Selamat Datang Di Situs Berita Nasional Alfitrah Indonesia Online
ALFITRAH INDONESIA | Situs Berita Nasional

Al ‘Ashr ,ilmu dan amal

Fri, Nov 14, 2014

Comments Off

Al ‘Ashr ,ilmu dan amal
Allah ta’ala berfirman,
(ﻭَﺍﻟْﻌَﺼ ِ ْﺮ (1) ﱠ ﺇِﻥ ﺍﻹﺈِﻧْﺴ َ َﺎﻥ ﻟَﻔِﻲ ﺧُﺴ ٍ ْﺮ (2) ﺇِﻻﺎ ﺍﻟﱠﺬ َ ِﻳﻦ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼﱠﺎﻟِﺤ ِ َﺎﺕ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟْﺤ ﱢ َﻖ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﺼﱠﺒ ِ ْﺮ (3
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal.

Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
ْ ﻟَﻮ ﺗَﺪ َ َﺑﱠﺮ ُ ﺍﻟﻨﱠﺎﺱ ﻫَﺬ ِ ِﻩ ﺍﻟﺴﱡﻮْﺭ َﺓَ ﻟَﻮَﺳَﻌَﺘ ْ ْﻬُﻢ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah subhanahuwata’ala dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah subhanahuwata’ala dan bersabar atas semua itu.

Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

Iman yang Dilandasi dengan Ilmu

Dalam surat ini Allah ta’ala menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian.

Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah subhanahuwata’ala mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah subhanahuwata’ala . Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama).

Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ُ ﻁَﻠَﺐ ﺍﻟْﻌ ِ ِﻠْﻢ ﻓَﺮِﻳْﻀ َﺔٌ ﻋ َ َﻠﻰ ﻛ ﱢ ُﻞ ﻣ ٍ َﺴْﻠَﻢ
”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).

Imam Ahmad rahimahullah berkata, ﻳَﺠُِﺐ ْ ﺃَﻥ ﻳَﻄ َ ْﻠَﺐ ﻣ َ ِﻦ ﺍﻟْﻌ ِ ِﻠْﻢ ﻣَﺎ ﻳَﻘُﻮ ُ ْﻡ ِ ﺑِﻪ ﺩِﻳْﻨَﻪُ
”Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa membuat dirinya mampu menegakkan agama.” [Al Furu’ 1/525].

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah.

Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya.

Allah ta’ala berfirman,
ﻣَﺎ ﻛُﻨ َ ْﺖ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻜُِﺘَﺎﺏ ﻭَﻻ ﺍﻹﻳﻤ ُ َﺎﻥ ﻭ ْ َﻟَﻜِﻦ ﺟَﻌَﻠ ْﻨَﺎﻩُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻧَﻬْﺪِﻱ ِ ﺑِﻪ ﻣ ْ َﻦ ﻧَﺸ ُ َﺎء ﻣ ْ ِﻦ ﻋِﺒَﺎﺩِﻧَﺎ
”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).

Mengamalkan Ilmu

Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh- sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.

Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
ﻻَ ﻳَﺰَُﺍﻝ ﺍﻟْﻌ ُ َﺎﻟِﻢ ﺟَﺎﻫ ِﻼً ﺣ ﱠ َﺘﻰ ﻳَﻌْﻤ َ َﻞ ﺑِﻌِﻠْﻤ ِ ِﻪ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﻤ َ ِﻞ ِ ﺑِﻪ ﺻ َ َﺎﺭ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ
”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).

Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.

Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ﻻَ ﺗَﺰُﻭُْﻝ ﻗَﺪَﻣَﺎ ﻋَﺒ ٍ ْﺪ ﻳَﻮ َ ْﻡ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣ ِ َﺔ ﺣ ﱠ َﺘﻰ ﻳَﺴ َ ْﺄَﻝ ﻋ ْ َﻦ ﻋِﻠْﻤ ِ ِﻪ ﻣَﺎ ﻓَﻌ َ َﻞ ِ ﺑِﻪ
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

Berdakwah kepada Allah
Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Allah ta’ala berfirman,
(ْﻗُﻞ ﻫَﺬ ِ ِﻩ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ِ ﷲﻪ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺼِﻴﺮ ٍ َﺓ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻣ ِ َﻦ ﺍﺗﱠﺒَﻌَﻨِﻲ ﻭَﺳُﺒْﺤ َ َﺎﻥ ِ ﷲﻪ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣ َ ِﻦ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛ َ ِﻴﻦ (١٠٨
“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).

Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah.
Simak firman Allah ta’ala berikut,
ﻭَﻣ ْ َﻦ ﺃَﺣْﺴ ُ َﻦ ﻗَﻮْﻻﺎ ﻣِﻤ ْ ﱠﻦ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ِ ﷲﻪ ﻭَﻋَﻤ َ ِﻞ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭ َ َﻗَﺎﻝ ﺇِﻧﱠﻨِﻲ ﻣ َ ِﻦ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤ َ ِﻴﻦ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepadaAllah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ﻓَﻮ ِ َﷲﻪ ْ ﻷﺄَﻥ ﻳُﻬْﺪَﻯ َ ﺑِﻚ ﺭٌَﺟُﻞ ﻭَﺍﺣ ٌ ِﺪ ﺧٌَﻴْﺮ َ ﻟَﻚ ﻣ ْ ِﻦ ﺣُﻤ ِ ْﺮ ﺍﻟﻨﱠﻌ ِ َﻢ
Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor
2783).

Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas, seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.
Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui Islam yang benar,

namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan “duduk manis” tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah yang besar ini.
Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap agamanya.

Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya. Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ﻻﺎ ﻳُﺆْﻣ ُ ِﻦ ﺃَﺣَﺪُﻛ ْ ُﻢ ﺣَﺘﱠﻰ ﻳُﺤ ﱠ ِﺐ ﻷﺄَﺧ ِ ِﻴﻪ ﻣَﺎ ﻳُﺤﱡِﺐ ﻟِﻨَﻔْﺴ ِ ِﻪ
”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).

Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.

Bersabar dalam Dakwah
Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala.
Seorang da’i (penyeru) ke jalan Allah mesti menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini dikarenakan para dai’ menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi syari’at [Hushulul ma’mul hal. 20].

Hendaklah seorang da’i mengingat firman Allah ta’ala berikut sebagai pelipur lara
ketika berjumpa dengan rintangan.
Allah ta’ala berfirman,
ﻭ ْ َﻟَﻘَﺪ ﻛُﺬ ْ ﱢﺑَﺖ ٌﺭُﺳُﻞ ﻣ ْ ِﻦ ﻗَﺒ َ ْﻠِﻚ ﻓَﺼَﺒَﺮُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻛُﺬﱢﺑُﻮﺍ ﻭَﺃُﻭﺫُﻭﺍ ﺣَﺘﱠﻰ ْ ﺃَﺗَﺎﻫُﻢ ﻧَﺼْﺮُﻧَﺎ ﻭَﻻ ﻣُﺒَﺪ َ ﱢﻝ ﻟِﻜَﻠِﻤ ِ َﺎﺕ ِ ﷲﻪ ﻭ ْ َﻟَﻘَﺪ ﺟَﺎء َ َﻙ ﻣ ْ ِﻦ ﻧَﺒَﺈِ
(ﺍﻟْﻤُﺮْﺳ َ َﻠِﻴﻦ (٣٤
”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).

Seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah ta’ala menyebutkan wasiat LuqmanAl-Hakim kepada anaknya (yang artinya),
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).

Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah
berkata,
ﻓَﺒِﺎﻷﺄَﻣْﺮ ِ َﻳْﻦ ﺍْﻷَﻭﱠﻟِﻴْﻦَ، ﻳُﻜَﻤُﱢﻞ ﺍْﻹِﻧْﺴ ُ َﺎﻥ ﻧَﻔْﺴَﻪُ، ﻭَﺑِﺎﻷﺄَﻣْﺮَﻳ ِ ْﻦ ﺍْﻷَﺧِﻴْﺮِﻳ َ ْﻦ ﻳُﻜَﻤُﱢﻞ ﻏَﻴْﺮَﻩُ، ﻭَﺑِﺘَﻜْﻤِﻴ ِ ْﻞ ﺍْﻷُﻣُﻮ ِ ْﺭ ﺍْﻷَﺭْﺑَﻌَﺔِ، ﻳَﻜُﻮ ُ ْﻥ ﺍْﻹِﻧْﺴ ُ َﺎﻥ ْ ﻗَﺪ
[ﺳ َ َﻠِﻢ ﺗﻌﻞ ﻣ َ ِﻦ ﺍﻟْﺨُﺴَﺎﺭِ، ﻭ َ َﻓَﺎﺯ ﺑِﺎﻟْﺮِﺑ ْﺢِ [ﺍﻟْﻌَﻈ ِ ِﻴْﻢ
”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Semoga Allah subhanahuwata’ala memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Aamiin.

Continue reading...

dalil alqur’an wajib mengikuti sunnah : sunnah fi’liyyah (perbuatan Rasul) maupun sunnah qauliyyah (perkataan Rasul shallallahualahiwassalam ).

Fri, Nov 14, 2014

Comments Off

Flash back/ review

DEWASA ini, sejumlah sejumlah orang –termasuk anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat—tiba-tiba meminta pencabutan terhadap fatwa yang telah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bernomor Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah. (DPR Desak MUI Jawa Timur Cabut Fatwa Sesat Syiah,

Tempo.co, Senin, 03 September 2012).

Menariknya, desakan ini dilakukan oleh para politisi, bukan lembaga setara yang punya kewenangan dalam masalah fatwa.  Sebelum ini, sebagaian orang juga begitu mudah memvonis dan melabeli “Wahabi” atau “sesat” terhadap seseorang atau kelompok lain yang berbeda pandangan dengannya, tanpa ada dalil yang jelas dan shahih. Hanya karena persoalan khilafiah (beda mazhab) seperti baca qunut atau tidak, baca basmalah secara jahr (nyaring) atau sir (tidak nyaring), tarawih sebelas rakaat atau duapuluh rakaat, dan sebagainya, seseorang dengan mudahya memberikan label tersebut kepada orang lain yang tidak sesuai dengan mazhab yang diamalkannya.

Padahal, persoalan khilafiah adalah persoalan perbedaan pendapat ulama mu’tabar dalam masalah furu’ (fikih) yang ditolerir dalam syariat Islam dan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri (sunnatullah). Sejatinya, persoalan khilafiah menjadi rahmat, bukan malapetaka.
Parahnya, orang yang berkomitmen mengamalkan Sunnah Rasul shallallahualahiwassalam pun dikatakan “Wahabi” atau “sesat” oleh orang yang merasa dirinya “ulama” dan orang-orang yang taqlid buta dan fanatik terhadap guru atau mazhabnya. Hanya karena seseorang memelihara janggut, menaikkan kain/celana di atas mata kaki, memurnikan aqidah dari penyakit syirik, khurafat dan tahayul, serta komitmen menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah Rasul shallallahualahiwassalam .
Padahal, memelihara janggut maupun menaikkan kain/celana di atas mata kaki merupakan Sunnah Rasul shallallahualahiwassalam , baik

sunnah fi’liyyah (perbuatan Rasul) maupun sunnah qauliyyah (perkataan Rasul shallallahualahiwassalam ).

Begitu pula larangan melakukan syirik, tahayul, khurafat dan bid’ah merupakan ajaran Rasulullah shalllahualahiwassalam yang mengharamkannya.

Membenci sunnah Rasul shallallahualahiwassalam sama halnya membenci Rasul shallalllahualahiwassalam .

Terhadap orang yang membenci Sunnahnya, Rasulullah shallallahualahi wassalam mengancam, “Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golongan umatku”.

Bahkan Allah subhanahuwata’ala mengancam orang-orang yang membenci sunnah Rasulullah dengan kesesatan  yang nyata,

dengan firman-Nya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, ia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata” (al-Ahzab: 36).

Menfitnah adalah Dosa Besar

Kita diperintahkan untuk berhati-hati dalam menyatakan sesuatu, agar tidak terjerumus kepada dosa. Apalagi bila sampai menghujat dan menfitnah serta memprovokasi sesama muslim untuk membenci saudaranya seislam dan seakidah.

Padahal, mencaci seorang Muslim hukumnya haram dan dosa besar (Al-Ahzab: 58, al-Hujurat: 12). ِ

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata yang merupakan penyebab kemurkaan Allah yang ia tidak pikirkan sebelumnya, maka dengannya ia terjerumus kedalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga bersabda, “Mencaci orang muslim itu perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbicara mengenai persoalan hukum agama wajib dengan ilmu. Bila tidak, maka kita diperintahkan untuk diam dan bertanya kepada orang yang berilmu, agar tidak sesat dan menyesatkan.

Allah berfirman, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (al-Isra’: 36).

Oleh karena itu, sikap seorang muslim ketika menerima suatu berita yang bernada provokasi dan fitnah, maka ia wajib menyelidiki kebenarannya (tabayun). Allah Subhanahuwata’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan tersebut.” (al-Hujurat: 6)

Pada dasarnya Islam melarang kita menyatakan sesat atau kafir terhadap seseorang atau suatu kelompok, kecuali dengan dalil yang jelas dan shahih dari al-Quran dan as-Sunnah. Tanpa ada dalil yang jelas dan shahih, maka sesungguhnya label “sesat” atau “kafir” itu akan kembali kepadanya.

Rasulullah shalllahualahiwassalam bersabda, “Tidaklah seseorang melemparkan kefasikan atau kekufuran kepada orang lain melainkan tuduhan kefasikan atau kekufuran itu akan kembali kepada dirinya sendiri, jika orang yang dituduh tidak benar demikian. (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, kita tidak boleh asal menuduh orang lain dengan tuduhan “sesat” atau “kafir” tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syar’i (agama). Karena segala ucapan ada konsekuensinya.Meskipun demikian, bila seseorang atau suatu kelompok menyimpang dari ajaran Islam karena perbedaan ushul (akidah), maka kita mesti tegas dalam bersikap. Kalau memang sesat, maka harus dikatakan sesat seperti Syiah dan Ahmadiah dan sebagainya yang berbeda akidahnya. Agar tidak mengambang dan menjadi fitnah di tengah masyarakat. Tentunya harus dengan dalil yang jelas dan shahih dari al-Quran dan as- Sunnah.

Ulama diharapkan memberikan ketegasan dalam menfatwakan sesat suatu paham/aliran yang menyimpang dari ajaran Islam dalam persoalan ushul (akidah), karena tugas dan kewajiban ulama adalah memberi petunjuk dan membimbing umat serta melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar.

Dengan dasar fatwa ulama tersebut, maka pemerintah berkewajiban menindak tegas terhadap pelaku ajaran sesat.
Hanya yang sering tumpang tindih di masyarakat adalah ketidak-pahaman akan khilafiyah dan perbedaan karena ushul (akidah).

Antara qunut dan tidak qunut adalah masalah khilafiyah,

namun keyakinan Ahmadiyah dan Syiah adalah hal menyangkut akidah, bukan perbedaan pendapat atau mahzab (khilafiyah). [baca: Sunni-Syiah Perbedaan Akidah!]Tolok Ukur Kebenaran dan Kesesatan Sebagian orang sering mengatakan, hanya Allah dan Rasul-Nya yang mempunyai otoritas menentukan suatu kebenaran dan kesesatan.

Pernyataan ini benar seperti firman Allah;“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-An’am: 117).

Allah Subhanahuwata’ala juga berfirman, “Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)

Hanya saja, meski kebenaran itu mutlak di tangan Allah Subhanahu Wata’ala, bukan berarti manusia tidak bisa menghukumi sesat atas manusia lain. Penentuan bisa dilakukan dengan beberapa syarat. Di antaranya;

Pertama, dasar pijakannya adalah sumbernya kebenaran, yakni bersumber kepada Al Qur’an dan As Sunnah

Kedua, menggunakan cara pandang dan mengikuti pemahaman para ulama dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah

Rasulullah shallallahualahiwassalam bersabda, “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Quran dan Sunnah Rasul shalllahualahiwassalam .” (HR: At-Tirmizi)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sesat itu adalah orang yang meninggalkan  ajaran al-Quran dan Sunnah Rasul shalllahualahiwassalam

Maka, yang menjadi tolok ukur untuk menentukan suatu kesesatan itu adalah al-Quran dan as-Sunnah.

Oleh karena itu, kita wajib merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah.Mengenai kewajiban ini,

Allah subhanahuwata’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan para pemimpin diantara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya).” (QS: An-Nisa’: 59).

Allah subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk taat terhadap segala perintah dan larangan dari Rasul shalllahualahiwassalam ,

dengan firman-Nya, “Apa yang diberikan oleh Rasul (Muhammad) maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS:al-Hasyr: 7).

Ketiga, dilakukan oleh orang-orang yang berilmu (alim), tidak semua orang“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu),

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [QS; Al anbiya’: 7]

Tiada pilihan lain bagi seorang Muslim selain mengamalkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman, “Dan tidaklah pantas bagi orang mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, ia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata” (al-Ahzab: 36).

Bahkan, seseorang dianggap tidak beriman dan sesat bila tidak taat kepada sunnah Rasul shallahualahiwassalam , sesuai dengan

firman Allah Subhanahuwata’ala, “Maka, demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65).

Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Di samping itu, Allah juga mengancam orang yang menyalahi perintah Rasul dengan cobaan dan azab yang pedih, sesuai dengan firman-Nya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63).

Maka, sebagai orang  yang mengaku muslim, kita wajib mengikuti al-Quran dan as-Sunnah.Al-Quran dan as-Sunnah merupakan sumber hukum Islam yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa as-Sunnah, maka kita tidak dapat memahami ajaran al-Quran dengan benar.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa As-sunnah berfungsi sebagai :

syariah (penjelas isi al-Quran),
musyri’ah (penetap hukum tambahan) dan muqarrirah (penguat hukum al-Quran).

Di sinilah letak urgensi sunnah dalam syariat Islam, tanpa as-Sunnah maka al-Quran tidak bisa dipahami secara baik dan benar.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman, “Dan Kami turunkan Al-Quran kepadamu (Muhammad), agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

Seandainya as-Sunnah tidak penting dan tidak diperlukan, maka tentu Allah subhanahuwata’ala tidak perlu mengutus Muhammad Shalllahualahiwassalam sebagai Rasul-Nya.Untuk memahami dan menafsirkan al-Quran dan as-Sunnah secara benar, kita wajib mengikuti pemahaman para ulama salaf (shahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in).

Merekalah yang paling mengerti tentang syariat Islam setelah Rasulullah shallallahualahiwassalam , sesuai sabdanya, “Wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk. Berpegang eratlah pada sunnahnya” (H.R Abu Daud dan At-Tirmizi).

Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik masa adalah masaku (masa Rasulullah dan para sahabat). Lalu masa sesudahku (masa tabiin). Lalu masa sesudahku (tabi’ tabiin). (H.R. Bukhari).

Selain itu, penyebab utama ajaran sesat berkembang karena kita telah dijauhkan dari Sunnah Rasul shalllahualahiwassalam

Karekteristik utama setiap ajaran sesat adalah tidak mengakui Sunnah Rasul shalllahulahiwassalam sebagai sumber hukum dan pedoman hidup. Apapun nama paham/aliran sesat, pasti mereka menyerang sunnah Rasul shalllahualahiwassalam . Bahkan di antara para pendiri aliran/paham sesat mengaku dirinya sebagai Nabi.

Bila Sunnah Nabi shalllahualahiwassalam tidak diakui lagi dan ditinggalkan, maka sangatlah mudah kita disesatkan, karena al-Quran tidak akan bisa dipahami secara benar tanpa as-Sunnah. Bahkan sebahagian besar hukum dalam syariat Islam ditetapkan berdasarkan Sunnah Rasul shalllahualahiwassalam .

Dasar dan tolak ukur hampir sama pula yang dipakai Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan 10 Kreteria Aliran Sesat di Indonesia.Oleh karena itu, pelajarilah al-Quran dan As-Sunnah secara benar pada para ulama. Mengenai persoalan agama, kita wajib merujuk kepada ulama yang mu’tabar. Allah Subhanahuwata’ala

“…Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7).

Rasulullah shalllahualahiwassalam   bersabda, “..Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi..”. (H.R. Abu Daud dan at-Tirmizi).

Para Nabi tidak mewariskan harta, namun ilmu.

Itulah warisan yang paling agung dan bernilai. Inilah keutamaan para ulama.

Mengingat kedudukan ulama dalam Islam yang begitu tinggi dan mulia, maka ulama sangat berperan dalam memutuskan berbagai perkara mengenai persoalan agama, termasuk dalam menentukan aliran-aliran sesat yang dianggap menyimpang dengan ajaran Islam. Bukan orang lain yang tidak memiliki kapasitas ilmu.Sudah benar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan kriteria aliran sesat, termasuk menfatwakan nama-nama  aliran sesat, agar persoalan jelas dan tidak mengambang.

Tentunya, dengan tolok ukur al-Quran dan Sunnah Rasul shalllahualahiwassalam .

Selanjutnya pemerintah diharapkan untuk segera menindak dengan tegas terhadap aliran/paham yang telah divonis sesat oleh MUI. Semoga kita selalu mendapat petunjuk dari Allah Subhanahuwata’ala . Aamiin..!

Continue reading...

Lihat Wakapolrestabes Dipanah, Brimob Ngamuk

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Wartawan Dihajar dan Kamera Dirampas

MAKASSAR, BKM — Wakil Kepala Polretabes Makassar AKBP Totok yang memimpin upaya pembubaran paksa aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Negeri Makassar, di Jalan AP Pettarani, Kamis (13/11) sore menjadi korban. Totok tertembus panah di bagian rusuk kirinya.
Sontak insiden ini memicu terjadinya kekacauan ekskalatif dan memancing aparat gabungan dari Polrestabes Makassar dan Brimob bertindak brutal. Sejumlah wartawan media cetak dan televisi bahkan turut menjadi korban kekerasan aparat.
Tanda-tanda kekacauan sudah terlihat sejak siang hari saat Heri Tahir, Pembantu Rektor (Purek) III UNM menjadi korban pemukulan massa di depan Gedung DPRD Makassar.
Awal bentrok bermula ketika salah satu dari ratusan mahasiswa UNM yang tergabung dalam konvoi bermotor melintas di Jalan AP Pettarani melempari kendaraan Sabhara Polrestabes yang diparkir. Karena tidak menerima perlakuan tersebut, sejumlah polisi mengejar mahasiswa UNM.
Alhasil terjadi gesekan di depan kampus. Mahasiswa meladeni polisi dengan lemparan batu dan busur.
Polisi melepaskan gas air mata berulang kali untuk menghalau mahasiswa.
Seorang mahasiswa UNM, Fiky Presiden mahasiswa UNM berhasil diamankan polisi kemudian digiring ke mobil tahanan satuan Sabhara Polrestabes Makassar.
Diketahui, sebelumnya terjadi bentrok di depan DPRD Kota Makassar, 50 orang mahasiswa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulsel di pimpin Suras dari Fakultas Hukum UNM melakukan aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Sulsel Jl Urip Sumoharjo menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM.
Pada saat berunjuk rasa di DPRD Sulsel, pengunjukrasa diterima oleh Edwar Horas Wijaya (Fraksi Gerindra Komisi C) dan Haidar Majid (Fraksi Demokrat Komisi E). Keduanya mengaku akan menindaklanjuti tuntutan pengunjukrasa.
Selang beberapa menit aspirasinya diterima, 200 orang mahasiswa UNM datang dan langsung bergabung dengan tuntutan yang sama. Usai itu mereka kemudian menuju pertigaan lampu merah Jalan AP Pettarani – Hertasning. Pada saat tiba di depan kantor DPRD Kota Makassar, perjalanan menuju kampus salah seorang mahasiswa, Taslim (Ketua Mensospol FIP UNM) ditangkap tepat di depan KFC Pettarani oleh polisi sehingga rekannya yang lain tidak terima dan melakukan perlawanan dengan melempari batu ke arah polisi.
Terjadi aksi saling lempar, dan aparat kepolisian berhasil menangkap salah seorang bernama Fiky
Dari situ bentrokan meluas sampai Wakapolrestabes AKBP Totok tiba di lokasi dan berusaha membubarkan massa. Totok mencoba bernegosiasi dengan mahasiswa namun direspons dengan lemparan batu.
Tiba-tiba sebuah busur melayang dan menembus rusuk kiri Totok. Kekacauan terjadi.
Aparat mulai brutal. Tak hanya mahasiswa, sampai wartawan yang meliput pun ikut menjadi korban.
Ikrar, kameramen Celeves TV mengatakan, saat itu dirinya hendak mengambil gambar kejadian di mana aparat Brimbo sedang melakukan perburuan terhadap sejumlah mahasiswa yang berlarian ke dalam kampus. Tapi spontan aparat Brimob tersebut melarang pengambilan gambar sambil merampas kamera dan menghajarnya dengan pentungan.
“Kamera saya dirampas kemudian saya dipukuli dengan pentungan yang dibawa oknum brimob itu. Kamera rusak,” kata Ikrar.
Tak hanya Ikrar, sejumlah fotografer juga menjadi korban pemukulan aparat Brimob. Iqbal yang merupakan fotografer koran harian Tempo Makassar juga mengalami hal yang sama.
“Saya melihat mahasiswa ditangkap di dalam kampus, saya mengambil gambar tapi kamera saya kemudian dirampas lalu memorynya dilepas. Tak sampai disitu saya dipukuli juga,” ungkapnya.
Selain keduanya, kameraman metro TV, wadly juga mengalami hal yang sama. Dimana ia mengalami pukulan bertubi-tubi di wajahnya. “Pelipis saya luka akibat pukulan, kamera juga dirampas karena sempat merekam kejadian di dalam kampus waktu Brimob menangkap mahasiswa,” ujarnya.(eka-ril/sya/B)

Continue reading...

ALLAH SWT TIDAK TERHALANG UNTUK DIPANDANG

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

ALLAH SWT TIDAK TERHALANG UNTUK DIPANDANG

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الحَكِيْمُ الخَبِيْرُ
Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya
Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui (QS. Al-An’am 18)

الحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبٍ وَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ النَّظْرِ إِذْ لَوْحَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ ماَحَجَبَهُ وَلَوكاَنَ لَهُ ساَتِرٌ لَكاَنَ لِوُجُوْدِهِ حاَصِرٌ وَكُلُّ حاَصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ

Allah swt tidak terhalang untuk dilihat, akan tetapi yang terhalang adalah anda untuk dapat melihat Allah swt , logikanya apabila Allah swt terhalang sesuatu untuk dilihat maka penghalang itu menutupi wujud Allah swt , apabila wujud Allah swt terhalang maka keberadaan Allah swt itu terbatas, dan setiap sesuatu yang terbatas niscaya ada sesuatu yang membatasi atau ada sesuatu yang menguasainya, ada yang menguasai Allah swt itu mustahil.

يَعْنِي أَنَّ الحِجاَبَ لاَ يَتَّصِفُ بِهِ الحَقُّ سُبْحاَنَهُ وَتَعاَلىَ ِلاسْتِحاَلَتِهِ فيِ حَقِّهِ

Yakni, bahwa penghalang tidak akan pernah terjadi menyertai Allah SWT Al-Haq Subhanallah, karena hal itu mustahil bagi Allah SWT.

وَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ أَيُّهاَ العَبْدُ بِصِفاَتِكَ النَّفْساَنِيَّةِ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ فَإِنْ رُمْتَ الوُصُوْلَ فاَبْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِكَ وَعاَلَجَهاَ

Sesungguhnya yang terhalang adalah anda,wahai saudaraku. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah swt . Apabila anda ingin sampai melihat Allah swt , maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan.

فَإِن الحِجاَبَ يَرْتَفِعُ عَنْكَ فَتَصِلُ إِلىَ النَّظْرِ إِلَيْهِ بِعَيْنِ بَصِيْرَتِكَ وَهُوَ مَقاَمُ الإِحْساَنِ الَّذِي يُعَبِرُوْنَ عَنْهُ بِمَقاَمِ المُشاَهَدَةِ

Pada akhirnya penghalang itu akan sirna, hilang dari anda sehingga sampai pada “Dapat Melihat Allah swt” dengan “Aen Basyiroh” (Pandangan waspada hati) dan inilah yang disebut “Ihsan” yaitu beribadah kepada Allah swt seolah anda melihatNya, apabila anda tidak mampu melihatNya, sesungguhnya Allah swt melihat anda. Para Ulama Sufi menyebutnya Maqom Musyahadah artinya ruang kesaksian, “Aku besaksi tiada Tuhan selain Allah”.

Allah SWt dapat terlihat dengan pandangan waspada hati, bukan dengan pandangan hati, karena pandangan hati biasanya mengarah terbayang, sedangkan mustahil utuk bisa terbayang. Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asyura 11)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman :
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

Allah swt , Tuhan yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thaha 5)

Bersemayam maksudnya Menguasai ‘Arasy, sebagaimana seorang raja duduk diatas kursi singgasananya mangandung makna menguasai atau penguasa. Karena ketika kata “bersemayam” diartikan mentah maka akan terbayang Allah swt sedang bersemayam dan ini membuat kufur, keluar dari agama Islam, menyerupakan sesuatu dengan Allah swt . Istawa yang artinya bersemayam disebutnya kalimat Majaz.

Dalam memahami berbahasa Arab, termasuk bahasa lainnya, hendaknya menggunakan disimpin tatabahasa dan ilmu lainya. Seperti memahami Sya’ir pada Maulid Barjanzi – Syekh Ja’far Al-Barzanji, 1126-1177 H :

أَنْتَ لِلرُّسْلِ خِتاَمٌ أَنْتَ لِلْمَوْلىَ شَكُوْرُ
عَبْدُكَ المِسْكِيْنُ يَرْجُوْ فَضْلَكَ الجَمَّ الغَفِيْرُ

Engkau adalah penutup bagi para Rosul, Engkau jua yang paling bersyukur pada Tuhan
Hambamu yang pantas dikasihani ini mengharap keutamanmu yang begitu banyak

Uraian bahasan-nya :

(أَنْتَ) ياَرَسُوْلَ اللهِ (لِلرُّسْلِ خِتاَمٌ) فَلاَرَسُوْلَ وَلاَنَبِيَّ بَعْدَكَ (أَنْتَ لِلْمَوْلىَ شَكُوْرُ) بِفَتْحِ الشَّيْنِ أَىْ كَثِيْرُ الشُّكْرِ (عَبْدُكَ المِسْكِيْنُ) بِكَسْرِ المِيْمِ وَفَتْحِهاَ أَىْ الذَّلِيْلُ وَالضَّعِيْفُ (يَرْجُوْ فَضْلَكَ الجَمَّ) أَىْ الكَثِيْرَ (الغَفِيْرَ) الوَاسِعَ
Artinya :
(Engkau) wahai Rasulullah (adalah penutup bagi para Rosul) karena tidak ada Rosul dan Nabi setelah engkau (engkau jua yang paling bersukur pada Tuhan) fatah huruf Syin, artinya banyak bersyukur (hambamu yang pantas dikasihani ini) kasrah huruf mim dan ia boleh fatah, artinya hamba yang hina dan lemah (mengharap keutamanmu yang begitu banyak) artinya banyak dan berlimpah.

فَقَوْلُهُ عَبْدُكَ مُبْتَدَأٌ وَالمِسْكِيْنُ صِفَةٌ لَهُ وَقَوْلُهُ يَرْجُوْ فِعْلٌ مُضاَرِعٌ وَالفاَعِلُ ضَمِيْرٌ يَعُوْدُ إِلىَ عَبْدِكَ وَالجُمْلَةُ خَبَرُ المُبْتَدَأ وَقَوْلُهُ الجَمَّ الغَفِيْرَ صِفَتاَنِ لِفَضْلِكَ
Artinya :
Lafadz Abduka (hambamu) menurut ilmu nahwu adalah “mubtada” dan lafadz Al-Miskin (yang pantas dikasihani) adalah “sifat” dari lafadz Abduka. Lafadz Yarju (mengharap) adalah fi’il mudlore dan fail-nya adalah dlomir yang kembali pada Abduka dan menjadi jumlah khobar-mubtada. Lafadz Jammal-ghofiru (banyak yang melimpah) adalah dua “sifat” untuk lafadz fadlika (keutamaanmu).

Catatan

a.   Kalimat “Engkau (Rosulullah) penutup para Nabi dan Rasul, hal ini berdasarkan hadits ;

مَثَلِى وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ – قَالَ – فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ
Artinya :
Perumpamaanku dengan para nabi sebelum aku ialah laksana seorang lelaki yang membangun rumah yang bagus nan indah, akan tetapi ada lahan bangunan fiktif disekelilingnya, lalu semua orang mengelilingi lahan fiktif itu, membanggakan dan mereka berkata “Ayo kita bangun baru lahan bangunan ini !?” (maksudnya membuat agama atau sekte baru) Nabi bersabda “Aku adalah lahan nyata (agama nyata) dan aku adalah penutup para nabi. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

b.   Kalimat “Engkau jua yang paling bersyukur pada Tuhan” hal ini berdasarkan hadist ;
    
حَدَّثَناَ أَبُوْ نُعَيْمٍ قاَلَ حَدَّثَناَ مُسْعِرٌ عَنْ زِياَدٍ قاَلَ سَمِعْتُ المُغِيْرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ إِنْ كاَنَ النَّبِيُّ  Tلِيَقُوْمَ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرُمَ قَدَماَهُ أَوْساَقاَهُ , فَيُقاَلُ لَهُ فَيَقُوْلُ  أَفَلاَ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا
     Artinya :
Kami mendapat khabar dari Abu Nu’aim, beliau dapat khabar dari Mus’ir dan dari Ziyad, beliau mendengar Al-Mughiroh ra berkata ; “Apabila benar baginda Nabi Saw berdiri untuk shalat malam sehingga kedua telapak atau betis kaki beliau bengkak, beliau (Nabi Saw) ditanya akan hal itu, kemudian beliau menjawab “Apakah tidak boleh apabila aku menjadi seorang hamba yang sangat bersyukur”. (HR. Sohih Bukhori)

c.   Kalimat “Hambamu yang pantas dikasihani”, ini bukan penghambaan hakiki yang masuk ke dalam bentuk menyembah Nabi Saw. (Ingat !! dalam tata bahasa ada istilah makna hakiki dan makna majazi) hamba di sini hanya penghambaan majazi (tidak hakiki), artinya hanya penghambaan dalam bentuk mengikuti, taat dan patuh saja, sebut sajalah sebagai pengikut.

Kata Abdun (hamba) dalam bahasa Arab juga artinya budak atau sahaya dari majikan atau tuannya, dan tuannya itu tidak disembah. Ketika hamba dimaknai hakiki (menyembah) akan bertentangan dengan syahadat, “Tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah”.

Wal-hasil hamba disini artinya adalah pengikut Nabi Saw. Dan cinta kepada Allah Swt dianggap dusta apabila tidak disertai dengan mengikuti Nabi Saw. Ciinta kepada Allah swt harus seiring dengan mengikuti Nabi SAW, ini berdasarkan firman Allah ;

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
Artinya :
Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah swt, ikutilah aku (Nabi SAW), niscaya Allah Swt mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran 31)

d.   Kalimat “Mengharap keutamanmu yang begitu banyak” dalam hal berharap dan harapan itu dijanjikan Allah Swt, bukanlah termasuk syirik, karena tetap berharap kepada Allah swt , hanya saja tidak dipungkiri (untuk kita manusia) prosesnya akan terjadi melalui sesama makhluk, tidak ada bedanya ketika anda mengalami musibah tenggelam di laut, anda terombang ambing di tengah laut dan melihat tim SAR, apa yang akan anda katakan pada tim SAR?, “Pak tolong kami” mungkin itu jawaban anda, apa itu syirik ?, ini juga maksudnya berharap bantuan (majazi).

Salah satu keutamaan Nabi Saw adalah syafa’at (pertolongan) dan ini dijanjikan Allah swt atau seizin Allah swt adalah Nabi akan menolong umat pengikutnya, berikut haditsnya ;

حَدَّثَناَ إِسْمَاعِيْلُ قاَلَ حَدَّثَنِيْ مَالِكْ عَنْ أَبِيْ الزَّناَدِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهَ T قاَلَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجاَبَةٌ يَدْعُوْ بِهاَ وَأُرِيْدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِيْ شَفاَعَةً ِلأُمَّتِيْ فيِ الآَخِرَةِ
Artinya :
Kami dapat khabar dari Ismail, kami dapat khabar dari Malik, dari Abi Az-Zanad, dari Al-‘Aroj, dan dari Abi Hurairoh, bahwa rasul;ullah Saw bersabda ; Setiap Nabi memiliki do’a mustajab (dikabulkan) untuk mereka berdo’a, dan aku ingin persiapkan do’aku agar menjadi syafaat (penolong) kepada umatku di akhirat. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

Dalam firman Allah swt disebutkan ;

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Artinya :
Tiada yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) menurut Allah swt tanpa seizin-Nya ( QS. Al-Baqoroh 255)

KESIMPULAN
Allah swt itu dapat terlihat dengan Ae’n Basyiroh (pandangan waspada hati), untuk kalangan awam pandangan waspada hati cukup ditafsirkan dengan keyakinan bahwa Allah swt itu melihat kita, sehingga semua perbuatan anda akan selalu baik, karena merasa selalu dilihat Allah SWT.

Orang yang merasa dilihat dan diperhatikan Allah swt , ia tidak akan pernah berbuat dosa sedikitpun, sekalipun terjatuh ke dlam dosa ia akan segera bertaubat, bahkan hidupnya senantiasa bernilai ibadah, tidak ada waktu luang yang sia-sia, karena ia berkeyakinan bahwa pandangan Allah swt akan selalu restu pada setiap waktu yang berguna dan bernilai beribadah.

Dalam memahami redaksi Qur’an, Hadits, atau pernyataan para Ulama, hendaknya menggunakan disiplin ilmu, baik Nahwu, Shorof, Mantiq, Balaghah atau ilmu yang lainnya. Jangan mengartikan mentah, karena akan berakibat keliru dalam memaknai redaksi, yang pada akhirnya keliru dalam pemahaman. Semoga kita semua terlindung dari paham-paham yang sesat dan menyimpang, amien.

Allah swt mengetahui segalanya.

DAFTAR PUSTAKA
 
1.   Al-Hikam, Ibnu ‘Athoillah
2.   Syarah Al-Hikam, Abdullah Asy-Syarqowi
3.   Fathush-Shomad Al-‘Alam Maulid, Ahmad bin Al-Qosim
4.   Bulugul-Fauziy Libayani-Alfadzil-Maulid, Ibnu Al-Juziy

Continue reading...

Allah swt Begitu Dekat pada Orang yang Berdoa

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Allah swt Begitu Dekat pada Orang yang Berdoa

Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan menanti, namun tak juga impian itu datang. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali memohon pada Allah swt. Sikap seorang muslim adalah tetap terus berdo’a karena Allah swt begitu dekat pada orang yang berdo’a. Boleh jadi terkabulnya do’a tersebut tertunda.
Boleh jadi pula Allah swt mengganti permintaan tadi dengan yang lainnya dan pasti pilihan Allah swt adalah yang terbaik.
Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah Ta’ala,
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳ َ َﺄَﻟَﻚ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨﱢﻲ ﻓَﺈِﻧﱢﻲ ﻗَﺮٌِﻳﺐ ﺃُﺟُِﻴﺐ ﺩَﻋْﻮ َﺓَ ﺍﻟﺪ ِ ﱠﺍﻉ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋ ِ َﺎﻥ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌ ْ َﻠﱠﻬُﻢ ﻳَﺮْﺷُﺪ َ ُﻭﻥ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata,
ﻳَﺎ ﺭَﺳ َ ُﻮﻝ ِ ﷲﻪ ﺭَﺑﱡﻨَﺎ ﻗَﺮٌِﻳﺐ ﻓَﻨُﻨَﺎﺟ ِ ِﻴﻪ ؟ ْ ﺃَﻭ ﺑَﻌ ٌ ِﻴﺪ ﻓَﻨُﻨَﺎﺩ ِﻳﻪِ ؟ ﻓَﺄَﻧْﺰ َ َﻝ ﷲﻪُ ﻫَﺬ ِ ِﻩ ﺍﻵﺂﻳَﺔَ
“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdo’a ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas. ( Majmu’ Al Fatawa, 35/370)
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah swt pada orang yang berdo’a (kedekatan yang sifatnya khusus).” (Majmu’ Al Fatawa, 5/247)
Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah swt itu ada dua macam:
1. Kedekatan Allah swt yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.
2. Kedekatan Allah swt yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdo’a pada-Nya, yaitu Allah swt akan mengijabahi (mengabulkan) do’anya, menolongnya dan memberi taufik padanya. ( Tafsir Al Karimir Rahman, hal.
87)
Kedekatan Allah swt pada orang yang berdo’a adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah swt begitu dekat pada orang yang berdo’a dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah swt adalah ketika ia sujud. ( Majmu’ Al Fatawa, 15/17)
Siapa saja yang berdo’a pada Allah swt dengan menghadirkan hati ketika berdo’a, menggunakan do’a yang ma’tsur (dituntunkan), menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi terkabulnya do’a (seperti memakan makanan yang haram), maka niscaya Allah swt akan mengijabahi do’anya. Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab-sebab terkabulnya do’a dengan tunduk pada perintah dan larangan Allah swt dengan perkataan dan perbuatan, juga disertai dengan mengimaninya. ( Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87)
Dengan mengetahui hal ini seharusnya seseorang tidak meninggalkan berdo’a pada Rabbnya yang tidak mungkin menyia-nyiakan do’a hamba-Nya. Pahamilah bahwa Allah swt benar-benar begitu dekat dengan orang yang berdo’a, artinya akan mudah mengabulkan do’a setiap hamba. Sehingga tidak pantas seorang hamba putus asa dari janji Allah swt yang Maha Mengabulkan setiap do’a.
Ingatlah pula bahwa do’a adalah sebab utama agar seseorang bisa meraih impian dan harapannya. Sehingga janganlah merasa putus asa dalam berdo’a.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan.
Akan tetapi pengaruh do’a pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang do’anya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya sendiri.
Boleh jadi do’a itu adalah do’a yang tidak Allah swt sukai karena melampaui batas.
Boleh jadi do’a tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak menghadirkan hatinya kala berdo’a. …
Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya do’a dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (Al Jawaabul Kaafi, hal. 21).
Ingatlah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻟَﻴ َ ْﺲ ﺷَﻲ ٌ ْء ﺃَﻛْﺮ َ َﻡ ﻋَﻠَﻰ ِ ﷲﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣ َ ِﻦ ﺍﻟﺪﱡﻋ ِ َﺎء
“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a. ” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Jika memahami hal ini, maka gunakanlah do’a pada Allah swt sebagai senjata untuk meraih harapan.
Penuh yakinlah bahwa Allah swt akan kabulkan setiap do’a.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﷲﻪَ ﻭ ْ َﺃَﻧْﺘُﻢ ﻣ َ ُﻮﻗِﻨُﻮﻥ ﺑِﺎﻹِﺟ ِ َﺎﺑَﺔ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﱠ ﺃَﻥ ﷲﻪَ ﻻَ ﻳَﺴْﺘَﺠُِﻴﺐ ﺩُﻋ ً َﺎء ﻣ ْ ِﻦ ﻗَﻠ ٍ ْﺐ ﻏ ٍ َﺎﻓِﻞ ٍ ﻻَﻩ
“Berdoalah kepada Allah swt dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah swt tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai. ” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Lalu pahamilah bahwa ada beberapa jalan Allah swt kabulkan do’a.
Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣﺎ ﻣ ْ ِﻦ ﻣ ٍ ُﺴْﻠِﻢ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪَﻋْﻮ ٍ َﺓ ﻟَﻴ َ ْﺲ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇِﺛ ٌ ْﻢ ﻭ َﻻَ ﻗَﻄِﻴﻌ َﺔُ ﺭَﺣ ٍ ِﻢ ﺇِﻻﱠ ﺃَﻋ ْﻄَﺎﻩُ ﷲﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺣْﺪَﻯ ٍ ﺛَﻼَﺙ ﺇِﻣﱠﺎ ْ ﺃَﻥ ﺗُﻌ َ َﺠﱠﻞ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻪُ ﻭَﺇِﻣﱠﺎ ْ ﺃَﻥ « » ﻳَﺪﱠﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮ ِ َﺓ ﻭَﺇِﻣﱠﺎ ُْ ﺃَﻥ ﻳَﺼْﺮ َ ِﻑ ﻋَﻨْﻪُ ﻣ َ ِﻦ ِ ﺍﻟﺴﱡﻮء ﻣِﺜْﻠَﻬَﺎ «. ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﺫﺍً ﻧُﻜُْﺜِﺮ. َ ﻗَﺎﻝ » ﷲﻪُ ﺃَﻛُْﺜَﺮ
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah swt selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah swt akan beri padanya tiga hal: [1] Allah swt akan segera mengabulkan do’anya.
[2] Allah swt akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan
[3] Allah swt akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah swt nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid).
Boleh jadi Allah swt menunda mengabulkan do’a.
Boleh jadi pula Allah swt mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah swt anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah swt akan mengganti dengan pahala di akhirat.
Jadi do’a tidaklah sia-sia.
Ingatlah wejangan yang amat menyejukkan hati dari cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,
ﻣﻦ ﺍﺗﻜﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﻦ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ ﷲ ﻟﻪ، ﻟﻢ ﻳﺘﻤﻦ ﺷﻴﺌﺎ. ﻭﻫﺬﺍ ﺣﺪ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺿﻰ ﺑﻤﺎ ﺗﺼﺮﻑ ﺑﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎء
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah swt untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah swt pilihkan untuknya).
Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah swt ) berlakukan (bagi hamba-Nya) ” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Pilihan Allah swt itulah yang terbaik.
Wallahu waliyyut taufiq

Continue reading...

Hanya Allah subhanahu wata’ala Pelindung Kita

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Hanya Allah subhanahu wata’ala Pelindung Kita

Barangsiapa singgah di suatu tempat, lalu berdoa A‟udzu bi kalimatillahit tammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dari kalam Allah Yang Maha Sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu apapun yang kan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat itu “ [H.R. Muslim]

Kita telah mengetahui, Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan mudharat dari diri kita. Jika demikian, maka hanya Allah lah tempat kita memohon pertolongan dan meminta perlindungan. Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, sebab hanya Dia satu-satunya tempat meminta perlindungan, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan.. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya.
Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain-Nya, baik itu jin, penghuni kubur, ataupun yang lainnya. Sungguh aneh, ketika ada orang yang mengakui bahwa hanya Allah yang menciptakannya dan mengatur segala urusaanya, tetapi meminta perlindungan (isti‟adzah) kepada selain Allah. Padahal hanya Allah yang mampu memberikan perlindungan kepada kita.
Makna dan Macam-macam Isti’adzah
Isti‟adzah artinya meminta perlindungan dan penjagaan dari hal yang tidak disukai. Isti‟adzah adalah termasuk dari doa mas-alah (doa permintaan). Isti‟adzah ada beberapa macam :
Pertama. Isti‟adzah (meminta perlindungan) kepada Allah. Yakni isti‟adzah yang mengandung sikap butuh kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, keyakinan bahwa hanya Allah yang memberi kecukupan, serta hanya Dia tempat berlindung yang sempurna dari segala sesuatu, baik yang sedang terjadi maupun akan terjadi, baik perkara kecil maupun besar, baik berasal dari manusia maupun yang lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‟ala,

” Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.[Al Falaq:1-5] Dan juga firman-Nya :

”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” [An Naas:1-6]
Isti‟adzah jenis seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Barangsiapa yang menujukannya kepada selain Allah berarti telah berbuat syirik akbar dan pelakunya keluar dari Islam.
Kedua. Mohon perlindungan kepada Allah melalui sifat-sifat-Nya, seperti kalam-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, atau semisalnya. Hal ini diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam.“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [H.R Muslim 2708]. Dan juga sabda beliau,
“Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbinasakan dari arah bawahku” [H.R Abu Dawud 5074, An-Nasa-i 8/677, Ibnu Majah 3547, dll. Hadits shahih). Dan dalam doa yang beliau ajarkan ketika sakit,
“Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku temui dan aku khawatirkan menimpaku” [H.R Muslim 2202]. Dan sabda beliau yang lain :
“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu” [H.R Muslim 486]. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam ketika turun ayat,
“Katakanlah : Dialah yang bekuasa untuk menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu …” [Al-An‟am : 65] maka beliau bersabda :
“Aku berlindung dengan Wajah-Mu” [H.R Bukhari 6883]
Ketiga. Mohon perlindungan kepada orang mati atau orang yang hidup yang tidak hadir di hadapannya dan tidak mampu memberikan perlindungan. Hal ini termasuk perbuatan syirik akbar . Allah Ta‟ala berfirman :
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6]. Termasuk dalam jenis ini meminta perlindungan keselamatan kepada jin, kuburan orang shahilh, kuburan Nabi, dan bahkan para malaikat sekalipun. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Keempat. Memohon perlindungan kepada sesuatu yang mungkin untuk dijadikan tempat berlindung, baik berupa makhluk, tempat, atau yang lainnya. Perbuatan seperti ini diperbolehkan. Dalil yang menunjukkan hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu „alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang fitnah :
“Barangsiapa yang mencari-carinya ia akan terjerat olehnya dan barangsiapa yang mendapat tempat berlindung atau berteduh maka hendaklah ia berlindung dengannya” [H.R Bukhari 7081 dan Muslim 2886].
Dan Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam menjelaskan bentuk perlindungan ini dengan sabdanya:
إ
“Siapa yang yang memiliki onta, maka hendaklah pergi menggunakan ontanya” [H.R Muslim2887].
Disebutkan pula dalam shahih Muslim, dari Jabir bahwa seorang wanita dari bani Makhzum melakukan tindakan pencurian. Wanita itu kemudian dibawa kepada Nabi shalallahu ‟alaihi wa sallam, lalu wanita tersebut meminta perlindungan kepada Ummu Salamah. [Lihat H.R Muslim 1688]
Dalam Shahih Muslim juga dari Ummu Salamah, Nabi shalallahu „alaihi wa sallam bersabda :
“Ada orang yang berlindung di Baitullah Ka‟bah, lalu dikirimlah seorang utusan kepadanya” [H.R. Muslim 2882].
Jika ada seseorang minta perlindungan dari kejahatan orang dzalim maka wajib hukumnya memberikan perlindungan sebatas kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi jika dia minta perlindungan untuk tujuan melakukan kemungkaran atau menghindari dari menunaikan kewajibannya, maka haram untuk melindunginya. Kesimpulannya, boleh meminta perlindungan kepada makhluk sebatas hal-hal yang dimampu oleh makhluk tersebut.
Anjuran Doa Meminta Perlindungan
Nabi shallallahu „alaihi wa sallam mengajarkan kita suatu doa untuk meminta perlindungan :

“Barangsiapa singgah di suatu tempat, lalu berdoa A‟udzu bi kalimatillahit tammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dari kalam Allah Yang Maha Sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu apapun yang kan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat itu “ [H.R. Muslim]
Akhirnya, hanya kepada Allah kita meminta perlindungan dari segala kesulitan yang menimpa diri kita. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung.* Wa shallallahu „alaa Nabiyyina Muhammad.
* Disarikan dari Syarh Al Ushuul ats Tsalaatsah 52-53, Syaikh Ibnu ‟Utsaimin rahimahullah, dengan sedikit tambahan Adika Mianoki

Continue reading...

Fadli Zon: Ahok Ingin Bubarkan FPI Itu Konyol

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Liputan6.com, Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengkritik langkah Ahok sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta yang merekomendasikan pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI) ke Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM. Menurut Fadli, organisasi sosial masyarakat tak bisa begitu saja dibubarkan.

“Kalau terkait FPI, tidak bisa ada orang dengan seenaknya mau membubarkan ormas. Saya kira tidak bisa, hak apa kepala daerah membubarkan ormas?” ucap Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Menurut Wakil Ketua DPR itu, penolakan FPI atas pelantikan Ahok dalam bentuk unjuk rasa merupakan wujud penyampaian aspirasi. Dan, menurut dia, menyampaikan pendapat adalah hak individu yang sudah dijamin dalam UU.

“Ini negara demokrasi. Kalau seorang kepala daerah membubarkan ormas, negara apa kita? Negara tiran,” tutur Fadli.

Bila, sambung Fadli, FPI dianggap sudah kelewat batas dalam menyampaikan aspirasi dengan perilaku anarkis, maka Ahok seharusnya melaporkan ormas itu kepada kepolisian. Sehingga pelanggaran hukum yang mereka lakukan diproses secara hukum juga.

Begitu juga jika FPI dinilai mencemarkan nama baiknya, ucap dia, yang perlu dilakukan hanya menuntut ormas tersebut. Bukan justru langsung membubarkannya.

“Jadi saya kira pembubaran FPI itu kan konyol. Cara berfikir Ahok ini anarki, jadi dia yang anarki,” tutur Fadli.

Sebelumnya, surat pembubaran FPI ditunjukkan langsung oleh Ahok pada 10 November 2014 lalu. Ahok menunjukkan dan menjabarkan alasan dirinya mengeluarkan surat itu. Menurut Ahok, FPI sudah banyak melanggar aturan, baik secara hukum maupun konstitusi. Misalnya saja menutup jalan, menghasut, atau malah meminta orang untuk melempar batu.

“Yang melakukan anarkis dan melanggar konstitusi, dan juga melanggar ketertiban umum, menutupi jalan itu lalu lintas adalah melanggar hak asasi pengguna jalan. Menutup jalan adalah melanggar hak asasi pengguna jalan,” tandas Ahok. (Mut)

Credits: Nadya Isnaeni

Continue reading...

obat diabetes

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Dokter, Saya ingin bertanya, apakah saya boleh mengganti Forbetes Film-coated tablet 850mg dengan Metformin Tablet 500mg (Generik)? Alasan saya sih sederhana, karena Metformin generik lebih murah.

Isi dari kedua obat tersebut sama yaitu sama-sama mengandung metformin. Hanya saja yang satu merek dagang, sedangkan metformin generik yang harganya lebih murah. Anda dapat mengganti obat tersebut asalkan dosisnya sama seperti yang diberikan oleh dokter yang memeriksan Anda. Bila dosis yang Anda minum adalah tablet yang 850mg, maka dapat diganti dengan metformin 850mg. Tetapi karena sediaan metformin generik yang tersedia di pasaran adalah 500mg, maka tidak mungkin untuk membagi dosis sendiri.
Saran kami, Anda kembali ke dokter yang memeriksa Anda. Terangkan kondisi Anda dan mintalah obat generik yang harganya terjangkau. Dokter akan mengganti obat tersebut dan menyesuaikan dengan dosis yang Anda butuhkan.
Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Continue reading...

Diabetes & TB Paru

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Dok saya adalah penderita DM yang tidak patuh, tahun 2009 saya dirawat di RS surabaya ok tb paru, setelah sudah baik saya diperbolehkan pulangdan diberi obat insulin injeksi dan obat program tb, setelah saya minum selama +- 6 bulan saya merasa agak baik, tetapi 2 bulan kemudian saya terserang batuk kembali, dan saya mengkonsumsi obat tb program selama 4 bulan saya merasa baikan, tetapi bulan berikutnya koq batuk sampai muntah darah padahal saya sedang mengkonsumsi obat tb program. Yang ingin saya tanyakan mengapa pengobatan saya kurang berhasil dan apa pengaruh diabetes ke tb paru, hasil pemeriksaan rontgen terlihat ada 1 kavitas di paru kanan dan 1 kavitas diparu kiri dengan DD abses paru, atas jawabannya saya sampaikan terima kasih

Diabetes dan TB paru sama-sama merupakan penyakit kronis (berlangsung lama) dengan penyembuhan yang lama. karena itu kedua penyakit ini sama-sama dapat menurunkan imunitas (daya tahan tubuh) karena proses infeksi dari tb dalam waktu lama dan gangguan metabolisme gula darah pada diabetes. Kebanyakan orang yang diabetes karena memiliki pertahanan tubuh yang kurang karena proses penyakitnya, gampang terkena infeksi, salah satunya adalah tb paru. 
Penanganan kedua penyakit ini harus saling berdampingan. Seperti yang Anda katakan bahwa Anda tidak patuh dalam pengobatan diabetes, proses infeksi tb pun akan sulit disembuhkan total dan dapat terjadi kekambuhan seperti yang Anda alami. 
Saran kami adalah Anda berobat diabetes dan tb paru secara disiplin. Dan konsultasikan ke dokter Anda mengenai keluhan Anda. Bila tb paru terus berulang atau tidak kunjung sembuh, kemungkinan Anda resisten (kebal) terhadap pengobatan TB, dan perlu obat pengganti untuk TB yang resisten terhadap obat TB lini 1. 
Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Continue reading...

Perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual

Thu, Nov 13, 2014

Comments Off

Perdarahan yang terjadi dari vagina dapat disebabkan oleh bergai penyebab seperti menstruasi, infeksi, perlukaan pada organ genitalia. Perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual disebut post coital bleeding. Perdarahan ini dapat terjadi sebagai akibat dari adanya erosi atau perlukaan pada vagina ataupun akibat robekan selaput dara pada perempuan yang baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Terkadang, hal ini tidak terjadi dikarenakan selaput dara yang dimiliki sangat elastis sehingga tidak terjadi robekan saat melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya dugaan kami terhadap hal yang saat ini Anda alami dimana perdarahan baru terjadi setelah Anda melakukan hubungan seksual yang kedua kalinya. Namun, yang Anda perlu perhatikan adalah apakah perdarahan terjadi dalam jumlah banyak, terus menerus dan berlangsung lama? serta apakah perdarahan disertai oleh gejala lain seperti gatal, nyeri ataupun adanya lendir yang berwarna kehijauan dan berbau? Hal-hal tersebut perlu diperhatikan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari perdarahan paska bersenggama
Berikut ini merupakan beberapa penyebab lain terjadinya perdarahan setelah melakukan hubungan seksual :
Peradangan pada leher Rahim(serviks). Hubungan seksual yang dilakukan saat seorang wanita sedang mengalami peradangan serviks dapat menimbulkan perdarahan.  Kondisi ini umumnya terjadi pada wanita muda, wanita hamil, dan mereka yang memakai kontrasepsi pil
Polip serviks atau polip Rahim
Infeksi menular seksual seperti yang disebabkan oleh klamidia, gonorea, trikomonas, dan jamur
Vaginitis atropi yang umum terjadi karena kekurangan hormon estrogen, terutama pada wanita post menopause. Kurangnya lendir pada vagina menyebabkan hubungan seksual menjadi nyeri dan dapat terjadi perdarahan
Kanker leher Rahim(servikx)
Displasia serviks. Perubahan pre-kanker pada kanker leher rahim. Risiko meningkat dengan riwayat infeksi seksual sebelumnya, berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun, melahirkan anak sebelum usia 16 tahun
Mioma rahim yaitu tumor jinak yang berasal dari dinding otot rahim
Apabila perdarahan yang timbul hanya sedikit dan tidak berlanjut, Anda tidak perlu merasa khawatir karena mungkin perdarahan tersebut timbul akibat perlukaan pada vagina (misal karena kurangnya cairan pelumas atau kekeringan, gesekan kuat, penggunaan kondom yang mengiritasi, kuku jari, dsb). Namun, jika perdarahan terjadi terus menerus dan dalam jumlah banyak maka kami sarankan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk mencari penyebab yang mendasarinya. 
Demikian penjelasan yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat
Salam

dr. Puspita Komala Sari

Continue reading...
Older Entries Newer Entries