Selamat Datang Di Situs Berita Nasional Alfitrah Indonesia Online
ALFITRAH INDONESIA | Situs Berita Nasional

Makna Dari Ibadah

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah

A. DEFINISI IBADAH
Ibadah (عبادة) secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain :
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya (yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya,
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi,
3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.
Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia, Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)
Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah , maka mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah , ia adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, maka dia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah ).
==============================================
تعريف العبادة
فأجاب -رحمه الله
العبادة: هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة، فالصلاة والزكاة والصيام والحج، وصدق الحديث وأداء الأمانة، وبر الوالدين وصلة الأرحام، والوفاء بالعهود، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والجهاد للكفار والمنافقين، والإحسان للجار واليتيم والمسكين وابن السبيل والمملوك من الآدميين والبهائم، والدعاء والذكر والقراءة، وأمثال ذلك من العبادة، وكذلك حب الله ورسوله، وخشية الله والإنابة إليه، وإخلاص الدين له، والصبر لحكمه، والشكر لنعمه، والرضا بقضائه، والتوكل عليه، والرجاء لرحمته، والخوف من عذابه، وأمثال ذلك هي من العبادة لله
Makna Ibadah Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah :
Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.
Maka shalat, zakat, puasa, hajji, berkata benar, menyampaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, silaturrahim, menepati janji, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad menghadapi orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, budak, hewan piaran, berdoa, berzikir, membaca al Quran, dan yang semisalnya termasuk ibadah. Demikian juga mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, takut dan inabah kepada-Nya, ikhlas hanya kepada-Nya, bersabar atas hukum-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, ridha dengan qadha-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan yang semisalnya termasuk dalam ibadah.
==============================================

B.MACAM-MACAM IBADAH DAN KELUASAN CAKUPANNYA

Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil, dan membaca Al-Qur’an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, khassyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya, sabar terhadap hukum-Nya, ridha dengan qadha’-Nya, tawakkal, mengharap nikmat-Nya dan takut dari siksa-Nya.
Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika perbuatan itu diniatkan sebagai qurbah (pendekatan diri kepada Allah ) atau apa-apa yang membantu qurbah itu. Bahkan adat kebiasaan yang dibolehkan secara syari’at (mubah) dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepada-Nya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas pada syi’ar-syi’ar yang biasa dikenal semata.
C. PAHAM-PAHAM YANG SALAH TENTANG PEMBATASAN IBADAH

Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)
Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya. Sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan taat.
Kemudian manhaj (jalan) yang benar dalam melaksanakan ibadah yang disyari’atkan adalah sikap pertengahan. Tidak meremehkan dan malas, serta tidak dengan sikap ekstrim dan melampaui batas. Allah berfirman kepada Nabi-Nya , “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Hud: 112)
Ayat Al-Qur’an ini adalah garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu dengan ber-istiqomah dalam melaksanakan ibadah pada jalan tengah, tidak kurang atau lebih, sesuai dengan petunjuk syari’at (sebagaimana yang diperintahkan). Kemudian pada akhir ayat, Allah menegaskan lagi dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu melampaui batas.”
Tughyan adalah melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta megada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw.
Ketika Rasulullah mengetahui bahwa tiga orang dari sahabatnya melakukan ghuluw dalam ibadah, dimana seorang dari mereka berkata, “Saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka”, yang kedua berkata, “Saya akan shalat terus dan tidak tidur”, lalu yang ketiga berkata, “Saya tidak akan menikahi wanita”, maka beliau bersabda, “Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan saya tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barang siapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)-ku.” (HR. Bukhari no. 4675 dan Muslim no. 2487)
Ada 2 golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah :
1. Golongan pertama: Yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syi’ar-syi’ar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Menurut mereka tidak ada ibadah di rumah, di kantor, di toko, di bidang sosial, juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya.
Memang masjid mempunyai keistimewaan dan harus dipergunakan dalam shalat fardhu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan muslim, baik di masjid maupun di luar masjid.
2. Golongan kedua: Yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas ekstrim, yang sunnah sampai mereka angkat menjadi wajib, sebagaimana yang mubah (boleh) mereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi sesat dan salah orang yang menyalahi jalan (manhaj) mereka, serta menyalahkan pemahaman-pemahaman lainnya.
Padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah yang bid’ah.
D. PILAR-PILAR UBUDIYAH YANG BENAR

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan).
Rasa cinta (hubb) harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf (takut) harus dibarengi dengan raja’ (harapan). Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin, “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).
Dan juga firman-Nya, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Dalam perkara ini, Allah juga berfirman menyifati para Rasul dan Nabi-Nya, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)
Sebagian salaf berkata, “Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb (cinta) saja maka dia zindiq (istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid). Siapa yang menyembah-Nya dengan raja’ (harapan) semata maka ia adalah murji’ (orang Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan dari iman. Iman hanya dengan hati saja). Dan siapa yang menyembah-Nya hanya dengan khauf (takut) saja, maka dia adalah harury (orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir). Siapa yang menyembah-Nya dengan hubb, khauf dan raja’ maka dia adalah mukmin muwahhid”.
Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Risalah Ubudiyah. Beliau juga berkata, “Dien Allah adalah menyembah-Nya, taat dan tunduk kepada-Nya. Asal makna ibadah adalah adz-dzull (hina). Dikatakan “طريق معبّد” jika jalan itu dihinakan dan diinjak-injak oleh kaki manusia. Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna dzull (hina/merendahkan diri) dan hubb (cinta). Yakni mengandung makna dzull yang paling dalam dengan hubb yang paling tinggi kepada Allah . Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya, maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya. Dan jika ia menyukai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya, maka iapun tidak menghamba (menyembah) kepadanya. Sebagaimana seorang ayah mencintai anak atau rekannya. Karena itu tidak cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah , tetapi hendaklah Allah lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah lebih diagungkan dari segala sesuatu. Tidak ada yang berhak mendapat mahabbah (cinta) dan khudu’ (ketundukan) yang sempurna selain Allah .” (Majmu’ah Tauhid Najdiyah, 542). Inilah pilar-pilar kehambaan yang merupakan poros segala amal ibadah.
Ibnu Qayyim rahimullah berkata dalam “Nuniyyah-nya”, “Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepada-Nya, beserta kepatuhan menyembah-Nya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah (perintah Rasul-Nya). Bukan hawa nafsu dan setan.”
Ibnu Qayyim rahimullah menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari’atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari’atkan baginda Rasul itulah yang memutar orbit ibadah. Ibadah tidak diputar oleh bid’ah, nafsu dan khurafat.

E. SYARAT DITERIMANYA IBADAH

Pembaca yang budiman, untuk melengkapi pembahasan ini, kami ingatkan lagi dengan syarat diterimanya ibadah. Agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan ada syarat :
1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil,
2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah .
Syarat pertama adalah merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya.
Sedangkan syarat yang kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah berfirman, “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Dalam ayat diatas disebutkan “menyerahkan diri” (aslama wajhahu) artinya memurnikan ibadah kepada Allah . Dan “berbuat kebajikan” (wahuwa muhsin) artinya mengikuti Rasul-Nya .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah , dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah. Sebagaimana Allah berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua bahwasannya Muhammad adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah , dan beliau melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau mengatakan bahwa bid’ah itu sesat” (Al-Ubudiyah, hal 103; ada dalam Majmu’ah Tauhid, hal. 645)
Rujukan : Kitab Tauhid lish-Shafil Awwal karya Dr. Shalih Al-Fauzan

Continue reading...

Mengenal Ilmu Fiqh

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Fiqh merupakan salah satu disiplin ilmu Islam yg bisa menjadi teropong
keindahan dan kesempurnaan Islam. Dinamika pendapat yg terjadi
diantara para fuqoha menunjukkan betapa Islam memberikan
kelapangan terhadap akal utk kreativitas dan berijtihad. Sebagaimana
qaidah-qaidah fiqh dan prinsif-prinsif Syari’ah yg bertujuan utk menjaga
kelestarian lima aksioma yakni; Agama akal jiwa harta dan keturunan
menunjukkan betapa ajaran ini memiliki filosofi dan tujuan yg jelas
sehingga layak utk exis sampai akhir zaman.
Pengertian Fiqh Fiqh menurut EtimologiFiqh menurut bahasa
berarti; faham sebagaimana firman Allah SWT “Dan lepaskanlah
kekakuan dari lidahku. Supaya mereka memahami perkataanku.”
Pengertian fiqh seperti diatas juga tertera dalam ayat lain seperti;
Surah Hud 91 Surah At Taubah 122 Surah An Nisa 78 Fiqh dalam
terminologi IslamDalam terminologi Islam fiqh mengalami proses
penyempitan makna; apa yg dipahami oleh generasi awal umat ini
berbeda dgn apa yg populer di genersi kemudian karenanya kita
perlu kemukakan pengertian fiqh menurut versi masing-masing
generasi;
Pengertian fiqh dalam terminologi generasi Awal Dalam
pemahaman generasi-generasi awal umat Islam fiqh berarti
pemahaman yg mendalam terhadap Islam secara utuh
sebagaimana tersebut dalam Atsar-atsar berikut diantaranya sabda
Rasulullah SAW “Mudah-mudahan Allah memuliakan orang yg
mendengar suatu hadist dariku maka ia menghapalkannya
kemuadian menyampaikannya krn banyak orang yg
menyampaikan fiqh kepada orang yg lbh menguasainya dan
banyak orang yg menyandang fiqh dia bukan seorang Faqih.”
Ketika mendo’akan Ibnu Abbas Rasulullah SAW berkata “Ya Allah
berikan kepadanya pemahaman dalam agama dan ajarkanlah
kepadanya tafsir.” Dalam penggalan cerita Anas bin Malik tentang
beredarnya isu bahwa Rasulullah SAW telah bersikap tidak adil
dalam membagikan rampasan perang Thaif ia berkata “Para ahli
fiqihnya berkata kepadanya Adapun para cendekiawan kami Wahai
Rasulullah !tidak pernah mengatakan apapun.” Dan ketika Umar
bin Khattab bermaksud utk menyampaikan khutbah yg penting
pada para jama’ah haji Abdurrahman bin Auf mengusulkan utk
menundanya krn dikalangan jama’ah bercampur sembarang orang
ia berkata “Khususkan kepada para fuqoha .” Makna fiqh yg
universal seperti diatas itulah yg difahami generasi sahabat tabi’in
dan beberapa generasi sesudahnya sehingga Imam Abu Hanifah
memberi judul salah satu buku akidahnya dgn “al Fiqh al Akbar.”
Istilah fuqoha dari pengertian fiqih diatas berbeda dgn makna
istilah Qurra sebagaimana disebutkan Ibnu Khaldun krn dalam
suatu hadist ternyata kedua istilah ini dibedakan Rasulullah SAW
bersabda “Dan akan datang pada manusia suatu zaman dimana
para faqihnya sedikit sedangkan Qurranya banyak; mereka
menghafal huruf-huruf al Qur’an dan menyia-nyiakan normanormanya
banyak orang yg meminta tetapi sedikit yg memberi
mereka memanjangkan khutbah dan memendekkan sholat serta
memperturutkan hawa nafsunya sebelum beramal.” Lebih jauh
tentang pengertian Fiqh seperti disebutkan diatas Shadru al
Syari’ah Ubaidillah bin Mas’ud menyebutkan “Istilah fiqh menurut
generasi pertama identik atas ilmu akhirat dan pengetahuan
tentang seluk beluk kejiwaan sikap cenderung kepada akhirat dan
meremehkan dunia dan aku tidak mengatakan fiqh itu sejak awal
hanya mencakup fatwa dan hukum-hukum yg dhahir saja.”
Contact Info

Demikian juga Ibnu Abidin beliau berkata “Yang dimaksud Fuqaha
adl orang-orang yg mengetahuai hukum-hukum Allah dalam i’tikad
dan praktek karenanya penamaan ilmu furu’ sebagai fiqh adl
sesuatu yg baru.” Definisi tersebut diperkuat dgn perkataan al
Imam al Hasan al Bashri “Orang faqih itu adl yg berpaling dari
dunia menginginkan akhirat memahami agamanya konsisten
beribadah kepada Tuhannya bersikap wara’ menahan diri dari
privasi kaum muslimin ta’afuf terhadap harta orang dan senantiasa
menasihati jama’ahnya.”
Pengertian fiqh dalam terminologi Mutaakhirin Dalam terminologi
mutakhirin Fiqh adl Ilmu furu’ yaitu “mengetahui hukum Syara’ yg
bersipat amaliah dari dalil-dalilnya yg rinci.Syarah/penjelasan
definisi ini adalah – Hukum Syara’ Hukum yg diambil yg diambil
dari Syara’ seperti; Wajib Sunah Haram Makruh dan Mubah.- Yang
bersifat amaliah bukan yg berkaitan dgn aqidah dan kejiwaan.-
Dalil-dali yg rinci seperti; dalil wajibnya sholat adl “wa Aqiimus
sholaah” bukan kaidah-kaidah umum seperti kaidah Ushul Fiqh.
Dengan definisi diatas fiqh tidak hanya mencakup hukum syara’ yg
bersifat dharuriah seperti; wajibnya sholat lima waktu haramnya
hamr dsb. Tetapi juga mencakup hukum-hukum yg dhanny seperti;
apakah menyentuh wanita itu membatalkan wudhu atau tidak?
Apakah yg harus dihapus dalam wudhu itu seluruh kepala atau
cukup sebagiannya saja? Lebih spesifik lagi para ahli hukum dan
undang-undang Islam memberikan definisi fiqh dengan; Ilmu
khusus tentang hukum-hukum syara’ yg furu dgn berlandaskan
hujjah dan argumen.
Hubungan Fiqh dan Syari’ah Setelah dijelaskan pengertian fiqh
dalam terminologi mutakhirin yg kemudian populer sekarang
dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antar Fiqh dan
Syari’ah adalah Bahwa ada kecocokan antara Fiqh dan Syari’ah
dalam satu sisi namun masing-masing memiliki cakupan yg lbh
luas dari yg lainnya dalam sisi yg lain hubungan seperti ini dalam
ilmu mantiq disebut “‘umumun khususun min wajhin” yakni; Fiqh
identik dgn Syari’ah dalam hasil-hasil ijtihad mujtahid yg benar.
Sementara pada sisi yg lain Fiqh lbh luas krn pembahasannya
mencakup hasil-hasil ijtihad mujtahid yg salah sementara Syari’ah
lbh luas dari Fiqh krn bukan hanya mencakup hukum-hukum yg
berkaitan dgn ibadah amaliah saja tetapi juga aqidah akhlak dan
kisah-kisah umat terdahulu.Syariah sangat lengkap; tidak hanya
berisikan dalil-dalil furu’ tetapi mencakup kaidah-kaidah umum
dan prinsif-prinsif dasar dari hukum syara seperti; Ushul al Fiqh
dan al Qawa’id al Fiqhiyyah.Syari’ah lbh universal dari Fiqh.Syari’ah
wajib dilaksanakan oleh seluruh umat manusia sehingga kita wajib
mendakwahkannya sementara fiqh seorang Imam tidak demikian
halnya.Syari’ah seluruhnya pasti benar berbeda dgn fiqh.Syari’ah
kekal abdi sementara fiqh seorang Imam sangat mungkin berubah.
Patokan-patokan dalam Fiqh Dalam mempelajari fiqh Islam telah
meletakkan patokan-patokan umum guna menjadi pedoman bagi
kaum muslimin yaitu
Melarang membahas peristiwa yg belum terjadi sampai ia terjadi.
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala “Hai orang-orang yg beriman !
janganlah kamu menanyakan semua perkara krn bila diterangkan
padamu nanti kamu akan jadi kecewa ! tapi jika kamu menayakan
itu ketika turunnya al-qur’an tentulah kamu akan diberi penjelasan.
Kesalahanmu itu telah diampuni oleh Allah dan Allah maha
pengampunlagi penyayang.” Dan dalam sebuah hadits ada
tersebut bahwa Nabi Saw. telah melarang mempertanyakan
“Aqhluthath” yakni masalah-masalah yg belum lagi terjadi.
Menjauhi banyak tanya dan masalah-masalah pelik. Dalam sebuah
hadits di katakan “Sesungguhnya Allah membenci banyak debat
banyak tanya dan menyia-nyiakan harta.” “Sesungguhnya Allah
telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah disia-siakan
dan telah menggariskan undang-undang maka jangan dilampui
mengaharamkan beberapa larangan maka jangan dlannggar serta
mendiamkan beberapa perkara bukan krn lupa utk menjadi
rahmat bagimu maka janganlah dibangkit-bangkit!” “Orang yg
paling besar dosanya ialah orang yg menanyakan suatu hal yg
mulanya tidak haram kemudian diharamkan dgn sebab pertanyaan
itu.”
Menghindarkan pertikaian dan perpecahan didalam agama.
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala “Hendaklah kamu sekalian
berpegang teguh pada tali Allah dan jangan berpecah belah !” . Dan
firmanNya “Janganlah kamu berbantah-bantahan dan jangan saling
rebutan nanti kamu gagal dan hilang pengaruh!” . Dan firmanNya
lagi “Dan janganlah kamu seperti halnya orang-orang yg
berpecah-belah dan bersilang sengketa demi setelah mereka
menerima keterangan-keterangan! dan bagi mereka itu disediakan
siksa yg dahsyat.”
Mengembalikan masalah-masalah yg dipertikaikan kepada Kitab
dan sunah. Berdasarkan firman Allah SWT “Maka jika kamu
berselisih tentang sesuatu perkara kembalilah kepada Allah dan
Rasul.” . Dan firman-Nya “Dan apa-apa yg kamu perselisihkan
tentang sesuatu maka hukumnya kepada Allah.” . Hal demikian itu
krn soal-soal keagamaan telah diterangkan oleh Al-qur’an
sebagaimana firman Allah SWT “Dan kami turunkan Kitab Suci
Al-qur’an utk menerangkan segala sesuatu.” . Begitu juga dalam
surah Al-An’am 38 An-Nahl 44 dan An-Nisa 105 Allah telah
menjelaskan keuniversalan al Qur’an terhadap berbagai masalah
kehidupan. Sehingga dgn demikian sempurnalah ajaran Islam dan
tidak ada lagi alasan utk berpaling kepada selainnya. Allah SWT
berfirman “Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu
telah Ku cukupkan ni’mat karunia-Ku dan telah Ku Ridhoi Islam
sebagai agamamu.” . Dan firman Allah SWT “Tidak ! Demi Tuhan !
mereka belum lagi beriman sampai bertahkim padamu tentang
soal-soal yg mereka perbantahkan kemudian tidak merasa
keberatan didalam hati menerima putusanmu hanya mereka
serahkan bulat-bulat kepadamu.” Pembahasan ini Insya Allah akan
bersambung pada judul “Sejarah Perkembangan Fiqh dan
Meredupnya.”

Continue reading...

Ilmu Dulu, Baru Amal

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Ada seseorang yang bercerita, dalam sebuah perjalanan manasik haji, para jamaah haji secara bertubi-tubi mengajukan banyak pertanyaan kepada pembimbing haji. Hampir semua permasalahan yang mereka jumpai dalam pelaksanaan ibadah haji, selalu dikonsultasikan kepada pembimbing. Kita yakin, suasana semacam ini hampir dialami oleh semua jamaah haji. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan; pertama, mereka khawatir jangan-jangan ibadah haji yang mereka lakukan batal dan tidak diterima oleh Allah. Atau kedua, mereka takut dan khawatir jangan sampai melakukan tindakan pelanggaran yang menyebabkan mereka harus membayar denda. Demikianlah gambaran semangat orang terhadap ilmu ketika melaksanakan ibadah haji. Suasana itu terbentuk disebabkan kekhawatiran mereka agar hajinya tidak batal. Mereka sadar, ibadah ini telah memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi dirinya.
Pernahkah sikap dan perasaan semacam ini hadir dalam diri kita dalam setiap melaksanakan ibadah, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan kita? Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap enteng setiap amal, sehingga tidak mempedulikan pondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk kita renungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaan beramal. Untuk menunjukkan sikap ini, seorang ulama, yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:
،
Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah
(Al Jami‟ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami‟, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami‟ al-Hadis: 1/197)
Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil. Namun sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang kurang mempedulikan landasan ilmu ketika beramal yang sifatnya rutinitas. Jarang kita temukan orang yang melaksanakan ibadah rutin, semacam shalat misalnya, kemudian dia berusaha mencari tahu, apa landasan setiap gerakan dan bacaan shalat yang dia kerjakan. Bisa jadi ini didasari anggapan, amal rutinitas ini terlalu ringan dan mudah untuk dilakukan.
Ilmu Syarat Sah Amal
Mengapa harus berilmu sebelum beramal? Pada bagian inilah yang akan melengkapi keterangan di atas, yang mengajak untuk senantiasa mendasari amal dengan ilmu. Inti dari penjelasan ini adalah kesimpulan bahwa ilmu adalah syarat sah amal.
Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal. (Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476). Dari keterangan Ibnul Munayir dapat disimpulkan, posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan:
Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah.
Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan,
serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam
beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya. (Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, Syamilah, 1/145) Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Mungkin dari tulisan Imam Bukhari di atas, ada sebagian orang yang bertanya: Untuk apa kita harus belajar, padahal belum waktunya untuk diamalkan?
Sesungguhnya setiap orang dituntut untuk senantiasa belajar, meskipun ilmu yang dia pelajari belum waktunya untuk diamalkan. Seperti ilmu tentang haji, padahal dia belum memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Karena ilmu itu akan senantiasa memberikan manfaat bagi dirinya atau orang lain. Al-Hafidz al-Aini ketika menjelaskan perkataan Imam Bukhari di atas, beliau menyatakan: Imam Bukhari mengingatkan hal ini – Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan –, agar tidak didahului oleh pemahaman bahwa ilmu itu tidak manfaat kecuali jika disertai dengan amal. Pemahaman ini dilatar-belakangi sikap meremehkan ilmu dan menganggap mudah dalam mencari ilmu.
[Umadatul Qori Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, as-Syamilah, 2/476]
Apa itu Ilmu?
Yang kami maksud dengan ilmu adalah dalil, baik dari al Qur‟an maupun hadis Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:
“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”(Majmu‟ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Bagian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Intinya ingin menjelaskan, setiap orang yang beramal dan dia tahu dalilnya maka boleh dikatakan, orang ini telah beramal atas dasar ilmu. Sebaliknya, beramal namun tidak ada landasan dalil belum dikatakan beramal atas dasar ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang awam yang tidak faham dalil? Apakah dia diwajibkan mencari dalil? Jawabannya, untuk orang awam, dalil bagi mereka adalah keterangan dan fatwa ulama yang mendasari nasehatnya dengan dalil. Bukan keterangan ulama yang pemikirannya bertolak belakang dengan al-Qur‟an dan sunnah. Dalilnya adalah firman Allah:
“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kalian tidak mengetahuinya” (QS. Al-Anbiya: 7)
Muslim Vs Nasrani Vs Yahudi
Tekait masalah ini, ada tiga kelompok manusia yang sangat esktrim perbedaannya. Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur‟an, di surat al-Fatihah. Allah berfirman:
( ( 5) ( 6) ( 7
“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 5 – 7) Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama.
Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang yahudi Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani. Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dikafirkan: Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha‟ Shirathal Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 )
Penjelasan yang bagus di atas memberikan kesimpulan, titik perbedaan antara umat islam dengan kaum yahudi dan nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal.Tingkatan Ilmu
Untuk melengkapi pembahasan, berikutnya kita kupas tentang tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya. Sesungguhnya hukum belajar ilmu syar`i itu ada dua tingkatan:
Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang)
Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.
Kedua, fardhu kifayah
Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan. Catatan:
Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu. Allahu a‟lam
[lih. Kitab al-Ilmu, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Mauqi` al-Islam, hal. 14]

Continue reading...

Keagungan Ilmu Asma’ wa Shifat

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Saudara2 yang semoga dirahmati oleh Allah, sungguh ilmu tentang Allah „Azza wa Jalla adalah ilmu yang paling mulia. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah melainkan hanyalah melaui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Berikut beberapa hal yang menunjukkan keagungan ilmu tentang asma‟ wa shifat (nama dan sifat Allah).
Pertama
Tidak diragukan lagi bahwa ilmu mengenai tauhid asma‟ wa shifat merupakan ilmu yang paling mulia dan paling utama, paling tinggi kedudukannya serta merupakan perkara yang paling penting. Kemuliaan dan keutamaan ilmu tergantung dari kemuliaan obyek yang dipelajari. Tidak ada yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah yang terdapat dalam al Quran dan as Sunah. Oleh karena itu, menyibukkan diri untuk memahaminya dan mengilmuinya serta membahasnya merupakan tujuan yang paling mulia dan maksud yang utama.
Kedua
Sesungguhnya mengenal Allah dan mengilmui tentang Allah akan menghantarkan hamba kepada kecintaan, penghormatan dan pengagungan, rasa takut dan harap, serta rasa ikhlas beramal untuk-Nya. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu tersebut dan memperoleh buah dari lmu tersebut merupakan kebutuhan yang paling besar, paling utama, dan paling mulia. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Tidak ada kebutuhan bagi jiwa yang lebih besar daripada mengenal Dzat yang telah Menciptakannya, kemudian untuk mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan merasa senang dengan pengenalannya tersebut, serta mencari wasilah terhadap-Nya dan kedekatan di sisi-Nya. Tidak ada jalan untuk mencapai hal itu kecuali dengan mengenal sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya. Semakin seorang hamba mengilmui tentang nama dan sifat Allah, dia akan lebih mengetahui tentang Allah dan semakin dekat dengan-Nya. Sebaliknya, semakin seorang hamba mengingkari nama dan sifat Allah, dia akan semakin bodoh terhadap Allah dan akan semakin benci dan jauh dari-Nya. Allah Ta‟ala akan menempatkan (mengingat) seorang hamba di sisi-Nya tatkala seorang hamba memberi tempat bagi Allah dalam jiwanya”. Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dengan mengenal nama dan sifat-Nya serta mempelajari dan memahami maknanya.
Ketiga
Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka dari tidak ada, menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya adalah untuk mengenal-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya semata. Allah Ta‟ala menjelaskan dalam firman-Nya,
{ { 12
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At Thaalaq:12).Allah Ta‟ala juga berfirman,
{ { 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyat:56).
Tujuan penciptaan makhluk adalah untuk hal tersebut (mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya semata) dan Allah menciptakan mereka untuk merealisasikannya. Maka kesibukan untuk mengetahui nama dan sifat Allah merupakan kesibukan terhadap tujuan penciptaan makhluk, dan meninggalkannya merupakan pengabaian terhadap tujuan pencitaan makhluk. Tidak selayaknya bagi seorang hamba (melalaikan) terhadap keutamaan Allah yang agung ini dan nikmat yang besar ini, dia bodoh terhadap Rabb-Nya dengan berpaling dari mengenal-Nya
Keempat
Salah satu rukun iman yang enam, bahkan merupakan yang paling utama dan paling pokok adalah iman kepada Allah. Dan bukanlah yang dimaksud iman itu hanya sekadar perkataan seseorang bahwa “Aku telah beriman” semata tanpa mengenal Rabb-Nya. Bahkan hakikat iman yang sebenarnya adalah mengenal Rabb-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mengenal nama dan sifat-Nya sampai mencapai derajat yakin. Sebatas pengenalan seorang hamba terhadap Allah maka sebatas itu pula keimanannya. Semakin bertambah pengenalan terhadap nama dan sifat-Nya, semakin bertambah pula pengenalan seorang hamba terhadap Rabb-Nya dan semakin bertambah pula imannya. Sebaliknya, semakin kurang pengenalan seorang hamba terhadap nama dan sifat-nya semakin berkurang pula imannya. Allah Ta‟ala berfirman,
… { … { 28
” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (QS. Faathir:28).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya yang takut dengan rasa takut yang sebenarnya adalah para ulama yang mengenal Allah. Karena semakin mengenal Allah Al „Adziim, Al Qadiir, Al „Aliim yang disifati dengan sifat yang sempurna dan dengan nama yang indah dan mulia, maka semakin sempurnalah pengenalan terhadap Allah dan semakin sempurna pula ilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takut yang timbul akan semakin besar dan semakin bertambah”. Seorang ulama salaf mengungkapkan hal ini dalam perkatannya, ”Barangsiapa yang paling mengenal Allah, maka dia yang paling takut kepada-Nya”.
Kelima
Ilmu tentang Allah Ta‟ala merupakan pokok dari segala sesuatu. Sehingga orang yang mengenal-Nya dengan pengenalan yang hakiki akan mendapatkan petunjuk dalam berbuat dan melaksanakan syariat dengan pengenalannya terhadap sifat dan perbuatan-Nya tersebut. Karena Allah Ta‟ala tidaklah berbuat kecuali merupakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Seluruh perbuatan Allah dipenuhi dengan sikap adil, keutamaan, dan hikmah. Oleh karena itu Allah tidaklah menetapkan syariat kecuali sesuai dengan tuntutan keadilan dan hikmah. Seluruh berita yang Allah khabarkan benar dan juju, dan seeluruh perintah dan larangannya mengandung keadilan dan hikmah.
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, kelima hal di atas menunjukkan keutamaan ilmu asma‟ wa shifat dan besarnya kebutuhan hamba terhadap ilmutersebut. Bahkan tidak ada kebutuhan yang lebih penting daripada kebutuhan seorang hamba untuk mengenal Rabbnya yang telah menciptakannya, yang menguasainya, yang mengatur segala urusannya, yang menentukan rezeki baginya, yang tidak butuh terhadap mereka sedikitpun. Dan tidak ada jalan untuk meluruskan dan memperbaiki hal tersebut kecuali dengan mengenal-Nya, beribadah kepada-Nya, dan beriman hanya kepada Allah semata. Kebahagiaan yang didapat seorang hamba sesuai dengan pengilmuannya terhadap Allah Ta‟ala dan pengamalannya dengan ilmunya tersebut, yaitu dengan mentadabburi nama dan sifat Allah yang terdapat dalam al Quran dan as Sunnah, kemudian memahaminya dengan pemahaman yang benar. Tidak menyelewengakan maknanya, menolaknya, atau menyerupakannya dengan sifat makhluk. Segala puji bagi Allah, nama-nama-Nya yang baik dan mulia serta sifat-sifat-Nya agung.[1] Alhamdulillahilladzi bi ni‟matihi tatimmush shaalihat .
Abu „Athifah Adika Mianoki
[1]. Diringkas dengan sedikit perubahan dari pembahasan “Ahammiyatul „ilmi bi asmaaillaahi wa shifaatihi” dalam kitab Fiqhul Ad‟iyah wal Adzkar karya Syaikh „Abdurrozzaq bin „Abdulmuhsin al Badr , Jilid 1 hal 119-122. Cet, Daar Ibnu „Affaan.

Continue reading...

Ilmu Adalah Pemimpin Amal

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala alihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Mu‟adz bin Jabal –radhiyallahu „anhu- mengatakan,
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma‟ruf wan Nahyu „anil Mungkar, hal. 15)
Bukti bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amalan
Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al „Ilmu Qoblal Qouli Wal „Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)” Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta‟ala,
ل ل
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad
[47]: 19)
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan „ilmuilah‟ lalu mengatakan „mohonlah ampun‟. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan „mohonlah ampun‟ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin „Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu‟aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi‟ bin Nafi‟ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan „ilmuilah‟, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)
Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)
Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)
Keutamaan ilmu syar‟i yang luar biasa
Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal. Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar‟i berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan. Allah Ta‟ala berfirman,
ل
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)
Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku.” Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.
Ketiga, ilmu adalah warisan para Nabi
Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
ل
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho‟if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho‟if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)Keempat, orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh kebaikan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu‟ Al Fatawa, 28/80)
Ilmu yang wajib dipelajari lebih dahulu
Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.
Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.
Penutup
Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan (alias bid‟ah). Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan. „Umar bin „Abdul „Aziz mengatakan,
ص ح كث س ك ل
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma‟ruf wan Nahyu „anil Mungkar, hal. 15)
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin „Uyainah –rahimahullah- mengatakan,
ص ك س ك س
“Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang Nashrani.” (Majmu‟ Al Fatawa, 16/567)Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang diterima, dan rizki yang thoyib. Alhamdulilllahilladzi bi ni‟matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu „ala nabiyyina Muhammad wa „ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Continue reading...

Ihsan Dalam Beribadah

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

―Kualitas bisa menandingi kesekian kuantitas‖ Demikianlah ungkapan yang banyak tersebar di media masa. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu kita sangat menginginkan amalan-amalan ibadah yang kita lakukan di dunia, mendapat balasan yang sangat banyak di akhirat kelak. Kita semua berharap dengan amalan ibadah kita yang sedikit, kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda nanti di akhirat. Dengan apakah hal itu bisa terwujud? Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas amalan ibadah kita. Pada pembahasan kami kali ini, kami akan membahas tentang ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta‘ala. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa melakukan amalan-amalan yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Pembagian Ihsan
Sebelum kami membahas lebih jauh tentang ihsan dalam beribadah, perlu diketahui sebelumnya bahwa pada dasarnya, ihsan terbagi menjadi dua: (1) ihsan dalam ibadah kepada Allah; dan (2) ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah – jenis yang akan dibahas di sini – terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib dan ihsan yang mustahab (sunah), sebagaimana ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk juga terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib, dan ihsan yang mustahab (sunah). (Lihat Hushulul Ma-mul karya Syaikh Abdullah al-Fauzan hafidzahullah)
Ihsan yang Wajib dalam Beribadah
Ihsan yang wajib ialah seseorang beribadah kepada Allah Ta‘ala dengan memenuhi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan ittiba‘(mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam).
Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, ―Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik (lebih ihsan) amalnya. ‖ (QS. Huud: 7)
Fudhail bin ‗Iyadh rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut, ―Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam). Sesungguhnya suata amalan, jika dia ikhlas tetapi tidak benar; maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian juga sebaliknya, jika suatu amalan benar, tetapi tidak ikhlas; maka amalan tersebut juga tidak diterima. Amalan hanya akan diterima jika dia ikhlas dan benar.‖
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut, ―Suatu amalan tidak dapat dikatakan ihsan, sampai amalan tersebut ikhlas hanya untuk Allah Ta‘ala dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam.‖ (Tafsir al-Quranil ‗Adzim)
Kenapa Pahalanya Berbeda?
Pahala yang Allah berikan kepada hamba-Nya atas amal ibadah yang telah dia lakukan, berbeda-beda. Ada diantara mereka yang mendapat pahala sepuluh kali lipat, ada yang tujuh ratus kali lipat, bahkan ada yang jauh lebih banyak dari itu. Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda, ―Barangsiapa yang bermaksud berbuat kebaikan, kemudian dia mengamalkannya; maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan sampai jumlah yang banyak sekali.‖ (Muttafaqun ‗alaih)
Kenapa demikain? Bukankah amalan yang dilakukan sama? Bukankah ibadahnya sama-sama diterima di sisi Allah Ta‘ala? Kenapa balasan kebaikannya berbeda?Ihsan Dalam Beribadah
―Kualitas bisa menandingi kesekian kuantitas‖ Demikianlah ungkapan yang banyak tersebar di media masa. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu kita sangat menginginkan amalan-amalan ibadah yang kita lakukan di dunia, mendapat balasan yang sangat banyak di akhirat kelak. Kita semua berharap dengan amalan ibadah kita yang sedikit, kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda nanti di akhirat. Dengan apakah hal itu bisa terwujud? Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas amalan ibadah kita. Pada pembahasan kami kali ini, kami akan membahas tentang ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta‘ala. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa melakukan amalan-amalan yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Pembagian Ihsan
Sebelum kami membahas lebih jauh tentang ihsan dalam beribadah, perlu diketahui sebelumnya bahwa pada dasarnya, ihsan terbagi menjadi dua: (1) ihsan dalam ibadah kepada Allah; dan (2) ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah – jenis yang akan dibahas di sini – terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib dan ihsan yang mustahab (sunah), sebagaimana ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk juga terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib, dan ihsan yang mustahab (sunah). (Lihat Hushulul Ma-mul karya Syaikh Abdullah al-Fauzan hafidzahullah)
Ihsan yang Wajib dalam Beribadah
Ihsan yang wajib ialah seseorang beribadah kepada Allah Ta‘ala dengan memenuhi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan ittiba‘(mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam).
Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, ―Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik (lebih ihsan) amalnya. ‖ (QS. Huud: 7)
Fudhail bin ‗Iyadh rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut, ―Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam). Sesungguhnya suata amalan, jika dia ikhlas tetapi tidak benar; maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian juga sebaliknya, jika suatu amalan benar, tetapi tidak ikhlas; maka amalan tersebut juga tidak diterima. Amalan hanya akan diterima jika dia ikhlas dan benar.‖
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut, ―Suatu amalan tidak dapat dikatakan ihsan, sampai amalan tersebut ikhlas hanya untuk Allah Ta‘ala dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam.‖ (Tafsir al-Quranil ‗Adzim)
Kenapa Pahalanya Berbeda?
Pahala yang Allah berikan kepada hamba-Nya atas amal ibadah yang telah dia lakukan, berbeda-beda. Ada diantara mereka yang mendapat pahala sepuluh kali lipat, ada yang tujuh ratus kali lipat, bahkan ada yang jauh lebih banyak dari itu. Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda, ―Barangsiapa yang bermaksud berbuat kebaikan, kemudian dia mengamalkannya; maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan sampai jumlah yang banyak sekali.‖ (Muttafaqun ‗alaih)
Kenapa demikain? Bukankah amalan yang dilakukan sama? Bukankah ibadahnya sama-sama diterima di sisi Allah Ta‘ala? Kenapa balasan kebaikannya berbeda?Ihsan Dalam Beribadah
―Kualitas bisa menandingi kesekian kuantitas‖ Demikianlah ungkapan yang banyak tersebar di media masa. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu kita sangat menginginkan amalan-amalan ibadah yang kita lakukan di dunia, mendapat balasan yang sangat banyak di akhirat kelak. Kita semua berharap dengan amalan ibadah kita yang sedikit, kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda nanti di akhirat. Dengan apakah hal itu bisa terwujud? Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas amalan ibadah kita. Pada pembahasan kami kali ini, kami akan membahas tentang ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta‘ala. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa melakukan amalan-amalan yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Pembagian Ihsan
Sebelum kami membahas lebih jauh tentang ihsan dalam beribadah, perlu diketahui sebelumnya bahwa pada dasarnya, ihsan terbagi menjadi dua: (1) ihsan dalam ibadah kepada Allah; dan (2) ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah – jenis yang akan dibahas di sini – terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib dan ihsan yang mustahab (sunah), sebagaimana ihsan dalam menunaikan hak-hak makhluk juga terbagi menjadi dua, yaitu ihsan yang wajib, dan ihsan yang mustahab (sunah). (Lihat Hushulul Ma-mul karya Syaikh Abdullah al-Fauzan hafidzahullah)
Ihsan yang Wajib dalam Beribadah
Ihsan yang wajib ialah seseorang beribadah kepada Allah Ta‘ala dengan memenuhi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan ittiba‘(mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam).
Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, ―Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik (lebih ihsan) amalnya. ‖ (QS. Huud: 7)
Fudhail bin ‗Iyadh rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut, ―Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam). Sesungguhnya suata amalan, jika dia ikhlas tetapi tidak benar; maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian juga sebaliknya, jika suatu amalan benar, tetapi tidak ikhlas; maka amalan tersebut juga tidak diterima. Amalan hanya akan diterima jika dia ikhlas dan benar.‖
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut, ―Suatu amalan tidak dapat dikatakan ihsan, sampai amalan tersebut ikhlas hanya untuk Allah Ta‘ala dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam.‖ (Tafsir al-Quranil ‗Adzim)
Kenapa Pahalanya Berbeda?
Pahala yang Allah berikan kepada hamba-Nya atas amal ibadah yang telah dia lakukan, berbeda-beda. Ada diantara mereka yang mendapat pahala sepuluh kali lipat, ada yang tujuh ratus kali lipat, bahkan ada yang jauh lebih banyak dari itu. Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda, ―Barangsiapa yang bermaksud berbuat kebaikan, kemudian dia mengamalkannya; maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan sampai jumlah yang banyak sekali.‖ (Muttafaqun ‗alaih)
Kenapa demikain? Bukankah amalan yang dilakukan sama? Bukankah ibadahnya sama-sama diterima di sisi Allah Ta‘ala? Kenapa balasan kebaikannya berbeda?musyahadah, ditunjukkan oleh sabda beliau, ―Namun, jika engkau tidak bisa melakukannya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.‖
Demikialah sedikit bahasan tentang ihsan dalam beribadah. Semoga
Allah Ta‘ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat ihsan dalam semua amal ibadah kita kepada-Nya. Semoga Allah menerima semua amalan kita, dan memberikan balasan yang berlipat ganda nanti di akhirat. Rujukan utama:
Syarh Arbain oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidhahullah. —
Penulis: Abu Ka‘ab Prasetyo

Continue reading...

IKHLAS DAN AKTUALISASINYA

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya [Kenikmatan di syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani].

Wabasyirilladzina…
Berilah kabar gembira kepada orang yang beriman dengan melaksanakan amal saleh bahwa bagi mereka akan mendapatkan surga (2.25).
Alhamdulillah… kita sudah beriman semoga kita menjadi ahli surga…Allahu Akbar…
Dan Sabda nabi menegaskan bahwa kullu ummati yadhulul jannah…(semua umatku akan masuk surga)…

Namun…Siapakah umat nabi,
Alhamdulillah kita mengaku sebagai umat nabi…bener… (atau jangan2 kita baru me-ngaku2 umat nabi,… tetapi apakah kita jadi umat nabi muhammad saw itu sudah diakuikah oleh baginda nabi Muhammad saw atau belum…
(untuk mengetahui apakah kita umat nabi atau bukan…
kemudian bagaimana dan siapakah umat nabi dimaksud… terdapat dalam surat 7 (al-araf) ayat 157 yaitu: …

(7:157). (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka [dalam syari’at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya: mensyari’atkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

mengikuti dan mempercayai rasul dan menolong rasul dengan perjuangan serta menegakan risalah Islam dan memuliakanya serta melaksanakan perintahnya sesuai petunjuk dari alquran…
athiullah waathiurrasul (3:32). Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.)….relevansi dg perintah allah dalam surat ali imran…kul inkuntum tuhibbunallah fatthabiuni yuhbibkumullah…jika kamu ingin dicintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mengampuni dosa2mu (3:31)…
jadi…apa yang diberikan rasul kepadamu terimalah dan apa yang dilarang rasul maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya siksa Allah sangat sangat kejam(59.7)… (tidaklah kami utus seorang nabi melainkan untuk diikuti dan ditaati, 4.64) dan dalam sabda baginda…faman raghiba an sunati falaisa minni …
(barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku maka dia bukan umatku … 810 Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Sesungguhnya beberapa orang Sahabat r.a bertanya kepada isteri-isteri Nabi s.a.w mengenai amalan yang dilakukan oleh baginda secara diam-diam. Maka ada di antara mereka yang memberitahu bahawa dia tidak akan berkahwin. Ada juga yang memberitahu bahawa dia tidak makan daging dan ada pula yang memberitahu bahawa dia tidak pernah tidur di atas hamparan. Mendengar hal itu semua, Nabi s.a.w memuji kepada Allah dan bersabda: Apa kena dengan kaum itu, mereka berbicara itu dan ini, sesungguhnya aku mendirikan sembahyang dan aku juga tidur, aku berpuasa, berbuka dan aku juga berkahwin. Maka sesiapa yang tidak suka sunnahku, dia bukanlah golonganku iaitu umatku)…
alasan kita mengaku umat nabi karna mengikuti sunnah nabi (baru nambah istri atau poligami…apakah memang sunah nabi hanya poligami… atau mengambil pekerjaan amalan yang dapat menguntungkan dirinya saja.

Dan Siapa yang akan mendapatkan surga…
Alladzina amanu, yaitu orang2 yang beriman… Sunnguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mu’min” ….tetapi apakah kamu tidak memperhatikan orang2 yang mengaku dirinya telah beriman (4.60), tetapi kamu lihat kebanyakan dari sebagian kamu berusaha mencegah dan melarang menerapkan hukum2 Allah (4.61), yaitu kafirin, zalimin dan fasikin (5.44, 45,47). “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

(iman yang benar)…
innamal mukminunalladzina amanu billahi warasulihi tsuma lamyartabu…, sesungguhnya orang yang beriman itu adalah hanya iman kepada Allah dan iman kepada utusan Allah (rasul) kemudian dia tidak ragu, penuh dengan keyakinan, dimana keyakinaan akan didapatkan melalui petunjukNya sedangkan petunjuk Allah adanya di alquran, dan alquran akan menjadi petunjuk (dengan mengkaji dan mengaji serta tahu maksudnya) dan bila kita mempercayainya… (dzalikal kitabu laraiba fihi hudal lilmuttaqien)….
(wainkuntum firaibim mimmanazzalna ala abdina (yaitu rasul nabi muhammad …dg tawaddu penuh dg ketaatan (seperti taatnya nabi Ibrahim) …
fa thu bisuratim mim mislih wad’u syuhada akum mindunillahi inkuntum shadiqin (maka datangkanlah satu surat saja seperti surat dalam alquran dan panggilah kelompok jin dan manusia bergabung untuk membuat satu surat saja yang serupa dengan Alquran jika kamu orang yang benar) namun sampai saat ini tidak ada yang bisa mendatangkan seperti alquran walaupun cuma satu ayat saja…
Wajahadu fisabilillah…maka iman yang benar dibuktikan dg amal saleh…

Wa amilusshalihat
amal saleh (baik ibadah mahdoh maupun ghaira mahdoh seperti salat, menafkahkan rezeki atau derma, puasa, haji, jihad (perang dan mati sahid, fisabilillahi …(alim) biamwalihim (derma) waanfusihim (tenaga, pikiran, menegakan islam (alim, mualim, mustami, muhiban, salihin sadikin) dan amal tsb harus dibarengi dg ikhlas… Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih[1], baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.” [An-Nahl: 97]…Kecuali orang- orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (4.146)…
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ?)…bagi mereka adalah Surga (4.125)…..
(89:27). Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, 30. masuklah ke dalam syurga-Ku.

…illa man aba (kecuali yang tidak mau karna aba wastakbaro…angkuh tidak taat karna sombong… (16:31). bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.
…layadhulul jannah mankana minkum fiqalbihi mitsqala darratin minkibrin, tidak akan masuk surga siapa saja diantara kamu yang ada di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar atom… spt iblis), makanya lalai… yang salat atau beribadah saja bisa masuk neraka (fawailul lilmushallin..) apalagi yang tidak pernah ibadah.

Dalam riwayat menyebutkan bahwa ada beberapa golongan yang mengaku ahli surga namun setelah melewati hari perhitungan maka mereka tertolak masuk surga…
1. Syuhada, yang mati sahid dalam pertempuran memperjuangkan Islam, di jaman Nabi ada sahabat yang gigih berjuang dalam peperangannya bahkan menjadi panglima perang, semua prajurit mengagumi dan menyanjungnya, namun Rasulullah menyayangkan bahwa dia termasuk dalam ahli neraka…para sahabat kaget dan tercengang…di dalam hati sahabat penasaran kenapa bisa terjadi demikian sedangkan dia adalah panglima perang yang tangguh dan selalu menang dalam peperangan… akhirnya mereka mengikuti panglima secara seksama sehingga sampai pada suatu ketika perang berkobar kembali yang banyak memakan korban, termasuk panglimapun banyak luka di sekujur badan kena tusukan pedang yang pada akhir hayyatnya dia tidak sabar akan penderitaan akibat banyaknya luka pedang dalam peperangan sehingga merintih kesakitan dan tidak kuat sehingga menusukan pedang pada dirinya, bunuh diri…
2. Haji Mabrur,…tidak ada pahala bagi orang yang berhaji mabrur kecuali Surga, namun ada pejabat yang kaya raya, akan tetapi karena kekayaannya itu berlaku sombong sehingga ibadah hajinya tidak ikhlas, angkuh tidak mau campur dengan orang lain dan ingin menunjukkan kekayaannya tidak mau berjamaah, jangankan salat makanpun harus terpisah dari keramaian orang dan harus sesuai pesanannya dan tidurpun dalam ruangan kamar yang dia pesan walaupun mahal, padahal melaksanakan haji tidak boleh berkata kasar, mencaci orang, hasud dan berlaku tidak baik dan sombong…maka matinyapun sia-sia hartanya menjadi hisaban dalam hidupnya…hajinya jadi mardud
3. Dermawan (berderma mengeluarkan harta kekayaannya untuk jihad fisabilillah, membangun sekolah, membangun masjid, sedekah di sana sini dan menghabiskan hartanya untuk fisabilillah, tapi sayang dia terbersit dalam hatinya ingin mendapatkan pujian atau riya dengan kedudukan agar masyarakatnya menyebut dermawan, dan ada juga orang yang bersedekah karena ingin mendapatkan rezekinya berlimpah atau bertambah banyak…
4. Ulama (orang Alim), ulama terkenal seperti bal ambaura ulama yang terkenal kesalihannya sehingga doanya makbul sekali sembur langsung terkabul selama 300 tahun sehingga murid dan pengikutnya sampai jutaan sayang matinya sirik kepada Allah…dan demikian juga ibadahnya hamba yang 500 tahun hidup digunakan hanya untuk ibadah bahkan matinyapun mati dalam keaadaan sujud, namun di akhirat dia masuk neraka…
demikian pula ada seorang mubaligh ceramah dengan penuh berapi-api menyampaikan ayat yang isinya bahwa…. “kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya (3:92)”…. Sang anak sangat antusias dan mencermati apa yang disampaikan orang tuanya lalu dialaksanakannya dan diambilkannya si Jago, ayam pelung kesayangan ayahnya kemudian dipotong untuk dimasak lalu dibagikan kepada tetangga terdekat kiri kanan depan belakang…keesokan harinya sang mubaligh mencari-cari si Jago dan bertanya kepada istrinya…bu…kenapa si Jago tidak kedengar suaranya ya… biasanya dia suka berkokok membangunkan kita, kenapa hari ini tidak…har si bapak…kan sudah dipotong oleh si Otong dan dibagikan pada saudara dan tetangga kita, jawab dari istrinya….lha ibu kenapa dipotong itu si Jago adalah ayam pelung kesayangan kita bu yang paling kita cintai (kata mubaligh)….kan bapak telah berdakwah dan menyapaikan kepada jamaah atau mustami agar memberikan sesuatu yang kita cintai….dan si Otong, anak kita tahu kalau bapak mencintai si Jago makanya di potong (kata istrinya) …ibu-ibu…kemarin itu bapak dakwah bukan buat kita tetapi buat jamaah agar supaya mereka memberikan sedekah kepada kita rezeki yang baik-baik …

Semua golongan tersebut di atas hanya sampai di mulut (dalam ucapan atau pengakuan) bahkan karena mengikuti keinginan syahwatnya (hawa nafsu) tidak sampai ke hati yaitu dengan keikhlasan dan keridhaan, sementara Allah maha mengetahuinya bahkan Allah mencatat amal perbuatan kita melalui malaikat Rakib dan Atid…saat mereka mau masuk surga Allah berfirman masuklah hamba-hambaku ke dalam Surgaku dengan rahmatku…namun mereka merasa bahwa masuk surga karena amal saleh yang dilakukannya…sehingga Allah menghisab mereka satu persatu golongan dan berfirman…siapa kalian….saya orang saleh…malaikat berkata bohong kalian….maka Allah berfirman memang kamu dusta padaku…sesungguhnya Allah maha mengetahui bahkan Allah telah menugaskan malaikat pencatat amal perbuatan manusia yaitu Rakib dan Atid…kamu beramal bukan karena mengharap ridhaku akan tetapi kamu riya, angkuh dan sombong, pamrih pahala, ingin dipuji, jadi semua sia-sia dan masuklah ke dalam neraka naudzubillah…jadi ibadah harus ikhlas…

Jadi siapakah Ahli Surga yang dimaksud ayat tersebut di atas….disamping iman dan amal saleh maka mereka pun mengerjakannya dengan yang ikhlas…

(4:125). dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

(98:5). Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

(16:31). (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa,

(34:46). Dalam firmannya Allah berkehendak menjelaskan peringatan dan ancaman agar taat kepada Allah dan utusannya “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri [Berdua-dua atau sendiri-sendiri Maksudnya ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan Keadaan Muhammad s.a.w. itu Sebaiknya dilakukan dalam Keadaan suasana tenang dan ini tidak dapat dilakukan dalam Keadaan beramai-ramai]; kemudian kamu fikirkan (tentang Baginda Nabi Muhammad SAW, tidak ada penyakit gila sedikitpun pada junjungan kita itu, sebagai rasul yang umi, namun sangat mulia, cerdik, benar, informatif dan terpercaya. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.

Continue reading...

Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Ramalan salah satu zodiak di tahun 2012:
Kehidupan cinta Anda tidak terlalu menyenangkan tahun ini. Akan sulit sekali
berkomunikasi dengan si dia, tapi Anda harus berusaha keras jika ada sesuatu yang ingin Anda luruskan.
Hubungan Anda mungkin juga akan mengalami perubahan, namun ke arah yang lebih baik. Untuk yang single, pertemuan dengan pria baru akan mengubah hidup Anda.
Info-info semacam inilah yang menyebar di tengah-tengah pemuda di awal tahun baru 2012. Untuk menjalani tahun 2012, mereka membaca nasib lewat ramalan bintang atau zodiak tersebut. Mereka ingin mencari tahu bagaimana nasib cinta mereka, bagaimana rizki mereka, dan bagaimana keberuntungan mereka di tahun
2012. Padahal ajaran Islam sangat melarang keras hal ini, namun banyak yang tidak memahaminya karena tidak mau belajar akidah dan mengenal Islam lebih dalam.
Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) di masa silam,
Syaikh ‗Abdul ‗Aziz bin ‗Abdillah bin Baz ditanya mengenai hukum membaca ramalan bintang, zodiak dan semisalnya.
Jawaban beliau rahimahullah,
Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut
terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap
pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan
mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‗Abbas radhiyallahu ‗anhuma bahwa
Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda,
―Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah. ‖[1]
Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang jayyid dari ‗Imron bin Hushoin, dari Rasulullah shallallahu ‗alaihi wa sallam, beliau bersabda,
―Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi
tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.
‖[2] Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan kaahin (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam
ayat,

―Katakanlah: ―Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahuiperkara yang ghaib, kecuali Allah‖ (QS. An Naml: 65).
Nasehatku bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada berbagai ramalan bintang, hendaklah ia bertaubat dan banyak memohon ampun pada Allah (banyak beristighfar). Hendaklah yang jadi sandaran hatinya dalam segala urusan adalah
Allah semata, ditambah dengan melakukan sebab-sebab yang dibolehkan secara syar‘i. Hendaklah ia tinggalkan ramalan-ramalan bintang yang termasuk perkara jahiliyah, jauhilah dan berhati-hatilah dengan bertanya pada tukang ramal atau membenarkan perkataan mereka. Lakukan hal ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam rangka menjaga agama dan akidah.
(Dinukil dengan perubahan redaksi dari Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 123)
Syaikh Sholih Alu Syaikh -hafizhohullah- mengatakan, ―Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur‘an yang telah
diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‗alaihi wa sallam.‖ (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab ―Maa Jaa-a fii Tanjim‖, hal. 349)
Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini.
Pertama: Apabila cuma sekedar membaca zodiak atau ramalan bintang, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
―Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.‖ (HR. Muslim no. 2230). Ini akibat dari cuma sekedar membaca. Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi:
―Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat
menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.‖ (Syarh Muslim, 14: 227)
Kedua: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur‘an yang menyatakan hanya di sisi Allah
pengetahuan ilmu ghoib.
Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam bersabda,
―Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur‘an yang telahditurunkan pada Muhammad.‖ (HR. Ahmad no. 9532, hasan)
Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib. (Al Qoulul Mufid ‗ala Kitabit Tauhid, 1: 330)
Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, ―Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar (al kabair) –wal ‗iyadzu billah-. …
Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Hendaklah ia menyampaikannya dalam setiap perkataannya, ketika selesai shalat lima waktu dan dalam khutbah jum‘at. Karena ini adalah bencana bagi umat. Namun masih sangat sedikit yang mengingkari dan memberi peringatan terhadap kekeliruan semacam ini.‖ (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid, hal. 349)
Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat
pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap
seseorang bisa terkena dosa jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi.
Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.Nasehat
Ramalan bukan hanya datang dari tukang ramal dengan bertanya langsung,namun saat ini bisa masuk ke rumah-rumah kaum muslimin dengan begitu
mudah, baik lewat media cetak, TV, atau pun internet. Kita berlindung kepada Allah semoga diri kita, anak-anak kita, kerabat-kerabat kita terbebas dari membaca dan mempercayai ramalan bintang, serta dijauhi segala bentuk perbuatan syirik.
Jadikanlah satu-satunya sandaran dalam segala urusan adalah Allah Ta‘ala semata,
―Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya.‖ (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubi mengatakan, ‖Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi
kebutuhannya.‖ (Al Jami‘ Liahkamil Qur‘an, 18: 161). Jika Allah jadi satu-satunya sandaran, maka rizki, jodoh, dan segala urusan akan dimudahkan oleh Allah Ta‘ala.

―Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.‖ (QS. Hud: 88)
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 7 Shofar 1433 H

Muhammad Abduh Tuasikal
[1] HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan.
[2] HR. Al Bazzar dalam musnadnya.
Penulis Fathul Majid, Syaikh ‗Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, ―Siapa
saja yang menerjangi perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut,
berarti Rasul shallallahu ‗alaihi wa sallam telah berlepas diri darinya. Bisa saja perkara yang dilakukan adalah kesyirikan seperti beranggapan sial. Bisa pula kekufuran seperti mempercayai tukang ramal dan melakukan sihir. Siapa saja yang
ridho dan mengikuti hal-hal tadi, maka ia dihukumi seperti pelakunya karena ia menerima dan mengikuti hal yang batil.‖ (Fathul Majid, 316)

Continue reading...

Hukum Tabarruk Kepada Orang Sholih

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Oleh: Syaikh Nashir bin Abdirrahman Al Jadi‟
اىسحٌٞ اىسحَِ ل ت عٌ اىحَد: � تؼد أٍا ٗظيٌ، ٗ طحثٔ آىٔ ٗػيٚ ل زظ٘ه ػيٚ ٗاى علً ٗاى ظلج
Tidak diragukan lagi bahwa memang Nabi Muhammad Shallallahu‟alaihi Wasallam itu pada tubuhnya dan benda-benda yang pernah beliau gunakan mengandung keberkahan. Keberkahan ini sama besarnya seperti berkahnya perbuatan Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Ini sebagai tanda bahwa Allah memuliakan semua Nabi dan RasulNya, „alaihis shalatu was salaam. Oleh karena itulah para sahabat Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam ber-tabarruk (mencari keberkahan) dari tubuh Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam serta dari benda-benda yang pernah beliau gunakan semasa hidupnya. Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam pun membolehkan perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. Maka para sahabat pun melakukannya. Juga generasi salaf setelah mereka, bertabarruk dengan benda-benda yang pernah beliau gunakan. Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung sesuatu yang dapat mencacati tauhid uluhiyyah ataupun tauhid rububiyyah. Perbuatan mereka juga tidak termasuk perbuatan ghuluw yang tercela. Andaikan termasuk ghuluw, tentu Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam telah memperingatkan mereka sebagaimana beliau memperingatkan sebagian sahabat yang mengucapkan kata-kata yang mengandung kesyirikan, dan dari kata-kata yang termasuk ghuluw. Sungguh perhatikanlah, ini merupakan pemuliaan dari Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, terhadap ciptaan-Nya yang suci, yaitu Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, pada tubuh beliau dan pada benda-benda yang pernah beliau gunakan. Karena Allah Ta‟ala telah meletakkan keberkahan dan kebaikan pada semua hal itu.
Nah, jika Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam telah membolehkan para sahabat bertabarruk kepada beliau sebagaimana diterangkan di atas, yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah boleh bertabarruk dengan cara yang sama diterapkan kepada orang-orang shalih selain Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam ? Atau dengan kata lain meng-qiyaskan orang-orang shalih dengan Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam. Ini lah yang akan kita bahas dalam tulisan ini bi‟idznillah.
Apakah Para Sahabat Ber-tabarruk Kepada Selain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?
Jika telah diketahui bahwa alasan utama bolehnya bertabarruk adalah perbuatan para sahabat Radhiallahu‟ahum kepada Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam lalu beliau menyetujui hal tersebut, bahkan terkadang beliau memerintahkannya, maka yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah para sahabat bertabarruk kepada orang selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam? Lalu apakah Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam juga pernah memerintahkan atau mengajarkan bertabarruk kepada orang selain beliau?
Fakta menyatakan bahwa tidak ada satu perkataan pun dari Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam yang memerintahkan ummatnya untuk bertabarruk kepada para sahabatnya ataupun orang-orang yang selain sahabat Nabi. Baik bertabarruk dengan jasad maupun dengan bekas-bekas peninggalan mereka. Tidak pernah sedikit pun Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Demikian juga, tidak ada satupun riwayat yang dinukil dari para sahabat bahwa mereka bertabarruk kepada orang selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, baik ketika masa Rasulullah masih hidup, apalagi ketika beliau sudah wafat. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat bertabarruk kepada sesama sahabat Nabiyang termasuk As Sabiquun Al Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam) misalnya, atau kepada Khulafa Ar Rasyidin -padahal mereka adalah sahabat Nabi yang paling mulia- , atau bertabarruk kepada sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin surga, atau kepada yang lainnya.
Imam Asy Syatibi rahimahullah adalah salah satu dari beberapa ulama yang meneliti permasalahan ini. Setelah beliau memaparkan dalil-dalil shahih tentang ber-tabarruk kepada Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, dalam kitab beliau Al I‟tisham (2/8-9), beliau lalu berkata:
ٍِ إىٚ تاىْعثح ذىل ٍِ شٜء ٌٍْٖ أحد ٍِ ٝقغ ىٌ ٗاى علً اى ظلج ػيٞٔ ٍ٘ذٔ تؼد ػٌْٖ ل ز ضٜ اى ظحاتح
ىٌ إذ خيفٔ، ماُ فٖ٘ ػْٔ، ل ز ضٜ اى ظدٝق ت نس أت ٜ ٍِ أف ضو الٍح ف ٜ تؼدٓ ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ ٝ رسك
تٔ ٝ فؼو ٗىٌ خيٞفرٔ، اى ظحاتح ظائس ثٌ ػيٜ، ثٌ ػثَاُ، مرىل ثٌ تؼدٓ، الٍح أف ضو ماُ ٕٗ٘ ػْٔ، ل ز ضٜ ػَس ٗل ذىل، ٍِ شٜء
ل اىرِٝ ذيل أحد ػيٚ تٔ ذ ثسك ٍرثسما أُ ٍؼسٗف طحٞح طسٝق ٍِ ٌٍْٖ ى٘احد ٝ ثثد ىٌ ثٌ الٍح، ف ٜ ٌٍْٖ أف ضو أحد
أٗ اى٘ج٘ٓ الق رداء ػيٚ ف ٌٖٞ اقر ظسٗا تو ، ذىل ّٗح٘ اى٘ ض٘ء ٗف ضو ٗاىثٞاب تاى شؼس اىرثسك ٝق ظد ّحٕ٘ا
ٗالق٘اه تالف ؼاه الشٞاء ذيل ذسك ػيٚ ٌٍْٖ إجَاع إذا فٖ٘ ، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ ف ٖٞا اذ ثؼ٘ا اىرٜ ٗاى عٞس
“Para sahabat Radhiallahu‟anhum, setelah wafatnya Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, tidak ada seorang pun diantara mereka yang melakukan perbuatan itu (bertabarruk) kepada orang setelah Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Padahal beliau sepeninggal beliau tidak ada manusia yang lebih mulia dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu‟anhu, karena beliaulah pengganti Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Namun para sahabat tidak pernah bertabarruk kepada Abu Bakar. Tidak pernah pula bertabarruk kepada Umar Bin Khattab, padahal Umar bin Khattab adalah manusia yang paling mulia setelah Abu Bakar. Tidak pernah pula bertabarruk kepada Utsman Bin Affan, tidak pernah pula bertabarruk kepada Ali, tidak pernah pula bertabarruk salah seorang dari sahabat Nabi pun. Padahal merekalah orang-orang yang paling mulia dari seluruh ummat.
Dan tidak ketahui adanya satu riwayat pun yang shahih bahwa mereka
bertabarruk kepada selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dengan salah satu dari cara yang disebutkan -maksudnya bertabarruk dengan rambut, baju atau sisa air wudhu, atau semacamnya-. Para sahabat Nabi hanya mencukupkan diri mereka dengan meneladani perbuatan, perkataan, jalan hidup yang mereka ambil Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma) untuk meninggalkan perbuatan tersebut”
Apa Yang Menyebabkan Para Sahabat Meninggalkan Perbuatan Tersebut?
Kita telah mengetahui bahwa tidak terdapat kabar yang shahih bahwa para sahabat bertabarruk kepada orang shalih selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, padahal mereka adalah generasi terbaik, sebagaimana dijelaskan oleh Asy Syatibi rahimahullah dan para ulama yang lain[1]. Sebagai generasi terbaik, tentunya mereka bersemangat untuk mendapatkan kebaikan, keberkahan, kesembuhan. Selain itu, orang-orang yang diberkahi Allah masih banyak ketika itu, yaitu para As Sabiquunal Awwaluun, juga sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, Radhiallahu‟anhum ajma‟in. Ada pula para sahabat yang diutus ke luar Madinah untuk beberapa kepentingan, diantara mereka termasuk sahabat-sahabat senior. Namun, para sahabat yang berada di luar Madinah ini pun tidak dijadikan objek tabarruk, sepeninggal Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam.
Jika demikian, lalu apa yang menyebabkan para sahabat bersepakat untuk tidak bertabarruk kepada orang shalih selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam padahal mereka melakukannya terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam?Wallahu‟alam, penyebab utamanya adalah mereka meyakini bahwa hal tersebut adalah kekhususan bagi Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dan tidak berlaku bagi selain beliau, sebagaimana kekhususan ini juga berlaku kepada para Nabi yang lain.
Allah Tabaaraka Wa Ta‟ala memberikan keistimewaan kepada para Nabi dan Rasul, yang tidak diberikan kepada selain mereka. Diantara kekhususan itu adalah keberkahan yang ada di tubuh dan bekas-bekas peninggalan mereka, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka. Namun tentunya jasad mereka dan sifat-sifat mereka berbeda-beda. Sebagaimana firman Allah Ta‟ala:
124 :الّؼاً){زظاىرٔ ٝ ؼو حٞ أػيٌ ىئٖ)
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan ” (QS. Al An‟am: 124)
Para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia terbaik yang telah dipilih dan diseleksi oleh Allah Ta‟ala dari seluruh manusia. Allah Ta‟ala berfirman:
68 :اىق ظض) {ٗٝ راز ٝشاء ٍا ٝ يق ٗزتل
“Dan rabbRmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya ” (QS. Al Qashash: 68)
Keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka adalah perkara yang masyhur dan tidak ada satu orang pun yang mengingkari. Dalam hal inilah salah satunya, Nabi dan Rasul terbedakan dengan orang shalih yang lain. Walau memang orang-orang shalih memiliki kedudukan dan martabat yang tinggi di sisi Allah, namun mereka tetap tidak bisa mencapai kedudukan para Nabi dan Rasul, serta tidak mungkin mereka mengusahakannya[2]. Dan tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu‟alaihi Wasallam adalah Nabi dan Rasul yang paling utama dan paling banyak keberkahannya.
Setelah menjelaskan ijma shahabat untuk meninggalkan tabarruk kepada selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, Imam Asy Syatibi dalam Al I‟tishom (2/9) berkata:
اىثسمح ٍِ اىرَع٘ا ٍا ت٘ج٘د ىيقطغ مئ، ذىل ف ٖٞا ٝ عغ اىْث٘ج ٍسذ ثح ٗأُ الخر ظاص، ف ٞٔ ٝؼرقدٗا أُ
ػيٞٔ لّٔ ٗاى ٞس، ح ظو ٗإُ الٍح ٍِ غٞسٓ ت لف اىرَعٔ، جٖح أٛ ػيٚ ٗجدٓ ّ٘از ٍْٔ اىرَط فَِ …مئ ّ٘زا ماُ ٗاى علً اى ظلج
ىٔ ذ قازتٔ، ٗل ٍسذ ثرٔ، ف ٜ ذ٘اشٝٔ حاه ػيٚ ٍثيغٔ، ٝ ثيغ ل (3 ) ل شاء ٍا تٖدٝٔ ٗالٕرداء تٔ، الق رداء ّ٘ز ٍِ
ٕرا ف ظاز ػيٚ اىقعٌ ٗج٘ب ٗػدً ىٔ، ّ فعٖا اى٘إثح ت ضغ ٗإحله الزت غ، ػيٚ شاد ٍا تْناح ماخر ظا طٔ تٔ ٍ رظا اىْ٘ع ذىل ٗشثٔ اىصٗجاخ،
“Para sahabat meyakini bahwa hal tersebut adalah kekhususan bagi Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Mereka juga meyakini bahwa orang yang layak diperlakukan demikian adalah yang mencapai martabat nubuwwah. Karena sudah merupakan sesuatu yang pasti, bahwa pada diri mereka (para Nabi) terdapat keberkahan dan kebaikan. Karena semua bagian dari mereka adalah cahaya. Maka jika ada orang yang mencari cahaya dari diri Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, ia akan mendapatkannya dari segala sisi. Namun hal ini tidak berlaku bagi orang lain selain para Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, walaupun pada orang yang telah mendapatkan cahaya berupa hidayah untuk meneladani dan mencontoh beliau[3]. Mereka tidak bisa mencapai derajat Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam yang kedudukannya begitu istimewa, bahkan mendekati derajat beliau pun tidak bisa. Oleh karena itu, perkara bolehnya dijadikan objek tabarruk, adalah kekhususan Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, sebagaimana beliau memiliki kekhususan untuk menikahi wanita lebih dari empat, bolehnya menggauli wanita yang menghibahkan dirinya kepada beliau, tidak adanya kewajiban membagi rata dalam nafkah dan menggilir istri, dan yang lainnya”Kemudian beliau menjelaskan hukum bertabarruk kepada selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam:
ماُ تٔ اقردٙ ٍِٗ ّٗحٕ٘ا، اى٘ج٘ٓ ذيل أحد ػيٚ اىرثسك ف ٜ تٔ الق رداء تؼدٓ ىَِ ٝ ظح ل :ىَؤخر ٕرا ف ؼيٚ
تدػح، اقرداإٓ تدػح ّ ع٘ج أزتغ ػيٚ اىصٝادج ف ٜ تٔ الق رداء ماُ مَا
“Dengan demikian bisa kita simpulkan, tidak benar jika seseorang mencontoh tabarruk yang dilakukan para sahabat kepada Nabi lalu diterapkan kepada selain Nabi. Jika ada yang meniru demikian, maka itu perbuatan bid‟ah. Sebagaimana bid‟ahnya orang yang meniru Nabi dengan menikahi lebih dari empat wanita”. Di tempat yang lain, beliau juga menyampaikan pendapat yang beliau pegang:
ٗى٘ تٔ اػَي٘ أٗ تؼدٓ، تؼ ضٌٖ تٔ ىؼيٌ (4 )اىرشسٝغ اػرقادٌٕ ماُ ى٘ إذ اىرسك، ػيٚ اى ظحاتح أٛ اطثاقٌٖ ٕٗ٘
ف ٜ ىلٍرْاع اىَ٘جثح اىؼيح اّرفاء اػرقاد ػيٚ تْاء ٗإٍا اىَشسٗػٞح، أ طو ٍغ ٗق٘فا إٍا تؼ ضالح٘اه،
“Yaitu mencontoh para sahabat dengan meninggalkan perbuatan tersebut. Karena andaikan para sahabat berkeyakinan bahwa Rasulullah membiarkan para sahabat untuk ber-tabarruk pada dirinya itu dalam rangka tasyri‟, maka tentu para sahabat sudah saling mengetahui. Atau, tentu mereka akan melakukannya sesama mereka, walau hanya sesekali saja. Mereka meninggalkannya bisa jadi karena tidak menganggap itu sebagai tasyri‟, atau bisa jadi karena berkeyakinan bahwa faktor yang membuat perbuatan itu dibolehkan telah hilang”[4]
Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam sebuah bantahan, yang intinya melarang ummat untuk berlebihan memuja orang shalih dan menempatkan orang shalih sederajat dengan para Nabi. Beliau berkata:
ٍغ ٝ فؼيّ٘ٔ ٝنّ٘٘ا ٗىٌ ، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ ٍغ اى ظحاتح ٝ فؼئ ماُ فإَّا تاٟثاز، اىرثسك ٗمرىل
ٗل …تؼ ضٌٖ ٍثو ، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ ٍغ إل ٝ فؼو ل ٕرا أُ ػيٚ فده قدزٌٕ، ػي٘ ٍغ اى ظحاتح، ٍغ اىراتؼُ٘ ٝ فؼئ
اى رثسك ٗطؼأٍ شساتٔ ف ضو ٗشسب ٗشؼسٓ، ٗف ضلذٔ، ت٘ ض٘ئٔ،
“Demikian juga bertabarruk dengan bekas-bekas seseorang. Hal ini hanya dilakukan para sahabat Nabi terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, namun mereka tidak melakukannya kepada sesama mereka. Perbuatan ini juga tidak dilakukan oleh para tabi‟in terhadap para sahabat Nabi. Padahal sahabat Nabi memiliki kedudukan yang tinggi. Semua ini menunjukkan bahwa bertabarruk dengan bekas-bekas seseorang hanya khusus dilakukan terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Yaitu semisal bertabarruk dengan air wudhunya atau sisa airnya, dengan rambutnya, dengan air minum atau sisa makan dan minumnya”[5]
Meng-qiyaskan orang shalih dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
Setelah penjelasan-penjelasan yang telah lewat, telah jelas bagi kita bahwa pendapat sebagian ulama[6] yang meng-qiyaskan orang shalih dengan Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, sehingga mereka membolehkan tabarrruk kepada orang shalih selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, itu tidak dibenarkan. Yaitu karena beberapa poin:
ñ Ijma‟ sahabat untuk meninggalkan perbuatan bertabarruk dengan jasad dan peninggalan-peninggalan orang selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Allah Ta‟ala telah mengistimewakan para Nabinya dengan memberikan keberkahan pada jasadnya dan bekas-bekas peninggalannya. Hal ini sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka, yang merupakan makhluk suci, „alaihisshalatu was salaam.
Andai perbuatan tersebut disyariatkan, tentu para sahabat telah berlomba-lomba melaksanakannya bukannya malam bersepakat meninggalkannya. Karena merekalah orang-orang yang paling bersemangat dalam kebaikan. Dalam sebagian kitab syarah hadits terdapat pendapat yang berbunyi:
اى ظاىحِٞ تآثاز تاىرثسك تؤض ل
“Ber-tabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang shalih hukumnya boleh” Perkataan tersebut biasanya disebut ketika membahas tentang rambut Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, atau semisalnya. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengomentari perkataan ini:
، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ حق ف ٜ إل ٗزد ٍا أّٔ ٗذىل ٗاىحق، اىؼيٌ إٔو ػيٞٔ ٝ٘اف قٌٖ ل ظإس، غيظ ٕٗرا
فؤت٘ت نس ٍا اىس ض٘اُ، ت ٞؼح ٗإٔو اىثدزٝ ِٞ، ٗت قٞح تاى ْح، اىَثشسِٝ اىؼشسج ٗت قٞح ٗػيٜ، ػثَاُ اىْ٘زِٝ ٗذٗ ٗػَس
اى عيف ف ؼو ٍا ٝيرَعُ٘ ل أٌّٖ أٗ تٌٖ، اىلئق اىرؼظٌٞ اى يفاء ذؼظٌٞ ف ٜ ّق ظا ٌٍْٖ ٕرا أف ٞنُ٘ ٌٍْٖ، ٗاحد ٍغ ٕرا
.ْٝفؼٌٖ ػيٚ فاقر ظازٌٕ ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ خ ظائ ظاىْثٜ ٍِ أّٔ ػيٚ ٝده ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ
“Perkataan ini jelas-jelas merupakan kesalahan yang sama sekali tidak disetujui oleh ahli ilmu dan pengikut kebenaran. Karena bertabarruk yang demikian hanya layak dilakukan terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, 10 sahabat yang dijamin surga, peserta perang Badar, para sahabat yang ikut bai‟atur ridhwan, tidak ada seorang pun generasi salaf yang melakukannya.
Apakah mereka meremehkan para khulafa ar rasyidin? Apakah mereka kurang semangat dalam mencari hal yang bermanfaat bagi mereka? Sikap mereka, dengan hanya melakukan perbuatan tersebut terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, menunjukkan bahwa itu kekhususan Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam”[7]
ñ Menguatkan poin pertama, para tabi‟in pun bersikap sama dengan para sahabat dalam masalah ini. Karena tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada tabi‟in yang bertabarruk dengan para sahabat Radhiallahu‟anhum, sebagaimana telah dijelaskan. Bahkan para tabi‟in pun tidak melakukannya terhadap para tabi‟in senior. Padahal para tabi‟in senior adalah penghulu mereka dalam ilmu dan amal[8]. Demikian juga para imam setelah mereka.
ñ Lebih menguatkan lagi, tidak ada satu dalil syar‟i pun yang menunjukkan bolehnya bertabarruk pada jasad dan peninggalan-peninggalan orang selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Semua dalil menunjukkan perbuatan tersebut khusus bagi Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam sebagaimana kekhususan beliau yang lain[9] ñ Karena perbuatan tersebut khusus bagi Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam maka sudah tentu tidak dibolehkan mengqiyaskan orang shalih kepada beliau dalam hal ini, apa pun keutamaan orang shalih tersebut. Karena kekhususan Nabi itu hanya berlaku terbatas pada Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam.
Para ulama telah ber-ijma‟ bahwa jika Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam memiliki suatu kekhususan, maka hukum ini tidak berlaku pada orang lain. Karena kalau berlaku juga pada orang lain, tentu bukan kekhususan namanya[10].
ñ Tidak dibolehkan mengqiyaskan orang shalih kepada Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dalam hal ini dalam rangka sadduz dzarii‟ah, menutup jalan menuju sebuah keburukan.
Sadduz dzarii‟ah adalah salah satu kaidah syar‟iat yang agung dalam agama ini. Dan salah satu sebab tidak dibolehkannya qiyas dalam hal ini adalah sadduz dzarii‟ah. Karena dikhawatirkan, bertabarruk kepada orang selain NabiShallallahu‟alaihi Wasallam, dapat menjerumuskan kepada berlebihan dalam mengagungkan orang shalih. Imam Asy Syatibi menjelaskan asalan ini:
حرٚ اىثسمح، اىرَاض ف ٜ ت ٖيٖا ٗذ ثاىغ اىحدٗد، ف ٞٔ ذر اٗش تو حد، ػيٚ ذىل ف ٜ ذ قر ظس ل اىؼاٍح لُ
تٔ ىيَرثسك ٝداخيٖا ٍْٔ ىٞط ٍا تٔ اىَرثسك ف ٜ اػرقد فستَا اىحد، ػِ تٔ ٝ سج ذؼظٌٞ
“Karena kebanyakan orang awam tidak bisa menahan diri untuk tidak melebihi batas. Bahkan karena ketidak-pahaaman mereka, mereka cenderung melebihi batas dan berlebihan dalam mencari berkah. Mereka mengagungkan orang yang ditabarruki sampai melebihi batas. Bahkan terkadang mereka berkeyakinan yang tidak layak terhadap orang shalih yang ditabarruki tersebut.”[11]
Dan terkadang perbuatan ini menjadi sebab terlalu berlebihannya orang shalih diagungkan hingga sampai mencapai level kesyirikan[12]. Dalam kasus ini bertabarruk terhadap orang shalih selain Nabi menjadi jalan (dzarii‟ah) menuju kesyirikan.
Sebagaimana juga yang dipaparkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah ketika membahas masalah ini:
إىٚ ٝ رسقٚ ٗزتَا اىثدػح، ف ٜ اىَدخو اىغي٘ ٍِ ػيٞٔ ٝ شٚ ىَا ٗاىَؼظٌ، ىيَؼظٌ ف رْح الشٞاء فٖرٓ اى َيح، ٗف ٜ ٍِ ّ٘ع اى شسك
“Singkat kata, perbuatan-perbuatan demikian merupakan fitnah (keburukan besar) bagi orang yang melakukan tabarruk dan bagi orang shalih yang ditabarruki. Karena dikhawatirkan terjadi ghuluw yang mengantarkan kepada perbuatan bid‟ah atau terkadang sampai ke derajat syirik”[13]
Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah membantah ulama yang membolehkan tabarruk kepada selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dengan berkata:
ٗاى شسٝؼح ل، غٞس ػيٚ اىرؼيق ف ٜ ٝ٘قغ ظثة فٖ٘ ذاذ ٜ، اػرقاد غٞس ٍِ اى ثسمح، ٗجٔ ػيٚ ف ٞٔ أذُ ى٘ أت٘اب ت عد جاءخ اى شسك
“Andai perbuatan ini dibolehkan sekedar meyakini pada diri orang shalih turun keberkahan, tanpa berkeyakinan itu ada pada jasad atau bekas-bekasnya, tetap saja perbuatan ini menjadi sebab terjerumusnya seseorang pada tawakkal kepada selain Allah. Dan syariat Islam datang untuk menutup jalan-jalan kesyirikan”[14] Perbuatan ini selain merupakan keburukan besar bagi orang yang melakukan tabarruk, juga menimbulkan keburukan besar bagi orang shalih yang ditabarruki, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab barusan. Karena jika hal ini terjadi, dan orang shalih tersebut tidak sadar bahwa ia sedang tertimpa sebuah keburukan besar dengan perbuatan itu, ia pun akan merasa bangga pada dirinya. Rasa bangga meliputi dirinya sehingga ia menjadi sombong, riya[15], ia merasa dirinya suci, semua ini adalah penyakit-penyakit hati yang haram[16]. Ditambah lagi keburukan-keburukan yang lainnya, yang timbul dari perbuatan ini.Syubhat: “Kalau diharamkan karena mencegah kesyirikan, bukankah bisa terjadi juga bila dilakukan terhadap Rasulullah?”
Tidak dibenarkan kalau ada orang yang beralasan bahwa kemungkinan timbulnya ghuluw dan kesyirikan itu pun bisa terjadi jika bertabarruk kepada Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam. Pasalnya, ada dalil-dalil syariat yang mendasari dan adanya dalil yang memerintahkan bertabarruk kepada Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam secara khusus[17]. Dan kita ketahui bersama bahwa para sahabat Nabi yang melakukan demikian adalah orang-orang yang tidak ghuluw dan tidak berkeyakinan syirik. Alasan lain, hal ini tidak sama seperti bila dilakukan terhadap orang shalih selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, sebagaimana telah dijelaskan.
Diantara ulama masa kini, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, menyanggah pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani yang membolehkan bertabarruk kepada selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dengan alasan qiyas beberapa hadits tentang sahabat Nabi yang bertabarruk kepada Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz waffaqahullah berkata:
ف ٜ ل جؼو ىَا خا طح، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ تاىْثٜ ذىل ٝ ٘ش ٗإَّا جائص، غٞس اى ظاىحِٞ تآثاز اى رثسك
ٍاظٔ ٍٗا جعدٓ ى٘جِٖٞ ػيٞٔ ٝقاض ف ل غٞسٓ ٗأٍا اىثسمح، ٍِ: خٞسا ماُ ٗى٘ ، ٗظيٌ ػٞٔ ل طيٚ اىْثٜ غٞس ٍغ ذىل ٝ فؼي٘ا ىٌ ػٌْٖ ل ز ضٜ اى ظحاتح أُ :أحدَٕا.
إىٞٔ ى عثقّ٘ا ٍِ ٗػثادذٌٖ ف ٌٖٞ، اىغي٘ إىٚ ٝ ف ضٜ اى ظاىحِٞ تآثاز اىرثسك ج٘اش لُ اى شسك، ذزٝؼح ظد :اىثاّٜ اى٘جٔ ف٘جة ل، دُٗ ذىل ٍِ اىَْغ
“Bertabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang shalih tidaklah dibolehkan. Hal itu hanya dibolehkan khusus terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Karena Allah memang telah menjadikan jasad dan kulit beliau mengandung keberkahan. Adapun orang lain tidak bisa diqiyaskan kepada beliau, karena dua alasan:
1. Para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam. Andai perbuatan itu baik, tentu para sahabat Nabi lah yang sudah terlebih dahulu melakukannya
2. Menutup jalan menuju kesyirikan. Karena bertabarruk kepada bekas-bekas peninggalan orang shalih selan Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam mengantarkan kepada ghuluw dan ibadah kepada selain Allah. Sehingga wajib untuk dicegah.”[18] Nah, jelaslah sudah bagi kita semua bahwa tidak boleh meng-qiyas orang shalih terhadap Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam dalam hal ini. Sehingga tidak boleh bertabarruk kepada jasad atau bekas-bekas peninggalan orang shalih selain Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam, lebih lagi jika kepada selain mereka (kepada ahli bid‟ah, ahli maksiat, pohon, batu, cincin, dll. -pent). Karena mengagungkan sesuatu atau mencari berkah pada sesuatu itu membutuhkan dalil syar‟i. Wallahu Ta‟ala „alam.
[Diterjemahkan dari risalah yang berjudul Al Baraahin ‘Ala ‘Adami Jawaazit Tabarruk Bis Shaalihin, karya Syaikh Nashir bin Abdirrahman Al Jadi’ hadizhahullah]Yulian Purnama
[1] Diantaranya adalah Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau yang berjudul:
اى عاػح ٝدٛ ت ِٞ تؼثد : ٗظيٌ ػيٞٔ ل طيٚ ّثٜاه ق٘ه ٍِ تالذاػح اى دٝسج اىحنٌ
di halaman 55
[2] Sebagian orang sufi berkeyakinan lain, mereka menganggap bahwa sebagian wali itu lebih utama daripada para Nabi. Simak pembahasannya di kitab Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyyah tulisan Ali bin Abdil „Izz (493-495)
[3] Yang dimaksud Asy Syatibi adalah keberkahan yang sifatnya konotatif, yang didapatkan oleh orang-orang yang shalih karena telah mengikuti sunnah Nabi Shallallahu‟alaihi Wasallam
[4] Al I‟tisham, 2/10
[5] Al Hukmul Jadiirah, 1/55
[6] Diantaranya adalah Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 7/3, 14/44) dan Ibnu Hajar Al Asqalani (Fath Al Baari, 3/129,3/130,3/144,5/341), rahimahumallah.
[7] Majmu‟ Fatawa Wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 1/103-104. Lihat juga Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, 106.
[8] Fathul Majid (106), Ad Diin Al Khaalish (2/250) karya Syaikh Shiddiq Hasan Khan
[9] Haadzihi Mafaahimuna (209) karya Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh, dengan sedikit perubahan.
[10] Af‟alur Rasulullah Shallallahu‟alaihi Wasallam Wa Dilaalatuha „alal Ahkaam At Tasyri‟ (227) karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqaar, dengan sedikit perubahan
[11] Al I‟tisham (2/9)
[12] Murid-murid Al Hallaj menceritakan bahwa mereka ghuluw dalam bertabarruk kepada Al Hallaj. Sampai-sampai ada yang mengusap-usap air kencingnya dan membakar tahi-nya (seperti membakar dupa). Bahkan ada yang mengklaim bahwa Al Hallaj titisan Allah. Lihat kitab Al I‟tisham (2/10).
[13] Al Hukmul Jadiirah (1/55)
[14] Majmu Fatawa War Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim (1/104) dengan sedikit perubahan, lihat juja Fathul Majid (106), Asy Syirku Wa Mazhaahiruhu (93) karya Syaikh Mubaarak bin Muhammad Al Maili, Ad Diin Al Khaalish (2/250)
[15] Taisiir Al „Aziiz Al Hamid Syarh Kitab At Tauhid (154), karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahhab
[16] Haadzihi Mafaahimuna (210)
[17] Al Kawaasyif Al Jaliyyah „an Ma‟aani Al Washithiyyah (746) karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhamad As Salman, dengan sedikit perubahan
[18] Fathul Baari (3/130), (1/144) yang dita‟liq oleh Syaikh Ibnu Baaz

Continue reading...

ASAL USUL & HUKUM MENGUCAPKAN : “Taqabbalallahu Minna waMinkum”

Sun, Feb 9, 2014

Comments Off

Hukum saling mengunjungi dan berjabattangan ketika berjumpa di hari raya

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’I rahimahullahu
Tradisi salam-salaman alias berjabat tangan di negeri kita saat hari raya masih terus berlangsung, walaupun sebenarnya untuk saling berjabat tangan dan meminta maaf tidak perlu menunggu hari raya. Kapan kita memiliki kesalahan maka segera meminta maaf, dan kapan kita bertemu dengan saudara kita maka kita mengucapkan salam dan berjabat tangan. Demikian pula tahni’ah, ucapan selamat seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya dengan mengatakan, “taqabbalallahuminnawaminkum”.
Ucapan selamat pada hari Id ini pernah ditanyakan kepada Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253).Beliau menjawab, “Tidak ada asalnya dalam syariat.Telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat bahwa mereka melakukannya.Sebagian imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan selainnya.Akan tetapi Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata, ‘Aku tidak memulai mengucapkannya kepada seseorang.Namun bila ada yang lebih dahulu mengucapkannya kepadaku, aku pun menjawabnya karena menjawab tahiyyahitu wajib.’Adapun memulai mengucapkan tahni`ah bukanlah sunnah yang diperintahkan dan juga tidak dilarang. Siapa yang melakukannya maka ia punya contoh dan siapa yang meninggalkannya maka ia punya contoh.”
Yang dimaksudkan tahiyyaholeh Imam Ahmad rahimahullahuadalah firman Allah SubhanahuwaTa’ala:
وَإِذَاحُيِّيتُمْبِتَحِيَّةٍ‏‎ ‎فَحَيُّوابِأَحْسَنَمِنْهَاأَوْ‏‎ ‎رُدُّوْهَا
“Dan apabila kalian diberi ucapan salam penghormatan maka jawablah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan yang semisalnya.” (An-Nisa`: 86)
Adapun saling mengunjungi saat hari raya dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya, demikian pula saling mengucapkan selamat, bukanlah perkara yang disyariatkan bagi pria maupun wanita.Namun demikian, hukumnya tidak sampai bid’ah.Terkecuali bila pelakunya menganggap hal itu sebagai taqarrub (ibadah yang dapat mendekatkan diri) kepada Allah SubhanahuwaTa’ala, barulah sampai pada bid’ah karena hal itu tidak pernah dilakukan di masaNabiShallallahu ‘alaihiwasallam. (NashihatilinNisa`, Ummu Abdillah bintu Asy-SyaikhMuqbil Al-Wadi’irahimahullahu, hal. 124)
Wallahua’lambish-shawab.

Continue reading...
Older Entries Newer Entries