Selamat Datang Di Situs Berita Nasional Alfitrah Indonesia Online
ALFITRAH INDONESIA | Situs Berita Nasional

Diabetes & TB Paru

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Dok saya adalah penderita DM yang tidak patuh, tahun 2009 saya dirawat di RS surabaya ok tb paru, setelah sudah baik saya diperbolehkan pulangdan diberi obat insulin injeksi dan obat program tb, setelah saya minum selama +- 6 bulan saya merasa agak baik, tetapi 2 bulan kemudian saya terserang batuk kembali, dan saya mengkonsumsi obat tb program selama 4 bulan saya merasa baikan, tetapi bulan berikutnya koq batuk sampai muntah darah padahal saya sedang mengkonsumsi obat tb program. Yang ingin saya tanyakan mengapa pengobatan saya kurang berhasil dan apa pengaruh diabetes ke tb paru, hasil pemeriksaan rontgen terlihat ada 1 kavitas di paru kanan dan 1 kavitas diparu kiri dengan DD abses paru, atas jawabannya saya sampaikan terima kasih

Diabetes dan TB paru sama-sama merupakan penyakit kronis (berlangsung lama) dengan penyembuhan yang lama. karena itu kedua penyakit ini sama-sama dapat menurunkan imunitas (daya tahan tubuh) karena proses infeksi dari tb dalam waktu lama dan gangguan metabolisme gula darah pada diabetes. Kebanyakan orang yang diabetes karena memiliki pertahanan tubuh yang kurang karena proses penyakitnya, gampang terkena infeksi, salah satunya adalah tb paru. 
Penanganan kedua penyakit ini harus saling berdampingan. Seperti yang Anda katakan bahwa Anda tidak patuh dalam pengobatan diabetes, proses infeksi tb pun akan sulit disembuhkan total dan dapat terjadi kekambuhan seperti yang Anda alami. 
Saran kami adalah Anda berobat diabetes dan tb paru secara disiplin. Dan konsultasikan ke dokter Anda mengenai keluhan Anda. Bila tb paru terus berulang atau tidak kunjung sembuh, kemungkinan Anda resisten (kebal) terhadap pengobatan TB, dan perlu obat pengganti untuk TB yang resisten terhadap obat TB lini 1. 
Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Continue reading...

Perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Perdarahan yang terjadi dari vagina dapat disebabkan oleh bergai penyebab seperti menstruasi, infeksi, perlukaan pada organ genitalia. Perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual disebut post coital bleeding. Perdarahan ini dapat terjadi sebagai akibat dari adanya erosi atau perlukaan pada vagina ataupun akibat robekan selaput dara pada perempuan yang baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Terkadang, hal ini tidak terjadi dikarenakan selaput dara yang dimiliki sangat elastis sehingga tidak terjadi robekan saat melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya dugaan kami terhadap hal yang saat ini Anda alami dimana perdarahan baru terjadi setelah Anda melakukan hubungan seksual yang kedua kalinya. Namun, yang Anda perlu perhatikan adalah apakah perdarahan terjadi dalam jumlah banyak, terus menerus dan berlangsung lama? serta apakah perdarahan disertai oleh gejala lain seperti gatal, nyeri ataupun adanya lendir yang berwarna kehijauan dan berbau? Hal-hal tersebut perlu diperhatikan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari perdarahan paska bersenggama
Berikut ini merupakan beberapa penyebab lain terjadinya perdarahan setelah melakukan hubungan seksual :
Peradangan pada leher Rahim(serviks). Hubungan seksual yang dilakukan saat seorang wanita sedang mengalami peradangan serviks dapat menimbulkan perdarahan.  Kondisi ini umumnya terjadi pada wanita muda, wanita hamil, dan mereka yang memakai kontrasepsi pil
Polip serviks atau polip Rahim
Infeksi menular seksual seperti yang disebabkan oleh klamidia, gonorea, trikomonas, dan jamur
Vaginitis atropi yang umum terjadi karena kekurangan hormon estrogen, terutama pada wanita post menopause. Kurangnya lendir pada vagina menyebabkan hubungan seksual menjadi nyeri dan dapat terjadi perdarahan
Kanker leher Rahim(servikx)
Displasia serviks. Perubahan pre-kanker pada kanker leher rahim. Risiko meningkat dengan riwayat infeksi seksual sebelumnya, berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun, melahirkan anak sebelum usia 16 tahun
Mioma rahim yaitu tumor jinak yang berasal dari dinding otot rahim
Apabila perdarahan yang timbul hanya sedikit dan tidak berlanjut, Anda tidak perlu merasa khawatir karena mungkin perdarahan tersebut timbul akibat perlukaan pada vagina (misal karena kurangnya cairan pelumas atau kekeringan, gesekan kuat, penggunaan kondom yang mengiritasi, kuku jari, dsb). Namun, jika perdarahan terjadi terus menerus dan dalam jumlah banyak maka kami sarankan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk mencari penyebab yang mendasarinya. 
Demikian penjelasan yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat
Salam

dr. Puspita Komala Sari

Continue reading...

Berteman dengan Non Muslim, Bolehkah?

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Bolehkah berteman dengan non muslim?

Tentu saja berteman dengan non muslim dapat mempengaruhi seorang muslim. Bisa jadi kita mengikuti tingkah laku mereka yang jelek, bahkan bisa terpengaruh dengan akidah mereka. Ingatlah, sahabat itu bisa menarik dan mempengaruhi. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi)”.

Ahli hikmah juga menuturkan,

يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ

“Seseorang itu biasa dinilai dari siapakah yang jadi teman dekatnya.”

Hal di atas sejalan dengan hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Hadits berikut dengan sangat jelas menuntun kita untuk memiliki teman duduk yang baik. Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)

Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar mencari teman dari yang beriman. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ

“Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan hadits yang dimaksud adalah dilarang bersahabat dengan orang kafir dan munafik karena berteman dengan mereka hanyalah membahayakan agama seseorang. (‘Aunul Ma’bud, 13: 115)

Bahkan setiap orang akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama dengan orang-orang yang ia cintai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلاَّ جَاءَ مَعَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan ia akan datang bersama mereka pada hari kiamat.” (HR. Abu Ya’la no. 4666 dengan sanad yang shahih dan perawinya adalah perawi Bukhari-Muslim. Hadits ini memiliki jalur lain yang menguatkan. Lihat Majma’ Az Zawaid 1: 37 dan Silsilah Ash Shahihah no. 1387). Lantas kalau yang dicintai dan menjadi teman karib adalah orang kafir, bagaimana nasibnya kelak?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah mengungkapkan, “Makan bersama orang kafir tidaklah haram jika memang dibutuhkan atau ada maslahat yang syar’i. Namun non muslim sama sekali tidak boleh dijadikan sahabat, sampai makan bersama mereka tanpa ada sebab yang dibenarkan atau tidak ada maslahat. Akan tetapi, jika ada hajat seperti makan bersama tamu atau untuk mendakwahi mereka memeluk Islam, mengajak mereka pada kebenaran, serta sebab lainnya, maka tidaklah masalah.

Kalau dibolehkan makan makanan ahli kitab, bukan berarti boleh menjadikan mereka sebagai teman karib dan teman duduk. Jadi, itu bukan pembolehan untuk bersama-sama dengan mereka dalam makan dan minum tanpa ada hajat dan maslahat.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 9: 329).

Hanya Allah subhanahuwata’ala yang beri taufik dan hidayah.

Continue reading...

Ajaran Islam Tidak Membuat Susah

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Ajaran Islam Tidak Membuat Susah

Ternyata ajaran Islam tidaklah membuat susah. Ajaran Islam itu mengandung rahmat dan petunjuk hidayah. Sehingga orang yang menjalankan ajaran Al Qur’an dan Sunnah akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا (4)

“Thoha. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” (QS. Thoha: 1-4).

Faedah pertama

Ayat kedua dari surat Thoha menerangkan bahwa ketika Al Qur’an diturunkan oleh Allah pada Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu beliau dan sahabatnya membacanya, lantas orang-orang musyrik Quraisy berkata, “Al Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad melainkan hanya membuat susah.” Lantas turunlah ayat di atas, surat Thoha ayat 1-4. Demikian kata Juwaibir dari Dhohak. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Sehingga ayat di atas menunjukkan bahwa Al Qur’an itu bukan menyusahkan umatnya, malah mempermudah. Oleh karenanya, Qotadah mengatakan,

لا والله ما جعله شقاء، ولكن جعله رحمة ونورًا، ودليلا إلى الجنة

“Tidak, wallahi (demi Allah), Al Qur’an tidaklah diturunkan untuk menyusahkan. Akan tetapi, Al Qur’an adalah rahmat dan cahaya, serta petunjuk menuju surga.”

Faedah kedua

Al Qur’an itu mendatangkan kebaikan yang banyak. Disebutkan oleh Ibnu Katsir, “Tidaklah seperti yang disangkakan oleh orang musyrik. Bahkan siapa yang Allah beri ilmu, itu berarti diinginkan padanya kebaikan yang banyak. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari-Muslim, dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka ia akan diberi kepahaman dalam agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).”

Faedah ketiga

Al Qur’an berisi perinngatan halal dan haram. Dalam ayat yang kita kaji disebutkan,

إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى

“Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)”, yang dimaksud adalah bahwa Allah menurunkan kitab-Nya dan mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat, tanda kasih sayang pada hamba. Juga pengutusan tersebut bermaksud sebagai jalan sampainya peringatan sehingga yang mendengarnya bisa mengambil manfaat. Peringatan yang diturunkan oleh Allah ini mengandung halal dan haram. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

Faedah keempat

Al Qur’an adalah sebagai peringatan bagi orang yang takut pada Allah Ta’ala. Karena orang yang tidak takut pada Allah, tidak bermanfaat Qur’an bagi dirinya. Bagaimana bisa bermanfaat sedangkan ia tidak beriman pada surga dan neraka, juga dalam hatinya tidak ada khosyatullah (rasa takut pada Allah) walau seberat dzarroh (semut kecil)? Demikian nasehat berharga dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya. Oleh karenanya, dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى * وَيَتَجَنَّبُهَا الأشْقَى * الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. Al A’laa: 10-12).

Pelajaran penting dari pembahasan tafsir kali ini, Al Qur’an dan ajaran Islam tidak menyusahkan, bahkan ajaran yang mudah. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama Islam itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39).

Wallahu waliyyut taufiq, semoga Allah subhanahuwata’ala memberi taufik.

Referensi:

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir dan Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di.

 

Continue reading...

anak bunian

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Bunian atau biasanya disebut juga orang Ghaib ialah hasil campuran laki-laki atau perempuan Jin dengan laki-laki atau perempuan dari kalangan manusia. Anak yang dihasilkan dari percampuran itu dikenal dengan nama Bunian. Perangai dan tingkah laku serta bentuk rupa orang Bunian ini dalam beberapa hal mirip manusia dan juga mirip Jin.

Continue reading...

Bahaya Menguap Terus-Menerus

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Bahaya Menguap Terus-Menerus

pernah nggak menguap terus-terusan lebih dari 4x dalam 1 menit? Hati-hati… mungkin itu sinyal dari tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres! Bisa jadi karena terlalu banyak makan, terlalu pasif di depan komputer lebih dari 5 jam, diet berlebihan, atau bisa juga karena alasan lainnya.

Bahkan salah satu hadits shahih menyebutkan ketika ingin menguap, sebaiknya ditahan sebisa-bisanya:
Menguap itu termasuk dari (gangguan) setan, maka jika seorang dari kamu menguap, hendaklah ia menahan semampunya. (Shahih Muslim No.5310)

Apa yang sebenarnya menyebabkan kita terus-menerus ingin menguap?

Kurangnya oksigen di otak bisa menurunkan kewaspadaan dan konsentrasi terhadap pekerjaan maupun lingkungan sekitar. “Bila makanan yang masuk ke tubuh terlalu banyak, lambung akan sangat penuh, sehingga konsentrasi utama tubuh hanya mengurai makanan,” kata Prof. DR. Dr. Moh. Hasan Machfoed, Sp.S(K), MS, spesialis saraf dari RS Dr. Soetomo Surabaya.
Bila banyak oksigen digunakan untuk mengurai makanan, besar kemungkinan organ lain, misalnya otak, yang kekurangan zat O2. Sinyal yang muncul adalah menguap terus-menerus. Wah… bahaya kan Sob?! Untuk menghindari kondisi tersebut, Prof. Machfoed menyarankan agar kita makan tidak berlebihan.
Tetap mengonsumsi makan utama tiga kali sehari dengan makanan selingan di antara waktu makan utama, namun porsi disesuaikan dengan kapasitas lambung. Dengan pola makan yang teratur, fungsi lambung menjadi optimal. “Lambung jadi mampu membiasakan diri kapan mesti mengolah makanan dan kadar harus istirahat,” katanya.
Tanda Kelainan Saraf
Disebut menguap berlebihan jika dalam 1 menit seseorang menguap 1-4 kali. Menguap berlebihan bisa jadi tanda penyakit serius. Ini yang harus diwaspadai Sob!
“Ada beberapa hal yang terjadi ketika menguap. Rahang yang terbuka dan memungkinkan menghirup napas panjang. Hal ini, meski sesaat, menciptakan tekanan besar di paru-paru,” papar staf pengajar di Departemen Neurologi FK Unair ini.
Sebagian besar gangguan yang berhubungan dengan menguap berasal dari sistem saraf pusat, yakni epilepsi, radang otak, atau tumor otak. Menguap juga menjadi tanda dari reaksi vasovagal. Bisa juga menjadi tanda kecemasan atau rasa bosan.
“Orang menguap untuk berbagai macam alasan. Tidak selalu berarti mengantuk,” tuturnya.
Menurut Prof. Machfoed, ilmuwan percaya menguap dapat membantu kita menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di otak menurun yang bisa membuat kita sulit konsentrasi.
Umumnya, menguap tidak berbahaya, walau bisa juga menjadi pertanda kondisi medis yang serius. “Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti multiple sclerosis danamyotropic lateral sclerosis (ASL) akan menguap lebih sering dari orang normal,” tuturnya.
Orang dengan tekanan darah rendah, misalnya sekitar 90/60 mmHg, juga cenderung sering menguap yang diikuti rasa mengantuk. Tekanan darah rendah juga membuat orang sering pusing, cepat lelah, dan penglihatan kabur.
Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa jantung. Jika darah yang dipompa jantung semakin sedikit, akan semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya, jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dan yang bersangkutan menjadi sering menguap, pusing, atau lelah.
Banyak menguap, diungkapkan, juga bisa karena reaksi terapi radiasi untuk kanker, atau konsumsi obat-obatan seperti untuk penyakit parkinson. Beberapa antidepresan seperti paroxetine dan setraline bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik, pengidap skizofrenia justru jarang menguap.
Hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan, janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu. Namun, jika Anda kerap menguap, 1-4 kali dalam satu menit, jangan Began untuk ke dokter.
Sering menguap juga bisa dikarenakan kondisi kelelahan yang teramat sangat. Kelelahan ternyata bisa juga berhubungan dengan adanya infeksi saluran kencing, akibat kontaminasi bakteri Escherichia coli. Bila sering menguap melebihi Batas normal, cobalah memeriksakan urin ke dokter. Siapa tahu mengalami UTI (urinary tract infection).
Diet ketat sampai tubuh tak cukup mendapat asupan gizi, juga bisa mencetuskan kelelahan. Kalori sama halnya dengan energi. Mengonsumsi makanan dalam porsi seimbang akan membuat kadar gula darah terjaga normal, dan rasa kantuk enggan mendekat.
sumber: http://health.kompas.com 

Continue reading...

penyakit pengapuran tulang sendi lutut kaki stadium 2

Wed, Nov 12, 2014

Comments Off

apakah penderita penyakit pengapuran tulang sendi lutut kaki stadium 2 bisa sembuh total,
mengingat bunyi yang ada tidak bisa dihilangkan..

Ijinkan kami menjelaskan sedikit mengenai OA atau Osteoarthritis. Osteoarthritis atau dengkul kopong adalah peradangan sendi dan tulang akibat proses pengapuran tulang.

Biasanya, gangguan yang berkenaan pula dengan penyakit tulang rhematik ini hanya terjadi di sendi besar, terutama lutut.

Berbeda dengan Osteoporosis yang merupakan pengeroposan hampir di seluruh sendi tubuh.

Gejala yang timbul biasanya berupa kesulitan untuk berjalan, nyeri, cepat lelah, kesulitan untuk jongkok, dan gampang jatuh. 

Keluhan ini biasanya disebabkan oleh cedera, bekerja terlalu berat, terjatuh, sering melakukan olahraga berat, berat badan yang berlebih, dan proses penuaan.

Biasanya, keluhan ini lebih banyak melanda perempuan, terutama pada masa menopause di mana tulang-tulang mulai rapuh.

Osteoarthritis dapat disembuhkan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kerusakannya.

Pada tingkat yang ringan, penderita cukup mengatasinya dengan banyak istirahat dan mengubah pola makan serta posisi tubuh saat beraktivitas.

Pada tingkat menengah dan berat, dokter dapat melakukan beberapa tindakan mulai dari memberikan obat rematik atau anti inflamasi, suntik dengkul hingga tindakan operasi.

Terapi obat-obatan berupa antinflamasi non steroid merupakan penatalaksanaan utama pada OA. Pengobatan ini selain membantu menghilangkan gejala nyeri juga dapat mencegah perburukan yang dapat terjadi.

Penyuntikan (injeksi) kortikosteroid pada sendi dapat mengurangi nyeri untuk sementara, namun injeksi ini tidak boleh sering diulang karena merupakan dapat menyebabkan destruksi tulang.

Tatalaksana terhadap OA secara umum dapat dibedakan menjadi tatalaksana non bedah dan bedah.

Tatalaksana non bedah berupa obat-obatan, perubahan pola diet, fisioterapi, serta modifikasi aktivitas.

Perubahan pola makan dapat dilakukan dengan tidak mengonsumsi berbagai makanan yang kaya akan kandungan lemak dan kolesterol yang dapat meningkatkan berat badan dan memperberat OA yang terjadi.

Makan makanan 4 sehat 5 sempurna secara seimbang serta perbanyak buah dan sayur.

Sudah berapa lama Anda mengalami hal ini? Kami sarankan agar Anda mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam atau orthopedi untuk menilai kondisi Anda saat ini untuk penanganan yang optimal.

Bolehkah olahrga lari setiap hari?
Sebaiknya hindari olahrga lari karena lari menyebabkan beban lutut bertambah. Lutut akan menopang seluruh badan saat berjalan/berlari.

Gesekan yang terjadi saat lari dapat memperparah osteoarthritis.

Olahraga yang sebaiknya anda lakukan adalah jalan santai atau berenang.

Demikian informasi yang dapat kami berikan,semoga bermanfaat.

Continue reading...

DOA….

Wed, Nov 12, 2014

Comments Off

DOA….

“Tidak ada yang dapat menolak qadha kecuali do’a dan tidak ada yang dapat“ menambah umur“ kecuali al-birr (berbuat kebajikan)”

” MINTALAH PADA-KU (ALLAH)…… PASTI AKAN AKU KABULKAN ”
Begitulah Allah yang telah menjanjikan bahwa setiap doa pasti akan dikabulkan-Nya, Allah membenci orang yang tidak mau berdoa, sehingga Allah menganggap orang tersebut dengan sebutan orang yang SOMBONG,,yang tidak butuh lagi dengan anugerah2 atau pemberian-Nya.

APAKAH KITA MAU DIKETEGORIKAN ORANG YANG SOMBONG ?
tentu tidak kan…..! setiap doa pasti akan terkabulkan, kapan itu akan terealisasi WALLAHU A’LAM….! Yakinlah !!! ada kalanya doa terkabul dengan kontan, ada kalanya masih menunggu, tapi semua itu pasti terkabul, terkadang dikabulkan untuk kita pribadi, terkadang untuk keluarga kita. yang paling penting kita tetap ISTIQOMAH berdoa dan IKHTIAR wajib hukumnya…………………………
KEUTAMAAN DO’A
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Rabb kalian berfirman: Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu (tidak mau berdo’a kepadaKu) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika para hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a jika ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (AL-Baqarah: 186)

Nabi bersabda:

“Do’a itu adalah ibadah”.

Kemudian beliau membaca ayat: “Dan Rabb kalian berfirman: Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan.”

Beliau juga bersabda:

“Ibadah yang paling afdhal adalah berdo’a”.

Juga bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih mulia di sisi Allah daripada do’a”.

Juga pernah bersabda: “Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Maha Pemberi. Dia malu dari hambaNya yang jika mengangkat kedua tangan kepadaNya lalu kembali dengan tangan hampa”.

Juga bersabda:

“Tidak ada yang dapat menolak qadha kecuali do’a dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali al-birr (berbuat kebajikan)”

Juga pernah bersabda:
“Tiada seorang muslimpun yang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan tali kerabat kecuali Allah memberinya salah satu dari tiga perkara:

Bisa jadi dicepatkan do’anya, bisa jadi disimpan untuknya nanti di akhirat atau
bisa jadi dipalingkan darinya sebuah keburukan yang setimpal dengan kadar do’a tersebut.”

Maka para sahabat berkata: “Kalau demikian, kita perbanyak do’a”. Beliau menjawab: “Allah itu lebih banyak lagi (dalam mengabulkan do’a kalian).”
Juga bersabda:

“Sesungguhnya orang yang tak mau berdo’a kepada Allah, maka Allah memurkainya.”.
Juga bersabda:

“Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdo’a kepada Allah. sedangkan orang yang paling pelit adalah orang yang kikir dalam memberi salam”.
 
SYARAT DIKABULKANNYA DOA
Doa adalah ibadah. Orang yang tidak mau berdoa, Allah akan marah. Allah itu semakin cinta jika kita semakin cinta jika kita semakin banyak berdoa. Allah berfirman, sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau berdoa, maka dia akan masuk dalam neraka jahanam.
Jadi doa ini menjadi suatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Banyak orang yang bertanya bagaimana sebenarnya agar doa diterima? Sebenarnya semua doa itu hukum asalnya diterima selama dia penuhi syarat-syaratnya. 
Ada beberapa adab-adab dan syarat agar doa diterima Allah SWT, yakni ikhlas dalam berdoa. Kita betul-betul konsentrasi dan sungguh-sungguh jangan berdoa sementara hati kita lain. Jangan berdoa minta A, hati kita lari kemana-mana. Rasulullah bersabda, Allah itu tidak menerima doanya orang-orang yang yang lalai. Dalam artian tidak fokus dalam berdoa. Jadi dalam kita berdoa, hendaknya betul-betul konsentrasi dan sungguh-sungguh kalau perlu dengan menyebutnya berulang-ulang dengan kesungguhan hati.
Doa akan dikabulkan apabila keempat syaratnya telah terpenuhi.

Mari, fokuskan niat Anda. Namun perhatikan, niat saja tentu tidaklah cukup.

PERTAMA : Keyakinan akan terkabulnya doa.
Rasulullah SAW bersabda, “Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin akan terkabulnya doa itu.” (HR. Ath-Thirmidzi)

Beliau juga bersabda, “Jika salah satu diantara kalian berdoa, janganlah ia mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menginginkannya’. Namun hendaklah ia bertekad kuat untuk meminta.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Saudaraku, keyakinan akan terkabulnya doa adalah syarat pengkabulan itu sendiri. Jadi jangan sampai Anda berdoa kepada Allah SWT sementara Anda tidak yakin Allah SWT akan mengabulkan doa tersebut.

Sungguh, Anda benar, wahai Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra., ketika Anda mengatakan,
“Aku tidak membebani diriku dengan keinginan untuk terkabulnya doa. Aku hanya berharap agar tetap bisa berdoa.”

Mari, Saudaraku, manfaatkanlah kesempatan dan selamilah nilai-nilai yang akan menyelimuti Anda. Berdoalah kepada Allah SWT dalam kondisi yakin.

KEDUA : Kekhusyukan dihadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari seorang yang lalai dan tidak serius” (HR. Ath-Thurmudzi)

Ingatlah saudaraku, Anda sering berdoa selepas shalat namun Anda tidak merasakan apa yang Anda ucapkan, kecuali kata-kata “Allahumma”, atau kata-kata “amiin” Ya tampaknya Anda tertawa. Apakah hal ini benar.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya sedekat-dekat pintu masuk yang digunakan hamba untuk mendatangi Allah adalah kebangkrutan.”

Ya, itulah pintu masuk yang paling mudah. Kebangkrutan di sini adalah kebangkrutan dalam arti luas dan dalam dimensi beragam. Alangkah bahagianya orang yang terpaku di hadapan Rabbnya dan menyatakan kebangkrutan, sehingga ia pun khusyuk dan menghiba kemudian menangis. Saat itu, ia betul-betul yakin akan terkabulnya doa. Selamat, wahai yang merasa bangkrut, sebab Anda tengah menginginkan kekayaan.

Apakah setelah ini, Anda masih meragukan terkabulnya doa?
Seorang Tabi’in mengatakan, “Sungguh, saya tahu kapan doa saya akan dikabulkan.” Mereka bertanya, “Bagaimana itu bisa?” Ia menjawab,

“Jika hatiku telah khusyuk, kemudian badanku juga ikut khusuk’, dan aku pun mengalirkan air mata. Ketika itulah aku mengatakan doaku ini akan dikabulkan.”

Tidakkah Anda pernah merasakan perasaan ini sebelumnya?
Perasaan yakin muncul setelah usaha gigih dan tawakal kepada Allah SWT. Mari, Anda tidaklah kurang istimewa dari Tabi’in tersebut.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Tahukah kalian, bagaimana seharusnya seorang muslim berdoa?” Mereka bertanya, “Bagaimana itu, wahai imam?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan ia pun akan tenggelam? Kemudian orang ini berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Rabbi, selamatkanlah aku! Ya Rabbi selamatkanlah aku!’ Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdoa (kepada Allah).”

Saudaraku, rasakan keadaan dahsyat ini. Anda seorang diri hampir tenggelam sementara Anda tidak memiliki apa-apa selain sebatang kayu. Ya, nyatakanlah itu, dan tidak akan ada lagi yang mampu menyelamatkan Anda selain Allah SWT. Sehingga, Anda pun akan kembali kepada Allah SWT dan berdoa kepada-Nya dengan setiap sel Anda! Sungguh sebuah perasaan dahsyat yang akan menyelimuti Anda saat ini… Selamat bagi Anda yang merasakan hal ini setiap kali berdoa. Simaklah ayat berikut yang akan melahirkan keadaan di atas dengan sebuah ungkapan yang cukup simpel,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya….” (QS. An-Naml: 62)

Saudaraku, hiduplah didunia dalam kondisi serba “Kesulitan”, sebab tidak ada yang lebih mirip dengan dunia selain “lautan yang bergelombang”. Apa lagi yang Anda tunggu? Segera rasakan itu. Allah SWT pun akan memberikan kejayaan kepada Anda. Rasakan perasaan butuh Anda, maka Dia pun akan menganugerahkan kekayaan kepada Anda. Rasakanlah kelemahan Anda… maka, Dia pun akan mengulurkan kekuatannya kepada Anda.

Anda tidak akan pernah memunculkan perasaan-perasaan ini selain dengan kekhusyukan di hadapan-Nya.

KETIGA : Jangan tergesa-gesa
Syarat ketiga dikabulkannya doa adalah tidak tergesa-gesa, Rasulullah SAW bersabda, “Akan kukabulkan doa seseorang kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa dan berdoa, namun aku tidak melihat terkabulnya doaku’, sehingga ia pun tidak lagi berdoa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ath-Thirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang yang melakukan ini ibarat orang yang menemani ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih-benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, sehingga kemudian ia meninggalkannya begitu saja.

Orang yang melakukan ini ibarat orang yang menemani ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih-benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, sehingga ia meninggalkannya begitu saja.

Subhanallah! Mengapa Anda tinggalkan doa? Doa itu pasti akan dikabulkan! Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah SWTbertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, Apakah hambaklu berdoa kepadaku?” Jibril pun menjawab, “Ya.” Allah SWT bertanya lagi, “Apakah ia menghiba kepadaku dalam memintanya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka Allah SWT berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya.”

Tidakkah ungkapan, “Sebab Aku suka mendengar suaranya” ini berpengaruh di hati Anda? Ketergesa-gesaan adalah penyakit akut. Penyakit akan bertambah manakala sang pasien menyerah begitu saja pada penderitaannya!

Saudaraku, jangan menyerah pada penyakit ini, dan pergunakanlah obat kesabaran! Obat ini sekarang begitu banyak tersedia, bukan?

KEEMPAT : Hanya makan yang halal
Syarat terakhir terkabulnya doa adalah makan makanan halal. Jangan sekali-kali menghasilkan harta dari sesuatu yang haram.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak akan menerima selain yang baik. Allah memerintah orang-orang mukmin seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul.” (HR. Muslim dan Ath-Thirmidzi)

Firman Allah SWT., “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh…” (Al-Mu’minun: 51)

Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan, “Seseorang yang berpakaian compang-camping, penuh debu dan sedang dalam perjalanan jauh, mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berkata, “Ya Rabbi, Ya Rabbi”, tapi makanannnya adalah makanan haram, minumnya juga minuman haram, dan ia pun dulu diberi makan dengan makanan hasil sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”

Saudaraku, perhatikanlah keadaan orang yang digambarkan Rasulullah SAW diatas. Ia adalah seseorang yang berpakaian compang-camping dan berdebu. Artinya, ia seorang miskin yang amat membutuhkan Tuhannya, sehingga ia berdoa. Namun, ia memakan makanan yang haram.

Ada sebuah kenyataan pahit yang terasa bagai sambaran petir bagi setiap orang, atau bahkan lebih berat bagi setiap orang, atau bahkan lebih berat dari itu, yaitu “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?“ Ya Allah! Ulangilah kata-kata ini, “Bagaimana mungkin”, dan selami serta renungkan baik-baik! Anda akan merasakan sesuatu yang aneh di hati dan begitu menyesakkan dada.

Saudaraku tercinta, saya berpesan kepada Anda, untuk menjauhi segala yang haram. Rasulullan SAW bersabda, “Perbaikilah makananmu, maka akan dikabulkan doamu.”

SEBAB-SEBAB TIDAK DIKABULKANNYA DOA
 
Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.

Ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)
Kita semestinya menyadari bahwa ada banyak sebab mengapa sebuah doa tidak segera dikabulkan oleh Allah. Kita juga hendaknya paham bahwa hikmah besar pasti selalu ada di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut.
Pertama, bisa jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Misalnya, kita tidak menghadirkan hati, tidak khusuk dan tidak merendahkan diri saat berdoa, kita berdoa bukan pada waktu dimana doa akan mudah dikabulkan, atau kita belum memenuhi syarat-syarat doa penting lainnya.
Kedua, terkadang doa tidak terkabul dikarenakan sebab tertentu seperti karena dosa yang kita belum bertaubat darinya, karena dosa di mana kita tidak bertaubat dengan jujur darinya, karena makanan kita mengandung syubhat, atau karena ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Karena itu, kita hendaknya bertaubat dengan taubatan nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu hak orang lain tersebut masih ada pada diri kita. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya doa. Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.” Juga disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwasanya Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Oleh karena itu, kita harus berusaha membersihkan diri dari segala kotoran dosa yang bisa menjadi menghalangi ‘jalan-jalan’ terkabulnya doa.
Ketiga, bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita karena Ia sengaja hendak menyimpan pahala doa kita tersebut untuk Ia berikan kepada kita di akhirat kelak atau karena Ia hendak menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Jika di atas bumi ada seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Ia akan mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan dosa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim). Dalam riwayat Al-Hakim ada tambahan: “Atau Allah akan menyimpan pahala seperti doanya itu untuknya.” (HR Al-Hakim). Bisa jadi, ini lebih baik bagi kita, sebab dengan disimpannya pahala doa kita di akhirat dan baru diberikan kepada kita saat itu, maka hal itu akan mengangkat derajat dan martabat kita di akhirat. Saat itu, kita akan berbahagia dan bahkan berharap sekiranya seluruh pahala doa kita disimpan dan baru dibagikan di akhirat.
Keempat, penundaan terkabulnya doa merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah kepada seseorang. Allah ingin menguji iman orang itu. Ketika doa tidak segera dikabulkan, syetan membisikkan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang kita minta itu ada pada Allah. Tetapi mengapa doa kita tidak segera dikabulkan?” Begitu pula, syetan akan menyusupkan bisikan-bisikan jahat lainnya. Setiap muslim harus melawan bisikan-bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus sadar bahwa bisa jadi Allah tidak segera mengabulkan doanya karena Allah hendak menguji imannya. Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihatlah perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap seorang mukmin tidak akan berubah terhadap Tuhannya hanya karena doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.
Kelima, tidak segera dikabulkannya doa semestinya membuat seorang muslim tahu dan menyadari sebuah hakikat penting. Yaitu bahwa ia adalah hamba Allah, sementara Allah ia dalah pemilik segala-galanya. Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, baik memberi ataupun tidak memberi. Jika Allah mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Sedangkan jika Ia tidak memberi, itupun salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Perdamaian Hudaibiyah yang sepintas lalu merugikan Rasulullah dan kaum muslimin. Ketika itu beliau bersabda,

”Aku Rasulullah dan Allah tidak akan pernah akan menelantarkan aku.”
(HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Keenam, terkadang doa yang tidak segera dikabulkan justru akan membuat kita semakin dekat kepada Allah, terus bersimpuh di hadapan-Nya, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, tidak jarang jika permintaan kita dikabulkan, maka kita menjadi lebih sibuk, lalu kita tidak lagi ingat kepada Allah, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya adalah inti ibadah. Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan maka kita tidak berlindung kepada Allah.
Ketujuh, bisa jadi terkabulnya doa kita justru akan menjadikan kita berbuat dosa, akan berdampak buruk pada agama kita, atau akan menjadi fitnah bagi kita. Atau bisa juga apa yang kita minta itu sepintas lalu baik bagi kita padahal sebenarnya tidak baik bagi kita. Yang demikian ini terutama bagi seseorang yang mengajukan permintaan tertentu yang sangat spesifik kepada Allah dan tidak berdoa dengan doa-doa yang telah dituntunkan dalam Al-Qur’an atau yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu hendaknya kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Kedelapan, setiap doa punya ketentuan dan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini seseorang yang amat miskin dan tidak melakukan usaha yang signifikan berdoa agar ia menjadi milyarder kaya raya pada esok paginya. Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar.
Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan,
“Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.”
Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub ‘alaihissalam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, juga hilang, sampai-sampai kedua matanya buta karena kesedihan yang mendalam. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa semua penderitaan tersebut suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).
Demikian pula, Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Allah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan pada kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kuncilah mati hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88). Namun konon Allah baru mengabulkan doa beliau tersebut, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah “Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan” (Yunus: 89), setelah empat puluh tahun lamanya! Padahal yang berdoa adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul ‘Azmi, sedangkan yang mengamininya adalah Nabi Harun ‘alaihissalam, seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika berdoa. Sementara pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang sudah jelas manusia paling dzalim, fasik, dan kafir saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa tidak segera dikabulkan Allah, sebab doa tersebut adalah doa yang tidak sembarang doa. Diperlukan kerja keras dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Itulah yang dimaksud dengan takaran doa. Dan ini harus benar-benar kita pahami.
Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab sebuah doa tidak terkabul, berikut hikmah yang ada dibaliknya. Dengan mengetahui penyebab-peyebab dan hikmah-hikmah tersebut, semoga kita menjadi orang-orang yang tidak pernah bosan berdoa, karena doa adalah inti ibadah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Continue reading...

Ilmu Dulu, Baru Amal

Wed, Nov 12, 2014

Comments Off

Ilmu Dulu, Baru Amal
Ada seseorang yang bercerita, dalam sebuah perjalanan manasik haji, para jamaah haji secara bertubi-tubi mengajukan banyak pertanyaan kepada pembimbing haji. Hampir semua permasalahan yang mereka jumpai dalam pelaksanaan ibadah haji, selalu dikonsultasikan kepada pembimbing. Kita yakin, suasana semacam ini hampir dialami oleh semua jamaah haji. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan; pertama, mereka khawatir jangan-jangan ibadah haji yang mereka lakukan batal dan tidak diterima oleh Allah. Atau kedua, mereka takut dan khawatir jangan sampai melakukan tindakan pelanggaran yang menyebabkan mereka harus membayar denda. Demikianlah gambaran semangat orang terhadap ilmu ketika melaksanakan ibadah haji. Suasana itu terbentuk disebabkan kekhawatiran mereka agar hajinya tidak batal. Mereka sadar, ibadah ini telah memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi dirinya.
Pernahkah sikap dan perasaan semacam ini hadir dalam diri kita dalam setiap melaksanakan ibadah, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan kita? Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap enteng setiap amal, sehingga tidak mempedulikan pondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk kita renungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaan beramal. Untuk menunjukkan sikap ini, seorang ulama, yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:
،
Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah
(Al Jami‟ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami‟, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami‟ al-Hadis: 1/197)
Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil. Namun sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang kurang mempedulikan landasan ilmu ketika beramal yang sifatnya rutinitas. Jarang kita temukan orang yang melaksanakan ibadah rutin, semacam shalat misalnya, kemudian dia berusaha mencari tahu, apa landasan setiap gerakan dan bacaan shalat yang dia kerjakan. Bisa jadi ini didasari anggapan, amal rutinitas ini terlalu ringan dan mudah untuk dilakukan.
Ilmu Syarat Sah Amal
Mengapa harus berilmu sebelum beramal? Pada bagian inilah yang akan melengkapi keterangan di atas, yang mengajak untuk senantiasa mendasari amal dengan ilmu. Inti dari penjelasan ini adalah kesimpulan bahwa ilmu adalah syarat sah amal.
Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal. (Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476). Dari keterangan Ibnul Munayir dapat disimpulkan, posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan:
Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah.
Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan,
serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam
beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya. (Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, Syamilah, 1/145) Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Mungkin dari tulisan Imam Bukhari di atas, ada sebagian orang yang bertanya: Untuk apa kita harus belajar, padahal belum waktunya untuk diamalkan?
Sesungguhnya setiap orang dituntut untuk senantiasa belajar, meskipun ilmu yang dia pelajari belum waktunya untuk diamalkan. Seperti ilmu tentang haji, padahal dia belum memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Karena ilmu itu akan senantiasa memberikan manfaat bagi dirinya atau orang lain. Al-Hafidz al-Aini ketika menjelaskan perkataan Imam Bukhari di atas, beliau menyatakan: Imam Bukhari mengingatkan hal ini – Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan –, agar tidak didahului oleh pemahaman bahwa ilmu itu tidak manfaat kecuali jika disertai dengan amal. Pemahaman ini dilatar-belakangi sikap meremehkan ilmu dan menganggap mudah dalam mencari ilmu.
[Umadatul Qori Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, as-Syamilah, 2/476]
Apa itu Ilmu?
Yang kami maksud dengan ilmu adalah dalil, baik dari al Qur‟an maupun hadis Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:
“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”(Majmu‟ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Bagian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Intinya ingin menjelaskan, setiap orang yang beramal dan dia tahu dalilnya maka boleh dikatakan, orang ini telah beramal atas dasar ilmu. Sebaliknya, beramal namun tidak ada landasan dalil belum dikatakan beramal atas dasar ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang awam yang tidak faham dalil? Apakah dia diwajibkan mencari dalil? Jawabannya, untuk orang awam, dalil bagi mereka adalah keterangan dan fatwa ulama yang mendasari nasehatnya dengan dalil. Bukan keterangan ulama yang pemikirannya bertolak belakang dengan al-Qur‟an dan sunnah. Dalilnya adalah firman Allah:
“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kalian tidak mengetahuinya” (QS. Al-Anbiya: 7)
Muslim Vs Nasrani Vs Yahudi
Tekait masalah ini, ada tiga kelompok manusia yang sangat esktrim perbedaannya. Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur‟an, di surat al-Fatihah. Allah berfirman:
( ( 5) ( 6) ( 7
“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 5 – 7) Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama.
Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang yahudi Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani. Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dikafirkan: Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha‟ Shirathal Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 )
Penjelasan yang bagus di atas memberikan kesimpulan, titik perbedaan antara umat islam dengan kaum yahudi dan nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal.Tingkatan Ilmu
Untuk melengkapi pembahasan, berikutnya kita kupas tentang tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya. Sesungguhnya hukum belajar ilmu syar`i itu ada dua tingkatan:
Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang)
Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.
Kedua, fardhu kifayah
Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan. Catatan:
Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu. Allahu a‟lam
[lih. Kitab al-Ilmu, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Mauqi` al-Islam, hal. 14]

Continue reading...

Adab Membaca Al-Quran

Wed, Nov 12, 2014

Comments Off

Adab Membaca Al-Quran
Al Qur’anul Karim adalah firman Allah swt yang tidak mengandung kebatilan
sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan
kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di
dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang
mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama
dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an.
Sebagaimana sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kamu adalah
orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan
adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca
Al-Qur’an:
1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun,
diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam
Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia
tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan
sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati
ayat yang dibaca.
Rasululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari
tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab
Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan
dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk
mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim).
Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin
Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan
pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Allah Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan
mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah
khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang
untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an
dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain
dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR.
Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan
susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya
bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak
perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca
Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari (godaan-godaan)
syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang sholat, dan
tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang
banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.
Rasululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari
kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu
mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras
daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i,
Baihaqi dan Hakim). Wallahu a’lam.
***

Continue reading...
Older Entries Newer Entries