Selamat Datang Di Situs Berita Nasional Alfitrah Indonesia Online
ALFITRAH INDONESIA | Situs Berita Nasional

APAKAH BASMALAH TERMASUK AYAT DARI AL FATIHAH ? Apakah Basmalah Termasuk Ayat Al-Qur’an?

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Dalam hal ini ada tiga pendapat ulama.
1. Basmalah bukan bagian dari Al-Qur’an kecuali ayat ke-30 pada surah An-Naml.
Ini pendapat Al-Imam Malik dan sekelompok ulama Hanafiyah. Juga dinukilkan oleh sebagian pengikut Al-Imam Ahmad dalam sebuah riwayat dari beliau bahwa ini mazhab beliau.
2. Basmalah adalah ayat dari setiap surah atau sebagian surah.
Ini mazhab Al-Imam Syafi’i dan yang mengikuti beliau. Akan tetapi, dalam sebuah penukilan dari beliau disebutkan bahwa basmalah bukan ayat di permulaan setiap surah kecuali Al-Fatihah, sedangkan surah lain hanyalah dibuka dengan basmalah untuk tabarruk (mencari berkah).
3. Basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an, namun dia bukan termasuk bagian surah, tetapi ayat yang berdiri sendiri dan dibaca di awal setiap surah Al-Qur’an kecuali surah At-Taubah, sebagaimana Nabi membacanya ketika diturunkan kepada beliau surah Al-Kautsar seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya.
Ini merupakan pendapat Al-Imam Abdullah ibnul Mubarak, Al-Imam Ahmad, dan Abu Bakr ar-Razi—beliau menyebutkan bahwa inilah yang diinginkan oleh mazhab Abu Hanifah—. Ini pula pendapat para muhaqqiq (peneliti) dalam masalah ini.
Kami lebih condong kepada pendapat yang terakhir ini.
Apakah Basmalah Itu Ayat Pertama Al-Fatihah?
Ada dua pendapat ulama tentang hal ini.
1. Basmalah bagian dari surah Al-Fatihah, namun bukan bagian surah yang lain, sehingga wajib membacanya ketika membaca Al-Fatihah.
2. Tidak dibedakan antara Al-Fatihah dan surah yang lainnya dalam Al-Qur’an, sehingga membaca basmalah di awal Al-Fatihah sama dengan membaca basmalah di awal surah lainnya (karena basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri). Pendapat ini bersesuaian dengan hadits yang sahih, dan inilah pendapat yang rajih (kuat) menurut penulis.
Bacaan Basmalah dalam Shalat
Ada tiga pendapat ulama tentang hal ini.
1. Wajib seperti wajibnya membaca Al-Fatihah.
Ini merupakan pendapat Al-Imam Syafi’i, sebuah riwayat dari Al-Imam Ahmad dan sekelompok ahlul hadits. Pendapat ini dibangun berdasar anggapan bahwa basmalah itu bagian dari Al-Fatihah.
2. Makruh (dibenci) baik secara sirr maupun jahr.
Pendapat ini masyhur dari mazhab Al-Imam Malik.
3. Boleh, bahkan mustahabbah (disenangi).
Ini pendapat yang masyhur dari Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan kebanyakan ulama ahlul hadits. Ini pula pendapat yang kami pilih.
Pendapat ini juga dipegangi oleh orang yang berpendapat boleh membacanya ataupun tidak karena berkeyakinan bahwa kedua hal tersebut adalah qira’ah/bacaan Al-Qur’an yang diperkenankan.
Apakah Basmalah Dibaca Jahr atau Sirr?
Dalam hal ini juga ada perbedaan pendapat.
1. Disunnahkan membacanya secara jahr.
Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan ulama lain.
2. Disunnahkan membacanya secara sirr.
Ini merupakan pendapat jumhur ulama ahlul hadits dan ahli ra’yu, serta pendapat mayoritas fuqaha di dunia.
3. Seseorang bisa memilih, secara jahr atau sirr.
Pendapat ini diriwayatkan dari Al-Imam Ishaq bin Rahawaih. Ini juga pendapat Al-Imam Ibnu Hazm dan lainnya. (Majmu’ Fatawa, 22/435—437)

Bacaan Basmalah

Rasulullah n mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik z yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah. Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas z, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ n وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ c كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِـ { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ}
“Sesungguhnya Nabi , Abu Bakr dan Umar , membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” (HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)
Al-Imam Ash-Shan’ani t menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi n, Abu Bakr dan Umar tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan. (Subulus Salam 2/191)
Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr. (Fathul Bari, 2/294)
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan, “Makna hadits ini adalah Nabi , Abu Bakr, Umar, dan Utsman , mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/156)
Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml? Insya Allah

dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi —di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya —dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan. Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)
Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i t, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.
Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i t dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair g, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan. (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

Kelemahan hadits2 menjahrkan bacaan basmalah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ulama yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits telah bersepakat, tidak ada satu pun hadits (sahih) yang tegas menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Demikian pula, tidak diketahui ada salah satu kitab sunan yang masyhur—seperti Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i—yang membawakan periwayatan basmalah secara jahr. Periwayatan yang menyebutkan secara jahr hanya didapatkan dalam hadits-hadits maudhu’ah (palsu) yang diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Mawardi—dalam Tafsir—dan yang serupa dengan beliau berdua, atau disebutkan di beberapa kitab fuqaha yang tidak membedakan antara riwayat yang palsu dan yang tidak.
Ketika Al-Imam Ad-Daraquthni t datang ke Mesir, beliau pernah diminta mengumpulkan hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Beliau pun melakukannya. Ketika beliau ditanya, adakah yang sahih dari hadits-hadits tersebut? Beliau menyatakan, “Adapun dari Nabi , tidak didapatkan, sedangkan atsar dari sahabat Nabi n ada yang sahih dan ada pula yang dhaif (lemah).” (Majmu’ Fatawa, 22/416,417)
Beliau juga berkata, “Sebenarnya, banyak beredar kedustaan dalam hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr karena orang-orang Syi’ah berpendapat bacaan basmalah dijahrkan, padahal mereka dikenal oleh kaum muslimin sebagai kelompok yang paling pendusta di antara kelompok-kelompok sempalan dalam Islam. Mereka memalsukan hadits-hadits dan membuat rancu agama mereka dengan hadits-hadits tersebut.
Oleh karena itu, didapatkan ucapan imam Ahlus Sunnah dari penduduk Kufah, seperti Sufyan ats-Tsauri t, yang menyatakan bahwa termasuk sunnah adalah mengusap kedua khuf dan meninggalkan membaca basmalah secara jahr. Sebagian mereka juga menyebutkan bahwa Abu Bakr dan Umar lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama dan lebih mulia daripada para sahabat yang lainnya, dan ucapan-ucapan yang semisalnya, karena hal-hal tersebut—yaitu tidak mau mengusap khuf, membaca basmalah secara jahr, menganggap ada yang lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama, dan lebih mulia daripada Abu Bakr dan Umar—merupakan syiar Rafidhah. Ada pula seorang imam mazhab Syafi’i, Abu Ali ibnu Abi Hurairah t, yang meninggalkan jahr ketika membaca basmalah. Ketika ditanya sebabnya, beliau t berkata, “Karena membaca basmalah secara jahr telah menjadi syiar orang-orang yang menyelisihi agama.” (Majmu’ Fatawa, 22/424)
Hadits yang menyebutkan secara tegas bahwa basmalah diucapkan dengan jahr diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (hadits no. 145), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/233), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya (2/47), dari jalan Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Bakr bin Hafsh bin Umar, dari Anas bin Malik z, bahwasanya Mu’awiyah z pernah mengimami shalat di Madinah dan menjahrkan bacaan Al-Qur’an, membaca basmalah sebelum membaca Al-Fatihah, dan tidak membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Al-Fatihah sampai selesai bacaan tersebut. Beliau tidak bertakbir ketika turun sujud hingga selesai shalat. Setelah mengucapkan salam dari shalatnya, para sahabat Muhajirin yang mendengar hal tersebut menyerunya dari setiap tempat, “Wahai Mu’awiyah, apakah engkau mencuri shalat, ataukah engkau lupa?” Setelah peristiwa itu, bila shalat mengimami manusia, Mu’awiyah membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dan bertakbir ketika turun sujud.
Hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari bapaknya, bahwasanya Mu’awiyah z pernah mengimami penduduk Madinah tanpa membaca basmalah dan tanpa bertakbir ketika melakukan gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau ditegur oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, kemudian disebutkanlah hadits yang semakna dengan hadits di atas. (Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i no. 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyatakan, hadits ini dhaif ditinjau dari beberapa sisi.
1. Riwayat yang sahih dan masyhur menyebutkan secara jelas penyelisihan dari Anas z terhadap riwayat di atas.
2. Poros sanad dalam kedua hadits tadi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim. Ia dilemahkan sekelompok ahlul hadits. Mereka memandang hadits ini mudhtharib/goncang periwayatannya, baik secara sanad maupun matan. Ini menjelaskan bahwa hadits tersebut ghairu mahfuzh (mungkar).
3. Pada sanadnya tidak ada kesinambungan mendengarnya seorang perawi dari perawi yang lain. Bahkan, dalam sanad itu ada kelemahan dan kegoncangan yang dikhawatirkan menyebabkan inqitha’ (terputusnya sanad), juga jeleknya hafalan perawinya.
4. Anas z tinggal di Bashrah, sedangkan ketika Mu’awiyah z di Madinah, tidak ada seorang ulama ahli sejarah pun yang menyebutkan Anas bersamanya. Bahkan, secara zahir Anas tidak bersama Mu’awiyah.
5. Kalaupun benar terjadi di Madinah dan perawinya adalah Anas , tentu murid-murid beliau yang terkenal menemani beliau—demikian juga penduduk Madinah—akan meriwayatkan hadits tersebut dari beliau. Akan tetapi, tidak didapatkan salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Anas, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.
6. Bila benar Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr, ini menyelisihi kebiasaan beliau yang dikenal oleh penduduk Syam yang menemani beliau, sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang menukilkan bahwa Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr. Bahkan, seluruh penduduk Syam, baik pemimpin maupun ulamanya, berpendapat tidak menjahrkan bacaan basmalah. Dalam hal ini Al-Imam Al-Auza’i sendiri—yang dikenal sebagai imam negeri Syam—bermazhab seperti mazhab Al-Imam Malik, yaitu tidak membaca basmalah sama sekali, baik sirr ataupun jahr.
Dengan demikian, orang yang berilmu (para muhaddits) yang melihat beberapa sisi ini akan memastikan bahwa hadits ini batil, tidak ada hakikatnya, atau telah diubah dari yang sebenarnya.
Adapun yang membawakan hadits ini, telah sampai kepadanya (hadits tersebut) dari jalan yang tidak sahih, sehingga menimbulkan cacat berupa terputusnya sanad.
Kalaupun hadits ini selamat, dia tetap syadz (ganjil), karena menyelisihi periwayatan perawi yang banyak dan lebih kokoh (hafalannya) yang meriwayatkan dari Anas z bahkan menyelisihi periwayatan penduduk Madinah serta Syam. (Majmu’ Fatawa, 22/431—433)

Bolehnya menjahrkan bacaan basmalah dalam keadaan tertentu karena maslahat

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz t berkata, “Riwayat yang menyebutkan basmalah dibaca dengan jahr dibawa kepada (pemahaman) bahwa Nabi n pernah menjahrkan basmalah untuk mengajari orang yang shalat di belakang beliau (para makmum) apabila beliau membacanya (dalam shalat sebelum membaca Alhamdulillah…). Dengan pemahaman seperti ini, terkumpullah hadits-hadits yang ada. Terdapat hadits-hadits shahih yang memperkuat apa yang ditunjukkan oleh hadits Anas z yaitu disyariatkannya membaca basmalah secara sirr.” (Ta’liq terhadap Fathul Bari, 2/296)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Terkadang disyariatkan membaca basmalah dengan jahr karena sebuah maslahat yang besar, seperti pengajaran imam terhadap makmum, atau menjahrkannya dengan ringan untuk melunakkan hati dan mempersatukan kalimat kaum muslimin yang dikhawatirkan mereka akan lari kalau diamalkan sesuatu yang lebih afdhal. Hal ini sebagaimana Nabi mengurungkan keinginan untuk membangun kembali Baitullah sesuai dengan fondasi Ibrahim karena kaum Quraisy di Makkah pada waktu itu baru saja meninggalkan masa jahiliah dan masuk Islam. Beliau n mengkhawatirkan mereka dan melihat maslahat yang lebih besar berkenaan dengan persatuan dan keutuhan hati-hati kaum muslimin. Beliau n pun lebih memilih hal tersebut daripada membangun Baitullah di atas fondasi Ibrahim .
Pernah pula Ibnu Mas’ud z shalat dengan sempurna empat rakaat di belakang Khalifah Utsman bin Affan z dalam keadaan mereka sedang safar. Orang-orang pun mengingkari Ibnu Mas’ud yang mengikuti perbuatan Utsman , karena seharusnya dia shalat dua rakaat dengan mengqashar. Akan tetapi, beliau n menjawab dan menyatakan, “Perselisihan itu jelek.”
Oleh karena itu, para imam, seperti Al-Imam Ahmad dan lainnya, membolehkan berpindah dari yang afdhal kepada yang tidak afdhal, seperti menjahrkan basmalah dalam suatu keadaan, menyambung shalat witir, atau yang lainnya, untuk menjaga persatuan kaum mukminin, mengajari mereka As-Sunnah, dan yang semisalnya.” (Majmu’ Fatawa, 22/437—438)

Continue reading...

Basmalah dan Keutamaannya

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Basmalah, merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan.
Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah.Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu,

“basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur‟an kecuali surat At Taubah (Al Bara‟ah)“,

namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah. Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur‟an. Setiap hurufnya Allah subhanahu wata‟ala memberi pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur‟an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan Alif Laam Miim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”(H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Tuntunan Memulai Amalan Dengan Basmalah Basmalah, tersusun dari tiga kata:
ا(. —اسم —بسم ا )ب
Yang diterjemahkan dalam bahasa kita: “Dengan menyebut nama Allah”. Para ulama menerangkan bahwasanya ucapan basmalah ini sangat berguna bagi seseorang yang hendak melakukan suatu amalan yang mulia. Misalnya membaca basmalah ketika akan menulis atau membaca. Maksud dimulainya amalan tersebut dengan basmalah adalah agar tulisan atau bacaannya itu mendapat barakah dari Allah subhanahu wata‟ala.Mendapat tsawab (pahala) dan bermanfaat. Jadi mengawali suatu amalan perbuatan atau perkataan itu dengan membaca

basmalah tidak lain hanya dalam rangka bertabarruk (mencari barakah) kepada Allah subhanahu wata‟ala dan untuk mendapatkan pahala dari-Nya. Sebuah keistimewaan yang sering dicari dan diimpikan oleh kebanyakan orang.

Mengucapkan basamalah pada amalan-amalan yang bernilai, merupakan bimbingan Allah subhanahu wata‟ala terhadap para nabi-Nya. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata‟ala kisahkan dalam Al Qur‟anul Karim tentang Nabi Nuh „alaihis salam ketika mengajarkan kepada umatnya membaca basmalah disaat berlayar atau berlabuh. Allah subhanahu wata‟ala berfirman (artinya):”Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan
menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabb-ku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Hud: 41)
Demikian pula Allah subhanahu wata‟ala mengisahkan dalam Al Qur‟anul Karim tentang Nabi Sulaiman „alaihis salam ketika mengirim risalah dakwah kepada Ratu Saba‟ diawali pula dengan basmalah. Sebagaimana firman-Nya: (artinya)

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (An Naml: 30)

Basmalah ini pun juga merupakan sunnah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam. Ketika wahyu pertama kali turun kepada beliau shalallahu „alaihi wasallam adalah ayat: (artinya)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang Menciptakan,” (Al „alaq: 1)
Allah subhanahu wata‟ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam agar membaca kalamullah (Al Qur‟an) dengan menyebut nama-Nya.
semoga dirahmati Allah subhanahu wata‟ala, ketahuilah bahwa barakah itu berasal dari Allah subhanahu wata‟ala semata. Hal ini Allah subhanahu wata‟ala tegaskan dalam firman-Nya (artinya):

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan barakah dari langit dan bumi.” (Al A‟raf: 96)

Siapa yang kuasa melimpahkan barakah dari langit dan bumi?Tentu, adalah Penguasa Tunggal langit dan bumi yaitu Allah Rabbul „alamin. Sehingga Nabi shalallahu „alaihi wasallam mengajarkan pula kepada umatnya untuk mencari barakah dengan menyebut-nyebut nama Allah yang terkandung dalam bacaan basmalah.
Ketika Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam mengirim beberapa risalah dakwah ke negeri-negeri kafir seperti negeri Romawi. Beliau mengawali risalahnya dengan basmalah.Hal ini juga dipraktekkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq.Ketika beliau radhiallahu „anhu menulis risalah tentang zakat yang ditujukan untuk penduduk negeri Bahrain, beliau memulainya dengan basmalah (Lihat HR. Al Bukhari no. 1454).Suatu pengajaran dan pembelajaran kepada umat manusia, bahwa barakah itu hanya milik Allah subhanahu wata‟ala.Sehingga permohonan barakah itu hanya ditujukan kepada Allah subhanahu wata‟ala semata.Karena selain Allah subhanahu wata‟ala tidak bisa memberikan barakah.
Barakah Bacaan Basmalah
Saudaraku yang semoga Allah merahmati kita semua, diantara barakah dari bacaan basmalah ini adalah dapat memperdaya setan dan bala tentaranya yang mempunyai misi untuk memperdaya umat manusia dari jalan kebaikan.Kita pun tidak boleh merasa kecil hati dan takut dari gangguan mereka, selama kita berada diatas jalan Allah subhanahu wata‟ala. Allah subhanahu wata‟ala telah memberikan berbagai cara dan jalan untuk membentengi diri dari gangguan setan, diantaranya dengan membaca basmalah.
Suatu ketika Usamah bin Umair dibonceng Nabi shalallahu „alaihi wasallam. Lalu ia mengatakan: “Celakalah setan.” Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam menegurnya, janganlah kamu mengatakan “celakalah setan”, karena jika kamu katakan seperti itu, justru setan akan semakin membesar (dalam riwayat lain sebesar rumah). Setan akan berkata:
“Dengan kekuatanku, aku akan melumpuhkannya.”

Namun bila kamu mengucapkan basmalah, pasti setan akan semakin kecil hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 9/59, An Nasaa‟i dalam Al Kubra 6/146, dan Abu Dawud no. 4330. Dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)
Dari Utsman bin Affan radhiallahu „anhu berkata: “Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca:
بِس ِ ْن ا هِ الهزِي لَ ٌَض ّ ُش ه َ َع اسْو ِ َِ شًَ ٌ ْء فًِ الَس ْضِ َّل فًِ السهو ِ َاء ّ َ َُُْ السهو ُ ٍِع الْع ُ َلٍِن
“Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan bisa memudharatkan bersama nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” pada setiap hari di waktu shubuh dan sore sebanyak tiga kali maka tidak akan memudharatkan baginya sesuatu apa pun.” (HR. At Tirmidzi no. 3310, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Dari shahabat Umayyah bin Makhsyi radhiallahu „anhu, ia menceritakan tentang seseorang yang sedang makan dan Nabi shalallahu „alaihi wasallam sedang duduk disekitarnya. Namun orang tadi lupa belum membaca basmalah hingga tidak tersisa kecuali sesuap saja. Ketika ia hendak memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya ia baru membaca:
بِس ِ ْن اِ فً أَّ ِ هلَِ َّآخِش ٍِِ
“Dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya.”
Melihat hal itu Nabi shalallahu „alaihi wasallam tertawa, seraya berkata:

“Setan itu senantiasa ikut makan bersamanya, hingga ketika ia membaca basmalah maka dimuntahkan apa yang ada dalam perut setan tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3276)

Beberapa Perkara Yang Dianjurkan Untuk Dimulai Dengan Menyebut Nama Allah
Para pembaca yang mulia, berikut ini kami paparkan beberapa perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam untuk mengawalinya menyebut nama Allah subhanahu wata‟ala:
1. Ketika Hendak Tidur
Dari shahabat Hudzaifah radhiallahu „anhu berkata: “Kebiasaan (sunnah) Nabi shalallahu „alaihi wasallam ketika hendak tidur, beliau membaca:
بِاسْو َ ِك ه اللهُِن أَه ُ ُْث َّأَحٍَْا
“Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup.”
(HR. Al Bukhari no. 6334, dan Muslim no. 2711 dengan redaksi yang sedikit berbeda)
2. Ketika Keluar Dari Rumah
Dari Anas bin Malik radhiallahu „anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Bila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia membaca:
بِس ِ ْن ا هِ حََْكهل ُ ْج عَلَى ا هِ لَ حَْ َ ْل ّ َلَ قُْ هةَ إِله بِال هِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal hanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.”
Maka dikatakan padanya: “Engkau telah mendapat petunjuk, engkau tercukupi dan engkau telah terjaga (terbentengi),” sehingga para setan lari darinya. Setan yang lain berkata: “Bagaimana urusanmu dengan seseorang yang telah mendapat petunjuk, tercukupi, dan terbentengi?!” (HR. Abu Dawud no. 4431) Atau dengan membaca:
ْ ّ أُظ َ ْلَن ْ أَّ أَجِْ َ َل ْ أَّ ٌُجِْ َ َل عَلًَهبِاسْو َ ِك سَبًّ إًًِّ أَع ُ ُْر َ بِك ْ أَى أَص ه ِل ْ أَّ أَض ه ِل ْ أَّ أَظ َ ْلِن أَ
“Dengan nama-Mu Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku berlindung Kepada-Mu jangan sampai aku salah atau sesat, menganiaya atau dianiaya, membodohi atau dibodohi.” (HR. Ahmad no. 26164, riwayat dari Ummul Mukminin Ummu Salamah)
3. Ketika Masuk Kamar Mandi (WC)
Dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu „anhu berkata: “Sesungguhnya Rasulullah bersabda:
هِ اسَخ ُ ْش هَا َ بٍَْي ِ أَعٍُْي الْج ّ ِي َّعَْْس ِ َاث بًٌَِ آد َ َم إِرَا دَخ َ َل أَحَذُُ ْ ُن الْخ َ َلَء أَىْ َ ٌَقُْل بِس ِ ْن
“Penutup antara pandangan-pandangan jin dengan aurat bani Adam ketika seseorang masuk wc adalah membaca basmalah.” (At Tirmidzi no. 551, dan dishahihkan oleh As Syaikh Al Albani)4. Ketika Hendak Makan
Dari Aisyah radhiallahu „anha berkata: “Telah bersabda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam:
َّآخِشٍِِإِرَا أَك َ َل أَحَذُك ْ ُن طَعَاهًا ْ فَلٍَْقُل بِس ِ ْن ا هِ فَإِىْ ًَس َ ًِ فًِ أَّ ِ هلَِ فَل ْ ٍَْقُل بِس ِ ْن ا هِ فًِ أَّ ِ هلَِ
“Bila salah seorang diantara kalian makan maka hendaknya ia mengucapkan bismillah, bila ia lupa diawalnya, maka hendaknya ia membaca bismillah fi awwalihi wa akhirihi.”(HR. At Tirmidzi no. 1781, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
5. Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri
Dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu „anhuma berkata: “Berkata Nabi shalallahu „alaihi wasallam: “Bila salah seorang diantara kalian menggauli istrinya, hendaknya ia berdo‟a:
بِس ِ ْن ا هِ اللهِ ه ُن جٌَّبٌَْا الشهٍ َ ْطَاى َّج ِ ٌَّب الشهٍ َ ْطَاى هَا سَصَقْخٌََا
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami.”
Bila Allah subhanahu wata‟ala memberikan karunia anak kepadanya maka setan tidak akan mampu memudharatkannya.”(HR. At Tirmidzi no. 1012)
6. Ketika Hendak Menyembelih
Disyari‟atkan pula dalam penyembelihan hewan dengan membaca basmalah.Bahkan hukumnya bukan sekedar mustahab (anjuran) saja tetapi wajib. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:
فَلٍَْز ْ ْبَح عَلَى اس ِ ْن ا هِ
“Hendaknya menyembelih dengan (menyebut) nama Allah (basmalah).” (HR. Al Bukhari no.5500)
Maka sebelum menyembelih hewan hendaknya membaca:
بِس ِ ْن هِ ا َّا هُ أَك ُ ْبَش
(HR. Abu Dawud no. 2427)
7. Ketika Hendak Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur Disunnahkan (dianjurkan) membaca:
بِس ِ ْن هِ ا َّعَلَى س ِ ٌُهت سَس ِ ُْل ا هِ صَلهى ا هُ عَلٍَ ِ َْ َّس َ َلهن
“Dengan menyebut nama Allah dan diatas sunnah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud no. 2798)Demikian pula perkara-perkara yang lain, termasuk amalan jihad fi sabilillah yang merupakan puncak tertinggi dalam Islam hendaknya juga diawali dengan membaca basmalah sebagaimana yang diriwayatkan Al Imam At Tirmidzi no. 1337 dari shahabat Buraidah radhiallahu „anhu.
Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini dapat menambah iman dan ilmu kita serta lebih menguatkan keterkaitan diri kita kepada Allah subhanahu wata‟ala Rabbul „alamin. Amien Ya Rabbal „alamin.

Continue reading...

Bai`at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Berikut ini transkrip bahasan Syeikh Abul Hasan al Ma’ribi tentang baiat. Masalah ini beliau bahas ketika beliau memberikan pelajaran Mukhtashor Shahih al Bukhari.

قال- رحمه الله- قوله “بايعوني” المبايعة عبارة عن المعاهدة سميت بذلك تشبيها بالمعاوضة المالية-يعني سميت المعاهدة مبايعة تشبيها بالمعاوضة المالية كالبيع و الشراء-كما في قوله تعالى . إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة

Ibnu Hajar rahimahullah -dalam Fathul Bari- mengatakan bahwa yang dimaksud dengan

“ mubaya’ah atau bai’at adalah saling mengikat janji“

Saling mengikat janji disebut demikian dengan tujuan diserupakan dengan transaksi tukar menukar barang -seperti jual beli- sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dan surga itu untuk mereka.”

هذه بيعة صحيحة. و أحب أن أنبه وإن كان خارج موضوع الدرس. أن البيعات التي تتخذها كثير من الجماعات الإسلامية علي المنتسبين إليها أو الموالين لها أنها بيعة غير شرعية. و أن استدلالهم بعموم الأدلة الواردة في أن النبي-عليه الصلاة و السلام- كان يبايع أصحابه و منها هذا الحديث و غيره استدلال في غير موضعه.

“Bai’at“ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bai’at yang sah. Aku ingin mengingatkan satu hal meski hal tersebut di luar topik bahasan bahwa bai’at yang diadakan oleh berbagai kelompok terhadap orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok tersebut dan orang-orang yang loyal dengannya adalah bai’at yang tidak dibenarkan oleh syariat. Dasar pijakan mereka adalah berdalil dengan dalil-dalil yang bersifat umum yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu membai’at para shahabatnya dan di antaranya adalah hadits yang kita kaji saat ini, namun ini adalah menggunakan dalil tidak pada tempatnya yang tepat.

فبيعة الصحابة للنبي- عليه الصلاة و السلام -بيعة للنبي المرسل ولوالي الأمر الممكن و حتى بيعتهم له قبل أن يمكن فلأنهم في مجتمع كافر وهذه فئة مؤمنة التى قال عنها النبي- عليه الصلاة و السلام-يوم بدر “اللهم إن تهلك هذه العصابة فلن تعبد في الأرض بعد اليوم”. هذه فئة مؤمنة في مجتمع كافر بايعوا نبيا مرسلا فلا غبار في ذلك.

Bai’at para shahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bai’at kepada seorang nabi yang sekaligus menjadi rasul di samping merupakan penguasa yang memiliki kedaulatan. Sedangkan bai’at para shahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau menjadi penguasa adalah dikarenakan mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat kafir. Sekelompok manusia beriman inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam doakan pada saat perang Badar,

“Ya Allah, jika kelompok ini kalah perang saat ini maka Engkau tidak akan pernah lagi disembah di muka bumi ini setelah hari ini.” Sehingga yang terjadi adalah bai’at sekelompok orang yang beriman yang hidup di tengah-tengah masyarakat kafir dan membai’at seorang nabi sekaligus rasul. Tidaklah diragukan bahwa hal ini diperbolehkan.

وأما أن يقاس على ذلك رجل غايته أن يكون عالما أو داعية أو صالحا في نفسه ثم يبرز نفسه للناس و يطلب منهم أن يبايعوه في وسط مجتمعات مسلمة و فئة مؤمنة فيختص هو و هذه الجماعة أو هذه العصابة أو هذه الطائفة دون بقية الناس بأنواع من الولاء و أنواع من المحبة و أنواع من الوصل و العطاء إلي غير ذلك ثم يترتب علي ذلك أمور أخري سأذكرها أيضا-إن شاء الله-. القياس بعيد, قياس مع الفارق. وليس فيه اتباعا للنبي- عليه الصلاة و السلام-. هذا الأمر الأول.

Sedangkan menyamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang yang paling banter adalah seorang ulama, dai atau orang sholih yang menampilkan dirinya di hadapan banyak orang lalu meminta mereka agar membai’atnya di tengah-tengah masyarakat muslim dan mukmin. Setelah itu, dirinya dan anggota kelompoknya memiliki loyalitas, kecintaan, hubungan dan pemberian serta yang lainnya yang bersifat khusus dan tidak diberikan kepada orang di luar kelompoknya. Kemudian muncul dampak-dampak lain yang akan kami sebutkan.

Analog dalam hal ini adalah analog yang tidak tepat karena menyamakan dua hal yang berbeda. Perbuatan ini tidaklah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ini alasan yang pertama.

الأمر الثاني: لو سلمنا بأن البيعة في أصلها جائزة فما حصل مع هذه البيعة من منكرات و محظورات تجعلنا نقول أنها غير جائزة.فالبيعة التي تؤدي إلي تفريق المسلمين, لا يمكن أن تكون جائزة. فإن لك جماعة وأن لي جماعة ولك بيعة و لي بيعة. ما الذي يجعل بيعتك أولي من بيعتي؟ وإذا جازت لي جازت لك. و إذا جازت لي ولك جازت لغيرنا. وعلي هذا يحصل التصادم و التناثر و التبعثر بين المسلمين.

Alasan yang kedua, andai kita terima bahwa pada asalnya bai’at semacam itu diperbolehkan maka karena menimbang adanya berbagai kemungkaran dan hal-hal terlarang yang muncul dari bai’at tersebut maka kita katakan bahwa itu adalah bai’at yang tidak diperbolehkan. Bai’at yang menyebabkan perpecahan kaum muslimin tidak mungkin hukumnya diperbolehkan. Bai’at semacam ini menyebabkan saya memiliki kelompok yang berbeda dengan kelompok anda dan saya terikat dengan bai’at yang berbeda dengan bai’at yang mengikat anda. Atas dasar apa, kita katakan bahwa bai’at anda itu lebih layak untuk diikuti dari pada bai’at saya. Jika saya boleh terikat dengan suatu bai’at maka Anda pun boleh terikat dengan bai’at yang lain. Jika demikian itu boleh untuk kita, tentu juga boleh untuk selain kita. Dengan demikian maka akan terjadilah pertikaian, perpecahan dan permusuhan di antara kaum muslimin.

فإننا إذا أجزنا البيعة لأحد أجزناها لغيره, مثله أو دونه أو فوقه. ما الذي يمنع؟ ما الدليل الذي يحصر جوازها في شخص دون آخر؟ فعلي هذا نحن سنسعي إلي تفريق كلمة الأمة. لأن كل المجعوعة ستعصب لنفسها (و) ستحزب لنفسها و يحصل بينهم ولاءات معينة و علاقات معينة. هذه الولاءات لا تعطى لمجموعة آخري. يؤدي هذا إلي تفرق الكلمة و تعميق الجرح الذي ينـزف من دماء المسلمين ومن أخوتهم و من إيمانهم حتى وصلوا إلى ما وصلوا إليه. تفرقوا دولا. تفرقوا شعوبا. تفرقوا جماعات. تفرقوا طرائق و علماء. الأمر الذي وصل إلي مالا تحمد عقباه.

Jika kita katakan boleh membaiat A tentu juga kita bolehkan membai’at B dan seterusnya baik B itu selevel, lebih rendah ataupun lebih tinggi dari pada A dalam masalah agama. Apa dalil yang melarang untuk membai’at B? Apa dalil yang membatasi bolehnya bai’at hanya pada individu tertentu? Dengan hal ini, maka berarti kita berupaya untuk merusak persatuan kaum muslimin. Masing-masing kelompok akan fanatik dengan kelompoknya masing-masing. Ada loyalitas dan hubungan tertentu yang terjadi pada orang-orang yang satu kelompok. Loyalitas semacam ini tidak akan diberikan kepada kelompok yang lain. Hal ini hanya akan menimbulkan perpecahan dan memperdalam luka yang telah mengoyak kaum muslimin sehingga menghabiskan darah kaum muslimin, persaudaraan dan keimanan mereka sehingga kaum muslimin mengalami apa yang saat ini mereka alami. Mereka terpecah belah karena faktor :

negara, bangsa, kelompok dakwah, tarekat sufi dan ulama (baca: mazhab fiqh).
Dampak dari ini semua adalah suatu hal yang tentu tidak kita harapkan.

حتى لو قلنا أن الأصل في ذلك الجواز فلا يمكن أن نجيز مع هذه الحالات. لا يمكن أن نجيز مع هذه الفرقة المفضية إلى ضعف الكلمة و وهن الصفوف و نزع الهيـبة. نسأل الله العفو و العافية.

Jadi andai kita katakan bahwa pada asalnya bai’at semacam ini diperbolehkan maka menimbang adanya berbagai hal ini di antaranya adalah perpecahan maka tidak mungkin kita perbolehkan. Perpecahan hanya menyebabkan lemahnya persatuan, rapuhnya barisan dan hilangnya wibawa ummat. Moga Allah menyelamatkan dan memaafkan kita.

أيضا رأينا من المحذورات التى تبعت هذه البيعة أنها وسيلة للضغط على الأتباع. فإذا أراد أحد أن يخرج بعد أن علم الحق و بان له أن هذا الطريق غير صحيح و أن الأولي أن يسلك طريقا آخر مع عالم آخر أو مع طائفة آخرى فإنه يهدد بالبيعة و يخاطب بها. و يؤتي له بالأحاديث الواردة في نقض العقود و نقض المواثيق و غير ذلك من المخاطر التابعة أو الناجمة عن نقض هذه البيعة. فعندما يسمع هذه النصوص يبقي فيما هو فيه و إن كان غير مقتنع بأنه حق.
أصبحت هذه البيعة حائلا بين كثير من الناس و اتباع الحق. عمقت الفرقة. حالت بين كثير من الناس وبين اتباع الحق.

Di samping perpecahan, di antara dampak buruk yang ditimbulkan oleh bai’at ini adalah bai’at itu dijadikan sebagai sarana untuk menekan para anggota kelompok. Jika ada anggota yang hendak meninggalkan suatu kelompok setelah dia mengetahui kebenaran dan setelah sadar bahwa jalan yang selama ini ditempuh itu bukanlah jalan yang benar sehingga yang lebih baik adalah meniti jalan lain bersama guru yang berbeda atau kelompok yang berbeda maka orang tersebut akan diancam dan ditakut-takuti dengan bai’at yang pernah dia berikan kepada kelompok tersebut. Berbagai hadits tentang dampak dari membatalkan bai’at akan disampaikan kepada orang tersebut, di samping berbagai resiko yang akan terjadi disebabkan membatalkan bai’at. Ketika orang tersebut mendengar dalil-dalil tersebut maka akhirnya dia akan memilih untuk tetap bertahan dalam kelompok tersebut meski dia sebenarnya tidak yakin kalau kelompoknya adalah kelompok yang benar. Jadilah bai’at ini penghalang banyak orang untuk mengikuti kebenaran. Dengan baiat-baiat ini perpecahan semakin parah dan banyak orang yang terhalangi untuk mengikuti kebenaran.

أيضا هذه البيعة حرمت كثيرا من الناس أو من الأتباع من معرفة الخير الذي عند الآخرين. فأنت في جماعة تحصر علي منظريها و تحصر علي علمائها و دعاتها. تأخذ عنه. و الآخرون يشوهون أمامك. يطعن في أعراض الآخرين و يستجاز ذلك و يستباح بسبب مصلحة الدعوة- كما يزعمون-. فأنت عندما تعاب على أن الآخرين عملاء و منافقون و مداهنون و باعوا دينهم بيعا رخيصا. عندما تعاب على أن الآخرين هم أعين الكفار و هم أيديهم و هم أصواتهم التى يضربون بها المسلمين. عندما تعاب الآخر هذا الاقتراب منه اقتراب من حافة جهنم. فأنت-لا شك-أنك ستبتعد عن هذا العالم و ستبتعد عن هذه الطريقة. و لا تستيفيد من خير عندها. فتبقي في دائرة واحدة.

Dampak buruk yang ketiga adalah bai’at-bai’at ini berhasil mencegah banyak orang atau banyak anggota suatu kelompok untuk mengetahui kebaikan yang ada pada kelompok yang lain. Anda berada dalam suatu kelompok sehingga anda dibatasi untuk terikat dengan para pembina kelompoknya, ulama dan para juru dakwah yang ada dalam kelompoknya saja. Anda hanya boleh belajar agama kepada mereka. Sedangkan kelompok yang lain dihabisi dan kehormatan mereka dinodai. Ini semua diperbolehkan demi kepentingan dakwah. Demikian anggapan mereka.
Disampaikan kepada Anda bahwa orang-orang yang ada dalam kelompok lain adalah para antek penguasa, munafik, basa-basi dalam masalah agama dan menjual agama dengan harga yang sangat murah. Disampaikan kepada Anda bahwa orang-orang di luar kelompoknya itu mata-mata orang kafir, alat dan corong orang kafir untuk menggilas kaum muslimin. Jika demikian yang anda dapatkan tentu Anda akan menjauhi ulama dan metode lain dalam beragama yang dimaksudkan. Anda tidak akan bisa mengambil kebaikan yang ada pada kelompok lain. Jadinya anda terkurung dalam satu wadah saja.

وقد كان السلف يذهبون إلى مشايخ في المشارق و المغارب و يسمعون من جميع العلماء. هذا يأخذون منه الفقه و هذا الحديث و هذا يأخذون منه القرآن. وذاك اللغة و ذاك التاريخ. وذاك كذا و ذاك كذا.

Dahulu salaf belajar kepada berbagai ulama yang ada di berbagai belahan dunia. Mereka belajar dengan semua ulama yang ada. Dari ulama A belajar fiqih. Dengan ulama B belajar hadits. Dari ulama C belajar al Qur’an. Dari D belajar bahasa Arab. Dari E belajar sejarah dan seterusnya dan seterusnya.

وكل عالم يجلس عنده طالب يستفيد منه فوائد. هذا يستفيد في سعة العلم و هذا يستفيد في قوة الحجة و المناظرة. وذاك يستفيد في الصدع بالحق و الثبات عليه. وقد يستفيد في العبادة و الإخبات و الخشوع لله عز و جل. و ذاك يستفيد منه في الزهد و ذاك في الكرم و ذاك في كذا.

Semua murid yang belajar pada seorang guru akan terkesan dalam hal yang berbeda-beda.

Ada yang terkesan dengan keluasan ilmunya.

Ada yang terkesan dengan kekuatan dalam berargumen ketika berdiskusi.

Ada yang terkesan dengan sikap terus terang mengatakan kebenaran dan tegar membela kebenaran.

Ada juga yang terkesan dengan ibadah dan kekhusyuan sang guru kepada Allah. Yang lain
terkesan dengan zuhudnya.

Ada yang terkesan dengan kedermawanan dan sebagainya.

فعندما يكون أبناء المسلمين يطوفون على مشايخ و على علماء تتزن شخصيته (و) تتزن عقليته (و) تتزن أفهامه. يأخذون من هذا كذا و من ذاك كذا ومن ذاك كذا من العلوم و من الأخلاق و من أشياء التى تقوي شخصيته.

Saat generasi muda Islam belajar kepada berbagai ulama maka mereka memiliki kepribadian, daya intelektual dan pemahaman yang bagus. Dari guru yang pertama terkesan dengan ini dan itu yang ada pada guru tersebut. Sehingga seorang pelajar agama mendapatkan berbagai ilmu dan akhlak dan hal-hal lain yang mendukung pembentukan kepribadiannya.

يحرم أتباع هذه الجماعات من هذا. أنه يقال لا تأخذ من فلان!! لا تأخذ من فلان!!خذ من فلان و فلان!!يبقي محصورا على ما عند فلان. فإن كان من حظه حسن أن الذي حصر عليه أهل خير استفاد منه. و إن كان من حظه سيء أنه ليس كذلك ما له إلا الذي عنده.
إذا إن البيعة هذه نفرته عمن كان من الممكن أن يكون بابا إلى الجنة, بابا إلى مكارم, بابا إلى خير.

Para anggota kelompok tersebut tidak bisa mendapatkan hal ini. Setiap anggota didoktrin agar tidak belajar agama A atau B dan hanya boleh belajar kepada C. Akhirnya orang ini hanya mendapatkan ilmu dari guru tertentu saja. Jika dia orang yang beruntung dia mendapatkan guru yang baik, dia bisa mendapatkan banyak manfaat. Jika dia bukan manusia yang beruntung maka nasibnya berbeda. Sehingga di antara bahaya bai’at semacam ini adalah menyebabkan seseorang itu menjauhi seorang yang akan menjadi pintu baginya menuju surga, pintu menuju hal-hal mulia dan pintu menuju kebaikan.

Continue reading...

Bai’at Inisiasi Spiritual (Tahbis)

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Inisiasi spiritual atau penasbihan adalah pelantikan atau peresmian seseorang yang sungguh-sungguh ingin mencari pengetahuan (makrifat) Allah SWT oleh seorang pembimbing (mursyid, khalifah, syekh). Dalam beberapa tarekat, inisiasi ini biasa di-istilahkan dengan baiat atau talqin. Kegiatan seperti ini sering dihubungkan dengan pengangkatan sumpah para sahabat Nabi saat Perjanjian Hudaibiyah yang berlangsung di bawah pohon.

Intinya, pernyataan janji setia mereka untuk mengabdi kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad dalam kondisi apa pun. Peristiwa ini dilukiskan di dalam Alquran,”Orang-orang yang berjanji setia kepadamu, mereka itu sesungguh-nya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Barang siapa yang melanggar janji itu maka akibatnya, niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Dan, barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. ” (Q.S. al-Fath [48:] 10).

Upacara pelantikan ini biasa¬nya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masing-masing tarekat. Ada yang menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum di-inisiasi/bai’at, bergantung standar operasional prosedur (SOP) masing-masing tarekat. Di antara standar tersebut ialah menjabat tangan (mushafaha’h) dengan syekh atau mursyid. Biasanya ada tarekat mengganti nama atau menambahkan laqab (julukan) murid yang mengikuti inisiasi tersebut. Itu semua dilakukan sebagi simbol “kelahiran kembali” kedunia rohani.

Inisiasi tersebut biasanya di-tandai dengan penyerahan kain serban (khirqah) yang dipasangkan di pundak murid oleh syekh atau mursyid. Biasa juga pemberian tasbih, ijazah, atau benda-benda upacara lainnya. Proses inisiasi biasanya dilakukan seusai shalat berjamaah dan disaksikan oleh murid-murid lainnya.

Inisiasi ini bertingkat-tingkat. Ada tingkat paling awal yang diinisiasi sebagai anggota baru tarekat. Inisiasi lainnya dilakukan lebih khusus untuk murid-murid ‘yang sudah mencapai tingkatan tertentu dan baginya sudah layak untuk dilantik sebagai mursyid pembantu. Perbedaan antara mursyid pembantu dan mursyid senior ditentukan oleh tradisi tarekat.

Setelah inisiasi maka murid atau mursyid maka murid itu, berlakulah ketentuan pada diri-nya sendiri dan wajib dijalani. Misalnya, ia harus berani berubah secara drastis, seperti berani untuk menggunting dosa-dosa langganannya sejak dahulu, meninggalkan makanan, minuman, dan perbuatan, serta keputusan-keputusan syubhat, apalagi yang haram. Murid dituntut tegas berani hijrah dari kondisi batin yang menyatu ke kecenderungan batin yang condong antara hak dan batil. Laksana menyatunya air dan teh. Bila telah terpisah, akan berbentuk laiknya pemisahan antara air dan minyak.

Inisiasi sesungguhnya lebih merupakan terapi kaget (shock therapy) untuk hijrah ke dalam suasana batin yang baru. Ikrar atau baiat yang baru saja dijalani-nya lupakan peristiwa simbolis untuk lahir kembali dari gelapnya lumuran dosa dan maksiat. Kini, ia merasa terlahir kembali, seperti bayi yang tanpa beban, bersih, ringan, putih, pasrah, tenang, damai, indah, bahagia, cerah, dan bebas dari beban masa lampau.

Dua kalimat sakral yang baru diucapkan itu memang didasari oleh jaminan Nabi, “Perbaruilah keimanan kalian dengan bersahadat ulang.” Allah juga menjamin pengampunan dosa secara total (fagfir al-dzunuuba jami’an) bagi orang yang telah menjalani pertobatan khusus {taubatan na-shuha). Sebesar apa pun dosa se-belumnya, ia merasa plong dengan inisiasi yang baru saja dilakukannya dengan penuh keterharuan, yang biasanya disertai dengan linangan air mata. Mereka merasa optimistis dengan menatap ke depan, karena hadis nabi, “Air mata tobat menghapuskan api neraka” dan “Jeritan tobat-nya para pendosa lebih disukai Tuhan ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama.”

Kini, ia semakin sadar dan sen-sitif serta sudah mampu mendeteksi perbedaan antara kecenderungan yang hak atau batil dan antara bisikan iblis dan bisikan malaikat. Sebelumnya, ia masih sulit membedakan mana kecenderungan hak mana yang batil, mana bisikan iblis dan mana bisikan malaikat, karena keduanya larut di dalam dirinya bagaikan air dengan teh. Setelah menjalani tradisi baru, ia merasakan lembaran baru dalam kehidupannya. Antara hak dan batil dan bisikan iblis dan bisikan malaikat dirasakannya sudah jelas, seperti jelas-nya perbedaan antara air dan minyak. Keduanya tidak lagi menyatu secara utuh di dalam dirinya.

Sikap dan persepsinya terhadap Tuhan juga sudah jauh berubah. Sebelumnya, ia terbebani dengan doa. Doa-doa yang tidak dikabulkan menjadi beban batin baginya karena seringkali dihubungkan dengan pertanyaan nakal dalam jiwanya tentang keberadaan Tuhan. Mengapa ia yang berdoa kepada-Nya, tetapi dijawab dengan kekecewaan. Sementara itu, orang yang tidak pernah berdoa, bahkan bergelimang dosa, tetapi hidupnya melimpah dan berkecukupan.

Kini, ia semakin sadar dengan sabda Nabi, “Doa adalah jantung-nya ibadah”. Ia tidak lagi salah paham terhadap doa-doanya yang tertolak. Ia bahkan sangat sadar bahwa penerimaan doa bisa berarti penerimaan baginya, dan penerimaan doa berarti penolakan baginya. Ia lebih takut kalau daftar panjang doa-doanya dikabulkan justru akan melahirkan penolakan dirinya, karena perhatian tidak lagi tertuju pada Tuhan, tetapi habis waktu mengonsumsi hasil-hasil doanya. Ia bersyukur jika doa-doanya ditolak karena yakin pasti itu akan membahayakan kelanggengan hubungan mesra dengan Tuhannya.

Akhirnya, doa baginya sudah semakin pendek karena ditenggelamkan oleh munajatnya. Ia lebih sibuk naik kehadirat-Nya (wushul) ketimbang memohon rahmat lebih banyak turun ke bawah. Untuk apa rahmat lebih banyak turun dari-Nya, jika ia sendiri tidak bisa naik karena rahmat itu. Ia lebih memilih untuk naik ke hadirat-Nya ketimbang rahmat-Nya turun.

Lambat laun, yang bersangkutan tidak lagi rida dengan surga dan tidak juga takut dengan neraka. Masihkah seseorang butuh surga atau takut neraka jika seseorang sudah menyatu dengan Rahmat Sang Pencipta surga dan neraka itu. Mungkin ia akan berteriak ambillah surga itu, aku cukup dengan Tuhanku.

Bay’at

Ketahuilah bahwa makna Bai‘ah adalah berjanji dan taat setia kemudian berpegang teguh dan tetap melaksanakannya. Berbai‘ah merupakan amalan Para Sufi yang mulia Rahmatullah ‘alaihim dan i terus berjalan sehingga ke hari ini dan akan terus berjalan. Berbai‘ah juga merupakan Sunnah dan Tariqah Para Sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in.

Bai‘ah adalah menetapkan secara sadar hubungan di antara Mursyid dan Murid. Murid membenarkan Murshidnya memberikan bimbingan kepadanya dan Mursyid menerima Murid sebagai Muridnya dan pengikutnya dalam mencapai peningkatan Ruhani menuju kepada maksud yang hakiki.

Perkataan Bai’ah berasal dari kata dasar Ba’a Bai’an Mabi’an yang berarti menjual dan perkataan ini biasa digunakan dalam istilah akad jual beli. Biasanya setelah menjual sesuatu, si penjual akan mengucapkan Bi’tu yang berarti “Saya menjual” dan pembeli pula mengucapkan Isytaraitu yang berarti “Saya membeli” dan ini mengisyaratkan kepada keredhaan kedua belah pihak.

Dari kata dasar tersebut terbit pula kata Baya’a yang berarti membuat perjanjian atau biasa disebutkan sebagai Bay’at atau Bai’ah. Dalil Bai‘ah di dalam Al-Quran ada di dalam Surah Al-Fath ayat 10 yang mana Allah : “Sesungguhnya orang-orang yang berbai‘ah berjanji setia kepada kamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berbai‘ah berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janjinya maka akibat buruk akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada Nabi Muhammad, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat dari melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Pada bulan Zulqaidah tahun keenam Hijriyyah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Makkah untuk melakukan Umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampainyadi Hudaibiyah, Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berhenti dan mengutus Hadhrat ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu terlebih dahulu ke Makkah untuk menyampaikan maksud kedatangannya dan kaum Muslimin. Mere man bin ‘Affan Radhiyallahu‘Anhu, tetapi tidak juga datang kerana Hadhrat ‘Utsman binAffan Radhiyallahu ‘Anhu telah ditahan oleh kaum Musyrikin, kemudian tersiar lagi khabar bahawa Hadhrat‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu telah dibunuh, maka Nabi menganjurkan agar kaum Muslimin melakukan Bai’ah janji setia kepadanya. Mereka pun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai.

Baiat / Baiah / Bai’ah
(Bahasa Arab: بيعة‎ atau بَيْعَة) ialah perjanjian untuk memberi ketaatan. Orang yang berbaiat ialah seolah-olah ia membuat janji setia untuk menyerahkan dirinya dan urusan kaum Muslimin kepada khalifah. Ia tidak akan melanggar kepada janji-setianya terhadap khalifah dalam urusan tersebut malah ia mestilah mentaati apa yang dipertanggungjawabkan ke atasnya sama ada ia suka ataupun ia benci.

Bai’ah adalah akad antara umat dan calon khalifah untuk menjadi Khalifah atas dasar redha dan pilihan, tanpa paksaan. Allah S.W.T melalui Rasulullah s.a.w. telah menggariskan bahwa akad tersebut adalah baiah.

Sebagaimana layaknya sebuah akad, dalam Baiah perlu ada ijab (penyerahan) dan qabul (penerimaan). Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya mencontohkan bahwa ijab berasal dari umat sebagai pemilik kekuasaan. Calon khalifah mengabulkannya. Ijabnya berupa penyerahan kekuasaan dari rakyat kepada Khalifah untuk menerapkan Islam dan penyerahan ketaatan mereka kepadanya. Qabulnya berupa penerimaan hal tersebut oleh calon khalifah.

Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 Surah Al-Fath, karana itulah disebut sebagai Bai’atur Ridhwan. Bai’atur Ridhwan ini menggetarkan kaum Musyrikin sehingga mereka telah melepaskan Hadhrat ‘Utsman dan mengirimkan utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Sulhul Hudaibiyah. Orang yang berjanji setia biasanya berjabat tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji denganAllah. Jadi seakan-akan Tangan Allah di atas tangan orangorang yang berjanji itu. Hendaklah dimengerti bahawa Allah Maha suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.

Di dalam Surah Al-Fath ayat 18 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan ke atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.”

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepada NabiMuhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah sebuah pohon dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan ke atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya. Yang dimaksudkan dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum Muslimin pada perang Khaibar.

Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum berbai‘ah dengan Hadhrat Baginda Nabi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam banyak keadaan. Ada yang berbai‘ah untuk ikut berhijrah dan berjuang bersama-sama Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, ada yang berbai‘ah untuk sama-sama menegakkan Rukun Islam, ada yang berbai‘ah untuk tetap teguh berjuang tanpa undur ke belakang dalam medan pertempuran jihad menentang orang kafir, ada yang berbai‘ah untuk tetap berpegang dan memelihara Sunnah, menjauhi bida‘ah dan berbai‘ah untuk melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kaum wanita di kalangan Para Sahabat Radhiya‘anhum juga melakukan Bai‘ah dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Terdapat bermacam-macam peristiwa Bai‘ah di zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Para Sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in.

Menurut Hadhrat Shah Waliyullah Dehlawi Rahmatullah ‘alaih di dalam kitabnya Al-Qaulul Jamil terdapat beberapa bahagian Bai‘ah yaitu:

1. Bai‘ah untuk taat setia kepada Khalifah.

2. Bai‘ah untuk menerima Agama Islam.

3. Bai‘ah untuk tetap teguh berpegang dengan Taqwa.

4. Bai‘ah untuk ikut berhijrah dan berjihad.

5. Bai‘ah untuk tetap setia menyertai Jihad.

Menurut Hadhrat Shah Abdullah Ghulam ‘Ali Rahmatullah ‘, terdapat 3 jenis Bai‘ah. Jenis yang pertama ialah apabila seseorang itu bertaubat pada tangan seorang yang suci dan berbai‘ah untuk meninggalkan perbuatan dosa, maka dosa-dosa besarnya juga akan turut terampun. Jika dia kembali melakukan dosa, maka dia perlu mengulangi Bai‘ah kali yang kedua yakni Bai‘ah ini boleh berlaku berulang-ulang kali.

Jenis Bai‘ah yang kedua ialah apabila seseorang itu berbai‘ah untuk mendapatkan Nisbat Khandaniyah yakni nisbat dengan sesuatu golongan atau kelompok bagi mendapatkan berita baik yang menjadi kekhususan bagi golongan tersebut. Di samping itu dia mengharapkan Syafa’at yang tidak terbatas menerusi golongan tersebut. Misalnya, seseorang itu berbai‘ah dengan Silsilah Qadiriyah supaya mendapatkan perkhabaran baik Hadhrat Ghauts Tsaqilain Syeikh Abdul Qadir Jailani Rahmatullah‘alaih yang mana beliau telah berkata bahawa, “Para murid dalam Silsilahku tidak akan meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat.” Bai‘ah seperti ini tidak perlu dilakukan berulang-ulang.

Jenis Bai‘ah yang ketiga ialah apabila seseorang itu berniat untuk mengambil faedah dan istifadah dari sesuatu Khandan atau golongan. Jika seseorang itu telah berikhtiar dan berusaha untuk melaksanakan Zikir dan Wazifah Khandan tersebut secara ikhlas namun tidak berupaya melaksanakannya maka untuk dirinya, dengan kebenaran yang menjadi kebiasaan ialah hendaklah merujuk kepada siapa orang suci dari kelompok atau golongan yang lain dan berbai‘ah dengan Mursyid yang lain sama ada Mursyid yang sebelum itu ridha atau tidak. Akan tetapi tidak boleh sekali-kali menafikan kesucian dan kesalihan Mursyid yang terdahulu sebaliknya hendaklah beranggapan bahwa mungkin berkahnya tidak di sana.

Jika seseorang Murid mendapati Mursyid mengabaikan pengamalan Syari’at dan usul-usul Tariqat dan dirinya terikat dengan ahli-ahli duniawi dan mencintai dunia, maka hendaklah dirinya mencari Mursyid yang lain bagi menghasilkan limpahan Faidhz batin dan kecintaan serta Ma’rifat. Adapun, amalan mengulangi Bai‘ah memang ada berlaku di zaman Hadhrat Baginda Rasulullah Salllallhu ‘Alaihi Wasallam, begitu juga di zaman Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in, Para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in.

Menurut Hadhrat Shah Waliyullah Dehlawi Rahmatullah ‘alaih bahawa mengulangi Bai‘ah dengan Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam itu ada asasnya. Begitu juga melakukan Bai‘ah berulang-ulangdengan ahli-ahli Tasawwuf sama ada dengan dua orang Syeikh yang berlainan atau dua kali dengan Syeikh yang sama. Ini dilakukan karena wujudnya kecacatan pada orang yang menerima Bai‘ah itu yakni Syeikh tersebut, sama ada selepas kematiannya ataupun berpisah jauh serta putus hubungan secara zahir.

Adapun Bai‘ah yang dilakukan berulang-ulang kali tanpa sembarang sebab atau uzur maka boleh dianggap sebagai main-main dan ini boleh menghilangkan keberkatan dan menyebabkan hati Syeikh atau Guru Mursyid itu berpaling dari menumpukan perhatian keruhanian terhadapnya. Wallahu A’lam.

Hadhrat Aqdas Maulana Muhammad ‘Abdullah Rahmatullah ‘alaih suatu ketika telah ditanyakan orang tentang apakah maksud Bai‘ah? Beliau lalu berkata,“Cobalah engkau lihat bahwa dengan adanya pengetahuan hukum-hukum Syariah dan urusan keagamaanpun orang tidak dapat berakhlak dan melakukan amalanSalih dengan baik, terdapat juga kebanyakan orang-orang Islam yang mengerjakan sholat dan puasa tetapi masih tidak dapat menghindarkan diri dari kelakuan buruk seperti menipu dan berbohong serta mengumpat ghibat. Maksud utama Bai‘ah ialah supaya menghindarkan kelakuan yang buruk dan menggantikannya dengan melahirkan akhlak yang tinggi dan mulia, mendatangkan kemudahan untuk melakukan amalan Salih dan dengan sendirinya akan meninggalkan perbuatan maksiat.”

Hukum Bai‘ah adalah Sunat dan bukannya Wajib karena manusia melakukan Bai‘ah dengan Hadhrat Baginda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam atas tujuan Wasilah untuk tujuan Qurbah menghampirkan diri mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa meninggalkan atau tidak melakukan Bai‘ah adalah berdosa dan tidak ada Imam Mujtahidin yang menyatakan berdosa jika meninggalkan Bai‘ah.

Adapun hikmah melakukan Bai‘ah adalah amat besar sekali karena Allah melaksanakan peraturanNya dengan meletakkan dan menentukan beberapa perbuatan, amalan dan kata-kata yang bersifat zahir sebagai lambang bagi membuktikan ketaatan dan bagi menyatakan perkaraperkara yang bersifat Ruhaniah, halus dan tersembunyi di jiwa insan. Sebagai contoh, membenarkan dan mempercayai dengan yakin akan kewujudan Allah Yang Maha Esa dan Hari Akhirat adalah merupakan perkara ghaib, halus dan bersifat Ruhaniah, Maka Islam meletakkan pengakuan lidah atau ikrar sebagai lambang membenarkan kewujudan Allah dan Hari Akhirat yang bersifat Mujarrad dan halus.

Begitulah juga di dalam urusan Mu’amalat perniagaan dan jual beli yang mana ianya berasaskan keredhaan penjual dan pembeli untuk melakukan urusan perniagaan dan keredhaan itu adalah bersifat halus dan tersembunyi maka amalan akad Ijab dan Qabul menjadi sebagai lambang bagi menzahirkan keredhaan antara penjual dan pembeli. Demikian juga dalam melaksanakan Taubat, keazaman untuk berhenti dari melakukan dosa adalah bersifat halus dan Mujarrad lagi tersembunyi, oleh itu telah ditentukan oleh Allah menerusi amalan Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum bahawa amalan Bai‘ah itu secara zahirnya adalah bagi melambangkan keazaman untuk bertaubat dan meninggalkan dosa-dosa. Upacara Bai‘ah ini seharusnya dilakukan secara rahasia pada tempat yang rahasia karena ianya merupakan suatu rahasia perjalanan yang rahasia bagi setiap Salik.

Pada hakikatnya Bai’ah adalah merupakan suatu akad jual beli antara kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kerana Dia telah berfirman di dalam Surah At-Taubah ayat 111,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan Syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan ciri-ciri serta sifat-sifat mereka yang telah melakukan jual beli dengan Allah pada Surah At-Taubah ayat 112 yang berarti:

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’aruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman itu.

Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan dengan lebih jelas akan ciri serta sifat orang-orang beriman yang menyempurnakan akad jual beli antara dirinya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yakni mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu. Maksudnya melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad.

Ada pula yang menafsirkannya dengan orang yang berpuasa yang sentiasa bertaubat dan melaksanakan amalan ibadah dengan baik dan sempurna, yang sering berziarah untuk tujuan Silaturrahim ataupun untuk bertemu dengan seseorang yang ‘Alim untuk tujuan mendapatkan ilmu ataupun menziarahi Para Auliya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sebaik-baik ziarah adalah menziarahi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinatul Munawwarah, yang mendirikan Sholat dengan ruku’ dan sujud yang baik dan sempurna, yang menjalankan kewajiban Dakwah dan Tabligh dengan menyuruh manusia berbuat amalan kebaikan yang Ma’aruf dan berusaha mencegah manusia dari melakukan perbuatan yang zalim dan mungkar serta senantiasa memelihara hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala sepertimana yang termaktub di dalam Al-Quran dan berpandukan Al-Hadits dan As-Sunnah.

Dengan berusaha memelihara hukum-hukum Allah, mereka telah menafkahkan harta mereka dan menyerahkan diri mereka bagi menegakkan Kalimah Allah. Mereka berperang dengan Syaitan, Hawa, Nafsu dan Duniawi semata-mata kerana Allah sehingga mereka menghembuskan nafas yang terakhir. Maka mereka itu adalah golongan orang-orang beriman yang berada dalam tingkatan yang khusus dengan mendapat perkhabaran gembira dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka sebagai melengkapi syarat jual beli antara orang-orang beriman dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa Dia telah membeli diri mereka dan harta mereka dan Syurga adalah sebagai tukaran. Bai’ah merupakan akad bagi jual beli ini dan setelah kita berakad dengan akad Bai’ah ini, menjadi tanggungjawab kitalah untuk menyerahkan diri kita mentaati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan RasulNya Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan membelanjakan harta kita menurut kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan mengikuti petunjuk RasulNya, Hadhrat Baginda Nabi Muhammad RasulullahSallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sumber : AR-RISALAH AL-‘ALIYAH

Faqir Maulawi Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi

An-Naqshbandi Al-Mujaddidi Al-Uwaisi

‘Ufiya Allahu ‘Anhu Wali Walidaihi

Syarat-syarat Syah Baiah

1. Islam

2. Baligh

3. Berakal

4. Redha dan atas pilihan

Hadis Tentang Baiah

Banyak hadis sahih yang menjelaskan bahawa seseorang sah sebagai Khalifah jika diangkat melalui proses Baiah. Para sahabat pun melakukan hal yang sama. Tidak pernah seseorang menjadi Khalifah tanpa dibaiah. Abu Bakar menjadi Khalifah bukan hasil musyawarah memutuskan beliau sebagai khalifah, tetapi setelah beliau dibaiah di Saqifah. Umar menjadi khalifah bukan setelah pengumuman Abu Bakar tentang hasil musyawarah kaum Muslim, melainkan setelah beliau dibaiah. Demikian juga dengan Uthman dan Ali. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahawa baiah merupakan satu-satunya cara tetap (thariqah) pengangkatan khalifah. Sekalipun disetujui majoriti rakyat atau wakilnya, seseorang belum menjadi khalifah sebelum dibaiah. Begitu juga, warisan atau sistem putera mahkota bukanlah cara pengangkatan khalifah.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. Dari Rasulullah saw. beliau bersabda:

“Dahulu Bani Israil itu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi mangkat, maka akan digantikan dengan nabi lain. Dan sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun setelahku dan akan muncul para khalifah yang banyak. Mereka bertanya: Lalu apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi saw. menjawab: Setialah dengan baiah khalifah pertama dan seterusnya serta berikanlah kepada mereka hak mereka, sesungguhnya Allah akan menuntut tanggung jawab mereka terhadap kepemimpinan mereka.”

Jenis-jenis Baiah

Siapapun yang mengkaji hadis Nabi s.a.w. akan menemukan bahawa baiah terhadap khalifah ada dua jenis:

(1) Baiah In‘iqad, yakni baiah yang menunjukkan orang yang dibaiah sebagai khalifah, pemilik kekuasaan, berhak ditaati, ditolong, dan diikuti;

(2) Baiah Taat, iaitu baiah kaum Muslim terhadap khalifah terpilih dengan memberikan ketaatan kepadanya. Baiah Taat bukanlah untuk mengangkat khalifah, kerana khalifah sudah ada.

Kedua baiah ini juga didasarkan pada Ijmak Sahabat. Misalnya, Abu Bakar diangkat oleh sebagian Sahabat sebagai calon dari semua Sahabat, baik kalangan Muhajirin maupun Anshar. Setelah baiah dilakukan di Saqifah, esoknya kaum Muslim dikumpulkan di masjid. Abu Bakar berdiri di Mimbar. Sebelum Abu Bakar berbicara, Umar bin Khathab antara lain berbicara,

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian kepada pundak orang terbaik di antara kalian. Dia Sahabat yang berdua bersama Rasul di gua. Berdirilah kalian, baiahlah dia.”

Para Sahabat pun membaiah Abu Bakar setelah pembaiahan di Saqifah. Pembaiahan wakil Sahabat kepada Abu Bakar di Saqifah merupakan Baiah In‘iqad, sedangkan pembaiahan kaum Muslim kepadanya di masjid merupakan baiah taat. Hal serupa terjadi pada khalifah lainnya. Ini merupakan gambaran dan penegasan tentang keredhaan rakyat kepada Khalifah.

Berbeza dengan Baiah In‘iqad yang bersifat pilihan, Baiah Taat wajib atas setiap orang, yang ditunjukkan dengan ketaatan dan ketundukan kepada Khalifah terpilih; taat pada hukum dan perundang-undangan islam yang ditetapkannya.

Baiah Adalah Sunnah Nabi

Baiah ialah suatu perbuatan sunnah Nabi yang pernah diberikan oleh kaum Muslimin beberapa kali kepada Rasulullah s.a.w semasa baginda masih hidup seperti Baiah Aqabah 1, Baiah Aqabah 2,Baiah Ridhwan. Selepas kewafatan baginda para sahabat terus berbaiat kepada Ulil-Amri (Khalifah) mereka.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah dari ‘Ubadah bin Al-Samit yang menyatakan: “Rasulullah s.a.w telah memanggil kami, lalu kami pun memberi baiah kepada baginda… kemudian ‘Ubadah berkata:

“Di antara perkara yang diminta kami berjanji ialah; Kami berjanji mendengar dan mentaati (Rasulullah s.a.w) dalam perkara yang kami sukai dan kami benci, dalam keadaan kami susah dan senang, tidak mementingkan diri sendiri, tidak membantah terhadap ketua dalam urusan-urusan kecuali kami melihat kekufuran terhadap Allah secara nyata dengan bukti yang terang dan jelas.”

Haruskah Salik Menjalani Baiat?

Prof. Dr. Nasaruddln Umar

Janji setia dari calon murid atau salik kepada mursyid biasa disebut baiat atau talqin. Dalam suatu tarekat, baiat adalah sesuatu yang lazim. Biasanya yang melakukan proses baiat ialah mursyid kepada salik. Sebelum ke proses pembaiatan, umumnya diawali perkenalan dan penjelasan langkah-langkah yang harus ditempuh jika kelak resmi menjadi murid.

Seorang calon salik diperkenalkan berbagai syarat dan ketentuan internal tarekat, misalnya kesediaan murid menyempurnakan ibadah syariah, patuh kepada mursyid, aktif dan telaten melakukan riyadhah, serta berusaha meninggalkan rutinitas duniawi, lalu memasuki wilayah tasawuf dengan menginternalisasikan sifat-sifat utama seperti sabar, tawakal, qanaah, dan syukur.

Ia secara perlahan-lahan dibimbing untuk meninggalkan dominasi eksoterisme dan memasuki wilayah esoterisme dalam beribadah. Ia dituntut berkontemplasi guna lebih banyak mengenal alam rohani, dan pada akhirnya salik berusaha respek dan mencintai mursyidnya. Bagaikan sahabat yang mencintai rasulnya.

Sang calon salik juga berlatih menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) dan harapan besar [raja). Jika dia diyakini memiliki kemampuan untuk lanjut sebagai salik, mursyid akan membaiatnya. Prosesnya, ada yang sederhana ada juga yang lebih rumit. Ini semua bergantung pada ketentuan yang berlaku dalam sebuah tarekat.

Terkadang ada yang berbulan-bulan atau tahunan tetapi belum dibaiat. Sementara ada yang hanya beberapa hari tinggal bersama langsung dibaiat. Bergantung intensitas dan kesiapan calon murid menempa diri. Dasar hukum pelaksanaan baiat ini dihubungkan dengan surah al-Fath ayat 10.

Ayat tersebut berbunyi “Orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Tuhan di atas tangan mereka. Barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat dia melanggar janji itu akan menimpa dirinya. Dan barang siapa menetapi janjinya kepada Allah, Allah akan memberinya pahala yang besar.”

Idealnya, baiat itu mengikat, apalagi komitmen ini bertujuan positif sebagaimana ditegaskan Allah SWT, “Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah kalian”. (QS al-Nahl [16] 91). “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS al-Isra [17] 34).

Di dalam hadis ditemukan sejumlah riwayat yang mengajarkan konsep baiat bagi mereka yang akan menjadi pengikut khusus Rasulullah. Seperti hadis riwayat Bukhari dari Ubaidah bin Samit. Rasulullah bersabda, “Berjanjilah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu,tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan di antara tangan dan kaki kalian, dan tidak mendurhakai aku dalam kebaikan. Barang siapa di antara kalian menepati janji ini, dia akan mendapatkan pahala dari Allah. Barang siapa yang melanggar sebagian darinya lalu Allah menutupinya, hukumannya bergantung pada Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengam-puninya. Dan jika tidak. Dia akan menghukumnya”. Maka kami pun membaiat beliau dengan hal itu. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Bentuk baiat dan lafal yang pernah dilakukan Rasulullah kepada para sahabatnya berbeda-beda. Baiat secara kolektif dan individu pernah dilakukan Rasul. Contoh baiat kolektif dilakukan beliau kepada beberapa sahabatnya diungkapkan oleh Syadad bin Aus.

“Pada suatu hari, pernah ada beberapa orang berada di hadapan Rasulullah. Saat itu Rasul bertanya, apakah di antara kalian ada orang asing-maksudnya ahli kitab. Kami jawab tidak ada. Lalu, beliau menyuruh kami menutup pintu dan berucap, angkatlah tangan kalian dan ucapkan La Haha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Kemudian, Rasulullah bersabda, Segala puji hanya bagi Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini. Engkau menyuruhku untuk mengamalkan-nya. Dan Engkau menjanjikan surga kepadaku dengannya. Ketahuilah bahwa aku membawa kabar gembira untuk kalian. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji. Lalu beliau bersabda, Ketahuilah bahwa aku membawa kabar gembira untuk kalian. Sesungguhnya Allah telah memberi ampunan kepada kalian.” (Hadis riwayat Ahmad).

Sedangkan, contoh baiat secara individu terungkap melalui hadis yang diriwayatkan Thabrani. Baiat ini terjadi ketika Ali bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang paling dekat menuju Allah, yang paling mudah untuk beribadah kepada-Nya dan paling utama di sisi-Nya.”

Lalu, Rasulullah menjawab agar Ali melanggengkan zikir kepada Allah secara rahasia dan terang-terangan. Ali meresponsnya dengan mengatakan bahwa semua orang melakukan zikir dan ia berharap diberi zikir khusus. “Hal paling utama dari apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelum aku adalah kalimat La Haha illallah,” demikian jawaban Rasulullah.

Seandainya langit dan kalimat ini ditimbang, kata Rasul, maka kalimat ini lebih berat daripada langit. Kiamat tidak terjadi selama di bumi masih ada orang yang mengucapkan kalimat itu. Ali bertanya kembali, bagaimana cara mengucapkannya. Rasul menjawab, ” Pejamkanlah kedua matamu dan dengarkanlah aku La Haha illallah, diucapkan tiga kali. Ucapkanlah tiga kali kalimat itu dan aku mendengarkannya.” Ali mengucapkannya dengan keras.

Ditemukan banyak lagi hadis yang menerangkan cara pembaiatan kepada orang dan kelompok. Setelah Rasulullah wafat, pembaiatan terus dilakukan oleh para sahabat. Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali pernah membaiat orang dan kelompok. Tradisi itu dilanjutkan oleh para praktisi tarekat sampai saat ini.

Baiat di sini bukan baiat politik seperti Baiatul Aqabah kaum Anshar atau baiat sebagai tanda pengakuan kekuasaan terhadap seorang pemimpin. Ini adalah baiat spiritual yang dimana seseorang atau kelom-pok orang menyatakan janji suci kepada Allah untuk hidup sebagai orang yang saleh/salehah di depan mursyidnya.

Pertanyaan yang mendasar tentang baiat ini, mestikah seseorang dibaiat? Bagaimana dengan orang-orang yang memilih hidup di luar tarekat, yang di sana tidak umum dikenal ada baiat atau talqin? Apakah keislaman tidak sempurna tanpa baiat atau talqin? Tidak ada kesepahaman para ulama tentang wajibnya baiat.

Baiat di dunia tarekat bisa diperbarui seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging) energi spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan santo atau lembaga pastoral yang dapat atas nama Tuhan memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah.

Fungsi mursyid sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu hanya berfungsi sebagai motivator dan tutor yang dipercaya! salik. Banyak cara orang untuk memperoleh ketenangan dan sekaligus motivasi untuk menggapai rasa kedekatan diri dengan Tuhan. Salah satu di antaranya ialah menyatakan komitmen spiritual kepada Tuhan di depan atau melalui mursyid yang dipilih.

Jika pada suatu saat mengalami krisis spiritual, ia merasa sangat terbantu oleh kehadiran sahabat spiritual yag berfungsi sebagai konsultan spiritualnya. Tentu, sekali lagi bukan memitoskan atau mengultuskan seseorang. Tetapi secara psikologis, setiap orang pada dasarnya membutuhkan referensi personal untuk mengatasi kelabilan hidupnya.

Ini bukan bid’ah karena memiliki dasar yang kuat dalam Alquran dan hadist Nabi SAW. Namun tidak berarti bagi mereka yang tidak pernah menjalani baiat, keislamannya bermasalah, sebab baiat bukan sesuatu yang wajib.

Add Comment

Continue reading...

BAIAT MENURUT AL QUR`AN

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Ijab qobul untuk Janji Setia
Bai’at adalah pelantikan, peresmian, penobatan (tahbis) seorang yang memiliki keseriusan dalam menempuh jalan pengetahuan (ma`rifat) Allah melalui seorang” Mursyid ”yang diyakini memiliki hubungan khusus secara jasmani dan ruhani kepada Rasulullah Saw.

Bai’at, talqin, pemberian ijazah atau inisiasi spiritual dikaitkan dengan peristiwa
”Bai’atur Ridwan”
yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Ketika itu para sahabat menyatakan

”janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Peristiwa ini dilukiskan dalam Al-Quran:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿الفتح: ١٨﴾

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka ”berjanji setia” kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).[1]

Di zaman Rasulullah Saw,
bai’at diberlakukan terhadap mereka yang hendak masuk agama Islam serta bagi yang berkeinginan menunaikan pekerjaan-pekerjaan (perintah) agama. Di antara bai’at yang ada waktu itu adalah

bai’at untuk taat dan patuh kepada Rasulullah Saw

Berbai’at untuk berlaku taat merupakan perintah syar’i dan Sunnah Rasulullah Saw meskipun telah beriman terlebih dahulu. Karena bai’at merupakan pembaharu janji setia serta penguat jalinan kepercayaan beragama.

Ada yang memiliki persepsi keliru bahwa

bai’at hanya dilakukan di saat peperangan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw

dan para sahabatnya ketika menghadapi kaum kafir Mekah.
Padahal

asbabun nuzul (sebab turunnya) kedua ayat tersebut menunjukkan disyari’atkannya bai’at dan tidak ada penjelasan bahwa bai’at hanya dilakukan pada saat peperangan saja. Kebijakan syari’at bai’at dilakukan pada setiap zaman untuk membangun kepemimpinan.

Makna Bai’at

Secara etimologi Bai’at adalah Isim mashdar dari baa-ya’a-yubaaya’a-bay’atun [بايع – يبايع – بيعة].

Asalnya sama dengan baayi’un (transaksi).

Makna bai’at itu sendiri adalah

sumpah setia dengan suatu kepemimpinan. Sehingga ada jalinan hubungan yang kuat antara yang memimpin dan yang dipimpin.

Dengan prosesi bai’at terjalinlah ikatan hukum berupa hak dan kewajiban serta tanggung jawab kedua belah pihak secara adil dan proporsional. Adanya hak dan kewajiban ini merupakan hasil dari bai’at.

Bai’at lebih merupakan pernyataan komitmen spiritual secara formal di depan“ mursyid“ untuk menjalani hidup yang benar dan lurus. Bai’at dapat menjadi terapi kaget (shock theraphy) menuju untuk hijrah kepada susasana batin yang baru dan memberikan motivasi berkomitmen dalam kehidupan yang benar.

Bai’at di dunia tarekat bisa diperbarui seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging ) energi spiritual dari mursyid.

Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan santo atau lembaga pastoral yang dapat atas nama Tuhan memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah.

Fungsi mursyid sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya hanya berfungsi sebagai“ motivator dan tutor“ yang dipercayai salik.

Hak dan Kewajiban

Hak. :Imam (Mursyid) adalah ditaati.

Kewajibannya : membimbing pengikutnya kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus merupakan anugerah besar yang hanya dibawa oleh orang-orang pilihan-Nya. Dan anugerah tersebut bukan berasal dari manusia atau makhluk-Nya.

Anugerah atas manusia pilihan Allah tersebut adalah Kenabian dan Kerasulan, di dalamnya terdapat kepemimpinan. Termasuk di dalamnya adalah

Al-’Ulama, pewaris Nabi yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.

Orang-orang pilihan Allah tersebut membawa panji-panji Ilahiyyah yang berisi kebijakan yang lurus dalam menggapai Keridhaan Allah SWT.

Hak Murid adalah dipimpin, dibimbing, diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Posisi Mursyid adalah sebagai konsultan yang menampung persoalan atau problematika muridnya.

Murid memiliki hak untuk bertanya terhadap persoalan yang belum (tidak mampu) dipecahkannya

Kewajiban murid adalah Sami’na wa Atho’na. Tidak ada pilihan melainkan bersikap taat dan turut perintah.

Hal ini disebabkan karena telah terbangun keimanannya kepada Mursyid yang telah dipilih Allah dan diyakini mendapatkan mandat Ilahiyyah yang membawa kebijakan Allah SWT.

Modal itulah yang melandasi sikap Sami’na wa Atho’na.

Sikap ini bukan“ taqlid“ yang dilakukan tanpa dilandasi ilmu pengetahuan, tapi didasarkan atas kesadaran dan keimanan.

Adanya hak dan kewajiban ini membuktikan konsep keadilan kepemimpinan dalam Islam. Keadilan inilah yang mendekatkan diri kepada nilai ketaqwaan.

Kelak akan ada pengikut yang melaknat pemimpinnya, sebagaimana yang diinformasikan dalam Al-Quran:

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا ﴿الأحزاب: ٦٧﴾

Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

Istilah Bai’at disebut juga dengan talqin.

Talqin dipakai oleh para Ahli Tarekat, sedangkan Bai’at sering digunakan dalam Fiqh Siyasah (Politik Islam).

Bagian pengabdian seorang Utusan baik kalangan Nabi atau penerusnya adalah sebagai pendidik (mu’allim) umatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿الجمعة: ٢﴾

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bai’at juga disebut juga dengan Ijazah.

Ijazah mengandung arti memberikan suatu amalan atau wirid (kepada murid). Dalam kebijakan Al-Idrisiyyah Al-Islamiyyah,

ketiga istilah ini (Bai’at – Talqin dan Ijazah) dipadukan dalam satu kesatuan. Bai’at mengandung kesepakatan terhadap kepemimpinan yang di dalamnya mengandung pendidikan atau pengajaran sekaligus adanya pemberian amalan (wirid).

Wiridan dalam Ijazah mesti dilakukan oleh setiap murid untuk mengikat batin, agar tercipta kelangsungan bimbingan dari seorang Guru kepada murid-muridnya. Karena bimbingan Islam tidak dibatasi waktu dan tempat. Kapanpun dan di manapun bimbingan (tarbiyyah) ruhiyyah bisa dirasakan. Seorang murid mesti memiliki daya juang (mujahadah) untuk mendapatkan hubungan tarbiyyah berjalan dengan baik, salah satunya dengan melaksanakan awrad (formula dzikir) yang diterimanya.

Apabila seorang Mursyid dengan tanggungjawabnya senantiasa memperhatikan keselamatan dan kebahagiaan murid-muridnya di dunia dan akhirat, dan Allah memberikan kekuatan berupa Nur Ilahi-Nya, kemudian muridnya melakukan mujahadah dalam awrad ijazahnya maka akan tersambunglah hubungan tersebut.

Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿الفتح: ١٠﴾

Bahwasanya orang-orang yang bersumpah setia kepada kamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah. Kekuasaan Allah di atas kekuasaan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Inilah ajaran syari’at yang sangat penting untuk membangun kecerdasan umat, tapi sayang sekali sebagian besar umat Islam tidak memahami makna syari’at ini. Sehingga kebanyakan mereka tidak dalam kapasitas terbimbing.

Orang yang berbai’at akan mendapatkan kekuasaan dari Allah SWT berdasarkan ungkapan Yadullaaha fawqo aydiihim. Karena orang yang berbai’at kepada Petugas Allah berarti berbai’at kepada Allah. Allah secara langsung membimbing, memberikan kekuatan, meneguhkan atasnya. Kekuasan dan Kekuatan Allah di atas kekuasaan dan kekuatan manusia.

Ketika berbai’at, seseorang akan mendapatkan keridhaan-Nya, dosa-dosanya ditolerir sejalan dengan ungkapan laqod rodhiyallaahu [sungguh Allah telah meridhai].

Seorang Mursyid bertugas (ibadah) melakukan bimbingan, mencurahkan pikiran dan strategi, membuat berbagai metodologi dan inovasi, supaya kebijakan yang dibawanya bisa direspon dan diamalkan oleh murid pada khususnya dan umat pada umumnya. Tanggung jawab seorang Mursyid itu begitu besar, karena berupa Risalah Al-Islamiyyah yang pernah ditawarkan kepada seluruh makhluk lain sebelum manusia, mereka tidak sanggup memikulnya.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴿الأحزاب: ٧٢﴾

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Tanggung jawab

seorang Mursyid bersifat internal dan eksternal.

Skalanya sangat luas. Sedangkan seorang murid minimal mempertanggungjawabkan dirinya masing-masing. Kewajiban yang diistiqamahkan akan menghasilkan kualitas diri yang baik.

Bahkan diharapkan menjadi hamba pilihan.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ … إلخ ﴿آلعمران: ١١٠﴾

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,

Supaya menjadi suri tauladan bagi manusia, sebagai kewajiban internal dan eksternal.
Murid yang telah berbai’at, mendapatkan bimbingan lahir batin, wawasan keislaman yang luas, pendalaman dan penghayatan tentang agama, akan menghasilkan pribadi-pribadi yang berkualitas, serta menjadi contoh di hadapan umat manusia.

Pada umumnya manusia memiliki cita-cita yang pendek,sedangkan pribadi yang berkualitas (khoyro ummah) memiliki visi jauh ke depan, cita-cita yang tinggi, harapan jangka panjang hingga kepada kebahagiaan di kehidupan yang kekal.

Ijazah adalah proses pembentukan diri.

[1] Pada bulan Dzulhijjah tahun 6 H, Nabi saw beserta pengikutnya hendak mengunjungi Makkah untuk melakukan Umrah, dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Usman bin Affan lebih dahulu ke Makkah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin. Nabi dan para sahabat menanti-nanti kembalinya Usman, tetapi tidak juga kunjung datang karena Usman ditahan oleh kaum musyrikin, kemudian tersiar lagi berita bahwa Usman telah dibunuh. Karena itu Nabi saw menganjurkan kaum muslimin melakukan bai’at (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada beliau dan mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi saw sampai kemenangan tercapai.

Perjanjian setia ini telah diridhoi Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat Al Fath. Karena itu disebut Bai’atur Ridwan, Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin sehingga mereka melepaskan Usman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin, dan perjanjian ini terkenal dengan nama Sulhul Hudaibiyah.

[2] Sa’id Hawa, Tarbiyyatuna al-Ruhiyyah.

[3]Hasan Kamil al-Malthawi, al-Murabbi Tamhidun fit Tashawwuf, hal 47.

[4] Menurut Shah Waliyullah Dahlawi di dalam kitabnya Al-Qaulul Jamil Bai’at terdapat beberapa macam, yaitu:

1. Bai’at untuk taat setia kepada Khalifah.

2. Bai’at untuk menerima Agama Islam.

3. Bai’at untuk tetap teguh berpegang dengan Taqwa.

4. Bai’at untuk ikut berhijrah dan berjihad.

5. Bai’at untuk tetap setia menyertai Jihad.

[5] Dari akar kata tersebut diketahui bahwa kata bai’at pada mulanya dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan atas suatu transaksi jual beli antara dua pihak. Kesepakatan itu biasanya dilakukan dengan berjabatan tangan. Istilah ini kemudian berkembang sebagai ungkapan bagi kesepakatan terhadap suatu perjanjian antara dua pihak secara umum.

[6] Orang yang baru saja melakukan ikrar bai’at secara simbolis dianggap seperti terlahir kembali (reborn) dari kehidupan kelam sebelumnya yang tanpa petunjuk dan bimbingan. Suasana batin bagaikan kondisi bayi yang baru dilahirkan ke dunia ini, bahagia, cerah, bersih dari dosa dan lepas dari beban masa lalu. [Prof. Dr. Nasarudin Umar, harian Republika, 12 Januari 2012]
[7]Banyak cara orang untuk memperoleh ketenangan dan sekaligus motivasi untuk menggapai rasa kedekatan diri dengan Allah. Salah satu di antaranya ialah menyatakan komitmen spiritual kepada Allah di depan atau melalui mursyid yang dipilih. Jika pada suatu saat mengalami krisis spiritual, ia merasa sangat terbantu oleh kehadiran sahabat spiritual yang berfungsi sebagai konsultan spiritualnya.

[8] Dalam berbagai literatur hadits disebutkan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sahabat kepada Rasulullah Saw. Hal tersebut menunjukkan hak para sahabat sebagai umat di hadapan Rasul-Nya.

[9] Terjemah bebas: Barang siapa yang membatalkan janji (tidak komitmen) atas sumpah setianya maka sesungguhnya dia telah membatalkan perjanjian pada dirinya sendiri, tidak pada Allah, Rasul dan para Khalifahnya. Alias yang rugi di pihak dirinya sendiri. Sebaliknya barang siapa yang sungguh-sungguh pasca bai’at, ijazah dan talqin dengan mencurahkan seluruh pikiran, ingin memperbaiki diri, masuk ke dalam bimbingan yang paripurna maka Allah berjaniji akan memberikan kepadanya pahala yang agung.

[10] Seorang yang sering membuat jengkel orang tua dengan berbagai kelakuan buruknya, ketika mendapatkan ridha dari orang tuanya, maka orang tuanya akan melupakan segala apa yang telah dilakukan oleh anaknya itu. Sebaliknya jika seseorang sedang merasa benci seseorang, maka ia lupa akan segala kebaikannya. Yang dilihat adalah sisi buruknya saja. Jika ia seorang suami yang sedang dibenci, akan berubahlah wajah suaminya yang sebelumnya kelihatan ganteng menjadi buruk rupa.

Orang yang sedang marah menahan kebencian, hendaknya ia bercermin. Maka akan terlihat wajahnya yang paling buruk keadaannya. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menyerupakan kondisi orang yang sedang marah seperti boneka yang sedang dipermainkan oleh syetan. Ia akan dipermainkan syetan semaunya, sedang ia tidak bisa apa-apa (tak berdaya).

Pada zaman sekarang banyak terjadi kasus pembunuhan istri oleh suaminya sendiri, anak dicekik ibunya sampai mati, dan lain sebagainya. Semua itu disebabkan karena jiwanya telah dikuasai oleh syetan.

Sebagai contoh mengutamakan uang dan kesenangan dunia, meremehkan dan tidak memikirkan agamanya.

Formula dzikir yang diberikan saat menerima Ijazah, bai’at atau talqin bisa berubah (mengalami inovasi) sesuai kondisi zamannya. Perubahan tersebut adalah bagian dari kebijakan Allah yang dinamis. Allah senantiasa melakukan Perbuatan-Nya (Fa’-’aalul limaa yuriid). Sebagai murid mesti memanfaatkan waktu dalam mewujudkan penghambaan diri kepada-Nya. Waktu menurut filsafat ibarat air mengalir yang tidak pernah berhenti. Waktu terus bergulir seiring pergerakan matahari dan bulan. Waktu tidak akan berhenti apalagi mundur.

Continue reading...

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah. Rasulullah sholallohu „alaihi wassallam bersabda:
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah swt di dalam kitabNya, Al-Qur‟anul Karim, dan disabdakan oleh RosulNya di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah swt dan RasulNya.
Sebagai nasehat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:
1.Hal itu merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah swt . Allah Ta‟ala berfirman: �
Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah swt dengan sesuatu yang Allah swt tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah swt apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu)” (Al-A‟raf:33)
Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang
Allah swt tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah swt , bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Allah swt mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Dan berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari‟atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari‟atNya, dan agamaNya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah „Ala Ma Ihtawat „alaihi Al-„aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]
2. Berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu termasuk dusta atas (nama) Allah swt Allah Ta‟ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah swt . Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah swt tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)
3.Berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu merupakan kesesatan dan menyesatkan orang lain.
Rasulullah sholallohu „alaihi wassallam bersabda:
Sesungguhnya Allah swt tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama‟. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang „alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. (HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya)
Hadits ini menunjukkan bahwa “Barangsiapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Allah swthalalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah swt haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. (Shahih Jami‟il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi) 4.Berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa-nafsu.
Imam Ali bin Abil „Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara
tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah swt telah berfirman:
Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah swt sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)
5.Berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu merupakan sikap mendahului Allah swt dan RasulNya. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah swt dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah swt Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujuraat: 1)
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‟di rohimahulloh berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah swt dan RasulNya, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Allah swt telah memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah swt dan RasulNya, yaitu: menjalankan perintah-perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah swt dan Sunnah RasulNya di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah swt dan RasulNya, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah swt berkata, dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah swt memerintah”. (Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1)
6.Orang yang berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu menanggung dosa-dosa orang-orang yang dia sesatkan.
Orang yang berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan, oleh karena itu dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah sholallohu „alaihi wassallam:
Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah) 7.Berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu akan dimintai tanggung-jawab. Allah Ta‟ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra‟ : 36)
Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Allah Ta‟ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” (Tafsir Al-Qur‟anul Azhim, surat Al-Isra‟:36)8.Orang yang berbicara tentang Allah swt tanpa ilmu termasuk tidak berhukum dengan apa yang Allah swt turunkan.
Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan haramnya berfatwa tentang agama Allah dengan apa yang menyelisihi nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Al-Qur‟an, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. 5:44)
9.Berbicara agama tanpa ilmu menyelisihi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama‟ah. Imam Abu Ja‟far Ath-Thahawi rohimahulloh menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A‟lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393] 10.Berbicara agama tanpa ilmu merupakan perintah syaithan. Allah berfirman:
Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169) Keterangan ini kami akhiri dengan nasehat: barangsiapa yang ingin bebicara masalah agama hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu. Wallohu a‟lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil „alamin.

Continue reading...

AYAT-AYAT KHUSUS PEMBINASA JIN (MENGHANCURKAN TUBUH SETAN)

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Saya akan mengutip penjelasan dari Syaikh Muhammad Abduh Maghawuri dalam kitabnya Hiwarun Sahinun Ma’a Jinnin Muslimin Wa Jinnin Masihiyyin mengenai Pengalaman Beliau dalam membinasakan jin yang membandel dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Pada halaman 71 beliau menceritakan kisahnya:
Dalam pengembaraanku untuk mengadakan pengobatan ruqyah syar’iyyah dengan ayat-ayat Al_Qur’an ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya, yang mana pertanyaan-pertanyaan itu saya kira perlu untuk diketahui para pembaca. Inilah pertanyaan-pertanyaan tersebut:
Pertanyaan pertama : Bolehkah kita membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dapat membinasakan jin sampai tewas? Apakah ini termasuk perbuatan zalim atau bukan?
Jawab:

Ya boleh membaca ayat-ayat itu untuk membinasakan jin. Tapi ada syaratnya. Dan itu bukan termasuk perbuatan zalim. Ibnu Taimiyyah pernah membaca ayat-ayat tersebut. Juga Imam Ibnu Abdissalam dan Ibnu Nadim. Adapun syaratnya ialah :
1. Selama jin itu bersikeras untuk tetap tinggal di dalam tubuh seseorang dan tidak mau keluar
2. Apabila dia menipu atau mempermainkan kita seperti masuk kembali setelah keluar
3. Dia mau keluar tapi dengan menyakiti orang yang sakit itu.
4. Dia mau keluar tapi akan menyusup ke dalam tubuh orang lain lagi.
Pertanyaan kedua: Siapa yang memberi tahu anda (Syaikh Abduh Maghawuri) kalau ayat-ayat mantra dari Al_Qur’an tersebut dapat menghancurkan jin?
Jawab:
Sungguh masalah jin adalah masalah ghaib. Dan untuk menguji ketepatan ayat-ayat pembinasa tersebut melalui percobaan atau pengalaman-pengalaman. Tetapi harus percobaan yang bersifat syar’i. Artinya percobaan atau pengalaman yang tidak menyimpang dari kaidah-kaidah agama. Ini terbukti ketika saya membaca ayat-ayat ruqyah pada orang yang kesurupan jin, saya perhatikan pertama-tama ia merintih-rintih lantas kesadarannya hilang sebelum akhirnya sadar kembali (dalam hal ini saya berkata benar. Saya bersumpah dengan nama Allah, Allah yang menjadi saksi atas apa yang saya katakana dalam buku ini). Kemudian saya katakan kepadanya, kalau tidak mau keluar saya akan baca ayat-ayat yang dapat membinasakanmu dengan kehendak Allah.
Berikut ini contoh peristiwa kejadian nyata dalam mengobati pasien ( ada beberapa contoh kejadian namun admin hanya mencontohkan satu saja) :
Ada jin yang menyurupi tubuh seorang gadis meraung-raung lantas saya Tanya namanya tidak mau menjawab. Bahkan dia menjadikan gadis itu berteriak-teriak karena ubun-ubunnya ditekan oleh jin tersebut. Kemudian saya memberinya peringatan kalau saya akan membacakan ayat-ayat yang dapat membinasakannya kalau jin tersebut tidak mau menjawab pertanyaan saya. Karena tidak juga menjawab maka saya akhirnya membaca ayat-ayat itu. Baru kemudian jin itu berteriak-teriak menyahut:
Saya : Siapa namamu?
Jin : Untuk apa kamu mau tahu namaku?
Saya : Apa agamamu?
Jin : Nasrani
Saya : Kenapa kamu masuki tubuh gadis ini?
Jin : Saya bebas!
Saya : Sopanlah dalam menjawab, atau demi Allah saya bacakan ayat-ayat pembinasa
Jin : jangan-jangan…………..
Saya : Kalau begitu kemapa sampai kamu memasuki tubuh gadis ini?
Jin : Aku mencintainya dan selamanya tidak akan keluar!
Saya : maukah kamu keluar jika Allah menghendaki?
Jin : Tidak-tidak..sungguh aku tidak akan keluar
Saya : Apa pendapatmu tentang Islam?
Jin : Jangan kamu coba-coba memaksaku, atau kusakiti gadis ini!
Saya : Katanya kamu mencintainya,kok malah mau menyakiti?
Jin : Akan kubunuh dia jika kalau kamu terus memaksa saya keluar dari tubuhnya.
Saya : Sungguh kamu memang jin durhaka! Akan tetapi dengan pertolongan Allah, sungguh kamu tidak akan dapat berbuat apa-apa!
Jin : Dari mana kamu tahu itu, bahkan sebaliknya aku sanggup melakukan apa yang kuingini dan itu kau tahu!
Saya : Kalau begitu, baiklah. Rupanya kamu lebih memilih menanggung akibat dari apa yang akan kulakukan terhadap dirimu.
Jin : Aku akan memulai lebih dahulu sebelum kamu bertindak!!!
Akhirnya karena dia bersikers tidak mau keluar, terpaksa saya bacakan ayat-ayat ruqyah tersebut hingga dia binasa.
Penjelasan admin :
Dari pengalaman saya meruqyah, ayat-ayat pembinasa jin ini sangat afdol (Insya Allah) untuk membunuh jin dengan membakar habis tubuh jin tersebut. Jin yang terkena “api ghoib” dari ayat-ayat ini akan berteriak-teriak menangis kepanasan dan menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih lalu tidak beberapa lama kemudian tubuh yang disurupinya tenang dan manusia tersebut kembali sadar sepenuhnya.
Saya katakan “api ghoib” karena dialam jin tidak akan melihat bentuk api yang membakar tubuh mereka namun mereka merasakan hawa (energi) yang sangat panas yang datang bergelombang seperti ombak dilautan (dari tiap ayat yang dibaca) yang membakar tubuh mereka. Dimensi “api ghoib” dari ayat-ayat ruqyah pembinasa yang dibacakan lebih halus dari dimensi alam manusia dan jin hingga kalangan jin tidak bisa melihat wujud api yang membakar mereka.
Saya sering bertanya puluhan kali pada jin (setiap penanganan kasus gangguan jin) ketika mereka menangis minta ampun karena kepanasan,”apa kalian melihat api yang membakar tubuh kalian?” Tiap jin yang saya tanya selalu dan selalu jin tersebut menjawab tidak melihatnya namun merasakan hawa yang sangat panas membakar tubuh mereka.
Ayat-ayat pembinasa jin adalah :
1. Surat Al-Fatihah
2. Ayat Kursi
3. Al_baqarah 137
4. Ali Imran 181
5. An-Nisa 14
6. Al-An’am 93
7. Al-A’raf 117-120
8. Al-Anfal 12-14
9. Al-Anfal 17
10. Al-Anfal 50
11. At-taubah 26,35
12. Yunus 88
13. Hud 56,67,82-83
14. An nahl 1
15. Al-Israa’ 18,81
16. Thaha 97
17. Al Anbiya 11-15
18. Saba 48-54
19. Adz-Dzariyah 10-14
20. Al-Qamar 19-21
21. Al-Haaqqah 1-8
22. An-Nazi’at 1-7,35
23. Al-Buruj 10
24. Al-‘Alaq 15-18
Pergunakanlah ayat-ayat pembinasa jin ini sebijaksana mungkin, dan ayat-ayat ini tidak digunakan untuk setiap kasus kesurupan jin , bacalah ayat-ayat diatas secara berurutan dan tiap ayat bisa diulang-ulang.
Ayat ini juga bisa dibacakan pada air caranya ialah dengan memasukkan sebagian tangan kita dalam air lalu setiap selesai satu surat kita hembuskan hawa dari mulut yang membaca ayat tersebut kedalam air (sebagian ludah kita masuk dalam air) lalu bisa disimburkan ketubuh pasien atau diminumkan, reaksi yang akan didapat sangat dahsyat sebab akan membuat jin tersebut sangat tersiksa hingga menggelepar-gelepar seperti disembelih, akan lebih sempurna jika dimasukkan dalam air itu 7 lembar daun bidara yang sudah dihaluskan dicampur dengan garam
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Selamat pagi pak!
Saya mau menanyakan perihal kejadian yang saya alami saat ini pak. Tapi sebelumnya saya mau bercerita sedikit kenapa saya seperti ini.
2 tahun yg lalu saya kerja dijakarta sempat tinggal kira2 1 bulanan di kota ini, tepatnya di sekitaran pasar jum’at lebak bulus jakarta selatan ( numpang 1 kos sama kawan satu kampung ) dan cempaka putih jakarta timur (tinggal di mess karyawan ). Antara jeddah waktu satu bulan tersebut saya sempat berpindah2 tempat tinggal dan pernah beberapa kali menginap ditempat kawan. ( Maaf cerita sedikit ). Selama saya tinggal dijakarta ( tempat tinggal yg dimaksud ), saya sering merasakan aura mistis yg berlebihan, sampe2 perasaan takut yang berlebihan muncul. Tapi saya الْحَمْدُ لِلَّهِ tidak pernah sampe melihat penampakan. ( Yg saya tekankan disini adalah aura mistiknya ) setiap disatu tempat aja tinggal baik satu hari atau beberapa hari, perasaan saya sering gak karuan dan seperti ada yang yang lain selain saya ( mahluk kasat mata ). Tapi Itu perlu diketahui juga, saya alami kejadian ini sebenarnya 1-2 tahun sebelum itu. Dulu saya masih sekolah dibangku SMU saya pernah merasakan aura seperti ini juga dan berjalan waktu hilang begitu saja namun terkadang beberapa kali sempat muncul setiap saya menempati tempat baru atau sekedar menginap. Lama tidak merasakan seperti itu, sekarang ( ini dihitung mulai terjadi tepatnya 2 tahun lalu ) perasaan itu muncul lagi. Dan yg lebih parahnya, sampe saya susah untuk beraktivitas layak biasanya. Pada hari itu saya menginap di kostan kawan. Kejadiannya pada malam hari sekitar jam ± 2 malam, malam itu saya membantu kawan membuatkan tulisan untuk ditempel ditoko tempat dia usaha ( semacam kertas lembaran untuk promo sale ), karena gak ada komputer dan kperluannya juga browsing internet, akhirnya kami kewarnet. Tdk terasa malam ujan turun deras, akhirnya kami harus menunggu hujan reda, namun sampai jam 2an hujan belum juga reda. Akhirnya kita punya alternative melewati ujan untuk bisa sampe ke kostan dia. Dengan jaket menutupi badan saya, Saya boncengin dia, awalnya gak ada perasaan aneh saat melewati ujan deras tersebut, palingan dingin2 biasa ( itupun biasanya kalo dingin2 seperti itu sering saya lewati karena hujan tapi biasa aja ). Tiba2 ada sekitar 500mtr berjalan, tengkuk saya berasa kayak gak seperti biasa. Susah untuk dijelaskan, dibilang berat sih gak! di bilang ringan tapi kok aku susah mengatur pernapasan. Sampai aku minum obat sesak nafas, tapi tetap aja sama. Kalo dibilang badan saya dingin karena ujan nyatanya saya gak terlalu merasakan dingin. Pokoknya beda aja perasaan saya. Jadi malam itu di tengah jalan gantian teman saya yg membonceng saya. Sampe di kostannya saya langsung ganti pakaian dan minum air hangat. Malam itu saya tidak bisa tidur dgn tenang dan merasa was2. Besok paginya saya gak enak badan, kepala puyeng tapi gak panas. Akhirnya saya telp sepupu saya untuk datang kekostan kawan saya. Saya cerita dan dengan keputusan kami, saya disuruh pulang saja ke kampung. Sepupu saya sore itu pulang kekostannya, saya tinggal sendiri dan mulai perasaan was2 dan takut menyerang saya lagi. Lewat satu hari berikutnya aneh saya bertambah lagi, knapa saat saya mandi padahal airnya gak terlalu dingin tapi pas ngerasain air mengalir dibadan saya, saya spontan gemetar dan was. Akhirnya saya mandi seadanya saja. Saya merasa bukan saya pribadi, mau apa2 kok perasaan saya was2 dan takut. Mulai dari kostan kawan sampe mau nyebrang jalan aja takutnya minta ampun, tambah lagi naik angkot juga kayak mau naik pesawat olang aling, perasaan saya jadi gak menentu. Jantung berdetak kencang aneh. Kayak baru pertama hidup didunia. Sampai ditempat kerjapun saya jadi aneh sendiri. Saya merasa takut dan was2.
( Beberapa hari sebelum kejadian itu saya sempat main ke Dufan dan pas naik kora2 saya susah bernafas persisnya awal kejadiannya disitu pak.)
Berjalan waktu sampai awal bulan nerima gaji, saya niatkan pulang ke kampung saja. Akhirnya saya berhenti kerja dan pulang kekampung dengan menumpang bis AC, karena beberapa hari sebelumnya saya pulang saya rencana naik pesawat tapi belum apa2 kok perasaan takut dan was2 saya mengalahkan segala2nya, akhirnya saya batalkan beli tiket pesawat. Saya mau cari aman saja. Bedanya juga kalo sampe tujuan beda sehari aja. Selama perjalanan saya dihantui was2 dan takut yang wahhh… Aneh !!! Takut yang gak ada pangkal ujung dan sebab musababnya. Singkat cerita… Sampai saat saya menulis cerita ini, perasaan saya sudah lumayan membaik karena sempat beberapa kali berobat secara medis maupun non medis. الْحَمْدُ لِلَّهِ perasaan seperti dulu sudah berkurang. Saya ke dokter gak ada penyakit yang parah, dan berobat ke alternatif sampai ruqyah pun saya di jelaskan kalo ada yg ikut dibadan saya. Saya sedikit tenang setelah diobatin. Tapi tetap saja, untuk beraktivitas saya sangat terganggu. Gak bisa bawa kendaraan sampe harus bela2in selama naik angkot melawan was2 tersebut.
Ini pertanyaan saya pak:
1. Apakah saya bisa mengobati diri saya sendiri dengan cara seperti yg bapak tulis di situs ini?
2. Adakah pengaruhnya yang tidak baik jika saya melakukannya sendiri?
Mohon penjelasannya. terima kasih.
Allah berfirman dalam Surat Al Isra’ ayat 82 :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan kami turunkan Al Qur’an yang dia itu sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Dan Allah berfirman dalam surat Fushshilat ayat 44 :
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Katakanlah : Dia (Al Qur’an) bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan obat.”
KESIMPULANNYA SELURUH AYAT AL-QUR’AN ITU OBAT DARI SEGALA MACAM PENYAKIT!
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup kedua tangannya dengan membaca Al Ikhlash. Al Falaq, dan An Nas disaat beliau sakit menjelang wafatnya, kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke seluruh tubuhnya.
Dari Aisyah ra berkata : “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah peniup untuk dirinya dalam keadaan sakit menjelang wafatnya dengan bacaan Al Mu’awwidzat, surat Al Ikhlash dan Al Mu’awwidzatain. Maka ketika beliau kritis, akulah yang meniupkan bacaan itu dan aku usapkan kedua tangannya ke tubuhnya karena keberkahan tangannya.” (HR. Bukhari, Muslim).
COBA CARI APAKAH ADA AL-IKHLAS, AL-FALAQ DAN ANNAS ITU MENGANDUNG ARTI ” OBAT SAKIT” TENTU TIDAK ADA! LALU MENGAPA RASULULLAH MENGERJAKANNYA ?
2. Abu Sa’id Al Khudry ra meruqyah pimpinan kaum yang terkena gigitan ular berbisa dengan membacakan Al Fatihah dan mengumpulkan ludahnya kemudian meludahkannya, hadiah sekelompok kambing dan disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menyambut :“Kenapa kamu tahu bahwa ia (al Fatihah) itu ruqyah ?” Kemudian beliau bersabda : “Sungguh kalian benar, buatkan untukku satu bagian bersama kalian !” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.” (HR.Bukhari dan Muslim).
CARILAH DALAM SURAT AL-FATIHAH APAKAH ANDA FIRMAN ALLAH BERISI PETUNJUK PERMOHONAN / MENGANDUNG ARTI ” MENGOBATI GIGITAN BINATANG BERBISA???” TENTU TIDAK ADA!
3. Ubay ibn Ka’ab berkata: Ketika aku berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datanglah seorang Arab Badui menemui beliau seraya berkata: “Wahai nabi Allah! Sesungguhnya saudaraku sedang sakit. ”Apa sakitnya” balas Beliau. Ia menjawab, ”Ia kerasukan Jin, wahai nabi Allah.” Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi, ”Bawa saudaramu itu kesini!”Maka orang itu pun membawakan saudaranya itu kehadapan baliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah untuk diri saudaranya itu dengan membacakan surah Al-Fatihah, empat ayat pertama dari surah Al-Baqarah, dua ayat pertengahan darinya, yaitu ayat yang ke-163 dan ke-164, ayat Kursi, dan tiga ayat yang terakhir dari surat Al-Baqarah tersebut. Kemudian ayat yang ke-18 dari surah Ali ‘Imram, ayat yang ke-54 dari surah al-A’araf, ayat yang ke-116 dari surah al-Mu’minun, ayat yang ketiga dari surah al-Jin, sepuluh ayat pertama dari surah ash-Shaffat, ayat yang ke-18 dari surah Ali ‘Imran, tiga ayat terakhir dari surah al-Hasyr, surah al-Ikhlas, dan mu’awwidzatain (surah Al-Aalaq dan An-Nas). ”Ubay ibn ka’ab menambahkan, ”Andaikata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan hal itu kepada kita, niscaya binasalah kita. Maka, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi sekalian alam.
CARILAH APAKAH ADA DIANTARA BANYAK AYAT YANG DIBACA RASULULLAH ITU SECARA SPESIFIK MENGANDUNG ARTI ” BINASAKANLAH JIN INI/ITU”
SANGGUPKAH ANDA MENGATAKAN RASULULLAH PENJAMPI= TUKANG SIHIR???

Continue reading...

ayat semut

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

1.Larangan Membaca Basmalah pada Awal Surat At Taubah
Surat At Taubah adalah surat yang menempati urutan ke 9 dari deretan surat dalam Al Qur’an. Surat ini memiliki nama lain yaitu surat Baraah yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina ‘Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.

Terdapat satu keistimewaan yang membedakan surat ini dengan surat yang lainnya. Permulaan surat ini tidak terdapat bacaan basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Para Ulama masih berselisih mengenai hal ihwal larangan tersebut. Syeikh al-Ramli mengatakan makruh membaca Basmalah di awal surah al-Taubah dan sunat di pertengahannya. Imam Ibnu Hajar, Syeikh al-Khatib dan Imam al-Syatibi mengatakan haram membaca Basmalah di permulaan surah al-Taubah dan makruh di pertengahan.

Untuk menggantikan bacaan basmalah pada awal surat ini, biasanya beberapa mushof menyertakan bacaan ta’awudz yang khusus untuk mengawali surat ini. Bacaan Ta’awudz tersebut adalah sebagai berikut :

A’uudzubillaahi minannaari wa minsyarril kuffaar wa min ghodlobil jabbaar. Al ‘izzatulillahi wa lirosuulihii wa lilmu’miniin

Referensi :Muqoddimah Surat At Taubah, http://salam.jomtube.com/?page_id=11

2.Mengapa Surah At Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?

Mengapa Surah At Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?
Surat At-Taubah, atau sering disebut juga dengan nama surat Baro’ah. Disebut dengan Baro’ah yang bermakna pemutusan hubungan, karena isinya merupakan bentuk pemutusan hubungan (perjanjian damai) dengan musuh-musuh Islam saat itu. Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina Ali radiyallahu ‘anhu pada musim haji tahun itu juga.

Pada penulisan surat At-Taubah dalam mushaf Al-Qur’an, lafadz basmalah
tidak dicantumkan dipermulaan surat tersebut. Hal tersebut berbeda dengan surat-surat yang lainnya yang mencantumkan basmalah di permulaan ayat. Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengapa basmalah tersebut tidak dicantumkan di permulaan surat At-Taubah.

1. Pendapat Pertama
Al-Mubarrid berpendapat bahwa merupakan kebiasaan orang Arab apabila mengadakan suatu perjanjian dengan suatu kaum kemudian bermaksud membatalkan perjanjian tersebut, maka mereka menulis surat dengan tidak mencantumkan basmalah di dalamnya. Maka ketika turun surat baro’ah (At-taubah) yang memutuskan perjanjian antara Nabi SAW dengan orang-orang musyrik, beliau mengutus Ali bin Abi Thalib ra. kemudian membacakan surat tersebut tanpa mengucapkan Basmalah di permulaannya. Hal ini sebagaimana kebiasan yang berlaku di bangsa Arab.

2. Pendapat Kedua
Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang sebab basmalah tidak ditulis di permulaan surat Baro’ah. Ali bin Abi Thalib ra. menjawab, “Basmalah adalah aman (mengandung rasa aman) sedangkan Baro’ah turun dengan pedang (berkaitan dengan peperangan).”

3. Pendapat Ketiga
Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Ibnu Abbas ra, bahwa beliau ra. pernah bertanya kepada Utsman bin al-Affan ra, “Apa yang menjadi alasan Anda mencantumkan surat At-Taubah setelah surat Al-Anfal, tanpa mencantumkan basmalah di antara keduanya?” Beliau menjawab bahwa Rasulullah SAW apabila turun suatu ayat, maka beliau akan memanggil para penulis wahyu dan berkata, “Cantumkan ayat-ayat ini di surat yang disebutkan di dalamnya anu dan anu. Surat Al-Anfal merupakan surat-surat yang pertama diturunkan di Madinah, sedangkan Baro’ah merupakan surat yang terakhir turun. Dan ternyata kisah yang terkandung di dalam kedua surat tersebut saling menyerupai, sehingga aku mengira bahwa surat Bara’ah termasuk surat Al-Anfal.
Kemudian Rasulullah SAW wafat sebelum sempat menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu aku menggandengkan kedua surat tersebut dan tidak mencantumkan basmalah di antara keduanya dan menempatkannya dalam As-Sab’u Ath-Thiwal. (Tafsir Fathul-Qadir karya Imam Ali As-Syaukani II/415-416).

Pendapat lain mengatakan:
Ketika Al quran sudah hampir selesai dibukukan (dimushafkan) terjadi perselisihan antara semua para Shahabat apakah Al Anfal (sebelum At taubah) dan At taubah itu tergabung dalam satu surah atau terpisah. Kalau benar satu surah, maka bacaan basmalah yang sebagai Fashil (pemisah) antara surah-surah Al Qur’an cuma dibaca di awal surah Al Anfal. Kalau benar dua surah yang terpisah, maka pada awal surah Al Anfal dibaca ada Basmalah dan juga pada awal surah At Taubah juga dibaca Basmalah.
Kedua pendapat ini sama-sama kuat, maka setelah semua Shahabat bermusyawarah, maka diambil keputusan bahwa Al Anfal dan AtTaubah adalah 2 surah yang terpisah, tetapi pada awal surah At Taubah tidak dibaca Basmalah.

Para Ulama masih berselisih mengenai hal ihwal larangan tersebut. Syeikh Al-Ramli mengatakan makruh membaca Basmalah di awal surah al-Taubah dan sunat di pertengahannya. Imam Ibnu Hajar, Syeikh al-Khatib dan Imam al-Syatibi mengatakan haram membaca Basmalah di permulaan surah aT-Taubah dan makruh di pertengahan.

Itulah beberapa pendapat mengenai alasan tidak dicantumkannya basmalah di permulaan surat At-Taubah. Oleh karena itu jika kita membaca surat tersebut dari permulaannya, maka kita hanya disunahkan mengucapkan ta’awudz saja tanpa basmalah. Demikian halnya jika kita membaca dari pertengahannya. Kita juga cukup membaca ta’awudz saja.

Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.(QS An-Nahl: 98)

Untuk menggantikan bacaan basmalah pada awal surat ini, biasanya beberapa mushof menyertakan bacaan ta’awudz yang khusus untuk mengawali surat ini. Bacaan Ta’awudz tersebut adalah sebagai berikut :

A’uudzubillaahi minannaari wa minsyarril kuffaar wa min ghodlobil jabbaar. Al ‘izzatulillahi wa lirosuulihii wa lilmu’miniin

Wallahu a’lam bish-shawab,
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber dan referensi:

http://4hmadyusuf.multiply.com/reviews/item/11

http://www.acehforum.or.id/showthread.php?8828-Kenapa-Surat-At-Taubah-ga-baca-basmalah-baca-ini-yah

http://lilmessenger.wordpress.com/2008/03/24/larangan-membaca-basmalah-pada-awal-surat-at-taubah/

Continue reading...

Frekuensi Gelombang Otak Ketika Mendengarkan Ayat Kursi

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Ayat Kursi
Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.s. Al-Baqarah:255)
Keutamaannya
Rasulullah SAW., menginformasikan kepada kita bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam al-Qur’an karena memuat makna-makna tauhid, pengagungan serta keluasan sifat-sifat Allah Ta’ala. (Taysir:91)
Kedudukan tauhid dalam Islam
Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat merupakan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Kalimat Sugesti ketauhidan dalam ayat kursi yang dimanfaatkan untuk mempengaruhi alam pikir dalam otak :
1. Rububiyah
Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
2. Uluhiyah/Ibadah
Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
3. Asma wa Sifat
Dia Allah Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
tidak mengantuk dan tidak tidur
Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar
Frekuensi Gelombang Otak Ayat Kursi
Riset selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa gelombang otak tidak hanya menunjukkan kondisi pikiran dan tubuh seseorang, tetapi dapat juga distimulasi untuk mengubah kondisi mental seseorang. Binaural beats pertama kali ditemukan pada tahun 1839 oleh ilmuwan Jerman yang bernama H.W. Dove.
Kemampuan manusia untuk “mendengar” binaural beats merupakan dampak dari evolusi adaptasi. Banyak spesies yang berevolusi, mampu untuk mendeteksi binaural beats karena struktur otak mereka. Pada manusia, binaural beats dapat dideteksi ketika frekuensi gelombang karier/pembawa berada dibawah 1000 Hz. Mengapa demikian: panjang gelombang dibawah 1000Hz lebih panjang daripada diameter tengkorak manusia. Oleh karena itu, panjang gelombang ini meliputi sekeliling tengkorak dan akibatnya dapat didengarkan oleh kedua telinga.
Respon elektrik ini bergerak ke seluruh bagian otak dan menjadi apa yang seseorang lihat dan dengar. Ketika otak mendapatkan stimulus yang berulang-ulang dan terus menerus, seperti nada ketukan atau kilauan cahaya, otak merespon dengan mensinkronisasi atau entraining siklus listriknya terhadap nada eksternal tersebut.
Al Baqarah ayat 255 : 806.15+7.30/1.61

Frekuensi gelombang otak ketika mendengarkan ayat kursi
Analisa frekuensi :
• Panjang gelombang ( amplitude ) = 805.15
• Binaural Beat ( Gelombang Otak ) = 7,30
Binaural Beat ( Gelombang Otak ) = 7,30 memberikan efek :
Kondisi tertidur, Gambaran pada pikiran terasa lebih nyata, Pengalaman Spiritual/Transformasi, Perubahan Perilaku & Sikap dan Peningkatan Kreativitas (M. Hutchison). Menenangkan diri. Menghilangkan perasaan tertekan, stress daan marah (D. Siever). Lucid Dreaming (D. Siever), Pengurangan Kegelisahan (Le Scouarnec). Penguatan Sistem Kekebalan (GJ Schummer, Ph.D., M. Crane, L. Wong, C. Aquirre).
Resonansi Schumann, atau frekuensi yang mana gelombang elektro-magnetik berjalan mengitari ionosfer bumi. Ini mungkin adalah frekuensi dikenal paling berguna. PET scan menunjukkan bahwa aliran darah otak di bagian belakang otak terjadi pada frekuensi ini (P. Fox, M. Raichle).
Studi dari meditasi yang paling maju telah berulang kali menunjukkan frekwensi 7,8 Hz menjadi frekuensi yang signifikan (M. Cade). Hal ini juga dikenal sebagai situasi Hypnagogic. Pengalaman spiritual lainnya telah dilaporkan menggunakan frekuensi ini dari pada yang lain. Frekuensi harmonis ini juga tampaknya memiliki beberapa efek yang sama.
Dikutip dari: Mentauhidkan Alam Akal Pikir (Otak) dengan Frekuensi Gelombang Otak Pada Ayat Kursi

Continue reading...

MENGAMBIL ILMU “AYAT KURSI” DARI SETAN/SYAITAN

Sat, Feb 1, 2014

Comments Off

Yang dipahami oleh para ulama adalah beliau mengambil ilmu itu dari Rasulullah.Jika Nabi tidak membenarkan ucapan itu dari mana “Abu Hurairoh” tahu bahwa ucapan setan itu adalah ilmu yang hak?
Bolehkah Belajar Kepada Ahlul Bid‟ah ? (Bantahan Syubhat ke- 6)
Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed
berani memelintir ucapan Rasulullah untuk kepentingan hawa nafsunya. Syubhat tersebut adalah: “Bolehnya menimba ilmu dari mana saja, termasuk dari setan la‟-natullahu „alaihi”.
Seperti biasa, senjata pamungkas salafy gadungan ini adalah melempar syubhat (kalimat bersayap) yaitu kalimat-kalimat yang hak, akan tetapi yang dimaukan dengannya adalah kebatilan. Kalimat-kalimat tersebut seperti:
ٍَب َ قَبه ٗ َلَ رَْ ْ ْظُش ٍَِْ َ قَبه اّ ْ ْظُش
“Lihatlah pada apa yang dikatakan, dan janganlah melihat siapa yang mengatakannya”.
Atau kalimat: “Kebenaran itu harus diterima darimana pun datangnya”.
Dari satu sisi, kalimat-kalimat tersebut adalah benar.Bahkan jika kita menghendaki, maka teramat banyak ucapan para ulama yang bisa kita nukil untuk maksud-maksud tersebut, yang mana kalimat-kalimat mereka jauh lebih bermakna dan jernih dari berbagai kepentingan.Seperti ucapan imam Syafi‘i, Ibnu Taimiyah dan lain-lainnya.Sungguh pun demikian, bukan berarti para ulama kemudian memperbolehkan kepada umat untuk belajar kepada mu‟tazilah, syi‟ah, dan ahlul bid‟ah lainnya, apalagi kepada setan, tidak seperti apa yang diyakini oleh kelompok aneh tadi.
Apa yang dikatakan oleh para ulama tersebut sungguh sangat berbeda dengan apa yang dipahami oleh para politikus hizbiyyun. Para ulama tersebut dengan kalimat-kalimat di atas menasehatkan kepada kaum muslimin bahwa kebenaran itu adalah tetap kebenaran walaupun disebutkan oleh sejelek-jelek manusia.Sebaliknya kebatilan tetap kebatilan, walaupun diucapkan oleh orang yang paling terdekat dengan kita.Inilah yang dinamakan keadilan.Mereka tidak pernah sekalipun menyatakan bolehnya mengambil ilmu dari ahlul bid‟ah dan orang-orang yang sesat, apalagi dari setan.
Berkaitan dengan hal tersebut, kelompok ini menjadikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ketika beliau menjaga harta baitul maal sebagai dasar pijakan diperbolehkannya belajar kepada ahlul bid‘ah bahkan kepada setan. Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‗alaihi wa salam pernah mewakilkanku sebagai penjaga baitul maal. Pada suatu ketika datanglah seseorang mencuri harta darinya, maka Abu Hurairah menangkap orang tersebut dan berkata: ―Demi Allah, sungguh akan aku laporkan kepada Rasulullah. Pencuri itu memelas kepadanya seraya berkata: ―Sesungguhnya aku adalah orang yang membutuhkan (harta itu), karena aku mempunyai tanggungan keluarga, dan bagiku ada kebutuhan yang sangat. Berkata Abu Hurairah: ―Maka aku lepaskan dia‖. Kemudian pada pagi harinya Nabi bersabda: ―Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam‖. Abu Hurairah menjawab: ―Ya Rasulullah, dia mengeluh bahwa dia sangat membutuhkan harta dan mempunyai tanggungan keluarga‖. Aku aku merasa kasihan kepadanya kemudian aku bebaskan dia‖. Rasulullah bersabda:
أٍََب إَُِّٔ قَذْ مَز َ َثَل َٗعٍََعُ٘ ُ ْد
Ketahuilah sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali.
Maka aku tahu bahwa dia akan kembali dari ucapan Rasulullah tadi. Maka akupun mengawasinya, maka datanglah ia mencuri makanan itu. Maka aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya: ―Sungguh akan aku laporkan perbuatan ini kepada Rasulullah‖. Ia mengatakan: ―Biarkanlah aku sesungguhnya aku adalah orang yang sangat butuh dan aku mempunyai tanggungan keluarga. Aku berjanji tidak akan kembali‖. Akupun merasa kasihan terhadapnya dan melepaskannya. Pada pagi harinya kembali Rasulullah mengatakan kepadaku: ―Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?‖ Aku katakan; ―Wahai Rasulullah dia memelas seraya berkata bahwa dia sangat membutuhkan harta tersebut karena dia mempunyai tanggungan keluarga.Maka aku pun kasihan kepadanya dan aku bebaskan dia‖. Maka bersabda Rasulullah :
أٍََب إَُِّٔ قَذْ مَز َ َثَل َٗعٍََعُ٘ ُ ْد
Ketahuilah sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali.
Akupun kembali mengawasinya pada malam yang ketiga.Kemudian datanglah orang tersebut mencuri makanan kembali dan aku tangkap. Aku katakan: ―Sungguh aku akan angkat permasalahanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya engkau berjanji untuk tidak kembali ternyata kembali (perbuatanmu). Orang tadi berkata: ―Jangan biarkan aku!.Akuakan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengannya‖. Aku tanyakan: ―Kalimat apakah itu?‖.Ia menjawab: “Jika engkau telah berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat kursi hingga selesai ayat tersebut. Maka sesungguhnya engkau akan tetap dalam lindungan Allah dan tidak akan didekati setan sampai pagi harinya.” Akupun kembali membebaskannya. Pada pagi harinya Rasulullah bertanya kembali: ―Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?‖ Ia menjawab: ―Wahai Rasulullah dia mengaku bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengannya, maka akupun membebaskannya‖. Beliau berkata: ―Apa itu?‖ Aku katakan: “Dia mengajariku jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir ayat.Kemudian ia berkata kepadaku bahwa engkau akan tetap dalam lindungan Allah dan tidak akan didekati oleh setan sampai pagi hari. Dan para shahabat ketika itu adalah orang-orang yang sangat semangat dalam mencari kebaikan‖. Maka Nabi bersabda:
ر َ َاك شٍَ ٌ ْطَبُ َ:لَ قَبه َ:رَع ُ ْيٌَ ٍَِْ رُخَبط ُ ِت ٍُْ ُ ْز ِ ثَلَس ٍ ىٍََبه ٌَب أَثَب ُٕشٌَْشَحَ؟ قَبه .أٍََب إَُِّٔ قَذْ صَذ َ َقَل ٗ َ َُٕ٘ مَزُٗ ٌ ْة
(يساخةها ٓاٗس)
Ketahuilah bahwa dia telah berkata benar kepadamu, padahal dia adalah pendusta.Tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?Ia menjawab: ―Tidak‖. Maka beliau bersabda: “Itu adalah setan”. (HR. Bukhari)
————————————————————————————————————— ———————–
LAFAL & TULISAN “AYAT KURSI” DALAM TULISAN LATIN BESERTA ARTI/TERJEMAHANNYA
Buat yang masih belajar baca Al-Quran: begini bacanya:
ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM.LAA TA‟KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDH. MAN DZAL LADZII YASFA‟U „INDAHUU ILLAA BI IDZNIH. YA‟LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN „ILMIHII ILLAA BI MAASYAA‟ WASI‟A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDH. WA LAA YA-UUDHUHU HIFZHUHUMAA WAHUWAL „ALIYYUL AZHIIM.Nah kalau artinya begini:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya);tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan- Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa‟at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar ((QS : Al-Baqarah : 255))
————————————————————————————————————— ———————–
Hadits di atas adalah berita yang hak.Ucapan Rasulullah adalah ucapan yang hak.Akan tetapi oleh para hizbiyyun.Ucapan tersebut dianggap sebagai legitimasi untuk bolehnya belajar kepada siapapun, termasuk kepada ahlul bid‘ah. Padahal ucapan beliau:
أٍََب إَُِّٔ قَذْ صَذ َ َقَل ٗ َ َُٕ٘ مَزُٗ ٌ ْة
“Ketahuilah, sesungguhnya ia telah berkata benar kepadamu, tapi ia pendusta”
tidaklah menunjukkan sedikitpun diperbolehkannya belajar kepada setan. Hal ini berbeda jauh dengan apa yang mereka takwilkan. Sungguhpun demikian, secara ilmiah syubhat di atas bisa kita bantah dalam bebera sisi:
Pertama, betapa banyaknya ayat-ayat yang memerintahkan kepada kita -kaum muslimin- untuk membenci, menjauhi dan memusuhi setan.
Allah berfirman:
ِ ه غُشُٗسا ٗ ْ َىَ٘ ش َ َبء س َ َثُل ٍَب فَع َيُُ٘ٓ َٗمَز َ َىِل جَعَيَْْب ىِن ِ ُو ٍ َّجًِ عَذُّٗا شٍََبط َ ٍِِ اْل ِ ِّْظ َٗاىْج ِ ِِ ٌُ٘حًِ ثَعْض ْ ٌُُٖ إِىَى ثَع ْضٍ صُخْش َ ُف اى ْ ْقَ٘ سْٕ ْ ٌُ ٍََٗب ٌَفْزَشُُٗ َ َفَز
الّعبً: 211
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)499. Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (al-An‘aam: 112)
ُّٗ٘ا ٍِِْ أَصْح ِ َبة اىغَعٍِش َ ِإُِ َ اىشٍَْطَبُ ىَن ْ ٌُ عَذ ٌ ُٗ فَبرَخِز ُُٗٓ عَذُّٗا إَََِّب ٌَذْعُ٘ حِض ْثَُٔ ُىٍَِل
فبطش: 6
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
.ٌَصُذََّن ُ ٌُ ُ اىشٍَْطَبُ إَُِّٔ ىَن ْ ٌُ عَذ ٌ ُٗ ٍ ٌ ُجٍِِ ٗ َلاىضحشٗف: 26
Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.(az-Zuhruuf: 62)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya.
Kedua, Rasulullah di dalam hadits tersebut hanya mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran adalah tetap kebenaran, walaupun keluar dari mulut setan -biangnya para pendusta-. Akan tetapi beliau tetap memperingatkan kepada Abu Hurairah dengan potongan kalimat berikutnya:
ٗ َ َُٕ٘ مَزُٗ ٌ ْة
“…dan dia adalah pendusta”
agar dia dan seluruh kaum muslimin waspada dari tipu daya setan.
Ketiga, adalah salah besar jika ada anggapan bahwa Abu Hurairah mengambil ilmu dari setan dalam peristiwa di atas.Yang dipahami oleh para ulama dan mereka yang berpikiran jernih adalah beliau mengambil ilmu itu dari Rasulullah.Karena beliaulah yang mengatakan bahwa ucapan itu adalah benar.Jika Nabi tidak membenarkan ucapan itu dari mana Abu Hurariah tahu bahwa ucapan setan itu adalah ilmu yang hak?Dengan ucapan Rasulullah itulah, akhirnya Abu Hurairah dan kita kaum muslimin yakin dengan berita dan ilmu tersebut.
Keempat, terlalu banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang memperingatkan kita untuk hati- hati dan tidak duduk bersama ahlul bid‘ah, apalagi mengambil ilmu dari mereka. Di antaranya ketika Rasulllah membacakan ayat Allah:
اىَز َ ٌِِ فًِ قُيُ٘ثِٖ ْ ٌِ ص ٌ ٌَْغ فٍََزَجِع َ ُُ٘ ٍَب ٕ َ ُ٘ اىَزِي أَّْض َ َه عَيٍَْلَ اىْن َ ِزَبة ٍِْ ُْٔ ءَاٌَبدٌ ٍُحْنَََبدٌ َُِٕ ُ أًُ اىْن ِ ِزَبة َٗأُخ ُ َش ٍُزَشَبثَِٖبدٌ فَأٍََب َ ىُُ٘ آٍََْب ِ ثِٔ م ٌ ُو ٍ ْ ِِ عِْ ِ ْذ سَثَِْب ٍََٗب اثْزِغ َ َبء اى ِ ْفِزَْْخ َٗاثْزِغ َ َبء رَأْٗ ِ ٌِئِ ٍََٗب ٌَع ُ ْيٌَ رَأْٗ ٌِئَُ إِلَ ا َُ َٗاىشَاعِخ َ ُُ٘ فًِ اىْع ِ ِيٌْ ٌَقُ٘ رَش َبثََٔ ٍ ُِْْٔ ٌَزَم ُ َش إِلَ أُٗىُ٘ اْلَى ِ ْجَبة
اه عَشاُ: 7
Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al- Qur‘an) kepadamu.Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat (ayat-ayat yang tegas maknanya), itulah pokok-pokok isi al- Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (yang samar-samar maknanya).Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.Padahal tidak ada yang mengetahui ta‘wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ―Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.‖ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Qs. Ali Imran: 7)‖
Maka beliaupun berkata kepada Aisyah:
رَش َبثََٔ ٍ ُِْْٔ َ فَأُٗىَئِل اىَزٌِ َ ِْ عَََى اُ، فَبخْزَسُْٕٗ ْ ٌُ إِرَا س ِ َأٌَْذ اىَزٌِ َ ِْ ٌَزَجِعُ٘ َ ُْ ٍَب
(ًهطًٗ ساخةها ٓاٗس)Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihaat dari-nya maka merekalah orang-orang yang disebut oleh Allah, maka berhati-hatilah dari mereka. (HR. Bukhari dalam Fathul Bari (8/209) dan Muslim hadits ke 2665)
Kalau Rasulullah mengatakan agar kita berhati-hati terhadap pengikut hawa nafsu dan ahlul bid‘ah seperti dalam hadits di atas, maka apakah pantas orang yang mengaku ahlus sunnah itu menganjurkan untuk duduk bersimpuh di hadapan mereka dengan alasan mencari ilmu?!
Kelima, demikian pula para ulama telah sepakat secara ijma‘ untuk menjauhi ahlul bid‘ah dan menghindari mereka. Sebagaimana dikatakan oleh imam Abu Utsman ash-Shaabuny dalam kitabnya Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits setelah menyebutkan hampir seluruh para ulama ahlus sunnah sebagai berikut: “Dan mereka semua bersepakat untuk bersikap keras terhadap ahlul bid‟ah merendahkan, menghinakan, menjauhkan, memisahkan diri dari mereka, menjauhi dan tidak bersahabat dengan mereka serta tidak bergaul dengan mereka. Dan mendekatkan diri kepada Allah dengan memboikot mereka”. (hal. 123)
Berkata Imam Ahmad: ―Hati-hati kalian, jangan menulis (ilmu) dari seorang pun dari kalanganahlul ahwa (ahlul bid‘ah) sedikit atau banyak. Atas kalian untuk mengambil dari ash-habul atsar dan sunnah (ahlus sunnah)‖. (Siyar a’laamu Nubala, juz 11, hal. 231)
Kalau telah sepakat secara ijma‘ para ulama ahlus sunnah untuk menjauhi ahlul bid‘ah dan tidak duduk bersama mereka, maka pengikut siapakah para politikus hizbiyyun tersebut yang menyatakan kita boleh mengambil ilmu dari mana saja dan boleh duduk belajar mencari ilmu dari ahlul bid‘ah bahkan dari setan?!
Keenam, lagi pula ketika kita duduk mengambil ilmu dari ahlul bid‘ah, bagaimana kita memilah mana yang hak dan mana yang batil (untuk mengambil yang hak dan membuang yang batil seperti anggapan mereka), sementara kita kita tidak mempunyai barometernya. Sebaliknya jika kita sudah punya barometer tersebut, yaitu al-Qur‘an dan as- Sunnah dengan pemahaman salaf, untuk apa kita ngaji dengan ahlul bid‘ah?!
Setelah semuanya ini, kita katakan sebagai nasehat kepada seluruh ahlus sunnah agar jangan tertipu dengan kebaikan ahlul bid‘ah. Karena umpan yang ada di mata kail untuk menjebak mangsanya sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai kebaikan. Karena dengan beberapa kebaikan tersebut, mereka akan menyeret mangsanya kepada kesesatan.
Berkata Rafi‘ bin Asyras rahimahullah: ―Adalah dikatakan termasuk dari hukuman bagi pendusta ialah untuk tidak diterima kejujurannya. Dan aku katakan: ―Termasuk dari hukuman bagi orang yang fasik dan ahlu bid‘ah ialah untuk tidak disebutkan kebaikan-kebaikannya‖. (Lihat Syarah ‘Ilal at Tirmidzi, Ibnu Rajab 1/353 dan Irsyadul Bariyyah, Hasan bin Qasim hal.198-201)

Continue reading...
Older Entries Newer Entries