya Allah subhanahu wata’ala akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Benarlah, manusia di sisi Allah subhanahu wata’ala ketika kehidupan di dunia bahkan dimulai sejak manusia diciptakan.
Menurut para ahli Tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama, yaitu bangunan jasmani dan ruhani.
Bangunan jasmani manusia diciptakan melalui enam proses kejadian yaitu:
1. Sari pati tanah
2. Nuftah
3. Segumpal darah
4. Segumpal daging
5. Pertumbuhan tulang-belulang
6. Pembungkusan tulang-belulang
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya, “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati tanah itu air mani yang ditempatkan dengan kokoh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dari segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (QS Al Mu-minun (23): 12-14)
Setelah melalui enam tahap proses tersebut maka jasmani manusia boleh dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila dipandang dari sudut jasmaniah, tetapi apabila dipandang dari sudut Ruhaniah, manusia yang belum ditiupkan Ruh-Ku belumlah dapat disebut manusia sempurna. Oleh karenanya itu, pada
proses kejadian yang ketujuh, Allah subhanahu wata’ala meniupkan sebagian Ruh-Nya kepada jasmani manusia.
Pada saat itulah manusia tersebut bisa dikatakan sebagai manusia yang sempurna baik jasmani maupun ruhani.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka jika Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. (QS Al Hijr (15):28-30)
Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.
“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Ruh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)
Menurut tinjauan ahli Tasawuf, di bagian kepala manusia terdapat
tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi, yaitu,

1. Dua lubang telinga sebagai sumber (alat) pendengaran.
2. Satu lubang mulut sebagai sumber (alat) pengucapan dan pengecapan
3. Dua lubang mata sebagai sumber (alat) penglihatan
4. Dua lubang hidung sebagai sumber (alat) pernapasan.
Ketujuh buah lubang (pintu) yang ada di kepala manusia tersebut secara simbolis diinformasikan Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an dengan istilah “tujuh buah jalan” yang ada di atas badan manusia.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas (badan) kamu tujuh buah jalan dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” (QS Al-Mu’minun (23):17)
Tujuh lubang ini disebut juga sebagai “pembuka”, karena dengan tujuh lubang inilah, manusia berhasil membuka segala rahasia pengetahuan, baik yang bersifat lahir maupun batin.
Proses terjadinya aktifitas alat inderawi tersebut yang terwujudkan dalam bentuk pendengaran, pengucapan atau pengecapan, penglihatan dan pernapasan inilah yang disebut kiasan “tujuh buah jalan” yang dapat memberi petunjuk karena dengan adanya empat inderawi tersebut maka manusia mendapatkan pengetahuan tentang masalah apapun yang sedang dipelajarinya.

Pada tubuh manusia, total keseluruhan terdapat sepuluh lubang inderawi, yaitu tujuh di kepala dan tiga lubang dibagian badan yaitu lubang pusar, lubang anus dan lubang kemaluan.

Khusus untuk
lubang pusar sudah tidak berfungsi sejak manusia dilahirkan.
Sehingga yang berfungsi secara maksimal adalah Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia.
Apabila dikaitkan dengan keadaan bayi dalam kandungan maka dapat terlihat bahwa Sembilan lubang yang ada pada tubuh bayi tidaklah berfungsi, hal ini dikarenakan seorang bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.
Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan ruhani bayi telah hidup sempurna. Peristiwa ini dialami oleh seorang bayi selama kurang lebih sembilan bulan. Dalam bahasa Tasawuf, keadaan ini disebut dengan peristiwa dimana seorang bayi berada dalam Jannah yang berada di bawah telapak kaki ibu selama Sembilan bulan.
Sayangnya setelah bayi itu tumbuh dewasa, dia tidak dapat mengingat perjalanannya ketika berada dalam kandungan rahim ibunya. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah subhanahu wata’ala .
“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)
“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).
Sejak bayi dalam kandungan yang bersih dan suci telah keadaan “menemui” Allah subhanahu wata’ala .
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah subhanahu wata’ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)
Setelah anak manusia terlahir ke dunia, keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.
Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.
Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak.
Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.
Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam bersabda:

“Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala ), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala . Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.
Lalu bagaimana arah tujuan pendidikan anak berdasarkan Islam
Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana seharusnya tujuan pendidikan anak.
Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al Furqaan 25: 74)
…“Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”” (QS. Al A’raf 7: 189)
…“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah subhanahu wata’ala …” (QS. Ali Imran: 110)
Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak:
(1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyenang hati / penyejuk mata dan orang-orang bertaqwa
(2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh
(3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
Kemudian setelah anak dewasa dan mampu dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang didapatnya mereka akan mengarungi kehidupan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadist.
Dengan kemampuan merekalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Hadist, mengupayakan posisi/derajat di sisi Allah subhanahu wata’ala . Sebagian mereka yang dianugerahi Allahsubhanahu wata’ala ilmu pengetahuan mendapatkan posisi/derajat yang lebih baik sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya,

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Mujaadilah 58: 11)

Upaya kita mendapatkan posisi/derajat yang lebih baik di sisi Allah subhanahu wata’ala , salah satunya dengan mengendalikan hawa nafsu atau mengendalikan tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi.

Hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita, dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Nafsu Amarah yang bentuk perwujudannya berupa sifat marah, dengki, ujub dan syirik.
Nafsu ini sumbernya di telinga yang dapat timbul melalui hantaran pendengaran. (Dua lubang telinga, disimbolkan pintu Umar bin Khatab)
1. Nafsu Lawamah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat rakus, tamak, loba dan malas.
Nafsu ini sumbernya di mulut yang dapat timbul melalui hantaran pengucapan atau pengecapan. (Satu lubang mulut disimbolkan pintu Ali bin Thalib)
2. Nafsu Sufiyah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat cinta, kekaguman, dan keindahan.
Nafsu tersebut berada pada mata yang akan timbul melalui hantaran penglihatan. (Dua lubang mata disimbolkan pintu Usman bin Affan)
3. Nafsu Mutmainah yang termanifestasikan dalam sifat ketenangan dan kedamaian.
Nafsu tersebut berada di hidung yang dapat timbul melalui hantaran pernafasan. (Dua lubang hidung disimbolkan pintu Abu Bakar)
Ke empat nafsu yang termanifestasikan dalam bentuk pendengaran, pengucapan (pengecapan), penglihatan dan pernafasan.

pada akhirnya akan menimbulkan “hawa” yang berbentuk rasa jasmani yakni
1. Rasa Pendengaran.
2. Rasa Pengecapan atau pengucapan
3. Rasa Penglihatan
4. Rasa Pernafasan atau penciuman
Semua bentuk “rasa” tersebut bersifat ghaib atau bathin yang tidak berwujud tetapi bisa dirasakan keberadaannya. Ke-empat rasa dari nafsu tersebut dapat dimatikan maupun dihidupkan, tergantung dari bagaimana kita menutup atau membuka “pintu” keluar masuknya rasa dari sumber nafsu tersebut.
Cara menutup pintu hawa nafsu tersebut, dengan mempergunakan “alat” yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada setiap manusia, sesuai firman Allah yang artinya:

“Carilah Akhirat dengan “alat” yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia” (QS Al Qashash 28: 77)

“Tatkala aku berada di sisi Rasulullah Shallalllahualaihi wassalam , tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu ?” lantas beliau memerintahkan supaya pintu di tutup dan bersabda “Angkat tangan kamu” (HR Al Hakim)
“Tutup pintumu dan ingatlah Allah subhanahu wata’ala ”. (HR Bukhari).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi shalllahulahiwassalam ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Prosesi “menutup pintu” hawa nafsu yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan

“Takbiratul Ihram”, (Takbir Larangan) yang mempunyai arti bahwa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali sholat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktifitas inderawi seperti mendengar, melihat, dan berbicara kecuali bernafas (simbol pintu Abu Bakar), karena kita sedang berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala (bertawajuh).

Hal ini sesuai dengan firmanNya yang artinya,

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS Al An’am 6: 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita sholat, bahwa kita menyadari sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah suhanahuwata’ala , yang Maha Suci (bertawajuh). Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa

“Sholatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”.

Jika keadaan ini terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah subhanahu wata’ala . Kita juga tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah subhanahu wata’ala .
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikan sholat. Sesungguhya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah subhanahu wata’ala dalam (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain)” (QS Al Ankabut 29: 45)
Allah subhanahu wata’ala memberikan gelar kepada orang yang sholat tidak sesuai dengan ikrar/sumpahnya sebagai sholatnya orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah subhanahu wata’ala dan Allah subhanahu wata’ala akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk Sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka dzikrullah (menyebut Allah) kecuali hanya sedikit sekali” (QS An-Nisa 4: 142)

Ketika melakukan sholat, ada kalanya mengalami rasa jenuh dan tidak kusyu’, padahal dalam doa if’titah kita telah berikrar bahwa kita sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah subhanahuwata’ala . Hal ini terjadi karena tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.

Nabi Muhammad Shalllalahualaihi wassalam bersabda, bahwa
“sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin”. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah subhanahu wata’ala .

Apakah kita bisa “bertemu” dengan Allah subhanahu wata’ala ketika Sholat ?
Sebagian orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia. Akibatnya kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat Sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.
Dilain pihak ada orang yang melakukan sholat, telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai kusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari “kesadaran sholat”. Allah subhanahu wata’ala telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi karena Allah subhanahu wataala

‘…. maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Ma’un 107: 4-6)

Perihal itu terjadi bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah subhanahu wata’ala yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Allah subhanahu wata’ala .

“… maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku” (QS Thaha 20: 14)
“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”(QS Al A’raaf 7: 205)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman

ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Allah subhanahu wata’ala , bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang dilakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan orang, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

“Jangan engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)… “ (QS An nisa 4: 43)

Nahyi (larangan) ditujukan kepada mushalilin agar tidak melakukan sholat jika masih belum sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Khaliq. Larangan itu merupakan syarat mutlak dari Allah subhanahu wata’ala .

Coba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apalagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah subhanahu wata’ala akan murka, yang ditunjukkan dengan perkataan yaitu
“maka celakalah orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-ma’un 107: 4-6)”

SURAT AL MA’UN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ ﴿٧

Ara-ayta alladzii yukadzdzibu biddiini, fadzaalika alladzii yadu”u alyatiima, walaa yahudhdhu ‘alaa tha’aami almiskiini, fawaylun lilmushalliina, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuuna, alladziina hum yuraauun, wayamna’uuna almaa’uuna.

Artinya:
1). Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2). Itulah orang yang menghardik anak yatim
3). Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
5). (yaitu) orang-orang yang lalai /tdk faham dalam shalatnya]
6). Orang-orang yang berbuat riya
7). Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Arti yang lain dengan maksud yang sama :
a.Aroaitalladzi yukadzdzibu biddiin
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (QS. 107-1)
fadzalikalladzii yadu’ul yatim
Itulah orang yang menghardik anak yatim,(QS. 107-2)
wala yahudhdhu alaa thoaamil miskiin
Dan tidak memberi makan orang miskin.(QS. 107-3)
b.fawailul lilmusholliin
Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat (QS. 107-4)
alladziina hum ansholaatihim saahuun
(yaitu) orang-orang yang lalai/tdk faham dalam shalatnya,(QS. 107-5)
alladziina hum yuraauun
Orang-orang yang berbuat riya’(QS. 107-6)
wa yamnauunal maauun
Dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS. 107-7)

riya’ ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah subhanahuwata’ala akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat. sebagian Mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

sholat dengan Tuma’ninah

(فصل) الأركان التي تلزمه فيها الطمأنينة أربعة : الركوع والإعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين .

Al-Arkaanu Allatii Tulzamu Fiihaththuma’niinatu Arba’atun : Arrukuu’u , Wali’tidaalu , Wassujuudu , Waljuluusu Bainassajdataini .

Rukun-rukun yang diwajibkan didalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:
1. Ketika ruku’.
2. Ketika i’tidal.
3. Ketika sujud.
4. Ketika duduk antara dua sujud.

الطمأنينة هي : سكون بعد حركة بحيث يستقر كل عضو محله بقدر سبحان الله .

Ath-Thuma’niinatu Hiya Sukuunun Ba’da Harkatin BihaitsuYastaqirru Kullu ‘Udhwin Mahallahu Biqodri Subhaanalloohi .

Tuma’ninah adalah
diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).

Allah subhanahu wata’ala juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyu dalam sholatnya

“Sungguh beruntunglah mereka yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya” (QS Al Mukminun 23: 1-2)

Al-Quran menyebutkan penyebab dicabutnya ilmu khusyu’, yaitu karena memperturutkan hawa nafsu dan melalaikan sholatnya. Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wata’ala juga telah menunjukkan jalan bagi yang mendapatkan kekhusyu’an

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al Baqarah 2: 45-46)

Semoga kita dapat merasakan menemui Allah subhanahu wata’ala , kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala , mengetahui posisi/derajat kita di sisi Allah subhanahu wata’ala .
Semakin kita dekat dengan Allah subhanahu wata’ala maka kita akan semakin sibuk dengan Allah subhanahu wata’ala , semakin jauh kita dengan Allah subhanahu wata’ala maka kita akan semakin sibuk dengan diri kita sendiri.
Semakin kita dekat dengan Allah subhanahu wata’ala maka kita yakin bahwa segala keperluan kita didunia , Allah subhanahu wata’ala akan mencukupkannya, sedangkan semakin jauh kita dengan Allah subhanahu wata’ala maka kita akan “kepayahan” dengan upaya sendiri memenuhi segala keperluan kita di dunia.
Orang yang dekat dengan Allah subhanahu wata’ala dikenal sebagai orang-orang Arif.
Orang-orang Arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah subhanahu wata’ala dan hanya melakukan perbuatan jika Allah subhanahu wata’ala yang berkenan bukan karena keinginan mereka sendiri.
Mereka paham bahwa Allah subhanhu wata’ala memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Jalan untuk dapat selalu menyibukkan diri dengan Allah subhanahu wata’ala atau mengetahui apa yang Allah subhanahu wata’ala berkenan adalah dengan “mengenal” Allah subhanahu wata’ala , yakni yang kita kenal ma’rifatullah. Dengan mengenal Allah subhanahu wata’ala (marifatullah) maka kita bisa memahami apa yang Allah subhanahu wata’ala berkenan.
Ilmu untuk mempelajari tentang ma’rifatullah itulah Ilmu Tasawuf.
Untuk mencapai pemahaman orang-orang arif tidak cukup dengan metode pemahaman secara harfiah atau tekstual akan tetapi melalui metode pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.
Sesuai dengan firman Allahsubhanahu wata’ala ,
“Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber akal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

BERSYUKUR…
“LAIN SYAKARTUM LA-ADZII DANNAKUM WALAIN KAFARTUM INNA AZABI LASYADIID”
Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu berfirman :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Orang yang paling beruntung dalam hidup ini bukanlah yg memiliki harta banyak,
pangkat tinggi, gelar,kedudukan dan lainnya, melainkan yg terpenting adalah:
1. Orang yang diberi nikmat kemudian ia bersyukur.
2. Orang yang ketika diberi ujian Allah subhanahu wata’ala kemudian ia bersabar, karena kesyukuran dan kesabaran itulah yang membuat dirinya semakin dekat dengan Allah subhanahu wata’ala .
Oleh karena itulah jika kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala meminta harta, ilmu dan pangkat, ini belum tentu akan membawa kebaikan bagi kita Bila tidak disertai dengan sikap bersyukur dan bersabar, mungkin sebaliknya itu akan menjadi fitnah. Tidak sedikit orang terkenal, tapi berakhir hidupnya dengan bunuh diri. Tidak sedikit orang yang berkedudukan tetapi terhina justru karena kedudukannya.
banyak orang yang menderita dengan keindahan rupanya. Orang yang berharta banyak tetapi
diliputi oleh rasa takut dan kekhawatir akan hartanya, sehingga bertambah kehinaannya karena ketamakannya.
Jadi kalau kita hendak berdoa kepada Allah subhanhu wata’ala , sertakanlah kita menjadi orang yang mengingati Nya dan banyak bersyukur di atas anugerah Nya. Karena boleh jadi nikmat itu berubah menjadi laknat atau azab bergantung pd sikap kita . Maka Rasulullah shallalllahualaihi wassalam aw. Mengajarkan, hendaklah senantiasa berdoa :

“ALLAHUMMA AINNI A’LA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIKA”.

Ya Allah jadikanlah kami hamba Mu yang sentiasa mengingati Mu dan Hamba mu yang senantiasa mensyukuri nikmat Mu, dan hamba Mu yang melakukan amal kebaikan karena Mu.

Akhi fillah,,,,,,.
Sering di antara kita lebih sibuk memikirkan nikmat yang belum ada dan belum sampai, padahal nikmat kita itu tidak akan tertukar, Allah subhanahu wata’ala menciptakan makhluk lengkap dengan rejekinya. kewajiban kita hanya usaha, ihktiar yg diiringi doa setelah itu Tawaktu alallah….biarlah Allah subhanhu wata’ala yg mengaturnya.

“WA MAA MIN DAABBATIN FIL ARDY ILLA A’LALLAHI RIZQUHAA”

Dan bagi setiap makhluk yang melata di muka bumi, Allahlah yang menanggung rizkinya.

Yang harus selalu kita risaukan adalah justru kita tidak mensyukurinya. Setiap nikmat kalau
disyukuri akan mendatangkan nikmat yang lebih besar. Setiap nikmat kalau disyukuri akan
membuka pintu nikmat yang lainnya. ……………Oleh karena itu, kegigigihan kita sebagai ahli syukur inilah yang sebetulnya harus kita miliki, kalau kita ingin menikmati hidup ini.
Ahli syukur, adalah seseorang yang hatinya tidak merasa memiliki dan dimiliki, kecuali menyadari semuanya milik Allah subhanahu wata’ala . Tidak ada nikmat sekecil apa pun kecuali dari Allah subhanhu wata’ala . Tidak ada istilah kebetulan, melainkan semua nikmat diatur oleh Allah subhnahu wata’ala . Sekali lagi Orang yang senantiasa bersyukur (ahli syukur) cirinya :
1. Sekecil apapun nikmat akan disyukurinya. Akibatnya akan merasakan kebahagiaannnya
sampai ke hal-hal yang kecil. Berbeda dengan yang tidak tahu bersyukur, dia letih dan susah
memikirkan nikmat yang belum ada. Akibatnya jangankan nikmat yang belum ada, yang sudah ada saja tak ternikmati. Ingatlah Ahli syukur tidak pernah kehilangan kesempatan untuk menikmati setiap nikmatnya, krn sikap syukurnya itu yang membuat ia nikmat.
2. Ahli syukur , Selalu memuji Allah subhanahu wata’ala dalam setiap kesempatan. Setiap kali ia mendapat pujian tidak merasa itu miliknya. Semua yang membuatkan kita dipuji adalah karunia Allah subhanahu wata’ala . Oleh karena itulah tidak layak kita menjadi orang yang menikmati pujian, sehingga kita membohongi diri sendiri. Sebaik-baik orang yang bersyukur, yang selalu berbahagia adalah yang ketika dipuji
mengembalikan pujian itu kepada Allah subhnahu wata’ala . Dengan Ucapan
“Al-Hamdulillah Rabbil A’lamin”
Segala puji hanyalah bagi Allah, hanyalah milik Allah, Tuhan sekalian alam.
3. Ahli Syukur, Selalu berterima kasih kepada orang yang menjadi jalan nikmat bagi dirinya.
Semua nikmat ada jalur-jalurnya. Mungkin nikmat kita melalui seseorang. Orang yang tahu
bersyukur itu senang sekali untuk merenungi dan mengingati kebaikan orang lain dan
membalasnya. Dan orang-orang yang bersyukur inilah yang akan menikmati kehidupan yang
penuh dengan nikmat.
4. Ahli Syukur, akan memanfaatkan nikmat yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lisan mengucapkan Al-hamdulilah kepada Allah subhanahu wata’ala dan terima kasih kepada sesama manusia. Dahi dipakai banyak bersujud. Mata dipakai melihat kebenaran ilmu dan Al Quran. Lidah dipakai banyak menyebut nama Allah, berdoa, menasehati kebaikan dan kebenaran, dan harta kekayaan dinafkahkan di jalan Allah.
Ingatlah bahwa Ilmu, kekayaan dan kesempatan adalah nikmat.
Allah subhanahu wata’ala menjanjikan setiap nikmat yang disyukuri akan mengundang nikmat yang lainnya. Tidak usah bingung terhadap nikmat yang belum ada, karena nikmat yang belum ada bukan urusan kita, itu hak mutlak Allah subhanahu wata’ala . Urusan kita mensyukuri nikmat yang ada.
Akhi fillah…….
Nikmatnya ahli syukur ialah akan bebas dari fikiran yang sia-sia, dari menyusahkan dirinya, bahkan akan dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mendapatkan nikmat-nikmat yang belum terpikirkan olehnya.
Kita yakinkan dalam diri kita : kita banyak angan-angan dan keinginan yang kita harapkan, tetapi tidak semua yang diharapkan akan kita dapatkan, kewajiban kita adalah mensyukuri apa yang kita peroleh, maka jadilah manusia Ahli Syukur.
Amin Allahumma Aminn………

Begitu banyaknya kenikmatan Allah Ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-hambanya tiada terhingga dan tidak terhitung. Dan demikian luasnya rahmat Allah Ta’ala yang diturunkan ke muka bumi ini untuk seluruh makhluknya. Khususnya kepada bangsa manusia, berupa nikmat bentuk manusia yang paling baik. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4).
Dan manusialah yang pertama kali disebut oleh Allah subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahualaihi wassalam .
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS Al’Alaq :1-2)
Allah Ta’ala telah memberikan segala fasilitas kehidupan yang ada di muka bumi ini ditundukkan untuk manusia:“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (QS Al-Baqarah : 29). Belum lagi kenikmatan-kenikmatan lain baik itu jasmani maupun rohani, berupa pendengaran, penglihatan, semua indra dan anggota tubuh yang sempurna, demikian pula nikmat hidayah iman, islam, bisa memahami tuntunan Rasulullah shallallahualaihi wassalam dan mengamalkannya dalam setiap sisi kehidupan kita, Maha suci Allah yang tidak terhitung banyaknya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18)
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim: 34 )
Kewajiban Bersyukur
Bersyukur merupakan kewajiban setiap hamba Allah Ta’ala kepadaNya sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu berfirman ; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS Ibrahim: 7)
Dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala sangatlah banyak:“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152)
Berkata Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- :“Ingatlah kepada-Ku dengan menaati-Ku, niscaya Aku akan mengingatkanmu dengan pertolongan-Ku.”
Dari Zaid bin Aslam bahwa Nabi Musa as berkata : “Wahai Rabbku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu?” Allah berfirman kepadanya: “Kamu mengingat-Ku dan tidak melalaikan-Ku, jika engkau telah mengingat-Ku berarti engkau telah bersyukur kepada-Ku, namun jika engkau melalaikan-Ku berarti engkau telah mengkufuri-Ku.”(HR Ibnu Abbas)
–semoga Allah meridhai keduanya- : “Ingatlah Allah terhadapmu lebih dari ingatnya kamu kepada Allah.”
Dalam hadits yang shahih, Allah Ta’ala berfirman : “Barang siapa mengingat-Ku pada dirinya, niscaya Aku akan mengingatmu pada diri-Ku dan barang siapa yang mengingat-Ku di hadapan khalayak niscaya Aku akan menyebutmu di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka.”
“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”” (QS Al-Israa : 111).
“Do’a mereka di dalamnya Ialah: “Maha suci Engkau ya Allah“, dan salam penghormatan mereka Ialah: “Salam”. dan penutup doa mereka Ialah: “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam“”. (QS Yunus : 10).
“Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS Saba : 13).
Ayat-ayat Allah Ta’ala sangat banyak sekali yang memerintahkan kita untuk mensyukuri akan kenikmatan-Nya dan tidak mengkufurinya.
Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- dalam syarah Riyadhus Shalihin: “Berkata Imam an-Nawawi -semoga Allah merahmatinya- dalam kitab Riyadhus Shalihin dalam bab “Memuji Allah dan mensyukuri nikmat-Nya “ : Memuji Allah artinya menyifati Allah dengan berbagai pujian dan sifat-sifat sempurna dan menyucikan-Nya dari berbagai hal yang menafikan sifat-sifat itu dan bertentangan dengannya. Dialah Allah yang berhak dipuji atas semua karunia dan anugerah-Nya dengan kesempurnaan sifat-Nya, dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya. Dan Allah Ta’ala telah memuji diri-Nya di awal penciptaan makhluk-Nya, denga firman-Nya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Yang mengadakan gelap dan terang, Namun orang-orang kafir mempersekutukan(sesuatu) dengan Rabb mereka.”
Dan Allah Ta’ala memuji diri-Nya ketika menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam):“Segalapuji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an dan Dia tidak menjadikan kebengkokan di padanya.”;
Allah Ta’ala memuji diri-Nya atas kesucian-Nya dari sekutu dan tandingan:
“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS Al-Israa : 111).
Hal Yang Mengharuskan Bersyukur
Jika seorang pemuda telah memiliki islam dan kebutuhan pokoknya
Dia dalam kondisi sehat jasmani dan keadaan aman Sungguh telah memiliki seluruh dunia dan menguasainya Kewajiban baginya adalah bersyukur pada Allah Yang Maha Memberi. Perhatikanlah penggalan syair di atas yang menunjukan kepada kita hal-hal yang megharuskan kita senantiasa bersyukur kepada Allah Rabbul ‘Izzah yang Maha Memberi, di antaranya adalah:
1. Islam, yang telah menyelamatkan seorang muslim dari kerugian dan kebinasaan, serta menyukseskannya dalam kebahagiaan. Inilah agama Allah yang Allah telah ciptakan manusia untuk mengikutinya dan tidak menerima agama selain agama Islam. Agama yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah akan kesempurnaannyadan telah diridhai.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tidak ada perselisihan orang-orang yang telah diberi Al-Kitab melainkan sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS Ali Imran : 19).
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali-Imran : 85)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS Al Ma’idah : 3)
Itulah agama yang mulia, sempurna, universal, yang mengajak kepada kebahagiaan yang abadi dunia dan akherat.
2. Mendapatkan kebutuhan pokok yang bisa menegakkan jasadnya.
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).” (QS Ar Rum : 40)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya,semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Huud : 6)
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk : 15)
3. Badan yang sehat berupa akal, pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, mulut, dan semua anggota badan, sebagaimana dikatakan : “Sehat adalah mahkota yang ada di kepala orang yang sehat, tidak ada yang mengenalnya kecuali orang yang sakit.”
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An Nahl : 78)
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (Jalan Kebajikan dan Jalan Kejahatan),” (Al Balad : 8-10)
Rukun Bersyukur
Sesungguhnya hakikat dari bersyukur itu adalah memuji kepada yang telah memberi kebaikan. Dan bersyukurnya seorang hamba terhadap Rabbnya tidak lepas tiga pilar, yang seorang hamba tidak dikatakan bersyukur kecuali jika terkumpul padanya tiga pilar ini :
1. Mengakui kenikmatan Allah subhnahu wata’ala dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Bahwa kenikmatan itu merupakan wasilah dari Allah subhanahu wata’ala untuk menghubungkan dirinya kepada Allah Ta’ala, sebagai karunia dan anugerah dariNya, bukan dari daya dan kekuatannya sendiri.
2. Menceritakan kenikmatan itu secara lahiriyah, memuji kepada Allah Ta’ala dan mensyukurinya serta tidak menyandarkan kenikmatan itu kepada selain Allah Ta’ala, seperti kisahnya Qarun ketika dinasehati oleh kaumnya dan mengingkarinya.
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkankepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Ta’ala telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah Ta’ala sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah Ta’ala adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tidaklah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS Al Qashas : 76-81)
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS Ad Dhuhaa : 11)
Dalam atsar yang marfu’ diriwayatkan : “Bahwa barangsiapa yang tidak bersyukur dengan kenikmatan yang sedikit maka tidak akan bersyukur dengan kenikmatan yang banyak, barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia maka hakikatnya tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala , menceritakan akan kenikmatan Allah Ta’ala adalah syukur, meninggalkannya adalah kufur, jama’ah (persatuan) adalah rahmat sedang furqah (perpecahan) adalah adzab.“ (HR. Thabrani dan yang lainnya, lihat Majmu’ Zawaaid Al-Haitsami : 8 / 81 -82)
3. Menggunakan kenikmatan Allah Ta’ala untuk menggapai ridha-Nya dan dimanfaatkan dalam ketaatan kepada-Nya.

Continue reading...
Older Entries Newer Entries